*Flashback*
Alvian datang ke sekolah dengan wajah yang penuh memar dan luka. Sudah bisa ditebak, lelaki itu habis berkelahi ... lagi. Ia berjalan tanpa mempedulikan tatapan dan bisik-bisik para siswa tentangnya.
Ia terus berjalan dengan langkah cepat ke arah ruang UKS. Tidak butuh waktu lama baginya untuk tiba di depan pintu ruang kesehatan. Ia tampak sangat gugup, berulang kali berusaha menghirup udara dan menghembuskannya perlahan.
Setelah merasa tenang, Alvian membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan. Di dalam ruangan, ia disambut seorang gadis yang tengah berdiri membelakanginya.
Gadis itu berbalik, "Astaga, apa lo habis berkelahi?" ia terkejut dan suaranya yang lembut membuat hati Alvian terasa semakin cepat berdetak. Nafasnya tidak karuan, tetapi ia berusaha untuk tetap tenang.
Gadis itu menarik lengannya dan menuntunnya untuk duduk di atas ranjang yang ada di ruangan. Setelah memastikan Alvian sudah duduk dengan nyaman, ia segera mengambil peralatan untuk membersihkan dan mengobati luka-lukanya. Perlahan-lahan ia membersihkan luka dan darah yang ada di wajah tampan Alvian.
"Wajahmu tampan, sayang kan kalau harus penuh luka kayak gini," ucap Maggie, gadis yang sedari tadi membuat hati Alvian tak karuan. Suaranya bagai candu di telinga pria bermata coklat itu, bahkan matanya tidak lepas mengamati wajah gadis yang tengah fokus mengobatinya.
"Jangan berkelahi lagi!" pintanya lalu tersenyum manis. Senyuman yang hanya ia berikan untuk orang-orang yang berbicara langsung padanya.
"Gu-gue ... mau lo jadi pacar gue, Gie!" ucap Alvian tiba-tiba.
"Hah?"
"Karena lo, gue kayak gini. Gue nggak tau lagi apa yang gue pikirkan. Gue merasa lebih tenang dan nyaman saat ada lo disekitar gue," ucapnya dengan gugup.
"Gue nggak ngerti. Maksud lo?"
"Lo lupa sama gue .., Gie?" pertanyaan itu membuat Maggie terdiam.
"Tidak ... tentu saja tidak, gue tau siapa lo."
"Sudah sejak SMP gue menyukai lo, sejak saat pertama kita bertemu. Gue tidak pernah berani mengungkapkan perasaan gue, hingga kita lulus," mata Alvian berbinar menceritakan tentang perasaannya yang terpendam selama ini.
"Setelah lulus dan kita jadi murid SMA, gue bertemu dengan anak-anak Luxury. Gue berubah menjadi seperti mereka. Gue ... sering berkelahi dengan anak-anak dari sekolah lain, minum-minuman keras, bahkan kehidupan malam lainnya. Itu gue lakuin karena gue merindukan lo ... tapi gue nggak tau lo ada dimana ..." dengan ragu Alvian menjelaskan, matanya tidak lepas menatap wajah Maggie yang memerah.
"Lo sangat tertutup, bahkan akun sosial media yang lo punya, nggak pernah lo buka ... hingga suatu hari, gue melihat lo berada di lapangan Cleverity. Ternyata, selama ini lo ada didekat gue ... dan gue nggak pernah tau itu. Gue senang melihat lo lagi, tapi kemudian gue menyadari ... gue menjadi seseorang yang tidak pantas buat lo!"
Maggie menatapnya dan mencerna setiap kata yang terucap dari mulut lelaki itu, 'Benarkah? Atau dia hanya mencoba mempermainkan gue?' batin Maggie yang meragu berusaha mencari kebenaran dari pernyataan Alvian.
"Gue ingin menjadi cowok yang pantas, tapi gue tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Gue tidak ingin kehilangan lo lagi. Jadi,.."
Alvian menghirup nafas sekali lagi dan menghembuskannya, berusaha menghilangkan rasa gugupnya.
"Mulai detik ... kamu adalah milikku!" lanjutnya membuat Maggie terdiam membisu.
*Flashback End*
**°HighSchool°**
Ingatan masa lalu itu, membuat Maggie dan Alvian terdiam cukup lama dan saling tatap.
"Kamu belum memiliki rasa sedikitpun padaku, Gie?"
Alvian sering merasa jika Maggie tidak pernah benar-benar membalas cintanya.
"Sebenarnya, apa alasan kamu meminta aku menjadi kekasihmu secara tiba-tiba saat itu?" tanya Maggie penasaran. Pertanyaan yang sudah lama ingin ia tanyakan.
