Priiit ... Priiitt ... Priiiittt ...
Bunyi peluit menandakan berakhirnya pertandingan basket antara SMA Cleverity dan SMA Nusa Bangsa.
"Selamat Untuk SMA Cleverity Atas Kemenangannya!!" teriak MC membuat para penonton bertepuk tangan dan berteriak riuh.
Pertandingan tahunan yang diadakan di Jakarta Internasional School (JIS) merupakan pertandingan persahabatan yang diikuti oleh hampir seluruh SMA di DKI Jakarta.
Tahun lalu, Farel dan yang lainnya juga berhasil membawa pulang piala kemenangan. Dan tahun ini mereka kembali berhasil mempertahankan piala kemenangan itu.
"Selamat, sayang!" ucap Anna.
"Thanks!" balas Farel. Mendengar jawaban singkat kekasihnya membuat Anna merasa kesal dan berjalan ke sisi Quenzy.
"Kenapa lo? Dicuekin Farel lagi?" tanya Quenzy.
"Mending lo diam!" Quenzy hanya terkekeh bersama Vallerie dan Ella.
Sementara Anna menatap Farel dengan tatapan tajam. Saat ini, lelaki itu tengah sibuk menyapa para gadis yang sudah mengerumuninya.
"Ayo, semuanya kumpul!" ucap seorang pria paruh baya.
"Sekali lagi kalian membuat saya bangga. Selamat untuk kalian!" lanjutnya.
"Siap coach!" ucap Arnold dan Gavin berbarengan. Pria itu ternyata pelatih tim basket yang mereka panggil Coach.
Alvian duduk sembari mengetik sesuatu di ponselnya, Vallerie menghampirinya dan memberinya ucapan selamat. Namun, hanya dibalas deheman oleh lelaki itu membuat Vallerie sedikit kesal dan pergi menjauh.
Sudah menjadi rahasia umum, kalau saudari kembar Farel, Vallerie sangat menyukai Alvian. Namun, tidak pernah mendapat respon karena Alvian tipe yang sangat tertutup. Bahkan teman-temannya tidak ada yang mampu membaca isi pikirannya.
"Oke, guys. Buat rayain kemenangan kita, malam ini party di rumah gue!" ujar Farel si ketua basket yang menjadi bintang utama dalam pertandingan ini.
"Asyik party! Party kita guys ..," teriak Gavin.
"Ada ceweknya ga nih?” tanya Arnold.
"Hellooo ... Emang kita-kita ini bukan cewek di mata lo?" kesel Anna.
"Bosen kali gue liat kalian mulu. Mata gue kan butuh penyegaran dengan melihat gadis-gadis bohay, bukan gadis-gadis triplek macam kalian," imbuh Xander yang langsung mendapat lemparan handuk dari Anna.
"Buta mata lo! Gak lihat apa nih, body goals gue," balas Anna sembari memamerkan tubuhnya.
"Kalau gitu, boleh gue icip, nggak?" canda Gavin.
"Ribut ma gue, mau?" Farel menantang membuat Gavin cengengesan, "Malam ini pokonya kita senang-senang bareng!" lanjutnya membuat Gavin dan Arnold bertos ria.
Sementara, Alvian hanya melihat sekilas ke arah teman-temannya itu, lalu mengalihkan matanya pada layar ponselnya saat ia menerima satu notifikasi.
"Balik, yuk!" ujar Alvian kemudian berlalu pergi meninggalkan teman-temannya yang juga mulai bergegas menyusulnya.
**°HighSchool°**
Di kantin SMA Cleverity, anak-anak sibuk membahas kemenangan tim basket.
"Gue bilang juga apa, Farel tuh emang sejago itu, guys!" celetuk Celine pada ketiga sahabatnya saat mereka tengah menyantap makan siang mereka di kantin.
"Belum ada sebulan, tapi kasus kemarin sudah terlupakan begitu saja," kata Eilen.
"Jangan rusak suasana, bisa nggak sih?" ujar Celine kesal dengan sikap Eilen.
