Malam harinya, Ana dan kedua orang tuanya sedang menikmati makan malam bersama hingga tiba-tiba saja mamanya mengucapkan sesuatu yang mmebuat Ana terdiam.
"Mama dan Papa mau ngomong sesuatu dengan kamu," ucap Sekar. Sendok yang akan masuk ke dalam mulut Ana terhenti, tiba tiba perasaan nya menjadi tidak enak. Wanita itu menatap ke arah kedua orang tua nya secara bergantian. "Mama dan Papa mau ngomong apaan sih kok sepertinya serius," jawab Ana.
Wanita itu berusaha untuk menutupi rasa penasarannya yang begitu berlebihan. Ana merasa jika ada sesuatu hal yang akan terjadi, dan membayangkan hal itu saja sudah membuat Ana tidak sanggup.
"Nanti setelah makan." Jawaban singkat yang dilontarkan oleh sang Mama, semakin membuat Ana tidak karuan. Wanita itu sudah tidak nafsu makan lagi, pikirannya bercabang takut sesuatu hal terjadi. Pertemuan dengan Bara saja sudah membuat Ana merasakan kesialan yang berlebih, apalagi jika harus mendengar hal yang begitu menakutkan.
Setelah selesai makan malam bersama Ana bersama kedua orang tuanya saat ini sedang duduk di sofa ruang tamu. Ketiganya masih terdiam tidak ada satu orang pun yang berhasil membuka suara Ana lalu melihat ke arah mama dan papanya secara bergantian terlihat sangat jelas bahwa kedua orang tuanya saat ini ini sedang saling tatap satu dengan yang lain nya.
"Umur kamu sudah 28 tahun, ‘kan sayang."
Seketika Ana terdiam jika sudah membahas mengenai usia maka pikiran Ana sudah berkeliling kemanapun diri nya pergi, akan ada hal yang akan terjadi jika sudah keduanya mengucapkan hal tersebut.
"Karena usia kamu sudah segitu, kamu sudah harus memikirkan ke depan nya seperti apa sayang. Papa dan Mama tidak mungkin selamanya bersama dengan kamu."
Semakin sang mama berbicara pada Ana maka diri nya semakin merasa tidak nyaman, wanita itu merasakan ada sesuatu hal yang akan terjadi di dalam hidupnya dan sesuatu tersebut akan membuat dirinya terikat akan seseorang.
"Maksud mama dan papa apa?" tanya Ana. Wanita itu, sudah tidak sabar menunggu apa yang ingin diucapkan oleh kedua orang tuanya, dan hal itu benar benar membuat Ana sangat penasaran.
"Kamu mau papa dan mama jodohkan."
Jantung Ana berdetak dengan sangat kencang, wanita itu terdiam sesaat apa yang dia pikirkan ternyata benar ada nya, kenapa diri nya harus mengalami hal seperti ini, sungguh perjodohan tidak ada di list keinginan Ana. Bahkan membayangkan akan menikah dan mengikat janji pernikahan dengan pria pilihan orang tua saja tidak pernah terbesit sedikitpun di kepala Ana, lalu saat ini kedua orang tua nya berkata demikian, membuat Ana tidak tahu harus merespon seperti apa. Yang jelas dirinya tidak suka dengan apa yang baru saja dia dengar.
***
Berdiam diri di dalam ruangan, adalah hal yang sering dilakukan oleh Ana jika pikiran nya sedang tidak baik baik saja, sama hal dengan saat ini setelah selesai dengan jadwal praktek pagi nya, Ana terdiam tidak berbuat apapun, gadis itu masih memikirkan apa yang diucapkan oleh kedua orang tuanya. Sungguh hal itu benar benar membuat Ana tidak tahu harus bersikap seperti apa, helaan napas berat terdengar dengan sangat jelas. Bahkan saat ini, Ana tidak sadar jika teman teman nya sudah berada di dalam ruangan nya, karena dia yang masih sibuk dengan pikirannya saat ini.
"Dia kenapa, kok kusut amat?" tanya Lia. Kedua pria itu hanya mengangkat bahunya, tidak mengerti dengan keadaan Ana saat ini, mereka lalu masuk ke dalam ruangan tersebut dan duduk di depan Ana. Sekitar lima menit mereka berdiam diri, hingga Ares membuka suaranya. "Oceana Mahendra!!" panggil Ares. Seketika Ana terkejut mendengar panggilan tersebut,, gadis itu langsung menatap ke arah teman temannya yang saat ini sedang menatap ke arah Ana dengan begitu tajam.
