Kedatangan anak-anak Luxury ke kantin membuat semua terkejut, termasuk Maggie, Eilen, dan Vania.
"Apa yang terjadi? Kenapa Celine duduk dengan mereka?" tanya Vania.
Eilen berdiri membuat Vania dan Maggie bingung. Ia berjalan ke arah Celine dan geng Luxury.
"Apa yang lo lakuin?" tanya Eilen pada Celine. Maggie dan Vania juga sudah menyusul dibelakang.
"Eoh, Eilen ... hmm ..," Celine terlihat kikuk dan tidak tau harus menjawab apa.
"Dia anggota baru Luxury. Jadi, dia harus duduk di sini, bersama kami," jelas Anna. Alvian diam-diam melirik ke arah Maggie.
"Anggota baru? Sejak kapan?" tanya Eilen lagi.
"Sejak hari ini. Kalian kalau tidak ada kepentingan, mending pergi deh. Ganggu orang makan aja!" ucap Quenzy membuat Eilen emosi.
"Gue nggak ngomong sama lo, jadi tutup mulut lo! Nggak guna, berisik tau nggak?!" balas Eilen membuat Quenzy melotot ke arahnya dan ingin membalas, tetapi ditahan oleh Ella.
"Jadi, ini alasannya kenapa sejak tadi lo sibuk sama ponsel, sampai-sampai lo telat ikut ulangan dan dikeluarkan dari kelas?" Anna melirik ke arah Celine usai mendengar penuturan Eilen.
"Bukan gitu, Len. Gue ..," ucap Celine. Namun, ucapannya di potong Eilen.
"Oke, kalau ini mau lo. Selamat untuk persahabatan baru lo. Ayo, Gie, Van, kita pergi dari sini!" Eilen beranjak dari tempat itu sementara Maggie dan Vania menatap bingung ke arah Celine, sebelum akhirnya menyusul Eilen.
"Dasar ... para kaum kutu buku yang aneh!" ujar Vallerie dan yang lain hanya tertawa menanggapi, kecuali Alvian dan Celine.
Eilen terus berjalan cepat menuju taman sekolah. Maggie dan Vania setia mengikutinya.
"Len, pelan-pelan, dong!" keluh Vania yang tidak dihiraukan oleh Eilen.
Setibanya di taman, Eilen duduk di bangku yang menyerupai batu tepat di tepi danau. Maggie dan Vania berdiri di sampingnya, mengatur nafas.
"Apa sih maksud dia? Kenapa nggak bilang kalau dia mau gabung sama geng sampah itu?" Eilen berucap kesal. Vania dan Maggie yang masih mengatur nafas hanya bisa menatapnya iba.
Mereka sangat mengetahui, Eilen dan Celine sudah bersahabat sejak mereka masih kecil. Sementara Vania dan Maggie, mengenal Eilen dan Celine saat baru menjadi murid di SMA Cleverity.
"Mungkin dia lupa," celetuk Vania.
"Dia bukan lo, Van!" balas Eilen membuat Vania terdiam.
"Dulu dia anti banget sama mereka, apalagi dia tau gimana bebasnya pergaulan mereka. Tapi, sekarang ... gue benar-benar nggak ngerti dengan apa yang dia pikirkan," Eilen terlihat sangat terpukul dengan sikap Vania.
"Lo taukan, dia suka banget dance dan jadi cheerleader itu impian dia, jadi mungkin ..," ucapan Maggie dipotong oleh Eilen, "Tapi, nggak harus join Luxury, kan?"
"Sepertinya Eilen lupa, kalau anak basket dan anak cheerleader adalah anak-anak dari geng Luxury," ucap Vania setengah berbisik. Ia masih terkejut akibat bentakan Eilen padanya tadi.
"Benar, selama ini selain bakat mereka juga harus memiliki popularitas untuk jadi anggota Luxury dan cheerleader. Dan itu sudah tradisi turun temurun di Cleverity," jelas Maggie.
"Tapi, dia bilang ... dia tidak tertarik. Dia tidak ingin bergabung dengan mereka dan hanya ingin bersahabat dengan gue. Gue merasa dikhianati, kalian mengerti, kan?" air mata mulai mengalir di pipi Eilen.
Vania duduk di samping dan mengelus pundaknya, berusaha untuk menenangkan gadis berambut panjang itu.
"Nggak semua kok anak-anak Luxury itu buruk. Contohnya ... Alvian," kata Vania lagi.
Maggie yang mendengar Alvian disebut, mendadak salah tingkah, raut wajahnya memerah.
"Gue rasa ... dia satu-satunya yang baik dan tidak pernah rusuh di Luxury. Walaupun waktu kelas satu dia nggak jauh beda sama teman-temannya itu, tapi sekarang dia nggak pernah lagi terlibat skandal. Dan ... sekarang ada Celine. Gue yakin dia nggak akan macam-macam. Lo yang paling mengenal Celine, jadi lo harus percaya sama dia!" lanjut Vania.
