Bugh...! Bugh...! Bugh...!
Dua orang siswa tampak memukuli siswa lainnya di rooftop sekolah. Ada beberapa siswa yang menyaksikan aksi tersebut, tetapi mereka hanya diam tanpa berbuat apa-apa.
"Stop! Gue nggak mau dia mati dan kita harus berurusan dengan polisi," ujar seorang siswi yang duduk diam menonton aksi teman-temannya, Roseanne Pratista atau biasa dipanggil Anna.
Perkataannya membuat kedua orang itu berhenti dan seorang siswa yang ikut duduk bersama Anna berdiri. Ia berjalan menuju ke arah siswa yang sudah tidak berdaya itu.
"Lo berani melapor atau macam-macam dengan kita, lo bakal dapat yang lebih dari ini. Ngerti!" suaranya terdengar dalam dan mengintimidasi.
Siswa tersebut hanya mengangguk lemah, lalu terjatuh pingsan ke tanah. Namun, hal ini membuat para siswa lain yang ada di situ terdiam sesaat.
"Di-dia ... nggak mati, kan?" tanya siswi lainnya. Terlihat ia mengenakan nametag bertuliskan Chrysela Winata atau biasa dipanggil Ella.
"Masih hidup," ucap siswa yang tadi mengancam siswa yang pingsan itu, Farel Damian. Tertulis jelas di nametag yang ia kenakan.
"Kalau gitu, sebaiknya kita pergi dari sini," kali ini giliran siswa yang tadi ikut andil dalam pemukulan tersebut, Gavin Anggara.
Mereka segera bergegas pergi dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Saat semuanya berjalan pergi meninggalkan rooftop, seorang dari mereka yang sedari tadi hanya berdiri jauh dari teman-temannya itu, mengeluarkan ponselnya dan tampak mengetik sesuatu.
Setelah selesai mengirimkan pesan, ia berjalan meninggalkan rooftop. Menyisakan siswa malang itu seorang diri dalam kesakitan.
**°HighSchool°**
Dari arah berlawanan terlihat seorang siswi lainnya terburu-buru berlari. Namun, langkahnya terhenti kala melihat rombongan siswa yang turun dari arah tangga rooftop.
Gadis itu terlihat gugup, untungnya tidak ada dari mereka yang melihat kehadirannya. Setelah mereka semua menghilang dari pandangan sang gadis, ia kembali berjalan menuju tangga.
Namun, ia bertemu dengan salah satu dari mereka. Siswa itu memandang dingin padanya membuat gadis bernama, Maggie Arabella Intan terpaku.
Entah mengapa siswa itu berjalan melewatinya dan seakan tidak melihat gadis itu.
"Alvian!" panggil Maggie, membuat siswa tersebut menghentikan langkahnya.
"Kapan kalian akan berhenti bersikap seperti ini?" tanyanya.
Alvian hanya terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan gadis itu. Ia melanjutkan langkahnya, meninggalkan Maggie yang menatap sedih ke arah punggung yang berlahan menjauh.
Tanpa berlama-lama lagi, Maggie lalu berbalik dan kembali berlari ke arah rooftop. Namun, ia terlambat. Tidak ada siapapun disana.
Namun, terdengar suara riuh dari arah bawah. Maggie berjalan perlahan ke arah tembok pembatas, dengan jantung berdegup, gadis itu memberanikan diri melihat ke bawah.
Betapa terkejutnya dia, saat melihat tubuh siswa yang ia cari, sudah terjatuh ke bawah dan berlumuran darah. Siswa tersebut bunuh diri, membuat Maggie tercengang dan terjatuh lemas.
Karena peristiwa tragis ini, polisi akhirnya datang ke sekolah. Mereka melakukan penyelidikan dan seluruh siswa yang dianggap berhubungan dengan korban di interogasi di ruang BK.
Mobil ambulans membawa jenazah, beberapa siswa melihatnya termasuk anak-anak yang memukuli korban di rooftop, serta Maggie. Alvian menatap Maggie. Begitu pula Maggie yang menatap ke arah Alvian dengan raut sedih, lalu berbalik pergi.
Penyelidikan masih berlangsung. Para siswa yang dianggap tidak berkaitan, diperbolehkan pulang lebih awal, mereka juga diingatkan untuk tidak mempublikasikan hal ini ke media sosial yang mereka miliki.
Jika ketahuan, maka mereka akan mendapatkan sanksi berat dari sekolah. Tidak hanya siswa, bahkan para guru juga mendapat larangan yang sama.
Tidak ada siapapun yang berani melanggar perintah yang sudah diberikan oleh kepala sekolah. Semua tau, SMA Cleverity adalah sekolah elit yang sangat memiliki pengaruh, karena itu hal-hal semacam ini tidak boleh diketahui oleh pihak luar.
Bahkan, untuk dapat menjadi guru dan bekerja di sekolah terbaik ini, sangat sulit. Tidak heran, mereka yang berhasil lolos seleksi akan sangat bangga dengan pencapaian tersebut. Mereka yang berhasil masuk ke sekolah ini, telah dijamin akan memiliki kehidupan yang sangat diimpikan oleh banyak orang.
**°HighSchool°**
Setelah sepekan, sekolah kembali seperti biasa. Garis polisi masih terpasang di sekitar rooftop yang menjadi bukti peristiwa mengerikan itu terjadi di sekolah mereka.
"Gila nggak sih? Rasanya seperti tidak terjadi apapun. Padahal baru seminggu yang lalu kejadian mengerikan itu terjadi," kata siswi bernama lengkap Vania Clarista Nelson.
