Maggie sudah kembali ke kelas dan suasana masih sangat gaduh karena belum ada guru yang masuk untuk mengajar.
"Dari mana aja lo?" tanya Eilen. Maggie hanya menunjukkan roti dan s**u pemberian Alvian padanya.
"Beli ini," jawab Maggie beralasan.
"Bagi, Gie. Gue lapar banget, tadi jajanan bakso gue nggak habis," melas Vania membuat Maggie berbagi roti dengannya.
"Lo mau juga?"
Maggie kembali menawarkan roti itu pada Eilen. Ia akan mengambil roti dari tangan Maggie, tetapi sesuatu kembali membuatnya mengurungkan niat itu, Maggie bingung melihatnya.
Namun, ia dengan cepat menyadari penyebabnya. Kemunculan Celine yang entah dari mana, mampu menghilangkan rasa lapar Eilen.
"Hai, Gie!" sapa Celine.
Maggie ingin membalas sapaan Celine, tetapi Eilen sudah lebih dulu bersuara, "Tidak perlu dijawab. Anggap saja, itu suara angin!"
Maggie hanya menatap Eilen tanpa bertanya, ia mengerti kenapa Eilen bersikap seperti itu.
"Lo mau nyuruh semua orang menjauh dari gue?" tanya Celine dengan nada yang tinggi, membuat seisi kelas menatap ke arahnya.
"Kalau iya, kenapa? Tidak suka? Kalau nggak suka, lo tinggal pindah kelas aja ke IPS, gabung sama teman-teman baru lo!" balas Eilen.
"Lo kenapa sih, Len? Lo tau dari dulu gue pengen banget jadi cheerleader. Terus, salah kalau gue gabung sama mereka? Gue cuma mau jadi tim cheers. Itu aja!"
Pertengkaran keduanya menyita perhatian seisi kelas.
"Lo takut gue jadi kayak anak-anak Luxury? Gue punya otak, Len. Gue tau mana yang benar dan tidak. Walaupun gue gabung sama mereka, bukan berarti gue bakal jadi kayak mereka!"
Eilen tertawa meremehkan, "Oh ya? Gue kenal lo bukan baru kemarin, Cel. Gue tau lo itu tipe orang yang ikut arus. Tapi, kita lihat saja, omongan lo tuh bisa di percaya atau hanya omong kosong belaka!"
Maggie dan Vania hanya bisa diam melihat perdebatan keduanya. Mereka bingung harus berbuat apa.
"Oke, kalau itu mau lo. Gue akan menjauh dari lo. Tapi, gue nggak akan pindah ke IPS karena cita-cita gue tetap sama, menjadi dokter. Jadi, lo tahan-tahanin aja, duduk dekat gue selama sisa semester ini!" jawab Celine yang setelahnya langsung duduk tanpa mempedulikan Eilen dan anak-anak lain yang mulai saling berbisik.
Eilen ingin membalas lagi tapi langsung dihentikan oleh Maggie. Bersamaan dengan itu, guru Biologi masuk ke kelas dan seluruh siswa terdiam, kembali ke tempat masing-masing dan fokus dengan pelajaran.
**°HighSchool°**
Bel pulang sekolah berbunyi, para siswa yang terlihat lelah mulai merasa segar kembali dan bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Gue duluan, Gie!" ucap Celine kemudian beranjak pergi.
"Ish ... apa-apaan itu? katanya mau menjauh tapi masih aja sok akrab sama lo," celetuk Eilen.
"Udahlah, Len!" balas Maggie.
"Ishh, lo juga!" kesalnya, "Gue mumet banget. Kita ke mall, yuk!" Eilen yang masih kesal akhirnya mengajak dua temannya itu untuk menemaninya.
"Tapi, gue belum ngerjain tugas bahasa Inggris," ujar Vania.
"Gue juga harus ngerjain tugas Fisika yang kemarin," kali ini giliran Maggie.
"Please deh! Karena ini kita dipanggil geng kutu buku, ngerjain tugas kayak gitu bisa di sekolah, kan?" Eilen semakin kesal dengan jawaban teman-temannya, "Lagian lo pintar, Gie. Lima menit juga kelar kok itu."
Maggie dan Vania memilih diam, mereka tidak ingin menentang Eilen yang sedang kesal lagi.
