Setelah mengantar Ana, Bara langsung pergi menuju rumahnya. Pria itu yakin saat ini sang mama sudah pulang, dan alibinya saja tadi ketika di restoran ingin pergi bersama dengan Sekar. Bara tidak menyangka, bahwa dirinya bisa kembali bertemu dengan wanita yang selama hampir 8 tahun ini dirinya cari namun, hasilnya tetap sama dan lebih bodohnya lagu Bara seolah lupa dengan rumah Ana.
Padahal jika dirinya mencari wanita itu di rumahnya pasti akan bertemu, dan menyelesaikan semua masalah yang ada, namun, Bara kembali teringat hal yang membuat dirinya harus kehilangan istrinya.
Sesampainya di rumah, Bara langsung masuk ke dalam rumah namun, pria itu tidak menemukan sang Mama. Pria itu lalu menuju ke arah dapur, berharap mamanya berada di sana. "Mama kemana?" tanya Bara. Mbok Jum terkejut dengan kehadiran Bara di sana, hingga hampir saja wanita paruh baya itu menjatuhkan piring yang dipegangnya.
"Astaga den Bara, jangan bikin bibi jantungan dong. Datang itu salam dulu, biar berkah hidupnya."
Mendengar ucapan tersebut, membuat Bara hanya tersenyum tipis meskipun dirinya terkenal dengan sikap dinginnya namun, dengan mbok Jum berbeda Bara bisa seperti anak kecil. Hal itu mungkin terjadi karena sejak kecil, Bara sudah diasuh oleh mbok Jum. Sehingga membuat pria itu nyaman berada di dekat asisten rumah tangganya tersebut.
"Mama kemana bi? Belum pulang?" tanya Bara.
"Belum den, tadi katanya mau makan sama temannya nyonya. Cuman bibi nggak tahu jam berapa pulangnya, eh den Bara sih kasep mana kok belum pulang?" tanya Jum.
"Ikut mama bi, ya sudah aku ke atas dulu ya bi. Nanti kalau Bumi sudah pulang, langsung suruh ganti pakaian ya bi."
Mbok Jum menganggukkan kepalanya, Bara lalu masuk ke dalam kamar. Pria itu sungguh sangat lelah, dengan apa yang terjadi hari ini. Saat Bara akan menutup matanya, bayangan pertemuan dengan Ana kembali terlintas di kepalanya dan hal itu membuat Bara lalu beranjak untuk duduk. Pria itu berulang kali menarik nafasnya, berat karena hal itu benar benar Bara tidak menyukai hal tersebut.
***
Saat ini Bumi pusing dengan Oma nya yang sudah mengajak dirinya keliling Mall sejak tadi, anak kecil itu rasanya ingin pulang ke rumah. Menyesal Bumi tidak ikut dengan Papinya. "Oma ayo pulang, Bumi capek," ucapnya. Anak kecil itu, sudah sangat malas mengikuti sang Oma pergi kesana kemari.
"Tunggu sebentar lagi ya sayang, nanti Oma belikan mainan untuk Bumi. Kamu mau apa sayang?" tanya Acha. Anak kecil jika sudah diberikan mainan maka, dirinya akan tenang begitu juga dengan Bumi. Anak itu seketika langsung tersenyum saat Oma nya mengucapkan kata yang begitu indah itu. "Bumi mau beli banyak Oma, tapi nanti Papi marah!!" serunya.
Bara selalu saja membatasi anaknya itu untuk membeli mainan dan hal memperbolehkan satu atau dua jenis saja, sedangkan Bumi yang begitu maniak dengan superhero tidak akan pernah mau membeli sedikit dan hal itu sering kali membuat kedua bapak dan anak yang sama sama memiliki sikap keras kepala sering bertengkar satu dengan lainnya.
"No Papi kamu tidak akan marah, nanti Oma yang marah sama Papi kalau dia berani memarahi cucu Oma yang paling ganteng ini," ucap Acha. Mendengar penuturan yang diucapkan oleh sang Oma, membuat Bumi begitu semangat, anak itu tak lupa mengecup pipi Oma.
Kedua wanita itu kembali melanjutkan acara mereka. Keduanya membahas banyak hal, salah satunya mengenai Ana dan juga Bara. Rencana yang sudah lama dipikirkan, bahkan sampai tertunda sekian tahun harus segera terwujud itulah yang diinginkan oleh kedua wanita paruh baya itu, namun, keduanya tidak tahu jika ada sesuatu hal yang membuat kedua anaknya akan memegang dengan sangat keras rencana tersebut.
