Hari ini kedua orang tua Ana, akan berangkat ke Singapura. Sebagai anak yang baik, Ana ikut mengantar kedua orang tuanya.
"Mama dan Papa flight jam berapa?" tanya Ana.
"Nanti sore jam 15.00, kamu ikut, kan?"
Ana menjawab dengan menganggukkan kepalanya, pagi ini mereka sedang sarapan bersama Ana sengaja mengambil libur untuk bisa mengantar kedua orang tuanya, untunglah rumah sakit tempat Ana bekerja saham terbesar milik sang Papa. Jika tidak mungkin Ana, hanya akan tinggal nama.
Bapak Setiawan memiliki hampir 58% saham rumah sakit dan hal itu membuat pria yang begitu handal di dunia bisnis memegang pengaruh cukup besar. Bisnis properti dan lainnya, begitu besar itulah kenapa banyak orang yang ingin bekerja sama dengan menikahkan anak mereka.
Tapi bapak Setiawan tidak mau melakukan hal itu, karena dirinya sudah memiliki calon untuk anaknya. Pria yang menurutnya terbaik, meskipun memiliki masa lalu tidak mengenakan. Apalagi bapak Setiawan dan bapak Harus papanya Bara juga berteman lama, dari SMA hingga masa kuliah hal itu juga menjadi nilai plus untuk hubungan keduanya.
"Kamu masih mau jadi dokter biasa di rumah sakit?" tanya Papa Setiawan. Ana yang sedang menikmati sarapan paginya, menatap ke arah sang Papa. Ana tahu mau pergi kemana jalan cerita dari ucapan sang papa. "Ana udah spesialis anak loh Pa." Benar apa yang diucapkan oleh Ana, dirinya sudah mengambil gelar spesialisnya. Memiliki otak yang begitu pintar membuat Ana, bisa melewati semuanya dengan mudah.
Itu juga nilai plusnya, kenapa Ana bisa bekerja di rumah sakit tersebut, selain karena ada pengaruh sang Papa. Kepintaran dari bangku sekolah hingga perguruan tinggi membuat Ana, menjadi salah satu orang yang menerima banyaknya beasiswa prestasi.
"Maksud Papa, kamu nggak mau coba untuk ambil beberapa kursi penting. Mengelola beberapa hal gitu, supaya kamu bisa ikut kerjain bisni," ucap Papa Setiawan.
"Ana masih mau seperti ini, lebih menikmati hari Pa. Kalau ngurusin rumah sakit, nggak bakalan habis," jawab Ana.
Terdengar dengan sangat jelas tarikan napas panjang oleh Papa Setiawan, pria paruh baya itu hanya bisa pasrah dengan sang anak yang begitu sulit untuk ikut dalam bisnis keluarga.
"Nanti kalau kamu malas masak, jangan masak mie ya. Mama nggak mau kamu sakit lagi," ucap Mama Sekar. Ana hanya menampilkan senyumannya dengan begitu lebar, mamanya ini begitu tahu bahwa apa yang diinginkan olehnya. "Iya … iya Ma. Nanti nggak makan mie, cuman cicip aja," balas Ana.
Mama Sekar hanya geleng-geleng kepala dengan apa yang diucapkan oleh anaknya tersebut.
***
Satu jam sebelum keberangkatan mereka semua sudah mulai masuk ke dalam mobil untuk pergi menuju bandara, selama di perjalanan menuju bandara tidak banyak hal yang diucapkan oleh kedua orang tuanya.
Mereka hanya bercerita mengenai beberapa bisnis yang saat ini sedang dikerjakan, tak lupa juga mama Sekar memberikan beberapa nasehat untuk anaknya selama mereka pergi ke luar negeri.
Ana hanya bisa memutar matanya dengan kesal mendengar hal tersebut berulang kali, "Iya ma iya Ma iya aku bakalan dengerin semua ucapan yang Mama beritahu," balas Ana.
Sambil menyetir mobil Anna terus saja mendengarkan semua ucapan dari kedua orang tuanya, sehingga mobil tersebut sampai di lobi keberangkatan. Segera saja kedua orang tuanya turun dari dalam mobil, sedangkan Ana memarkirkan mobilnya menuju ke tempat parkir.
Tak lama Ana segera menyusul kedua orang tuanya, saat sampai di sana bukan hanya ada kedua orang tuanya melainkan ada ada orang lain jangan begitu Ana tahu siapa mereka.
