Farel diam-diam masuk ke kamarnya bersama seorang gadis. Celine ... gadis itu, ternyata datang ke pesta walaupun tidak ditemani teman-temannya. Dan sekarang ia tengah berada di kamar laki-laki pujaannya.
"Lo cantik, Cel! Seandainya, lo bagian dari Luxury ... gue pasti akan jadiin lo pacar gue," ucap Farel dengan suara berat yang menggoda.
"Kalau begitu, haruskah gue gabung dengan Luxury?" tanya Celine tidak kalah menggoda.
"Ide bagus ..."
"Apa yang gue dapat?"
"Gue, dan ... ini," Farel berucap sembari matanya menatap intens manik mata Celine, sementara tangannya mulai meraba daerah tubuh Celine dari balik mini dress hitam yang ia kenakan. Tubuh Celine seketika bergetar, perasaan aneh menyelimuti dirinya.
Farel kini meletakkan tangannya di paha Celine, "Gimana? Enak? Mau lagi?" pertanyaan Farel ditanggapi dengan anggukan kecil oleh gadis yang kini tengah diselimuti hawa nafsu.
Melihat persetujuan Celine, Farel langsung mencium bibir Celine dan mendorong tubuhnya hingga berbaring di ranjang king size milik Farel. Tangan kekarnya tidak tinggal diam, ia mulai menggosokkan jari telunjuknya pada bagian sensitif Celine yang masih berbalut celana dalam.
Tubuh Celine mulai menggeliat tidak karuan, ciuman keduanya terlepas. Farel memperhatikan wajah cantik Celine yang tengah menikmati sensasi yang ia berikan.
Sensasi itu semakin terasa kuat, kala Farel memasukkan jarinya melalui sela-sela celana dalam Celine membuat gadis itu mengerang, "Ahhh ..."
Mendengar erangan Celine, Farel semakin tidak tahan dan mulai melepas baju yang ia kenakan, begitu juga dengan gaun yang dikenakan Celine.
"Lo sering pakai lingerie?" tanya Farel saat melihat bagian tubuh Celine yang hanya ditutupi lingerie tipis.
"Hanya saat-saat tertentu," jawab Celine malu-malu.
"Saat-saat tertentu? Seperti ... saat ini?" Farel tersenyum miring, "Apa lo datang buat menggoda gue?"
"Emangnya boleh?" Celine bertanya sembari membuka bra tanpa tali yang ia kenakan.
Farel tercengang, ukuran buah d**a Celine bisa dibilang cukup besar. Bahkan menurutnya, ukuran buah d**a Celine sedikit lebih besar dari Anna. Berat tubuh Celine juga sangat proporsional, tidak gendut maupun kurus.
Farel semakin ingin memiliki tubuh indah Celine. Ia mendekatkan wajahnya ke buah d**a yang kini menjadi favoritnya. Tetapi ..,
Brak ... Brak ... Brak ...
Suara gedoran pintu, mengurungkan niat Farel untuk mencicipi buah d**a indah dihadapannya saat ini. Ia terkejut, begitupun Celine yang langsung terduduk di kasur.
**°HighSchool°**
Farel dan Celine bergegas mengenakan pakaian, saat dobrakan dari luar kamarnya semakin keras terdengar.
Farel yang terlihat bingung bertanya, "Lo nggak takut ketinggian, kan?" ia telah selesai mengenakan seluruh bajunya dan berjalan menuju ke arah balkon.
"Hah?" tanya Celine tidak mengerti.
"Ayo, buruan!" Farel melempar turun kain panjang yang telah dililit ke tiang pembatas balkon.
"Gue turun duluan, lo menyusul setelahnya. Tidak perlu khawatir, karena gue akan tepat ada di bawah lo. Oke?!"
Celine mengangguk, ia semakin panik karena terdengar teriakan samar Anna memanggil nama Farel dari balik pintu. Tanpa membuang waktu lagi, Farel segera turun dan Celine menyusul, jarak antara balkon kamar ke lantai satu tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 2 meter.
