Kemarahan muncul karena ketidakberdayaan kita menghadapi sesuatu.
Ketika kita tidak bisa menerimanya amarah itu membesar dan berubah menjadi dendam.
Dendam yang dipendam layaknya gunung membuat seseorang bisa meledak kapanpun.
⁂ ⁂ ⁂ ⁂ ⁂
Judith yang berdiri di depan ruang hukuman memejamkan matanya tatkala mendengarkan suara anjing yang tak henti menggonggong. Hatinya mencemaskan kondisi Valerie. Membayangkan ketakutan yang dihadapi gadis itu membuat hati Judith seakan diremas.
Wanita paruh baya itu telah menganggap Valerie seperti putrinya sendiri. Dia sudah menjaga gadis itu sejak bayi, sehingga rasa sayang wanita itu kepada Valerie begitu besar. Hal itulah yang membuat air mata wanita itu jatuh ke pipinya. Dalam hatinya dia berharap Tuhan melindungi gadis malang itu.
Terdengar pintu terbuka. Seketika Judith membuka matanya dan melihat Searlus melangkah keluar bersama kedua pengawalnya yang membawa Cosmo pergi ke kandangnya. Searlus menatap tajam Judith karena tidak seharusnya wanita itu di sini.
"Urus dia!" Perintah Searlus kemudian berlalu pergi.
Judith bergegas memasuki ruangan itu. Dia bisa melihat kondisi Valerie yang berantakan. Kaos putihnya tampak sobek di beberapa tempat karena tali yang menahan tubuhnya. Keringat pun membasahi tubuh gadis malang itu. Dan kepala Valerie tertunduk lemas.
Satu jam bermain-main dengan ketakutan telah menguras tenaganya. Judith merasa kasihan melihat Valerie. Namun dia tidak bisa berbuat apapun untuk menolongnya.
Akhirnya wanita itu melepaskan ikatan di tubuh Valerie dan membantu gadis malang itu untuk berdiri. Valerie menoleh dan tersenyum tipis pada wanita itu. Dengan susah Payah Judith membawa Valerie ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Judith mendudukan Valerie di atas ranjang. Dia melepaskan kaos yang telah robek di beberapa tempat itu. Wanita meringis melihat garis-garis merah yang diakibatkan tali yang mengekang gadis kesayangannya. Judith melangkah menghampiri meja di samping ranjang. Dia menuangkan air putih dari teko. Lalu mengambil gelas berisi air itu dan menyerahkannya pada Valerie.
“Minumlah, Sayangku. Aku akan mengambilkan salep untukmu.”
Tangan Valerie yang gemetar meraih gelas itu. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Gadis itu menarik gelas ke bibirnya. Meneguk air yang mampu melegakkan tenggorokannya yang sekering gurun pasir.
Judith segera menghilang dari hadapan Valerie. Tapi tak lama kemudian wanita itu muncul dari kamar mandi dengan membawa baskom air hangat dan salep untuk luka di tubuh Valerie. Judith mengambil kursi dan meletakkan baskom air di atas meja di dekatnya. Dia mengambil gelas di tangan Valerie dan meletakkannya kembali.
“Maafkan aku, Sayangku. Aku harus melepaskan bramu.” Judith tetap meminta ijin pada gadis itu.
Valerie hanya memberikan anggukan kecil sebagai jawabannya. Dengan hati-hati Judith berpindah ke belakang tubuh Valerie dan melepaskan kaitannya. Valerie mendesis saat tali branya menyentuh luka di tubuhnya.
“Tahan sebentar, Sayangku. Aku janji akan membuat tubuhmu terasa jauh lebih baik.” Ucap Judith menenangkan gadis itu.
Judit mengusap handuk yang sudah dibasahi dengan air hangat dengan sangat lembut. Dia mendengarkan rintihan memilukan dari Valerie. Lagi-lagi Judith tak bisa menahan air matanya untuk tidak terjatuh.
“Aku... aku tidak percaya jika kau yang mengatakannya pada father, Judith. Aku tahu kau sangat menyayangiku.” Valerie mengenyahkan pemikiran jika Judith-lah yang mengadu pada sang ayah.
“Terimakasih sudah mempercayaiku, Sayangku. Percayalah, aku bahkan tidak tega melihatmu dibawa ke ruangan k*****t itu.”
Valerie terkekeh pelan diiringi ringisan sakit. Setidaknya umpatan Judith berhasil membuat gadis itu tersenyum. Kehilangan Adrian saja sudah membuat hati Valerie seperti ditusuk-tusuk pisau. Apalagi harus menyangkal perasaannya pada laki-laki itu. Semua yang diucapkan Valerie adalah kebohongan besar. Adrian adalah cinta pertama yang memiliki kapasitas besar dalam hatinya. Laki-laki itu memberikan kebahagiaan yang selama ini hanya bayangan yang tak pernah digapai oleh Valerie.
Sayangnya sekarang Valerie telah membuat laki-laki yang dicintainya berubah membencinya. Valerie tidak hanya meninggalkan luka di fisik Adrian, tapi juga di hati serta keluarga laki-laki itu. Valerie telah menempatkan Adrian dalam posisi yang sulit.
“Seharusnya aku mendengarmu, Judith. Seharusnya aku memutuskan hubungan itu lebih awal sebelum father mengetahuinya.” Sesal Valerie diiringi tangisnya.
Ingin sekali Judith memeluk gadis itu, tapi dia tidak ingin membuat gadis itu merasakan sakit yang lebih lagi. Akhirnya wanita itu hanya bisa mengelus lembut rambut Valerie dengan penuh sayang.