"Benar kata Vania. Kita mungkin tidak mengenal Celine sebaik lo mengenalnya, tapi gue yakin dia nggak akan ngecewain lo. Dia hanya ingin melakukan apa yang dia sukai," kali ini Maggie berucap dengan tenang.
"Bukankah kita sebagai sahabatnya harus mendukung dia? Lagian kata orang, masa SMA adalah masa-masa yang paling menyenangkan. Jadi, biarkan dia juga menikmati masa-masa itu. Biarkan dia juga melakukan hal-hal yang ingin ia lakukan selama sekolah," tutup Maggie.
"Tapi, gue tetap kesal karena dia tidak mengatakan apapun sama gue! Dan ... Luxury? Kalian tau, bagaimana kejamnya mereka, memikirkannya saja membuat gue tidak tenang," Eilen terlihat khawatir. Maggie dan Vania juga, tapi mereka tidak tau harus berbuat apa.
**°HighSchool°**
Di kelas Eilen duduk dengan Vania. Ia memindahkan barang-barang Celine yang semula berada di bangku sampingnya ke tempat duduk Vania di depannya. Celine masuk dan melihat tempatnya sudah diduduki oleh Vania.
"Mulai hari ini, gue duduk sama Vania. Gue nggak suka duduk sebangku dengan pengkhianat!" Eilen berujar dengan nada dingin.
"Lo kekanak-kanakan banget ... bersikap kayak gini. Setidaknya, Maggie bisa berpikir dewasa daripada lo!" balas Celine.
"Dimana Maggie?" tanya Celine pada Vania saat ia duduk dihadapannya.
"Ehh,-" Vania juga tampak bingung melihat Maggie yang belum kembali ke tempatnya.
"Nggak perlu lo jawab, Van. Anggap aja yang bertanya itu suara angin," Vania menatap Eilen, lalu berpaling menatap Celine, tersenyum kikuk. Namun, tidak lagi bicara, Celine menatap kesal pada sikap Eilen. Ia duduk di tempatnya dalam diam.
**°HighSchool°**
Sementara itu, Maggie saat ini berada di ruang musik bersama Alvian. Ruangan yang cukup tersembunyi karena letaknya di lantai empat serta berada di sudut koridor, membuat keduanya lebih aman untuk bertemu dan berbicara.
Hubungan keduanya tidak diketahui oleh siapapun, bahkan teman-teman mereka tidak ada yang mengetahui. Karena itu mereka jarang bertemu saat di sekolah. Kalaupun ingin, mereka harus melakukannya secara diam-diam.
"Apa yang terjadi?" tanya Maggie.
"Aku nggak tau. Dia datang dan meminta untuk diizinkan bergabung," jawab Alvian. Mereka membahas tentang Celine yang tiba-tiba menjadi anggota Luxury.
"Eilen sangat terkejut. Aku tau Celine suka dance dan dia juga ingin menjadi cheerleader sejak dulu, tapi kamu tau sendiri gimana tingkah anak-anak cheers."
"Hmm, aku rasa ... aku paling tau tentang itu."
"Karena itu, kita tidak mengerti. Dia bahkan mengambil kelas dance di luar sekolah untuk hobinya itu. Tapi, kenapa sekarang dia berubah pikiran?" Maggie mengkerutkan keningnya.
"Aku nggak tau. Nggak pernah perhatikan yang lain, selain kamu."
Maggie tiba-tiba tersipu mendengar perkataan Alvian yang seakan menggoda tapi nyatanya cowok itu memang mengatakan yang sebenarnya.
"Aku ngajak ketemu cuma mau ngasih roti dan s**u cokelat kesukaan kamu karena kamu nggak makan tadi."
"Tau darimana? Tapi, aku makan bakso kok tadi, cuma dua sendok sih ..," ucap Maggie kikuk.
"Kan aku sudah bilang, nggak perhatiin yang lain kecuali kamu."
Alvian menyerahkan roti dan s**u pada Maggie, lalu memintanya kembali ke kelas. Namun sebelum itu, entah mengapa Alvian mendekat dan memeluk tubuh kecil Maggie.
"Aku kangen banget. Sampai kapan kita pacaran sembunyi-sembunyi begini?"
Maggie tidak menjawab. Alvian melepaskan pelukannya dan menatapnya sendu.
"Kamu ... masih belum mencintaiku?" tanya Alvian setengah berbisik.
Maggie terdiam terpaku menatap sosok pria di hadapannya saat ini. Bayangan saat Alvian mendatanginya dan memintanya untuk menjadi kekasih, terlintas dalam benaknya.
**°HighSchool°**