Eilen, Maggie dan Vania nongkrong di salah satu kafe yang ada di mall sembari ngobrol santai satu sama lain.
"Hmm, kayaknya kalian harus mengubah penampilan, deh!" ucap Eilen setelah lama memperhatikan Maggie dan Vania yang duduk di depannya.
"Ubah penampilan? Emang ... penampilan kita kenapa?" tanya Vania.
"Penampilan kalian berdua terlalu cupu. Maggie dengan kacamatanya, lo dengan rambut kepang dua .., ini tuh model rambut jaman kapan sih, Van?" Eilen berkata dengan raut wajah heran menatap Vania.
"Ini bagus kok," ucap Vania, bibirnya sedikit dimanyunkan dan kedua tangan menggenggam rambut kepang duanya.
Eilen memutar matanya melihat tingkah sahabatnya itu, "Selain itu, baju kalian juga ..."
Vania dan Maggie spontan melihat ke arah baju mereka yang tampak baik-baik saja. Tapi dimata Eilen baju, mereka terlihat sangat aneh untuk ukuran anak SMA.
Baju yang sedikit kebesaran dengan rok yang tepat berada di bawah lutut, tidak heran jika mereka dijuluki culun.
"Ayo! Gue tau tempat yang cocok untuk kalian," ucap Eilen lagi seraya berdiri dari duduknya. Maggie dan Vania saling memandang pasrah.
Akhirnya, mereka tiba di sebuah gedung yang terlihat cukup keren. Bangunan berwarna hitam putih itu, tampak begitu megah dari luar.
"Ayo, masuk!" ajak Eilen.
Maggie dan Vania terlihat takjub begitu keduanya tiba di dalam gedung, "Wah!" celetuk Vania kala melihat interior ruangan yang sangat modern dan elegan dengan nuansa warna emas, hitam dan putih.
"Selamat datang, nona Eilen," sapa salah seorang karyawan.
"Terima kasih, Sofie. Hari ini gue datang bawa teman-teman gue. Dandanin mereka sesempurna mungkin," balas Eilen.
"Baik, nona. Mari, ikut saya!" ajak Sofie pada Vania dan Maggie. Eilen tersenyum puas.
"Gue pergi dulu, kalian santai aja, gue nggak akan lama. Biarkan mereka mendandani kalian, mengerti!" kata Eilen dengan senyum yang merekah.
Ia lalu beranjak pergi meninggalkan keduanya dalam kebingungan.
'Lihat saja, predikat cupu ataupun kutu buku tidak akan pernah terdengar lagi!' batin Eilen berucap saat ia melangkahkan kaki keluar gedung.
**°HighSchool°**
Disisi lain, Celine menikmati hari barunya sebagai member Luxury. Ia terlihat bersenang-senang, latihan Cheerleader, pergi berbelanja, hingga malam hari, gadis itu belum juga kembali ke rumah.
Sangat berbeda dengan kesehariannya dulu ketika bersama Eilen, Maggie dan Vania. Ia sangat jarang keluar hingga larut seperti ini, bahkan sekarang duduk di klub dan menikmati minuman beralkohol. Ini benar-benar sesuatu yang baru baginya.
"Gu-gue harus balik. Ini udah malam banget, nanti bokap gue nyariin!" ucap Celine pada anak-anak Luxury lainnya.
Namun, entah karena sudah mabok atau karena semua pada asyik sendiri, tidak ada yang menghiraukan perkataan Celine.
Ia memilih beranjak dan berjalan sempoyongan meninggalkan ruangan VIP, langganan anak-anak Luxury yang berada di Klub Estrada ... klub bintang 5 yang sangat terkenal di Ibukota.
Tetapi, ketika akan keluar tangannya dihadang oleh seseorang.
Tanpa memberi aba-aba, orang itu membalikkan tubuh Celine dan mulai menciumi bibir ranumnya. Celine tidak berusaha untuk memberontak, ia justru menikmati dan ikut larut dalam ciuman maut itu.
Tanpa keduanya sadari, aksi mereka telah dilihat oleh Anna. Ekspresinya datar saat melihat kekasihnya, Farel ... b******u dengan gadis lain dihadapannya.
Seketika ia berdiri, berjalan ke arah keduanya masih dengan ekspresi yang datar, ia berdiri tepat di belakang pria yang sudah resmi menjadi kekasihnya, sejak satu tahun yang lalu itu.
"Kalian menikmatinya?!" ucap Anna dengan nada dingin.
