Pagi ini Ana masih libur dari rumah sakit, wanita itu sengaja mengambil beberapa hari untuk menjernihkan otaknya, banyak pekerjaan yang harus Ana lakukan nantinya sehingga wanita cantik itu memilih untuk mengambil libur lebih awal.
Bangun seperti biasa lalu, minum air putih adalah kebiasaan baik yang selalu Ana lakukan. Setelah itu, wanita yang begitu menjaga bentuk tubuhnya ini, langsung mulai berolahraga ringan.
Hanya tiga puluh menit waktu yang dihabiskan oleh Ana, setelah itu Ana masuk ke dalam kamar mandi supaya paginya begitu cerah.
Di ruang makan saat ini, terdengar dengan sangat jelas suara tawa beberapa orang, rumah yang biasanya sepi karena hanya ada Ana dan kedua orang tuanya, kali ini berbeda sedikit lebih ramai.
Hal itu membuat Ana yang akan keluar dari dalam kamarnya menghentikan langkah, gadis itu bingung karena tidak biasanya ada tamu di jam seperti ini karena sudah sangat lapar, segera saja Ana turun dan dirinya begitu kaget ketika melihat siapa yang ada di sana.
"Nah itu dia," ucap Mama Sekar. Semua orang di sana langsung menoleh ke arah Ana, "Ada apa lagi ini," gumam Ana di dalam hati.
Ana lalu berjalan, menuju ke arah mereka semua. Gadis itu segera duduk di dekat Key.
"Anak gadis kenapa baru bangun," ucap Mama Sekar. Mendengar hal itu, membuat Ana rasanya ingin menggigit sang Mama namun, tidak mungkin banyak orang di sana. "Nggak apa-apa Mbak, Ana itu lelah pasti dokter terbaik di rumah sakit pasti banyak kerjaan," bela Mama Acha.
Ana hanya merespon dengan senyuman lebar saja, gadis itu tidak tahu harus merespon seperti apa yang jelas hanya hal itulah yang bisa dirinya lakukan. Mereka lalu makan bersama, yang terdengar hanya suara ke empat orang dewasa yang sibuk membahas bisnis.
Sedangkan Ana hanya jadi pendengar saja, gadis itu menatap ke arah Key yang begitu telaten menyuapi sang keponakan, melihat Bumi membuat Ana bingung kenapa anak baik itu bisa memiliki Ayah seperti Bara yang sungguh membuat kesal.
"Kakak, serius banget lihat Bumi," ucap Key.
Ana lalu menoleh dan tersenyum, "Bumi itu lucu sekali," jawab Ana. Namun, berbeda dengan Bumi anak kecil itu tidak suka dipuji oleh Ana yang katanya akan menjadi ibu sambungnya. Bumi adalah orang yang sangat menentang, anak kecil itu tidak mau kasih sayang Papinya akan terbagi.
Key dan Ana begitu akrab dan melihat hal tersebut, membuat Mama Sekar dan Mama Acha begitu senang, sedikit demi sedikit rencana mereka akan terwujud. Keduanya begitu bersemangat untuk mendekatkan Bara dan Ana, padahal keduanya tidak tahu hal apa yang terjadi diantara mereka sebelumnya.
***
Setelah sarapan Ana mengajak Key dan Bumi ke halaman belakang. Rumah kedua orang tua Ana ini, penuh dengan begitu banyak tanaman bunga dan juha hewan-hewan lainnya.
Ada Ayam, Bebek, bahkan kucing dan kolam ikan juga ada halaman belakang begitu luas sehingga sangat mudah untuk memelihara hewan-hewan tersebut.
"Itu kalkun, kak?" tanya Key.
"Iya kalkun. Papa begitu suka memelihara hewan, makanya banyak hewan-hewan yang bisa dipelihara ada di sini, bagian sana itu luas banget," ucap Ana.
Untuk pertama kalinya, Ana bisa melihat senyuman Bumi. Anak kecil itu terlihat semakin tampan menampilkan senyuman yang begitu indah, dan Ana bahagia melihatnya.
"Aunty ada duck," ucap Bumi.
"Iya, Sayang. Bumi senang lihatnya." Anak kecil itu segera membalas ucapan Key dengan sebuah anggukan kepala, segera saja Bumi berlari kesana kemari dengan begitu bahagia nya.
