[ Shannon L. Alder ]
"Anger, resentment and jealousy doesn’t change the heart of others — it only changes yours.”
⁂ ⁂ ⁂ ⁂ ⁂
Ketakutan Valerie semakin bertambah saat memasuki mansion milik keluarganya. Dia sangat yakin ayahnya tidak akan meloloskan dirinya begitu saja. Terutama setelah Valerie melakukan kesalahan, yaitu berbohong.
Dan benar saja keyakinan Valerie. Kedua pengawal itu membawa Valerie menuju ruangan yang paling dibenci olehnya. Ruangan yang mampu menekan keberanian Valerie hingga titik nol. Dia dan juga adiknya menyebut ruangan itu sebagai ruang hukuman. Karena ayahnya akan membawa mereka ke sana untuk dihukum.
“Father, kumohon jangan hukum aku. Aku… aku tidak akan bertemu lagi dengan Adrian. Aku akan menuruti apapun keinginanmu.” Pinta Valerie dengan nada bergetar.
Langkah kaki Searlus berhenti tepat di depan ruang hukuman. Pria itu membalikkan tubuhnya dengan wajah yang sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun. Sehingga Valerie tidak tahu apa yang akan dikatakan ayahnya.
“Sayangnya sudah terlambat, Sayang. Kau sangat mengecewakanku. Bawa dia masuk.”
Searlus membuka pintu dan melangkah masuk. Kedua pengawal itu menarik paksa Valerie untuk masuk. Dengan sekuat tenaga Valerie melawan, tapi tetap tidak menghasilkan apapun. Cengkraman kedua pengawal itu begitu erat seperti seutas tali yang ditali mati.
“Tidak, Father. Lepaskan aku. Kumohon lepaskan aku.” Teriak Valerie dengan meronta-ronta.
Mereka membawa Valerie masuk di ruangan yang dicat coklat gelap. Ruangan itu dipenuhi dengan alat untuk menyiksa. Ada kurungan kecil yang hanya muat untuk satu orang, ada cambuk, dan berbagai alat menyiksa lainnya.
“Ikat dia di sana.” Perintah Searlus menunjuk ke arah kursi yang terletak di sudut ruangan.
Seketika tubuh Valerie menjadi lemas. Wajahnya memucat memandang kursi kayu tua dengan pandangan yang mengerikan. Seakan kursi itu adalah tiang gantung yang siap merenggut nyawanya. Meskipun kursi itu layaknya kursi biasa, tapi hukuman yang dijalani di kursi itulah yang membuat Valerie merinding ketakutan.
“Tidak. Jangan, Father. Jangan kursi itu.” Valerie kembali memohon kepada sang ayah.
Sayangnya Searlus tidak mendengarkan permohonan putrinya. Wajahnya begitu dingin dengan tatapan tajam mengamati anak buahnya menggiring putrinya menuju kursi maut. Sekuat apapun Valerie berusaha membebaskan diri, tetap saja dua pria yang memegangi tangannya berhasil menyeretnya menuju kursi itu.
“Diam, Valerie. Apa kau ingin Cecile juga bergabung denganmu?”
Ancaman Searlus sukses membuat Valerie berhenti berteriak dan meronta. Pria itu mengetahui titik kelemahan putri sulungnya. Dan berapa kali pun dia menggunakan titik lemah itu, pasti selalu berhasil. Bahkan saat dua pengawal itu mengikat tubuhnya di kursi, Valerie terdiam membisu. Dia sama sekali tak bergeming dan tidak melawan. Wanita itu tidak akan membiarkan adiknya jatuh dalam hukuman yang diperbuat olehnya.
“Panggil Cosmo. Kita akan membuat hukuman ini sangat menarik.” Perintah Searlus pada salah satu pengawalnya.
“Sejak kapan kau bersamanya?” Tatapan Searlus tertuju lurus pada Valerie.
“Aku… aku baru mengenalnya.”
“JANGAN MEMBOHONGIKU!” Bentakan itu membuat Valerie menutup matanya.
“Sa-satu bulan.” Jawab Valerie lirih.
“Satu bulan?” Searlus mendengus sinis, “Kau menemuinya diam-diam di belakangku selama satu bulan? Kau memang pantas dihukum, Valerie.”
Terdengar suara gonggongan anjing mendengar. Suara itu begitu keras dan membuat tubuh Valerie merinding ketakutan. Wajahnya semakin pucat dan darahnya berdesir seiring suara mengerikan itu. Pintu terbuka dan terlihat seorang pengawal datang bersama seekor anjing hitam besar dan berotot. Tatapannya seperti menusuk dan suaranya yang keras membuat Valerie beringsut takut. Dalam posisi terikat di kursi, Valerie akan bersiap memulai hukuman yang sangat dibencinya.
Pengawal itu menarik anjing itu mendekati Valerie. Pria itu mengikat tali yang melingkar di leher Cosmo. Suara nyalakan yang tak henti membuat Valerie menutup mata. Bahkan hanya suara gonggongan itu berhasil membuat tubuh Valerie lemas ketakutan. Jantungnya berdetak dengan begitu cepat. Dia berusaha menarik diri agar anjing itu tidak bisa menyentuhnya.
Meskipun diikat, jarak terdekat anjing itu hanya beberapa centimeter saja dari Valerie. Seakan anjing itu bisa menggigit bagian tubuh mana pun dari Valerie. Wajahya yang beringas terus membuka mulutnya dan menampilkan deretan gigi tajam yang siap menancap di kulit Valerie.
