Ana hanya terdiam, di tempatnya wanita itu tidak tahu harus bersikap seperti apa saat ini, yang ada di benaknya hanya ingin pergi segera dari ruangan tersebut. Rasanya sangat sesak berada di dalam sana, padahal ruangan ini hanya ada mereka saja, pria yang ada di depannya saat ini menatap dengan tajam ke arah Ana yang sudah gelisah di tempat duduk.
"Ayo dimakan, ini sudah dipesan khusus untuk kalian," ujar Acha.
Tante Acha dan Mama Sekar menikmati makanan tersebut, sedangkan Ana memasukkannya saja ke dalam mulut rasanya sangat berat, apapun yang dilakukan oleh Ana semuanya diawasi sangat detail oleh Bara. Pria itu tidak pernah melepaskan pandangannya sedikitpun menatap Ana.
"Papi … kenapa lihat Tante itu terus," bisik Bumi. Bara lalu menoleh ke arah anaknya pria itu hanya tersenyum dan kembali melanjutkan makannya.
Kedua orang wanita itu, sibuk dengan perbincangannya setelah selesai makan siang bersama, Ana yang ingin segera pulang dicegah oleh sang Mama. Wanita paruh baya itu mengatakan untuk Ana tetap berada di tempat tersebut, sedangkan Ana sudah tidak betah dengan kondisi saat ini, lalu sebuah insiden terjadi hal itu membuat Ana hanya bisa bersabar.
Anak kecil yang bernama Bumi itu, dengan santainya menumpahkan es teh yang dipesan dan membuat baju Ana basah, melihat hal itu seketika membuat Tante Acha histeris.
"Ya ampun, Bumi. Kamu kenapa menumpahkan minumnya sayang!!" seru Acha.
"Nggak sengaja." Hanya dua kata itu, yang dilontarkan oleh Bumi. Setelahnya anak kecil itu, kembali fokus dengan tablet yang ada di tangannya. Sejak pernah kalau bertemu dengan Ana, Bumi sudah membangun tembok besar dengan Ana dan hal itu membuat Ana tidak mengerti. "Kamu tidak apa-apa nak?" tanya Sekar. Ana hanya menatap ke arah sang Mama dengan tatapan kesal, saat ini Ana ingin menjerit mengatakan bahwa dirinya tidak baik-baik saja. Namun, hal itu hanya bisa dilakukan oleh Ana di dalam hatinya.
"Sudah ayo, kita pulang saja. Kasihan Ana nanti masuk angin. Bara kamu harus antar Ana pulang," ucap Acha. Mendengar hal itu sontak saja membuat Ana menotot dengan sangat tajam. Pria itu menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu Tante, Ana bisa pulang sendiri," jawab Ana. Seruangan dengan Bara saja sudah membuat Ana tidak nyaman apalagi jika harus berada di dalam mobil yang sama, membayangkan hal itu saja sudah membuat Ana sesak.
"Kamu mau pulang dengan apa? Mama masih ada urusan sama Tante Acha, udah kamu pulang sama nak Bara saja."
"Loh kok gitu ma," protes Ana. Namun, protes pun rasanya saat ini sudah tidak bisa lagi. Ana sudah di dorong untuk pergi bersama dengan Bara, dan hal itu benar-benar membuat Ana harus bersabar dengan semua hal yang terjadi nanti di dalam mobil.
***
Tidak ada suara sedikitpun, hanya suara mesin mobil yang terdengar dan hal itu benar-benar membuat keduanya canggung dengan apa yang terjadi, sesekali Ana melirik ke arah Bara yang fokus dengan pandangan ke depan. Wanita itu bingung harus mengucapkan sesuatu, dan hal itu membuat keduanya hanya bisa diam.
"Dimana?" tanya Bara. Ana yang fokus dengan ponselnya, kembali menatap ke arah Bara. Wanita itu bingung dengan maksud ucapan yang dilontarkan oleh Bara. "Maksudnya?" tanya Ana balik. Terlihat dengan jelas Bara tersenyum mengejek dan hal itu, sangat tidak ingin dilihat oleh Ana.
