Sungguh saat ini, Ana benar-benar rasanya ingin berteriak saat melihat siapa yang ada di depan matanya sungguh wanita itu tidka menyangka bisa bertemu kembali dengan pria tersebut. Ana benar-benar terkejut dengan pertemuan yang tidak diduga antara diri nya dengan Bara saat ini, sungguh rasa nya begitu sial bisa bertemu dengan orang seperti itu.
"Itu kopi saya, kenapa anda yang mengambil dan meminumnya," ujar Ana dengan nada dingin, gadis itu tidak memasang wajah manis nya namun, Ana langsung jutek ketika melihat Bara. Emosi nya tiba+tiba saja naik, karena tingkah laku Bara.
Bara hanya menatap sekilas ke arah Ana, pria itu lalu memesan satu kopi lagi kepada kasir. "Ambil lah kopi yang saya minum tadi di kasir sebagai ganti nya," ucap Bara dengan enteng. Mendengar hal itu benar benar membuat Ana tidak suka gadis itu lalu mengambil dan menuangkan kopi nya ke kemeja milik Bara.
"Saya tidak sudi, terima kasih."
Setelah menumpahkan kopi tersebut, Ana lalu pergi meninggalkan Bara dengan raut wajah yang begitu kesal. Gadis itu duduk kembali, di tempat nya ketiga teman Ana bingung dengan ekspresi wajah yang ditampilkan oleh Ana.
"Kamu kenapa?" tanya Lia. Namun, tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Ana. Wanita itu, terlihat sangat kesal.
"Kamu harus tanggung jawab!!" pekik seseorang. Mendengar ucapan tersebut, membuat Ana menoleh ke arah belakang. Terlihat dengan sangat jelas, Bara berdiri di sana melihat hal tersebut, membuat Ana beranjak dari tempat duduknya.
"Apa!!" ucap Ana dengan nada bicara yang begitu tinggi. Wanita itu menatap dengan tajam ke arah Bara, rasa kesalnya sudah sampai di ubun ubun kepala nya.
"Kamu harus tanggung jawab, lihat karena ulah kamu pakaian saya jadi kotor seperti ini."
Ana tersenyum tipis, "Tanggung jawab? Itu adalah balasan yang cocok, untuk seorang yang dengan lancangnya mengambil barang milik orang lain." Keduanya saling menatap dengan tatapan penuh, terlihat dengan jelas bibit permusuhan di masa lalu masih ada di dalam hati mereka berdua.
Bara berjalan mendekati Ana, pria itu tidak lepas menatap wanita di depannya saat ini, mereka berdua tidak peduli dengan pandangan yang diberikan oleh orang orang di sekitar mereka. Keduanya berdebat, tidak ada yang mau mengalah bahkan Lia mencoba memisahkan mereka tetap saja tidak bisa. Hingga akhirnya, Arka menarik Ana karena beberapa orang di tempat tersebut sudah mulai berbicara tentang nya.
"Lepas!! Aku mau kasih dia pelajaran, apa apaan dia bersikap sok berkuasa seperti itu," omel Ana. Wanita itu tidak henti hentinya melontarkan teriakkan yang begitu tinggi terhadap Bara. "Sudah ayo," ajak Arka. Saat ini keduanya berjalan meninggalkan cafe, Arka juga sudah mengirimkan pesan kepada kedua temannya untuk melanjutkan makan siang mereka. Sedangkan dirinya, akan membawa Ana untuk pergi ke suatu tempat.
Keduanya berjalan tidak jauh, dari rumah sakit mencari tempat duduk. Hingga Arka memilih, sebuah tempat es krim pria itu lalu membawa sahabatnya untuk pergi ke tempat tersebut.
"Kita ngapain ke sini?" tanya Ana.
"Kita makan es krim dulu," jawab Arka. Ana menganggukkan kepala nya, lalu keduanya masuk ke dalam toko tersebut.
Arka meminta Ana untuk mencari tempat duduk, sedangkan dirinya memesan es krim untuk mereka. Tak lama, Arka sudah membawa dua cup es krim, dan segera memberikan kepada Ana.