“Kau melakukannya karena kau mencintai Adrian, Valerie. Bersama Adrian kau mendapatkan kebahagiaan yang kau impikan. Tidak salah jika kau bersikap egois menahan Adrian untuk tetap bersamanya.”
“Tapi aku sudah merusak hidupnya Judith. Aku... aku telah berbohong padanya jika aku tidak mencintainya. Aku hanya mempermainkannya. Dan... dan saat melihat wajahnya yang terluka, ingin rasanya aku mencabut pita suaraku karena telah menyakitinya, Judith.”
Judith mencium puncak kepala Valerie, “Oh, Sayangku. Pasti berat untukmu melihatnya terluka. Tapi keputusanmu sudah tepat. Meskipun terlihat kau menyakitinya tapi kau justru menyelamatkannya, Valerie. Kau tahu bukan bagaimana reaksi tuan Searlus jika mengetahui kau mencintainya.”
Judith memang benar. Ayahnya bisa bertindak lebih kejam dari memukul kekasihnya. Bahkan dia yakin ayahnya mampu melenyapkan Adrian hanya karena perasaan cinta dalam hati Valerie. Dan gadis itu pun juga ingat jika dia tidak hanya menyelamatkan Adrian dan keluarganya. Dia juga menyelamatkan adiknya dari hukumuan yang tidak seharusnya Cecile jalani.
Valerie terus menangis hingga Judith selesai mengoleskan salep di atas luka gadis itu. Setelah mengenakan pakaian baru, Judith hanya bisa memeluk Valerie dengan sangat hati-hati. Membiarkan gadis malang itu menumpahkan segala kesedihan dan penderitaannya.
⁂ ⁂ ⁂ ⁂ ⁂
Jonathan menegak botol birnya untuk kesekian kalinya. Dia tidak mempedulikan wajahnya yang memerah karena mabuk. Bahkan terkadang pria itu tertawa dengan keras tanpa sebab apapun. Satu-satunya bar kecil di pulau ini menjadi saksi kehancuran Jonathan Leandre.
“Hentikan, Jo. Kau sudah mabuk.” Nasehat salah satu pelayan yang mengenali Jonathan.
“Jangan mengaturku, Brad.”
“AKu tidak mengaturmu, Jo. Tapi mencemaskanmu. Kau minum terlalu banyak.” Brad menunjuk botol-botol yang ada di atas meja di depan Jonathan.
“Aku membutuhkannya, Brad. Aku membutuhkan minuman ini untuk melenyapkan kesadaran yang membuatku gila ini.”
Brad sudah mendengar tentang Searlus yang mengusir keluarga Leandre. Pria itu turut sedih mendengarnya. Sayang sekali dia tidak bisa membantu apapun. Akhirnya Brad menghela nafas lalu beranjak menuju konter untuk mengambil dua botol bir. Pria itu kembali menghampiri Jonathan.
“Dua botol ini gratis untukmu. Anggap saja hadiah perpisahanku. Aku turut sedih mendengarnya, Jo.” Brad mengucapkannya dengan tulus.
“Apa kau percaya jika tuan b******k itu mengusirku hanya karena putrinya menggoda putraku.”
“Hentikan, Jo. Jika tuan Searlus mendengarnya, kau bisa berada dalam bahaya.”
“Aku tidak peduli, Jo. Aku sudah hancur, jadi tidak masalah jika lebih hancur lagi.” Jonathan mengambil bir yang baru saja diberikan Brad.
Dia meneguknya dalam porsi yang sangat banyak. Desahan lega terdengar setelah pria itu menghentikan acara minumnya.
“Sebaiknya kau pulang, Jo. Aku akan mengantarmu.”
“Tidak perlu repot-repot, Brad. Aku akan pulang sendiri. Kau benar-benar tega mengusirku.”
Brad hanya menghela nafas mendengar tingkah mabuk Jonathan, “Aku tidak mengusirmu, Jo. Aku hanya mencemaskanmu. Aku tidak ingin terjadi hal buruk di jalan.”
“Baiklah. Baiklah. Aku akan pergi. Kau sama saja seperti Camila, sangat cerewet.” Jonathan mengambil dua botol gratis dari Brad sebelum akhirnya melangkah keluar dari bar kecil itu.
Dalam perjalanannya, Jonathan tidak bisa berjalan dengan lurus. Tubuhnya oleng ke kanan dan ke kiri. Mendadak tertawa dengan keras, tapi detik berikutnya mengomel sendiri. Langkahnya terhenti saat sebuah pemikiran muncul di otaknya yang masih belum sepenuhnya tidak berfungsi.
“Kau tidak akan lagi melihatku, Searlus. Tapi aku akan membuatmu menyesali perbuatanmu. Aku akan membalas kehancuran yang kau perbuat padaku. Kau akan menyesalinya, Searlus.”
Salah satu sudut bibir Jonathan terangkat saat sebuah de menghinggapi otaknya. Dia akan membalas dendam pada Searlus. Membalas segala kehancuran yang didapatnya. Pria itu berbalik arah. Dia tidak akan kembali ke rumahnya. Tapi dia akan pergi menuju rumah yang akan siap menerima pembalasan dendamnya.
⁂ ⁂ ⁂ ⁂ ⁂
Apa yang akan dilakukan ayahnya Adrian ya? Di tunggu kelanjutannya ya...
Allegra pengen nangis melihat penderitaan Valerie. Beruntung dia memiliki Judith yang selalu menyayangi seperti seorang ibu yang menyayangi putrinya.