"Berkat Damian Family, anak-anak Luxuru bebas lakukan apapun, bahkan para polisi tidak ada yang mencurigai mereka dan kasus ditutup sebagai aksi bunuh diri. Jika bisa, negara ini juga pasti akan dibeli sama mereka," balas Eilen Lovly Sanjaya.
"Jadi, jika kita ingin aman sampai lulus," Eilen menghentikan kalimatnya dan menatap teman-temannya satu persatu, "Jangan berhubungan dengan anak-anak kaya dari geng Luxury!"
Vania bergidik ngeri. Dua orang lainnya, Celine dan Maggie, hanya terdiam mendengar perkataan Eilen.
"Terutama lo, Cel!" lanjut Eilen.
"Kok gue?" sahut Celine.
"Jangan lo pikir, gue nggak tau isi hati lo. Lo suka Farel, kan?" Vania dan Maggie terdiam mendengar penuturan Eilen.
"Gue yakin, Farel itu berbeda dari teman-temannya yang lain," ujar Celine
"Lo bego atau gimana sih? Farel itu keluarga Damian, lo tau mereka kayak gimana," balas Eilen.
"Eilen, dengar deh! Gue yakin pasti ada sisi baik dari Farel yang belum kita lihat," sanggah Celine, "Walaupun keluarganya seperti itu, Farel pasti berbeda."
"Lo benar-benar .., Farel itu kekasih Anna, sebelum lo bisa ngedeketin Farel, lo bakal dibantai duluan sama Anna," Eilen sedikit meninggikan nada bicaranya.
"Darimana lo tau Farel itu berbeda? Selama ini, bukannya dia yang memerintahkan setiap pembullyan di sekolah, sampai ada yang meninggal kemarin?" kali ini giliran Maggie yang bertanya.
"Karena gue pernah ngobrol sama dia," kata Celine.
"Lo cuma ketemu dan nyerahin jadwal pertandingan antar sekolah. Apanya yang ngobrol bareng?" bantah Eilen.
"Meskipun gitu, dia ngomongnya baik banget sama gue. Beda banget, kan? Makanya gue yakin dia juga punya sisi baik yang kita nggak tau," jelas Celine.
"Lo benar-benar ..," Maggie berucap geram, "Gue ke kelas duluan!"
Eilen, Vania bahkan Celine hanya menatap bingung, "Apa dia marah?" ucap mereka berbarengan.
Bel berbunyi, menandakan jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Ketiga siswi itu segera bergegas meninggalkan taman menuju ke kelas mereka.
"Maggie, tunggu!" teriak Vania.
"Pokoknya lo harus dengerin ucapan gue," Eilen kembali mengingatkan Celine saat berjalan ke arah kelas.
Celine dan Vania hanya terkekeh mendengar perkataan Eilen. Sementara Maggie, ia hanya diam masih merasa kesal.
**°HighSchool°**
Jam istirahat, anak-anak ke kantin dan mulai mengantri untuk membeli makan siang. Begitu juga dengan Celine dan teman-temannya.
"Gue belum melihat anak-anak Luxury," Celine berucap seraya mengedarkan pandangannya ke segala sudut kantin.
"Lo kenapa ga join aja sama mereka, nyariin mereka mulu," omel Eilen.
"Lo kenapa sih? Ngomel mulu deh!" balas Celine.
Eilen hanya menatapnya malas lalu kembali menyantap makan siangnya. Tidak lama, anak-anak Luxury muncul dan berjalan dengan angkuhnya ke arah meja yang selalu mereka gunakan.
Tidak ada murid lain yang berani menggunakan meja mereka, seakan meja itu sudah menjadi hak milik Luxury. Celine terlihat antusias mencari sosok yang sedari tadi ia tunggu.
"Gie, lo tau nama-nama mereka semua?" bisik Vania yang duduk bersebelahan dengan Maggie.
"Tau, kenapa?" Maggie bertanya balik.
"Yang mana namanya Farel?"
"Hah? Lo nggak tau?" dengan polosnya Vania menggelengkan kepalanya.
"Gue pikir tidak ada yang tidak tau siapa Luxury di sekolah ini?" ujar Maggie, Vania hanya tersenyum kikuk.
"Cowok tinggi dengan kaos dalaman kuning, itu namanya Farel Damian. Disebelahnya, Roseanne Pratista atau biasa dipanggil Anna. Dia ketua Luxury sekaligus pacar Farel."
Vania mengangguk tanda kalau ia mengerti, "Pantas Celine suka, dia terlihat lumayan," Maggie memutar bola matanya saat mendengar ucapan Vania.
"Disisi Farel yang lainnya, ada Alvian Melviano," lanjut Maggie lagi.
"Oh ... itu yang namanya Alvian, dia sangat populer dikalangan cewek-cewek, iya kan? Bahkan melebihi Farel," Maggie melirik Vania sebentar.
"Sebelah Alvian, ada Gavin Anggara, Xander Oliver dan Arnold Adrian," lanjut Maggie lagi.
"Lalu di sebelah Anna, Vallerie Damian, kembarannya Farel Damian," ujar Maggie.
"Mereka kembar?" tanya Vania.
"Iya. Sebelahnya ada Chrysela Yovanka Wiyata atau Ella. Lalu terakhir Quenzy Agatha."
"Ohh ..."
"Lo ingat nama-nama yang gue sebutin?" tanya Maggie sedikit ragu.
"Nggak! Yuk makan!"
Maggie tertegun menatap Vania. Ia membuang-buang waktunya menjelaskan ke gadis itu, tetapi tetap dia tidak ingat apa-apa.
**°HighSchool°**