Farel memegangi Celine dan membantunya melompat dari ujung kain sprai, keduanya berhasil lolos dengan selamat dan bergegas keluar dari taman belakang menuju parkiran mobil.
Sesampainya di mobil, Farel memegangi jantungnya yang berdegup kencang, lalu tertawa membuat Celine yang masih panik, bingung melihatnya.
"Gue merasa seperti pencuri di rumah sendiri," ujarnya. Celine yang mendengar ucapannya juga ikut tertawa dan sedikit merasa lega.
Mobil melaju, meninggalkan rumah besar milik keluarga Damian. Celine masih menengok ke belakang, melihat keadaan jika ada yang mengikuti.
"Semua aman sekarang!"
"Huft! Rasanya gue belum siap menghadapi Anna ... membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk berdiri!" ucapnya. Farel tertawa mendengar penuturan Celine.
"Bagaiman jika kejadian malam ini, benar-benar diketahui oleh Anna?" tanya Farel.
"Geng Luxury terkenal kejam. Mungkin gue akan ... Ya, Tuhan ... apa yang sudah gue lakukan?"
"Apa sebegitu menakutkannya?"
"Gue masih ingin lulus dengan tenang dan tidak ingin menjadi korban selanjutnya dari Anna dan geng Luxury," Celine berucap pasrah.
"Korban?" Farel tertawa masam, Celine terdiam.
'Astaga, Cel ... mulut lo! Mungkin malam ini lo akan mati di tangan Farel, bukan Anna,' ucap Celine dalam hati.
"Kalau begitu, bergabunglah dengan geng Luxury. Tidak akan sulit buat lo, karena lo sudah jadi incaran Luxury sejak awal," tanpa diduga Farel justru memintanya bergabung dengan Luxury.
"Maksud lo?"
"Lo cantik tapi lambat juga, ya."
Celine menatap bingung Farel. Wajah Farel terlihat serius membuat Celine sedikit khawatir.
"Gini, My Baby Celine yang cantik ..." perkataan Farel membuat Celine yang awalnya sedikit takut menjadi tersipu malu.
"Kalau lo menerima tawaran Luxury dan menjadi bagian dari mereka, lo akan aman dan Anna tidak akan curiga dengan hubungan kita," lanjut Farel.
"Bagaimana lo tau, Anna tidak akan curiga?"
"Anna tipikal cewek yang mudah mempercayai siapapun yang dia nilai punya attitude baik. Lo salah satunya, karena itu dia mau lo join Luxury," jawabnya.
"Lo juga cukup terkenal di sekolah, bahkan lebih di atas Anna. Jika tidak berkencan dengan gue .., gue rasa Anna tidak akan ada apa-apanya di banding lo," jelas Farel.
Ia terdiam sejenak, melihat reaksi Celine, "Selain itu, jika lo join dengan mereka, kita bisa terus dekat dan gue bisa lindungin lo dari Anna maupun anak-anak Luxury yang lainnya."
"Kenapa lo mau lindungi gue? Ini pertama kalinya kita berbincang dan ..." Celine malu mengatakan apa yang baru saja terjadi di kamar Farel.
"Sebenarnya, gue sudah memperhatikan lo cukup lama. Tapi, sayangnya kita terlalu jauh, maksudnya circle pertemanan kita. Akhirnya gue terpaksa jadian dengan Anna. Lo pasti tau kan, anak-anak menjodohkan kami karena menurut mereka kami cocok," kata Farel. Celine terdiam, ia tidak menduga Farel juga memperhatikan dia selama ini.
Tidak terasa keduanya tiba di rumah Celine. Rumah dengan nuansa serba putih dan taman kecil di pekarangannya terasa sejuk bagi para penghuninya.
"Lo pikirin dulu aja ..," Farel mengulurkan tangannya, merapikan rambut Celine yang berantakan ke belakang telinga.