"Karena aku pernah jauh dari kamu dan hidupku berantakan setelahnya ... berpikir aku tidak bisa melihatmu lagi, membuatku menjadi kacau dan frustasi. Hanya minuman keras yang bisa sedikit menghilangkan perasaan sakit yang aku rasakan kala itu," jelas Alvian penuh keyakinan.
"Apa segitu besarnya perasaan itu untuk aku?"
"Aku tau ini terdengar klise, tapi hari-hariku tergantung padamu sejak SMP. Entah kenapa hanya melihatmu, aku merasa tenang. Suaramu ... senyumanmu ... semuanya benar-benar mampu membuat hariku terasa penuh warna. Dan juga ... aku takut karena kamu terlihat semakin dekat dengan cowok lain."
"Cowok lain?"
"Hmm ... seseorang dari kelasmu. Saat aku tau ternyata kamu di sekolah yang sama denganku, aku jadi sering memperhatikan kamu. Aku sering melihatmu bersama cowok itu. Dan puncaknya saat dia, mengelus pucuk kepala kamu. Aku marah ... dan melampiaskan kemarahanku dengan minum-minum di klub, mabuk, hingga terjadilah perkelahian itu."
Alvian menundukkan kepalanya, ada rasa malu karena sikapnya dulu yang kekanak-kanakan.
"Karena itu kamu datang seperti orang gila ke UKS?"
"Ah ... sebenarnya, saat pagi aku terbangun dengan kepala yang terasa pusing dan melihat postingan foto orang itu dengan gadis lain di i********:," Alvian menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Aku bersyukur saat itu dan segera berlari ke sekolah mencari kamu. Dalam benakku, apapun yang terjadi, hari ini juga kamu harus menjadi milikku ... agar tidak ada yang bisa memiliki kamu, selain aku."
Tangan Alvian kini beralih memainkan dasi sekolah miliknya seperti seorang anak kecil yang takut dimarahi ibunya.
"Aku ke kelasmu, kantin, bahkan perpustakaan, tapi kamu tidak ada ... dan salah satu temanmu mengatakan kamu ada di UKS."
"Ah, aku sedang kurang sehat saat itu ... jadi, aku beristirahat sebentar di UKS dan saat kamu datang Bu Irene sedang di toilet. Aku bingung harus berbuat apa. Tapi, aku cukup mengetahui cara melakukan pengobatan dasar untuk luka-lukamu..."
"Benarkah? Kamu menjadikan aku kelinci percobaan?"
"Hah? Ti-tidak ..." Maggie mengelak, terkejut dengan pertanyaan tidak mendasar itu. Alvian tertawa melihat tingkahnya.
"Saat itu kamu pasti takut padaku dan pernyataan tiba-tiba dariku," tebak Alvian.
"Ya Iya, aku tidak tau saat itu kamu sedang bercanda atau serius. Tapi, aku memilih untuk tidak menjawab. Aku tidak tau harus berkata apa ... jika menolak bisa saja, aku jadi bahan olok-olok kamu dan teman-temanmu."
Maggie menyingkirkan rambutnya yang terjatuh ke belakang telinga.
"Setelahnya, kamu malah mengatakan aku adalah milikmu. Saat itu, perkataan kamu terdengar seperti sebuah ancaman di telingaku," lanjutnya.
Alvian tertawa kecil "Apa sebegitu menakutkannya?" Maggie mengangguk.
"Tapi, makin ke sini, perasaan itu berganti dengan rasa nyaman ... tapi hanya sedikit. Itu bukan berarti aku menyukaimu."
Alvian tersenyum bahagia lalu kembali memeluk Maggie, ia bahkan mencium pucuk kepalanya.
"Tidak masalah, setidaknya kamu tidak merasa takut lagi dan mungkin akan segera membalas perasaan ini. Tapi, bukannya kamu sering membaca novel Romance?"
"Ya suka, kenapa?" Maggie menatap bingung padanya.
"Apa kamu benar-benar pintar?" perkataan Alvian membuat Maggie mencubit perutnya.
"Akhh ..." Alvian berteriak kesakitan tapi tidak lama tersenyum kembali. Kali ini Maggie balas tersenyum padanya.
"Aku selalu suka senyumanmu ... terlihat manis."
Maggie tersipu malu, "Aku ke kelas sekarang!"
Alvian tertawa kecil melihat gadisnya yang salah tingkah karena dirinya.
"Terimakasih, sudah membalas perasaan aku ... meskipun sedikit," tutur Alvian dengan sedikit penekanan di kata akhirnya. Maggie ingin membalas dengan berkata tidak, tapi ia memilih tidak berkata apa-apa dan diam-diam tersenyum malu.
**°HighSchool°**