"Nggak mau Oma pokoknya aku nggak mau." Anak kecil tersebut terus saja berontak dengan apa yang dilakukan oleh Oma nya, Ana hanya melihat tanpa berkomentar sedikitpun.
***
Ana tidak tahu harus berkata apa, gadis itu berulang kali menghela napasnya panjang. Saat ini, Ana bingung tidak tahu harus berbuat seperti apa. Dengan kondisi seperti saat ini, kondisi yang membuat dirinya tidak bisa mengambil sebuah keputusan.
Sesekali Ana melirik ke arah anak kecil yang ada di sampingnya. Bumi anak kecil itu dititipkan oleh opa dan omanya kepada Ana, dikarenakan tidak ada yang bisa menjaga anak tersebut.
Mau tidak mau, Ana harus melakukannya. Tidak mungkin dirinya dengan tega meninggalkan Bumi seorang diri di bandara yang begitu besar, hanya karena tidak suka dengan ayah dari anak tersebut.
"Kamu sudah makan?" tanya Ana. Namun, Bumi seorang bisu dan tuli, anak itu tidak menjawab sedikitpun pertanyaan yang dilontarkan oleh Ana. Hanya diam yang dilakukan olehnya, Ana berusaha untuk sabar menghadapi Bumi. "Anak sama bapak sama saja, selalu bikin kesal dan emosi," gumam Ana dalam hati.
Tidak ada jawaban dari Bumi, mobil yang dikendarai oleh Ana segera menuju ke rumahnya. Wanita itu akan, memesan makanan saja, di rumah jika Bumi lapar daripada menunggu Bumi yang entah kapan membuka mulutnya.
Sesampainya di rumah, Ana dan Bumi langsung masuk ke dalam rumah, terlihat jelas bahwa anak kecil itu tidak suka dengan keadaan saat ini. "Bumi mau apa bilang sama Tante ya," ucap Ana. Namun, tetap saja Bumi tidak mau membuka suaranya sedikitpun anak itu tetap bungkam.
Malas dengan sikap yang ditampilkan oleh Bumi Ana lalu pergi menuju ke dapur dan melihat ada bahan apa saja yang dirinya bisa olah untuk makanan anak kecil tersebut.
"Ini mama memang sengaja atau gimana sih kok isinya cuman gini doang," gumam Ana.
Wanita itu tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh sang Mama tidak biasanya kulkas di rumah ini hanya berisi dengan telur dan beberapa sayur, melihat hal tersebut membuat Ana hanya bisa menarik nafasnya panjang.
Gadis itu lalu kembali menuju ke ruang tamu di mana saat ini Bumi sedang duduk sambil memperhatikan televisi di depannya.
"Kamu suka makan ayam goreng nggak, Tante mau pesen itu," ucap Ana.
Bumi menoleh ke arah Ana, senyum begitu mengembang di wajahnya namun, hal itu hanya sebentar karena kembali anak kecil itu tidak menjawab ucapan dirinya.
"Huft sabar sabar. Cobaan gini banget," ucap Ana.
Tanpa banyak menunggu Ana lalu mulai memesan ayam goreng di salah satu tempat yang begitu terkenal di Indonesia. Setelah selesai memesan makanan untuk mereka berdua lalu kembali ke dalam kamarnya untuk mandi, sore hari ini begitu melelahkan baginya apalagi dengan sikap Bumi yang tidak mau berbicara dengannya.
Gadis itu hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit di dalam kamar mandi, lalu Ana segera turun ke bawah ketika dirinya menatap ke arah sofa di ruang tamu, Ana melihat Bumi sedang tertidur di sana. "Tidur juga ini anak," ucapnya. Ana akan mendekat ke arah bumi namun, suara bel terdengar dengan sangat jelas wanita itu segera melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Terima kasih pak," ucap Ana.
Setelah meletakkan ayam goreng yang sudah dirinya pesan di atas meja makan, Anna lalu segera menuju ke ruang tamu dan memindahkan Bumi ke dalam kamarnya. Dengan begitu hati-hati anak mulai menggendong anak kecil tersebut, "Kamu kok berat banget sih, Nak." Sesampainya di dalam kamar Ana langsung merebahkan bumi di tempat tidurnya, karena lelah dengan begitu banyak kegiatan hari ini Ana juga ikut tertidur di samping bumi, keduanya saling berpelukan satu dengan yang lain.