Wajahnya berlahan mendekat, membuat Celine memejamkan matanya. Tanpa diduga, Farel mendaratkan ciuman di kening Celine, membuat gadis itu terperanjat dan perlahan membuka mata. Ia sempat berpikir Farel akan mencium bibirnya.
'Apa yang lo pikirin, Celine?' batinnya.
Farel tersenyum, "Sekarang istirahatlah!"
**°HighSchool°**
Pagi harinya, Anna tiba di sekolah dan langsung menghampiri Farel yang tengah duduk santai di pinggir lapangan bersama anak-anak ekskul basket.
"ILANG KEMANA LO SEMALAM?" bentak Anna, menimbulkan kehebohan di antara para siswa Cleverity yang melihat keduanya.
"Wow ... santai dong sayang, masih pagi loh ini!" Farel berujar tenang.
"SANTAI-SANTAI GIMANA? LO MENGHILANG SEMALAM, KEMANA LO? TIDUR SAMA SIAPA, HAH?"
"Bukan urusan lo. Bisa nggak sih, nggak usah bikin malu, ini masih pagi!" Farel berkata setengah berbisik tepat didekat telinga Anna. Perkataannya terdengar biasa tapi penuh penekanan di setiap kata. Ia kemudian berlalu pergi meninggalkan lapangan, disusul teman-temannya.
"FAREL!! GUE BELUM SELESAI BICARA!! FARELL!" teriak Anna histeris. Vallerie, Quenzy, dan Ella yang menyaksikan Anna dari jauh, segera mendekat dan membawa Anna keluar dari lapangan sebelum semakin banyak siswa yang melihat.
Dari lantai dua, Celine dan ketiga sahabatnya juga ikut menyaksikan drama antara para siswa populer itu.
"Masih pagi, dia sudah mulai berdrama," ujar Eilen, "Btw, lo jadi datang ke pesta mereka semalam? Emang ada kehebohan apa di pesta itu?"
Dengan gugup Celine menjawab, "Hmm ... nggak jadi, kalian tidak mau ikut jadi ngapain gue pergi ke sana sendirian."
Ketiga temannya hanya mengangguk mengerti. Celine berusaha untuk menyembunyikan fakta sebenarnya.
Bel berbunyi dan mereka segera masuk ke kelas. Semuanya bersiap menerima pelajaran, sebelum itu mereka berdoa lebih dulu di kelas masing-masing. Doa pagi dipimpin anggota OSIS melalui pengeras suara.
Saat jam pelajaran Kimia telah berlangsung, anak-anak sibuk mendengar penjelasan guru sementara Celine sibuk sendiri melihat ponsel.
"Lo ngapain, sih? Liatin handphone mulu!" Eilen menegurnya.
"Nggak, kok."
Celine buru-buru menyembunyikan ponselnya ke dalam laci meja.
"Bu Selvi tuh galak ... gue cuma ngingetin aja sih," ucap Eilen lagi.
Celine melirik ke arah Bu Selvi yang tengah menulis di papan tulis. Ia kembali fokus, mengingat Bu Selvi sangat seram saat marah. Bisa-bisa ia tidak akan diizinkan ikut mata pelajarannya selama satu semester jika ketahuan bermain ponsel.
Setelah 90 menit berlalu, jam pelajaran Kimia berakhir. Kelas XI IPA 2 bersiap untuk pelajaran selanjutnya.
"Lo pasti sudah belajar, Gie. Bantuin gue, ya! Please..!" bujuk Vania yang duduk di sebelah Maggie.
"Ini jadi ulangan hariannya? Padahal gue berharap guru MTK berhalangan hadir," celetuk Eilen.
Sedangkan Celine kembali disibukkan dengan ponselnya, "Gue ke toilet dulu, ya!"
Tanpa menghiraukan teman-temannya, Celine bergegas lari keluar kelas.
"Kebelet banget kali," Vania mencoba positif thinking. Maggie terdiam, sementara Eilen melirik curiga ke arah bangku sebelahnya yang kosong.
**°HighSchool°**