Celine kembali ke kelas di saat semua teman-temannya sudah mulai mengerjakan ulangan harian MTK.
"Maaf, Bu. Saya terlambat," ujar Celine dengan nafas yang terengah-engah, seperti habis berlari.
"Saya tidak mentolerir keterlambatan dengan alasan apapun dalam kelas saya. Kamu akan saya anggap alpa dan tidak lulus dalam ulangan hari ini!" kata Bu Dina, guru MTK.
"Tapi, Bu ..."
"Silahkan keluar!"
Maggie, Vania, dan Eilen hanya melihat Celine tanpa bisa berkata apa-apa. Celine memilih keluar dan duduk di depan kelas.
"Astaga ... bego banget! Ini pertama kalinya gue diusir dari kelas," ucapnya pada dirinya sendiri.
Notifikasi ponsel mengalihkan perhatian Celine. Ia segera merogoh saku seragam sekolahnya dan tersenyum saat melihat layar ponselnya itu. Diliriknya kelas yang masih dalam keadaan tenang dan tertutup, lalu diam-diam ia menyelinap pergi.
Celine tiba di rooftop. Ia melihat ke sekeliling tapi tidak ada siapapun. Hingga seseorang menutup matanya dengan kedua tangan yang cukup besar, membuat wajahnya hampir tertutup sepenuhnya dengan tangan itu.
"Farel?!" terka Celine.
"Iya, sayang."
"Ihh .., apa sih? Lepasin!" pintanya.
"Lo bolos?" tanya Farel setelah melepaskan tangannya yang menutupi mata Celine.
"Bolos apanya? Gue dilarang ikut ulangan karena telat. Bu Dina tidak mentolerir keterlambatan di kelasnya. Dan ini pertama kalinya gue diusir, pertama kalinya juga gue gagal di ujian," Celine menggerutu, sedangkan Farel tertawa.
"Kok ketawa, sih? Gara-gara ketemu lo, gue jadi gak bisa ikut ulangan."
"Kan gue bilangnya kalau di kelas tidak ada guru, kita ketemu buat pemanasan. Ehh ... lo justru nggak bisa nahan dan datang ke gue."
Celine tersenyum dan malu-malu ia berkata, "Sejak malam itu, rasanya selalu pengen lagi dan lagi."
"Oops ... gimana kalau kita sudah lakuin lebih? Bisa-bisa lo minta di masukin tiap saat," ledeknya.
"Itu sih, maunya lo ..!"
Farel kembali tertawa, lalu membawa Celine duduk di sudut rooftop. Ini pertama kalinya Celine naik ke rooftop.
"Bagus banget disini. Gue pikir selama ini, rooftop dikunci dan tidak boleh ada yang masuk."
"Tentu saja, selain anak-anak Luxury, tempat ini terlarang bagi siapapun."
"Wah ..!" Celine yang masih takjub dengan fasilitas yang diterima Luxury, tidak menyadari jika sedari tadi, Farel tengah memperhatikan dirinya.
"Hmm, kenapa? Ada yang salah dengan wajah gue?” tanya Celine setelah menyadari tatapan Farel padanya.
"Iya, wajah lo ... cantik banget," puji Farel yang kesekian kalinya.
"Apa sih, Rel?" Celine tersipu. Namun, tidak lama keduanya saling menatap.
Entah siapa yang memulai, saat ini keduanya telah larut dalam permainan bibir. Tidak hanya saling berciuman mesra, Farel juga mulai meremas dua gunung Celine dari luar seragamnya secara bergantian. Puas dengan itu, Farel lanjut memasukkan tangan kanannya ke daerah sensitif Celine.
Menggesek-gesek jarinya lalu memasukkan jari tengah ke dalam lobang sempit Celine. Gadis itu hanya mendesah menikmati permainan jari Farel. Saat Farel mempercepat permainan jarinya, desahan Celine juga semakin kuat hingga tubuhnya mengejang dan cairan bening keluar, membasahi jari-jari Farel.
"Nikmat, sayang?" tanya Farel. Celine mengangguk.
"Mau lagi, Rel!" pintanya.
"Gue akan kasih lebih buat lo, sayang. Tapi, tidak di sini. Pulang sekolah mau ikut gue?"
"Kemana?"
"Bukannya lo mau lebih?" Farel berbisik manja di telinga Celine membuat sekujur tubuh Celine merinding nikmat.
"Baiklahh," Celine berucap dengan sedikit desahan membuat Farel tersenyum dan mencium singkat bibir ranumnya.
"Btw, gimana? Lo jadi join Luxury?" sekarang Farel bertanya sembari mencium pucuk kepala Celine dan tangan kirinya meremas buah d**a Celine berlahan.
"Hmm .., entah."
"Anak-anak Luxury akan nongkrong di ruangan khusus sebelum ke kantin, gue tunggu lo disana. Kalau lo ingin semakin dekat dengan gue dan menikmati sensasi-sensasi menggairahkan ini, masuklah ke lingkungan gue, agar kita bisa terus dekat dan melakukannya tiap saat," bujuk Farel.
"Tapi ... teman-teman gue?"
**°HighSchool°**
Istirahat bagi anak-anak SMA Cleverity adalah saat-saat paling membahagiakan karena di saat itulah mereka bisa mengisi perut serta bergosip ria bersama di kantin.
"Kemana sih, si Celine?" kesal Eilen yang tidak bisa menemukan Celine.
"Mungkin dia ke ruang guru kali, nemuin Bu Dina," jawab Vania.
Ketiganya saat ini sudah berada di kantin dan menyantap bakso favorit mereka. Kantin mulai heboh saat anak-anak Luxury masuk dan berjalan menuju meja tempat biasa mereka nongkrong.