“Nikmati hukumanmu, Valerie. Dan pikirkan baik-baik untuk tidak lagi membohongiku.”
Searlus pun duduk dengan santainya melihat anjing doberman miliknya berusaha mendekati Valerie. Pria itu membiarkan putrinya menangis ketakutan. Dia tidak memperdulikan tubuh Valerie yang bergetar hebat karena ketakutan. Dengan menggunakan anjing itu mampu membuat Valerie jatuh dalam laut ketakutan.
Dalam hati Valerie berdoa pada Tuhan untuk melindunginya. Seakan anjing itu kapan pun bisa merenggut nyawanya. Saat itulah dia menyesali permintaan Judith untuk menghentikan pertemuannya dengan Adrian. Wanita itu benar kebohongan Valerie tidak hanya melukai dirinya tapi juga Adrian dan keluarganya.
Judith.
Detik itu Valerie sadar jika hanya wanita itulah yang mengetahui tentang Adrian. Pemikiran jika Judith yang memberitahu ayahnya terasa sulit dipercaya. Selama ini Judith selalu berada di pihaknya untuk melindungi dirinya. Tidak mungkin Judith yang memberitahukan perihal Adrian pada sang ayah.
⁂ ⁂ ⁂ ⁂ ⁂
Jonathan mengamati putranya yang babak belur dengan penuh emosi. Dia emosi pada Searlus yang telah membuat putranya hancur. Dia emosi kepada Adrian yang tidak menuruti ucapannya. Dan dia juga marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa berbuat apapun.
Adrian duduk sembari sang ibu mengobati luka-lukanya. Laki-laki itu jauh leboh diam daripada biasa. Tidak hanya tubuhnya yang remuk, tapi juga hati Adrian hancur berkeping-keping. Keyakinan jika Valerie juga memiliki perasaan yang sama seketika lenyap. Dia masih ingat jelas ekspresi Valerie saat mengatakan jika dia tidak mencintai Adrian.
"Jadi inikah hasil keras kepalamu?" Geram Jonathan.
"Jangan sekarang, Jo." Camila memohon pada suaminya.
"Aku sudah berusaha untuk memberitahunya jika hubungannya dengan putri Mr. Beaufort tidak baik. Tapi dia tak mau mendengarku. Dia sangat yakin jika putra kita dan nona Valerie saling mencintai. Sekarang lihat hasilnya. Karena cintanya kita sudah diusir dari pulau ini." Jonathan tidak bisa menahan amarahnya. Dadanya naik turun dengan cepat
"Hentikan, Jo. Saat ini kau sedang emosi dan tidak mengatakan semua itu dengan sungguh-sungguh. Lebih baik kau keluar mencari udara segar dan mendinginkan pikiranmu."
Jonathan tak bergeming mendengar ucapan istrinya. Emosi memang bisa membuat seseorang mengucapkan kata-kata yang mampu menyakiti orang yang disayanginya. Akhirnya Jonathan memutuskan untuk mengikuti saran istrinya. Dia berjalan keluar dengan masih diliputi emosi.
Camila menghela nafas lega karena suaminya mau mengikuti ucapannya. Akhirnya dia memberikan perhatian sepenuhnya pada Adrian.
"Jadi benar kau menjalin hubungan dengan nona Valerie?" Tanya Camila dengan suara lembut.
"Aku terlalu bodoh, Mom. Dia hanya mempermainkanku."Adrian menunduk sedih.
"Ayahmu benar, Adrian. Hubunganmu dengan nona Valerie tidak baik. Terutama jika mengusik Mr. Beaufort."
Adrian mendongak menatap sang ibu saat mendengar nada kebencian dalam suara Camila ketika menyebutkan nama ayah Valerie.
"Apakah Mr. Beaufort mengancammu, Mom? Atau dia bertindak kasar padamu?"
Camila hanya tersenyum tipis, "Bukan hal besar. Seperti yang diketahui banyak orang jika dia sangat kejam. Seharusnya kau tidak mengusiknya."
Terlihat penyesalan muncul di manik mata Adrian, "Maafkan aku, Mom. Seharusnya aku tidak membuat keadaan menjadi semakin sulit."
Camila mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi putranya. Tatapan penuh kasih sayang ditujukan pada putra satu-satunya.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Son. Mungkin kepindahan kita ke tempat lain membawa kita ke keadaan yang jauh lebih baik."
Adrian memejamkan matanya begitu nyaman merasakan elusan tangan sang ibu. Dia bahkan memegang tangan Camila agar tidak beranjak. Mungkin ibunya benar. Bisa saja keadaan mereka jauh lebih baik setelah keluar dari sini. Mendadak tekad Adrian untuk mengubah kehidupannya menjadi besar. Dia tidak akan melupakan hari ini. Justru dia akan menjadikan hari ini sebagai pemicu semangatnya agar bisa menaiki tangga yang jauh lebih tinggi dari siapapun.
⁂ ⁂ ⁂ ⁂ ⁂
Searlus adalah ayah yang kejam ya. Anak diberi hukuman mengerikan seperti itu. Mohon jangan dicontoh ya. Tindakan Searlus adalah tindakan yang tidak berperikemanusiaan.
Penasaran bagaimana kelanjutannya? Tunggu chapter berikutnya ya...