"Kamu kenapa si An? Dari kemarin aneh, kamu nggak lagi menunggu hari, kan?" tanya Ares. Mendengar ucapan tersebut Ana langsung melemparkan pena yang dipegangnya ke arah Ares. "Mulutnya Res, kok bikin kesal sih," ujar Ana. Sedangkan Ares hanya memasak raut wajah tertawa.
"Ada apa?" tanya Arka dengan lembut. Lia dan Ares saling menatap satu dengan lainnya, Arka selalu saja bersikap dingin dengan orang lain tapi berbeda jika dihadapkan dengan Ana, jiwa pangeran es seketika menghilang dari dirinya.
"Gue nggak apa-apa kok, hanya saja memang lagi ada sesuatu hal yang bikin mumet aja. Jadi bawaannya pengen makan orang," ucap Ana sambil menatap ke arah Ares. Sedangkan yang ditatap langsung menciut.
"Ya sudah kalau emang kamu nggak ada apa apa, sekarang kita ke cafe depan yok. Udah jam makan siang juga, kamu udah nggak ada shif siang, kan?" tanya Lia. Ana terdiam sesaat Ana memikirkan tawaran yang diberikan oleh Lia. Sepertinya saat ini, waktunya pas untuk diri nya melupakan sejenak ucapan kedua orang tuanya semalam.
"Ayo." Keempatnya lalu, beranjak dari tempat tersebut, mereka lalu berjalan menuju ke arah cafe yang sudah menjadi tempat mereka berkumpul setiap selesai shif, bahkan pengunjung cafe tersebut sudah mengenal mereka, karena terlalu sering datang berkunjung.
Keempatnya langsung, mencari tempat duduk, karena kursi yang biasa mereka duduki terisi oleh orang lain, "Ini sih gara gara kamu An, kita jadi nggak bisa menikmati tempat seperti biasa nya," ujar Ares. Ana hanya memutar mata nya malas, temannya yang satu itu memang selalu membuat dirinya kesal dengan tingkah laku, ucapan, bahkan semuanya pada diri Ares. Dokter Jantung, tapi selalu bersikap kocak.
"Kalau kalian mau ribut, mending di ring tinju. Jangan di sini." Mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Arka seketika membuat mereka terdiam. Lia segera mencatat semua pesanan yang sudah dirinya hafal, jika pergi ke tempat ini maka Lia adalah orang yang akan mulai memesan semua nya, wanita perfeksionis itu selalu menginginkan semuanya sempurna, bahkan Ana sering kali membuat temannya itu kesal karena wanita itu selalu melakukan hal konyol lainnya.
Tak membutuhkan banyak, waktu untuk mereka menunggu makanan dan minuman akhirnya sampai ke meja mereka masing masing. Keempatnya menikmati, semua makanan yang sudah sering mereka makan, "Li, kamu nggak pesan kopi?" tanya Ana. Lia menepuk kepalanya, gadis itu lupa jika Ana menitipkan kopi.
"Aku lupa. Maaf, entar aku pesankan lagi ya An."
"Nggak usah, biar aku sendiri aja. Sekalian aku mau ke toilet," ujar Ana. Lia menampilkan raut wajah menyesal namun, Ana langsung menggelengkan kepalanya, setelah itu wanita itu langsung beranjak dari tempatnya dan mulai memesan kopinya.
"Itu aja ya mbak, oh ya aku ke toilet dulu ya," ucap Ana. Kasirnya langsung menganggukkan kepalanya, Ana segera menuju ke toilet hanya sekitar 10 menit wanita itu lalu kembali menuju kasir namun, ketika dirinya akan mengambil kopinya seseorang tiba tiba saja langsung minum kopi tersebut sontak saja hal tersebut membuat Ana kesal.
"Itu kopi saya, apa apaan anda meminumnya begitu saja," ujar Ana. Seorang pria yang membelakangi Ana segera berbalik, kedua mata anak melotot ketika menatap siapa orang tersebut.
"Kamu."
"Kamu."