Celine yang melihat Anna ingin menghentikan ciumannya bersama Farel, tapi ditahan oleh lelaki berpostur atletis itu. Bahkan, ia mulai meremas dan menyentuh area-area sensitif Celine. Ia juga menarik Anna untuk bergabung bersama dengannya.
Tanpa diduga, Anna justru ikut menikmati permainan kekasihnya dan Celine. Ia berlutut dan mulai membuka rok sekolah Celine, serta celana dalam gadis itu. Lalu melumat bagian intimnya dan membuat gadis itu mengerang keenakan.
Farel juga mulai membuka baju seragam Celine, hingga sekarang ia tidak mengenakan sehelai kainpun. Farel meremas dengan kuat gunung bulat milik Celine, sedangkan mulutnya juga ikut menghisap dan mengenyot gunung yang lainnya.
Aksi dua sejoli itu membuat Celine tidak bisa menahan desahannya.
Dan tanpa ia sadari, Ella, Quenzy, Vallerie, Arnold, Xander dan Gavin, telah asyik menonton aksi ketiganya. Padahal sebelumnya mereka semua tengah asyik b******u satu sama lain. Bahkan, Gavin merekam aksi brutal ketiga temannya itu.
**°HighSchool°**
Celine terbangun, ia masih berada di ruang VIP klub. Kepalanya terasa pusing. Ia mencoba membuka matanya dan melihat ke sekeliling, tapi tidak menemukan siapapun di ruangan itu selain dirinya.
"Uhkk, dingin!" Celine melihat ke arah tubuhnya yang tanpa sehelai benang menutupi dirinya. Ia sontak terkejut dan panik, segera ia mencari sesuatu untuk menutupi tubuh putihnya.
Namun, ia tidak menemukan apapun selain bantal sofa. Ia dengan cepat mengambil benda empuk berwarna putih dan menutupi bagian tubuh depannya dengan bantal itu sembari duduk bersandar di sofa.
"Apa yang terjadi?" ucapnya linglung. Celine lalu mencoba berdiri, tetapi terasa nyeri di bagian keintimannya.
"Ahh ... Da-Darah?" lirihnya kala melihat darah kering yang mengalir di sekitar selangkangannya.
"Ya Tuhan ... apa yang terjadi semalam? Kenapa gue nggak bisa ingat apa-apa?" ucapnya bingung. Ia melihat ke sekeliling sekali lagi dan tidak menemukan barang-barangnya.
Ia mulai ketakutan dan panik. Ia mencari ponselnya, dan menemukan ponsel miliknya yang jatuh di bawah kolong sofa. Ia segera memencet tombol darurat nomor dua.
Tut ... Tut ...
'Halo?'
"Maggie? Gie ... lo dimana? Tolongin, gue Gie ...!" ucap Celine dengan suara yang gemetar.
Ketika itu seseorang masuk dan langsung merampas ponsel Celine, memutuskan sambungan telepon dan meletakkan ponsel itu diatas meja.
"Well, siapa yang coba lo hubungi, Celine sayang?"
"A-Anna?"
"Mandi, gih! Nih, pakaian lo!" kali ini giliran Vallerie yang bersuara. Ia juga menyerahkan pakaian sekolah Celine yang sudah selesai dicuci.
"Ap-apa ... yang terjadi?" ucap Celine ketakutan. Ia masih menggenggam kuat bantal yang menutupi tubuhnya.
"Lo nggak berpikir untuk tetap virgin ketika lo sekarang sudah jadi bagian dari kita, kan?" tanya Anna.
"Anggap saja semalam itu pesta penyambutan dan peresmian lo menjadi anggota Luxury," lanjut Anna lagi.
"Congratulations ...!" kata Quenzy dengan tepuk tangan meriah.
Tidak lama kemudian, dari arah pintu, masuk keempat cowok Luxury yang semalam juga sempat ikut berpesta bersama mereka.
"Wow, apa nih? Sarapan pagi?" tanya Gavin ketika melihat Celine yang masih telanjang dihadapannya.
"Kalau lo nggak mau, diserang sama cowok-cowok kelaparan ini lagi, mending sekarang lo mandi terus ganti baju," ucap Ella.
"Buruan! Gue nggak mau kita telat masuk sekolah," kali ini giliran Vallerie yang angkat suara.
Meski masih bingung, Celine memilih untuk mendengarkan perkataan Ella dan segera masuk ke kamar mandi yang ada di ruangan itu. Sejenak, ia tidak ingin memikirkan tentang apa yang terjadi semalam.
**°HighSchool°**