"Lo itu kenapa sih, Cel? Segitu cinta butanya lo sama Farel? Sadar woi ... sadar!" ucap Eilen.
"Apa sih kalian berdua?" Maggie akhirnya ikut menengahi.
"Dia duluan yang mulai," tuduh Celine.
"Gue?" Eilen menatap kesal.
"Cukup, Len! Mending kalian berdua makan," perintah Maggie pada keduanya.
"Eh ... ada undangan party di rumah Farel malam ini. Ikutan,yuk!" ajak Celine dengan senyum sumringah yang kembali menghiasi wajahnya.
"Males banget! Mending tidur," tolak Eilen.
"Gue juga nggak ngajakin lo, ya!" ujar Vania sinis membuat Eilen kesal.
Celine lalu melirik Vania yang duduk di sampingnya, "Van, Yuk!"
"Hmm, yuk!" setuju Vania lalu kembali fokus melihat para oppa-oppa korea kesayangannya di layar ponsel miliknya. Sementara Celine tersenyum puas.
"Lo bukannya ntar malam ada janji keluar ma nyokap lo, kan Van?" Eilen mengingatkan.
"Oh iya benar, gue lupa. Hari ini ulang tahun nyokap. Yah, gue nggak bisa. Maaf ya, Cel!" ujarnya merasa bersalah.
"Yah ... It's okay." balas Celine lesu, "Gie?" Celine memasang wajah memelas ke satu-satunya harapan dia, walaupun mustahil gadis itu akan mengiyakan ajakannya.
"Besok ada ujian harian Matematika, kalian lupa?" tanya Maggie.
"Ada Maggie Arabella Intan, jadi aman," balas Celine. Maggie hanya bisa menggeleng melihat tingkahnya.
Suasana kantin mendadak heboh, membuat keempat gadis cantik itu melihat ke arah sumber kehebohan. Semua mata tertuju pada pintu kantin yang memperlihatkan kehadiran tim basket dan tim cheerleaders yang dipimpin Anna, baru tiba usai pertandingan.
Mereka mendapatkan sambutan yang meriah. Saat rombongan itu mendekati meja Celine dan kawan-kawan, "FAREL YANG TERBAIK!" teriak Celine.
Farel tersenyum ke arahnya, membuat Celine tersipu. Sementara Anna yang melihat hal itu, menatap sinis pada Celine.
"Gila lo, Cel?!" kesal Eilen lalu menarik Celine untuk kembali duduk.
Di sisi lain, Alvian juga tengah menatap ke arah meja tempat Celine dan teman-temannya. Matanya tidak lepas menatap sosok gadis yang tengah fokus dengan buku di tangannya.
Sadar jika dirinya di perhatikan, gadis berkacamata itu pun mengangkat kepalanya, dan seketika tatapannya terkunci menatap manik mata cokelat milik Alvian. Puas menatap gadis itu, Alvian lalu mengalihkan pandangannya dan tersenyum tipis.
"Alvian .., liatin lo ya, Gie?" tanya Vania yang sadar arah tatapan Alvian tadi.
"Bukan!" sangkal Maggie.
"Gue ke kelas duluan," lanjutnya lagi.
Sebelum pergi, Maggie sempat melirik sebentar ke arah Alvian dan teman-temannya. Namun, pria itu terlihat mulai asyik dengan grupnya. Dan saat dia beranjak pergi, diam-diam Alvian kembali melihat ke arah Maggie yang berjalan meninggalkan kantin.
**°HighSchool°**
Malamnya para murid SMA Cleverity menghadiri pesta meriah di rumah Farel. Kedua orang tuanya saat ini tengah berada di luar negeri, membuat mereka bebas mengadakan pesta di rumah kediaman Damian.
Rumah Farel berada di lingkungan elite dan memiliki sistem keamanan yang sangat modern. Bahkan rumahnya memasang fitur kedap suara, mengakibatkan suara sekeras apapun tidak akan terdengar keluar. Jadi, tidak heran jika tidak ada tetangga yang terganggu dengan aktifitas mereka.