"Pokoknya nanti aku bakalan bilang sama Papanya Bara jeng, kita harus lancarkan rencana yang sudah tersusun, sudah terlalu lama menunggu," ujar Acha.
"Sama! Aku juga akan bahas sama Papanya Ana, dia pasti senang mendengar hal ini. Pokoknya mereka harus bersatu," balas Sekar.
Keduanya lalu pamit dan pergi meninggalkan tempat tersebut, Mama Sekar segera menjalankan mobilnya dan meninggalkan tempat parkir Mall dengan senyum yang begitu mengembang sangat sempurna.
***
Malam ini, tidak ada hal yang terjadi semuanya makan malam dengan tenang. Bara terkejut saat bangun dari tidurnya tadi melihat sang anak sudah tertidur di sampingnya. Anak laki-laki yang selalu menjadi teman terbaik Bara dalam segala hal.
"Opa tadi aku beli banyak mainan," ujar Bumi. Anak laki laki itu, begitu semangat menyebutkan begitu banyak mainan yang dirinya beli, sedangkan Bara sudah memberikan tatapan tidak suka dengan anaknya itu, namun, pandangan mata Bara terhenti ketika melihat sang Mama sudah memasang wajah marahnya. Melihat hal itu seketika, membuat Bara tidak jadi memarahi sang anak. Pria itu sangat malas bertengkar dengan sang Mama yang akan berakhir dirinya selalu kalah.
"Wah banyak sekali. Tapi Bumi harus makin rajin belajarnya ya, jangan terlalu banyak bermain."
"Siap opa."
Makan malam tersebut kembali berlanjut, hanya suara Bumi yang menghiasi ruangan tersebut menjadi cucu pertama membuat apapun yang diinginkan oleh Bumi, akan selalu diberikan untuknya. Bahkan anak sekecil itu, sudah memiliki motor balap yang diberikan oleh Opa dan Papinya sebagai hadiah ulang tahun ke-6 beberapa bulan lalu.
Setelah makan malam bersama, mamanya Bara meminta mbok Jum untuk mengajak Bumi masuk ke dalam kamarnya, saat ini mereka ingin berbicara dengan Bara.
"Mama dan papa mau bicara apa?" tanya Bara, pria itu sudah menduga pasti akan ada yang terjadi, jika sudah seperti ini maka pasti ada drama baru yang akan dimulai. "Kamu kenapa tidak sabaran gini, tunggu dulu. Kita duduk dengan tenang," ujar Mama Acha dan hal itu benar benar tidak disukai oleh Bara. Pria itu paling tidak suka dengan hal yang tidak to the point.
"Mama sama Papa mau bahas apaan? Kalau tidak ada aku mau ke atas, masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan," ujarnya lagi.
Papa Haris dan Mama Acha saling berpandangan, pria paruh baya itu terkejut dengan rencana sang istri namun, setelah mendengarkan apa yang menjadi dasar dari hal itu dirinya jadi menerima hal tersebut.
"Mama dan Papa sudah sepakat untuk mencarikan Mami baru untuk Bumi, dan Mama sudah memutuskan siapa orangnya."
Mata Bara melotot dengan sangat tajam, pria itu tidak menyangka bahwa dugaannya sangat benar. Sudah berulang kali hal itu, terjadi bahkan ketika usia Bumi baru 5 bulan mama Acha sudah berusaha menjodohkan Bara dengan anak temannya namun, selalu saja bisa Bara cegah.
"Kali ini, tidak ada lagi penolakan. Kamu harus memikirkan masa depan Bumi, hidup tanpa kasih sayang lengkap dari kedua orang tua tidak akan membuat anak tumbuh dengan baik."
"Bara bisa memberikan hal itu Ma, kasih sayang seorang Papi dan Mami secara bersamaan. Kenapa harus menikah," sela Bara. Pria itu masih tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh kedua orang tuanya.
"Keputusan Mama dan Papa sudah bulat, kamu akan menikah dalam waktu dekat. Kasih sayang dari dua orang akan terasa begitu lengkap Bara," ucapnya.
Bara hanya diam, pria itu lalu beranjak dari tempatnya, berlama lama di sana hanya bisa membuat dirinya semakin kesal.