"Pokoknya temenin gue ke mall. Dan mulai sekarang, kita harus berubah. Salah! Bukan kita, tapi lo berdua!"
Eilen menatap serius dua sahabatnya itu yang tampak bingung dengan ucapannya.
"Berubah gimana, Len? Gue bukan Power Rangers," celetuk Vania.
"Yang bilang lo Power Rangers, siapa Van?" balas Eilen memutar bola matanya, "Kalian harus berubah nggak jadi kutu buku lagi. Pokoknya image itu harus hilang dari kita, ngerti?!"
Vania dan Maggie hanya menatap bingung satu sama lain. Berurusan dengan Eilen yang sedang kesal, memang butuh kesabaran extra.
Usai perdebatan sengit, ketiganya memutuskan untuk ke mall dan jalan-jalan bareng. Mereka menuruni tangga, Maggie dan Vania tampak asyik bercanda, sedangkan Eilen berjalan dalam diam di belakang keduanya.
Ehh ... kaum kutu buku baru mau pulang, ya?" tegur Quenzy yang menarik perhatian anak-anak Luxury lainnya termasuk Celine.
"Hai, Vania. Mau pulang bareng gue, nggak? Nanti gue beliin es krim vanilla," kali ini Gavin ikut menimpali dan membuat teman-temannya yang lain tertawa.
"Jangan mau, Van. Es krim dia encer, nggak enak juga," celetuk Eilen. Vania hanya planga-plongo mendengar keduanya.
"Gini-gini, es krim gue di sukain sama cewek-cewek. Lo mau coba, Len?" tanya Gavin lagi membuat yang lain tertawa, termasuk Celine yg tersenyum.
Namun, saat ia menatap Eilen, senyuman itu memudar.
"Najis, ayo guys!" ucapnya membalas Gavin dengan mata yang menatap sinis ke arah Celine.
"Beruntung lo bisa lepas dari para kutu buku itu, Cel. Nggak bosan apa lo selama ini, hanya belajar ... belajar ... belajar!" ucap Ella diselingi tawa.
"I-Iya, La ... karena itu gue milih gabung dengan kalian," jawab Celine, membuat Eilen yang masih mendengar percakapan itu menjadi marah.
"Ini yang lo bilang nggak akan jadi seperti mereka? Bulshit lo, Cel!" Eilen kemudian pergi sembari menggandeng tangan Maggie dan Vania. Celine melihat ketiganya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Lo gak berharap kembali pada mereka, kan?" tanya Anna.
"Eoh, tidak ... tentu saja tidak!" jawab Celine masih menatap ke arah perginya ketiga sahabatnya itu.
"Bagus deh ... lo pilih Luxury, itu artinya lo harus nge-delete mereka dari hidup lo. Luxury anti dengan kaum kutu buku, ngerti?!" tutur Vallerie.
"Sudah dramanya? Nongki, yuk! Bosen gue!" kata Farel.
Alvian beranjak dari tempatnya, "Gue balik duluan."
"Lo nggak nongkrong lagi sama kita?" tanya Farel.
"Nggak dulu, gue capek!"
"Lo sekarang jarang banget jalan sama kita-kita, kenapa? Lo sudah nggak suka dunia Luxury lagi, Al?" cerca Vallerie.
"Kalau iya, gimana? Haruskah gue out dari Luxury?" tanya Alvian dengan ekspresi dingin membuat yg lain terdiam. Lalu setelahnya, ia pergi meninggalkan mereka yang masih menatapnya dengan tanda tanya.
Anna dan Farel menatap curiga. Tapi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Biar bagaimanapun, Alvian tetaplah member Luxury yang paling populer. Selain itu, status Alvian dan keluarganya membuat Anna dan Farel tidak dapat menyentuh lelaki itu.
"Apa mungkin diam-diam dia sudah punya kekasih?" terka Xander setelah kepergian Alvian.
"Nggak mungkin, dia aja kayak kulkas seribu pintu, gadis mana yang berani deketin? Yang ada kena mental duluan mereka," ucap Vallerie.
"Curhat lo?" ejek Arnold yang langsung mendapat tatapan sinis Vallerie.
"Udah-udah! Yuk, cabut!" tutup Anna.
**°HighSchool°**