Alvian menatap ke arah Maggie, saat ia dan teman-temannya melewati meja gadis yang tidak lain adalah kekasihnya. Maggie tengah memakan makanannya dan tidak melirik ke arah cowok bertubuh tinggi dan berambut hitam itu.
Namun, perkataan Eilen membuat perhatiannya tertuju ke arah rombongan anak-anak paling populer di Cleverity, "Celine?"
"Sejak kapan? Apa yang terjadi?" kali ini Vania yang berucap dan sama terkejutnya dengan Eilen dan Maggie.
Ketiganya melihat sahabat mereka berada di antara para siswa-siswi populer di Cleverity. Apa yang terjadi? Menjadi tanda tanya besar yang ada dalam benak ketiganya saat ini.
*Flashback*
Celine berdiri di hadapan anak-anak Luxury yang menatapnya penuh tanya.
"Apa yang lo lakuin di sini? Kalau lo nggak ada kepentingan, mending lo out! Ini ruangan khusus Luxury, lo tau itu kan?" kata Anna sembari menatap angkuh ke arah Celine.
"Gue tau. Gue disini ingin menerima tawaran kalian untuk bergabung dengan Luxury," jawab Celine.
Ekspresi bingung terlihat dari wajah mereka, kecuali Farel yang diam-diam tersenyum tipis.
"Kita minta lo bergabung dari tahun lalu, tapi lo selalu menolak. Sekarang, apa yang buat lo berubah pikiran?" tanya Vallerie.
"Gue tau keputusan gue dulu sangat bodoh. Seharusnya gue terima tawaran kalian sejak awal. Kalian tau ..." Celine menjeda perkataannya sesaat dan mengambil nafas panjang, lalu menghembuskannya.
"Perasaan tidak ingin mengkhianati sahabat, ..." ucapannya kembali terhenti kala ia teringat akan ketiga sahabatnya itu.
"Tapi, sekarang gue merasa, gue tertinggal jauh dari mereka. Mereka bisa melakukan apapun yang mereka inginkan. Maggie, dia memiliki otak yang cemerlang. Tidak ada kesulitan baginya karena kepintarannya," lanjutnya.
"Eilen meskipun dia cerewet tapi dia tidak kalah pintar dari Maggie. Dia pintar dalam Sains, sedangkan Vania dia sedikit pikun dan kekanakan tapi memiliki suara yang sangat bagus, dia anak paduan suara," jelas Celine.
"Terus? Lo ga pintar dalam hal apapun gitu?" kali ini giliran Ella yang bertanya.
"Gue suka dance, gue pandai melakukannya. Kalian juga tau itu ..., kalian pernah melihatnya. Karena itu kalian ingin gue bergabung dengan tim cheers dan Luxury," jawab Celine.
"Benar! Lalu?" sinis Anna.
Dengan sedikit gugup Celine berkata, "Popularitas gue juga masih sama dengan kalian, bahkan mungkin lebih di atas kalian. Jadi, nggak ada alasan buat kalian menolak, iya kan?"
Anak-anak Luxury tampak terkejut dan akan protes, tetapi Anna mendahului mereka.
"Tentu! Itu juga salah satu alasan kenapa kami ingin lo bergabung," ujar Anna, raut wajahnya tampak datar menatap tajam ke arah Celine.
"Kenapa lama banget lo nyadarnya? Kalau bersama dengan teman-teman lo itu, lo nggak akan berkembang. Lo hanya akan menjadi kutu buku seperti mereka, tidak peduli sepopuler apa lo di sekolah," celetuk Quenzy, seketika yang lain menoleh ke arahnya dengan raut wajah bingung.
"Jika dari dulu lo join, lo pasti bakal lebih menikmati kepopuleran lo di sekolah. Bukannya malah menghabiskan waktu tidak berguna dengan para kutu buku itu," lanjut Quenzy lagi.
"Lagipula, saat ini manusia dilihat berdasarkan standar kecantikan. Gak peduli seberapa bodoh lo, asal lo cantik .., lo aman! Jadi,kita terima saja dia," pernyataan Queenzy membuat tatapan tajam Anna mengarah padanya.
"Oke, welcome! Sekarang mari kita makan!" celetuk Gavin dan Arnold berbarengan.
"Makan mulu otak lo!" balas Ella.
Mereka ingin membalas ucapan gadis itu, tetapi Anna kembali mengambil alih, "Sejak kapan aturan kita berubah?" ucapnya sembari menatap kesal pada Quenzy yang hanya memasang wajah senyum, namun penuh arti.
"Kita lakukan vote! Yang setuju?" tanya Anna.
Seluruh anggota tampak ragu, tapi tetap mengangkat tangan mereka kecuali, Quenzy, Alvian, dan Anna.
Anna menatap Quenzy lagi, "Lo?“
"Kan gue sudah jelas tadi," balas Quenzy dengan nada santai.
Anna mengalihkan pandangannya ke arah Alvian yang berada dekat jendela, di sebelah kanannya, "Al?"
"Terserah, nggak penting juga buat gue," katanya cuek lalu pergi meninggalkan ruangan. Sebelum pergi, ia sempat melirik sekilas ke arah Celine.
Arnold, Gavin, dan Xander menyusul Alvian keluar. Tidak lama, Farel juga beranjak dan disusul Vallerie.
"Kalau gitu, Welcome to Luxury, Celine Aurella Darwin!" sambut Anna masih dengan wajah datarnya. Quenzy dan Ella yang masih berada di ruangan bertepuk tangan menyambutnya.
*Flashback*
**°HighSchool°**