"Di makan, supaya otak kamu bisa lebih tenang. Emosi membuat sebagian energi di dalam tubuh hilang, ketika energi hilang maka kondisi tubuh akan menurun. Itulah kenapa setelah marah marah, orang akan menangis," ujar Arka.
Ana lalu mulai memakan es krim tersebut, tidak ada pembicaraan yang dilakukan oleh mereka berdua. Arka terus memperhatikan Ana, tatapan mata pria itu tidak pernah satu menit pun beranjak dari tempatnya.
"Siapa pria itu?" tanya Arka.
"Pria asing," jawab Ana singkat. Wanita itu, tidak mungkin mengatakan, bahwa pria yang bertemu dengan mereka tadi di cafe adalah calon suaminya. Sungguh Ana tidak, mau hal tersebut diketahui oleh sahabatnya untuk saat ini, sampai waktu yang tidak tahu belum bisa ditentukan.
Namun, mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Ana membuat Arka tidak percaya. Pria itu hanya merespon dengan anggukkan kepalanya saja. Arka membiarkan Ana memakan es krimnya, setelah selesai mereka akan kembali ke rumah sakit.
***
Di lain tempat saat ini Bara terlihat sangat kesal dengan apa yang sudah terjadi, pria itu memasang wajah begitu tidak bersahabat. Bara langsung masuk ke dalam ruangannya dan segera mengganti kemeja yang sudah kotor akibat kopi, yang disiram oleh Ana.
Setelah selesai pria itu lalu keluar dari dalam kamar mandi yang ada di dalam ruangannya, saat keluar dari dalam kamar mandi asisten sekaligus teman Bara sudah berada di tempat tersebut.
"Muka lo kenapa? Kok ditekuk gitu? Eh tunggu dulu, perasaan tadi pas berangkat meeting bukan pakai kemeja warna ini deh. Kok sekarang udah ganti?" tanya Jodi. Pria itu bingung dengan penampilan Bara saat ini, baru saja dirinya meninggalkan Bara dan tidak ikut dalam meeting tersebut namun, sang bos sudah berulah. "Ini semua karena cewek rese itu, gue bikin hamil entar," ucap Bara.
Mata Jodi melotot dengan sangat tajam saat mendengar ucapan yang baru saja diluncurkan oleh Bara. Jadi bertanya tanya perempuan siapa yang dengan berani membuat seorang Elang Bumi Aldebaran emosi seperti saat ini. Bara terus saja mengomel, pria itu bahkan terus menerus menyebutkan perempuan yang diri nya temui di Cafe.
"Cewek?" ucap Jodi.
"Iya manusia bar bar, yang bakalan dijodohkan dengan gue," balas Bara.
Mendengar ucapan yang baru saja diluncurkan oleh Bara benar benar membuat Jodi kaget pria itu menatap kearah sahabat nya itu dengan tatapan penuh tanda tanya. Jodi tidak pernah menyangka dengan apa yang terjadi kepada Bara karena selama ini yang jadi tahu adalah Bara paling anti dengan yang dinamakannya perjodohan. Sejak mendiang istri pertama meninggal dunia ketika melahirkan anaknya. Sejak saat itu juga jadi tidak pernah melihat Bara dekat dengan seorang wanita pun.
Dan ketika Bara mengatakan hal tersebut benar-benar membuat Jodi bingung serta kaget dengan apa apa yang terjadi.
"Hah? Perjodohan?" tanya Jodi.
Bara terdiam pria itu lupa dengan apa yang baru saja dirinya ucapkan, Bara menutup matanya sejenak lalu membuka dan menghembuskan napas dengan sangat berat. Bara jujur saja, tidak mau beruran dengan namanya Ana lagi namun, mengingat sesuatu hal membuat dirinya akan menerima perjodohkan tersebut, “Gue nggak akan tinggal diam, lu akan menerima apa yang sudah lu perbuat,” desis Bara.