Selain itu, kompleks perumahan Farel juga terbilang sangat private. Dimana jarak tiap rumah berjauhan, sehingga sangat nyaman dan terhindar dari omongan julid para tetangga.
Seluruh geng Luxury dan beberapa teman seangkatan mereka, terlihat bersenang-senang menikmati alunan musik dari DJ. Mereka juga menikmati berbagai macam hidangan yang telah disediakan.
Minuman bersoda hingga minuman beralkohol, tersedia di pesta itu. Pesta yang benar-benar bebas bagi para murid yang masih duduk di bangku kelas XI SMA.
Berbeda dengan teman-temannya, Vallerie hanya duduk menikmati segelas cairan bening. Ia tampak badmood karena Alvian menolak hadir, membuatnya merasa kesepian.
"Kenapa lo? Alvian nggak datang?" tegur Ella yang baru saja tiba.
"Darimana lo? Kok lo telat sih?" tanya balik Vallerie.
"Biasalah, gue ketiduran."
"Ketiduran apa ketiduran?" Vallerie tertawa mengejek.
"Ish, berisik lo. Alvian mana?" Ella berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Nggak datang," Vallerie menjawab dengan wajah cemberut. Kali ini giliran Ella yang tertawa.
"Sudah berapa kali gue kasih tau sih? Mending lo itu cari cowok lain deh. Alvian terlalu dingin untuk gadis api kek lo."
"Sialan, lo!" Vallerie memukul bahu Ella, membuat gadis itu meringis kesakitan lalu tertawa terbahak-bahak.
Vallerie yang mulai merasa lelah dan bosan memutuskan untuk beristirahat di kamarnya.
"Gue ke kamar dulu," pamitnya pada Ella dan anak-anak Luxury lainnya.
"Ikut donk, gue juga rasanya udah berat banget nih kepala," ujar Quenzy.
"Kalian duluan, nanti gue sama Ella nyusul," kata Anna.
Vallerie dan Quenzy berjalan menaiki tangga ke lantai dua. Meninggalkan hiruk pikuk manusia di lantai satu.
Saat tiba diatas, ketiganya terkejut ketika melihat Farel dan seorang gadis yang tengah berciuman.
"Gila?! Abang lo sama siapa tuh?" pekik Quenzy tidak percaya.
"Wah ... Ngajak perang tuh cewek ...! Bukan Anna, kan?" tebak Quenzy lagi.
"Ya, bukanlah. Anna masih di bawah sama Ella," ujar Vallerie, "Bodoh amat!Lo kek nggak tau kelakuan Farel aja."
Setelahnya mereka masuk ke kamar dan tidak menghiraukan lagi kejadian yang baru saja mereka lihat.
**°HighSchool°**
Di sisi lain, Alvian terlihat menunggu di depan sebuah rumah yang terkesan minimalis. Ia bersandar pada jok motor gede warna hitam, kesayangannya.
Tidak lama kemudian dari dalam rumah, keluar seseorang dengan baju kaos hitam serta celana jeans hitam dan jaket jeans biru. Tidak lupa sepatu sneakers putih yang menambah kesan kasual pada tampilannya.
"Maaf, lama," ujar gadis itu. Lelaki yang sedari tadi membelakanginya, berbalik dan tersenyum manis ke arahnya. Senyum yang jarang ia tunjukkan pada lawan jenis manapun.
"Cuma telat 5 menit. Kamu terlihat cantik, Gie!"
"Thanks," ucap Maggie tersipu, "Jadi, kita mau kemana?"
"Kencan," ujar Alvian dengan senyum bahagia kemudian naik ke atas motor, disusul Maggie.
"Pegangan, Gie!" Maggie menurut dan memegang jaket Alvian.
Tapi, Alvian justru menarik tangannya dan membuat Maggie memeluk tubuhnya dari belakang, "Kayak gini, jangan dilepas!"
Jantung Maggie berdegup kencang tapi masih bisa mengontrol ekspresinya, sementara Alvian tersenyum, lalu melajukan motornya meninggalkan kediaman Maggie.
**°HighSchool°**