"Rumah." Jawaban singkat ini, membuat, Ana mengerti dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Ana tadi. Segera Ana memberitahukan alamat rumahnya.
"Masih rumah lama."
"Iya."
Setelah itu, tidak ada lagi suara yang terdengar di antara mereka. Kembali, Ana fokus dengan ponselnya, wanita itu hanya meng-scroll obrolan di group dirinya, padahal hal seperti ini sangat tidak disukai oleh Ana. Namun, hanya hal tersebut yang bisa dilakukan olehnya daripada dirinya harus boring dengan keadaan yang saat ini sedang terjadi diantara mereka.
Mobil yang dikendarai oleh Bara sudah sampai di depan rumah Ana. Tidak ada basa basi menawarkan untuk mampir, setelah Ana mengucapkan terima kasih, wanita itu langsung masuk kedalam rumahnya. Wanita itu, sudah tidak peduli dengan respon yang diberikan oleh Bara saat ini dirinya hanya ingin, menghindari manusia yang bernama 'Elang Bumi Aldebaran' pria yang menjadi musuhnya di sekolah dulu, pria arogan yang berhasil mengambil ciuman pertamanya.
Karena sebuah insiden itulah yang membuat Ana, begitu membenci Bara namun, bukan hanya hal itu melainkan karena suatu hal yang membuat keduanya menjadi salah paham hingga membuat hubungan baik menjadi buruk.
Di dalam kamar bernuansa pink dan tosca ini, Ana lalu merebahkan dirinya. Sungguh hari ini begitu melelahkan, dan Ana benar-benar tidak suka dengan keadaan saat ini, wanita itu menyesal sudah mengikuti keinginan sang Mama untuk pergi bersama dengannya dan berakhir harus bertemu dengan pria yang selama ini dia hindari. Bahkan Ana sampai rela tidak ikut reuni tahunan, karena tidak mau melihat wajah pria itu namun, sekarang karena sang Mama dirinya kembali harus melihat pria tersebut.
"Astaga, mimpi apa aku semalam. Kenapa aku bisa ketemu dengan dia. Ya ampun, maafkan dosa dosa hamba Tuhan. Jangan biarkan hamba bertemu kembali dengan pria itu," ucap Ana.
Getaran ponsel dari dalam tas terdengar dengan sangat jelas, membuat Ana mendesah kesal. Dengan sangat terpaksa Ana, lalu mengambil ponselnya di dalam tas yang dirinya gunakan tadi, terlihat banyak panggilan tak terjawab dari temannya di rumah sakit, padahal perasaan dirinya baru melihat handphonenya tadi di rumah sakit.
"Hallo." Ana kembali merebahkan dirinya diatas tempat tidur.
"Woi!! Kamu kemana aja? Telpon nggak diangkat." Ana yang memejamkan matanya segera membuka, lalu wanita itu mulai beranjak dari tidurnya.
"Apaan sih, berisik amat. Aku tuh lagi capek fisik, capek hati, sungguh hari liburku hancur," ucap Ana.
"Kenapa?" tanyanya.
"Kalian di mana kok bisa ada suara kalian masing-masing?" tanya Ana. Wanita itu bingung, ketika mendengar suara dari ketiga sahabatnya. Tadi ketika menelpon adalah suara Ares, dan Lia namun, saat ini terdengar suara Arka. Ana yakin jika mereka sedang berada di satu tempat.
"Kita di ruangan Lia. Kamu kenapa, bukannya tadi Lia bilang kalau kamu mau ke rumah sakit kenapa nggak jadi?" tanya Ares. Seketika Ana menepuk jidatnya, wanita itu lupa dengan janjinya kepada sang sahabat. Ana mengucapkan maaf, tidak jadi pergi ke rumah sakit karena insiden yang terjadi sebelumnya sudah merusak moodnya, dan Ana juga tidak akan mungkin menjelaskan dengan siapa dirinya bertemu, bisa-bisa ketiganya membully Ana.
Setelah panjang kali lebar, panggilan telepon tersebut berakhir dan Ana kembali merebahkan dirinya. Hari ini, merupakan hari yang begitu tidak mengenakan untuk Ana, wanita itu sangat kesal dengan apa yang terjadi di restoran tersebut.