"Aku kira Bumi nggak bisa senyum loh Key," ucap Ana. Key lalu menoleh ke arah Ana, dahi wanita itu berkerut bingung dengan ucapan yang dilontarkan oleh calon kakak iparnya itu. "Karena selama ini, Bumi selalu memasang wajah datarnya, sampai-sampai aku kira memang dia tidak menyukai apapun. Tapi hari ini, aku bisa lihat bahwa Bumi adalah anak-anak yang tetap bisa tersenyum walaupun hal itu sepele," lanjut Ana.
Key mengerti kepada Ana bisa berpikiran seperti itu, karena memang Bumi sangat jarang bahkan bisa dibilang tidak pernah tersenyum di depan orang lain. Hanya di depan Papi, Opa, Oma dan Key lah Bumi bisa seperti ini, selebihnya tidak pernah wajar jika Ana menilai hal seperti itu.
"Bumi memang sulit tersenyum dengan orang yang baru dia kenal. Anak itu bahkan saat aku pertama kali pulang ke Indo, tidak mau sama aku kak. Karena itu kali pertama kami, ketemu cuman lambat laun kakak bisa lihat sendiri, kan. Bagaimana kita berdua, nanti aku yakin kakak dan Bumi akan akrab kok," ucap Key.
Ana hanya tersenyum, gadis itu terus memperhatikan Bumi yang sedang mengejar kelinci yang berlari. Terlihat dengan sangat jelas, anak kecil itu sudah mulai lelah. Langsung saja, Ana mendekat ke arah Bumi, lalu mengambil satu kelinci yang berukuran sedang dan mulai mengarahkan ke arah Bumi..
"Ini kelincinya," ucap Ana. Bumi yang akan menerima kelinci tersebut, mengurungkan niatnya ketika melihat wajah Ana, anak kecil itu lalu hanya menatap Ana dengan datar. "Kamu capek kalau lari-lari terus. Ini Tante ambilkan kelincinya," lanjut Ana.
Bukannya menerima, Bumi malahan meninggalkan Ana. Anak kecil itu mendekat ke arah Key, "Aunty pulang aku lelah," ucapnya. Terlihat dengan sangat jelas raut wajah Ana yang begitu kecewa dengan sikap yang dilakukan oleh Bumi. Namun, gadis itu bisa menutupi dengan segera mendekat ke arah mereka berdua. "Bumi nggak boleh gitu dong, Sayang itu Tante nya udah mau ambilin kelinci."
"Pulang Aunty aku capek," jawab Bumi.
Tidak mau membuat keributan akhirnya, mereka masuk ke dalam rumah dan Bumi segera menghampiri Opa dan Omanya meminta keduanya untuk segera pulang.
Setelah keluarga tersebut pulang Ana yang ingin naik ke lantai atas untuk mempersiapkan dirinya pergi ke rumah sakit nanti sore diurungkan karena sang Mama meminta Ana untuk duduk di dekat mereka. Ana yang sudah tahu kemana jalan cerita ini, begitu malas menanggapi hal tersebut.
"Mama dan Papa mau bahas apa? Pernikahan lagi? Perjodohan dengan Bara lagi? Udah ya Ma, Pa. Aku bosan, seriusan pernikahan itu harus didasari dengan cinta karena hubungan tersebut akan selamanya, jadi berhenti untuk membahas hal yang tidak akan pernah terjadi," ucap Ana. Gadis itu mengatakan hal ini dengan begitu lantang, Ana sudah lelah dengan semua hal yang dilakukan kedua orang tuanya. Bukan tanpa sebab, Ana seperti ini dirinya lelah dengan banyaknya drama yang terjadi, apalagi ada Bara pria yang begitu tidak disukai Ana.
"Mama dan Papa ngajak kamu bicara, bukan mau bahas hal itu. Mama dan Papa mau bilang, bahwa kami mau ke Singapura dua hari lagi, ada urusan bisnis yang membuat Papa harus berangkat, dan sebagai istri Mama harus ikut juga."
Ana terdiam, wanita itu mengira jika saat ini kedua orang tuanya akan membahas mengenai perjodohan. Nyatanya bukan, Ana setidaknya bisa bernapas dengan legah. Mama Sekar menjelaskan perihal kenapa mereka berangkat mendadak, Ana mendengarkan semuanya dengan jelas.
"Kamu di rumah hati-hati. Kalau ada hal yang mendesak kasih kabar sama Mama. Jangan lupa selama Mama dan Papa pergi, jangan terlambat makan."
"Iya Ma Pa. Kalian nanti di sana juga harus sehat," balas Ana.
Setelah selesai Ana lalu beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam kamar. Hari ini Ana begitu bahagia, karena kedua orang tuanya tidak membahas hal tersebut lagi.