"Gue nggak salah dengar Bar? Lo mau di jodohin? Sama siapa?" tanya Jodi kembali. Namun, Bara tetap diam, pria itu tidak ada niat sedikitpun untuk menjawab ucapan yang dilontarkan oleh Jodi.
Jodi berusaha terus melemparkan banyak pertanyaan kepada Bara tapi tidak ada satupun yang dibalas oleh Bara.
"Lo mah rese banget sih, udah ngomong mau dijodohin. Gue tanya sama siapa lo nggak mau jawab, udahlah kalau emang gitu gue keluar aja malas gue di sini," ucap Jodi. Pria itu baru saja ingin membuka pintu ruangan Bara namun, terhenti ketika suara Bara terdengar. "Dia Ana, musuh gue di SMA."
Jodi langsung menoleh ke arah Bara, pria itu kaget dengan penuturan yang baru saja diucapkan oleh boss sekaligus temannya itu. Jodi lalu mengurungkan niatnya, pria itu kembali duduk di kuris yang terletak di depan Bara.
"Lo serius? Oceana Mahendra, gadis cantik baik hati, dan lemah lembut itu? Cewek yang lo ambil first kiss-nya terus gara gara hal itu, lo dan dia musuhan? Astaga Bara, gue nggak nyangka hal itu terjadi. Wk wk wk wk, gue nggak habis pikir."
Bara mendengus kesal, dirinya jadi menyesal mengatakan hal tersebut kepada Jodi yang berakibat pria itu mengejeknya saat ini. "Lo bisa berhenti ngomong nggak? Gue capek dengernya, mending lo keluar aja deh daripada di sini."
Jodi yang tadinya tertawa ketika terdiam ketika mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Bara.
"Tapi seriusan ini mah. Lo mau dijodohin sama Ana, kok bisa sih Bar? Bukannya kalian nggak pernah dekat, gimana caranya?" tanya Jodi lagi, apa yang diucapkan Jodi benar adanya. Sejak lulus SMA sampai beberapa hari lalu, Bara dan Ana tidak pernah bertemu, berkomunikasi saja tidak pernah dan tiba tiba saat ini mereka akan menjalani perjodohan, siapa saja yang mendengar hal itu pasti bakalan bertanya tanya dengan sama halnya seperti Jodi saat ini.
"Mama dia ternyata temannya ibu ratu," ujar Bara. Jodi mengerti kenapa teman nya itu bisa dijodohkan dengan Ana..
"Pantesan ya, tapi nggak masalah dong. Bagus, kan kalau dia dijodohkan sama lo, jadi kisah lama yang belum kelar itu bisa dilanjut," ujar Jodi.
Bara memutar, matanya malas mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Jodi saat ini, "Eh tapi Bumi gimana? Anak lo itu kan sesuatu banget, sama seperti bapaknya yang dingin dingin menyegarkan."
Bara terdiam mendengarkan ucapan yang baru saja diluncurkan oleh Jodi pria itu itu juga ikut memikirkan apa yang baru saja disampaikan Jodi, bukan Bara menerima perjodohan ini namun, hal ini tidak mungkin bisa dihindari lagi karena melihat bagaimana kedua orang tuanya begitu ikut andil dalam hal tersebut.
"Tapi gue yakin sih kalau Ana bisa mengambil hati Bumi secepat kilat karena yang gue tahu nih dari zaman dulu kan Ana orangnya sangat suka sama anak kecil pasti anak lo bisa ditaklukan oleh Ana," ucap Jodi.
Entah kenapa mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Jody Bara setuju akan hal tersebut pria itu sedikit mengulum senyumnya dan hal tersebut membuat Jodi terkejut akan sikap yang ditunjukkan oleh Bara.
***
Sudah hampir satu minggu setelah kejadian di mana Ana melempar kan secangkir kopi ke kemeja Bara, dan sejak hari itu kedua orang tersebut tidak pernah bertemu kembali. Hingga hari dimana menurut anak adalah hari kesialan baginya karena, di saat dirinya sedang lari pagi di sekitar komplek rumahnya wanita itu harus berurusan kembali dengan pria yang menyebalkan.
Pria yang menyebalkan itu adalah Bara, ketika Ana sedang asyik lari pagi dirinya tidak sengaja menabrak Bara sehingga membuat keduanya terkejut karena pertemuan kali ini begitu mengejutkan.
"Aduh maaf," ujar Ana. Dirinya benar-benar tidak sengaja melakukan hal itu, hingga membuat botol minum orang tersebut terjatuh. Saat Ana akan mengambilnya keduanya terkejut satu dengan lainnya.
"Kamu!!" tunjuk Bara. Keduanya selalu saja bertengkar tidak pernah melihat bagaimana kondisi sekitar saat ini, bahkan beberapa orang yang sedang lari pagi menatap ke arah keduanya.
"Kamu harus tanggung jawab air yang saya minum jatuh akibat kamu."
"Heh? Tanggung jawab apaan, aku nggak sengaja."
"Kamu harus ganti air yang sudah terjatuh ini," ucap Bara.
Ana menatap Bara dengan senyum sinisnya wanita itu hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Bara yang tidak pernah berubah sampai kapanpun pria yang terkenal arogan dan hanya mau menang sendiri itu, dengan langkah pasti Ana meninggalkan tempat tersebut. Lalu menuju ke salah satu pedagang yang menjual air mineral. Setelah selesai membayar Ana lalu membawa botol air mineral tersebut ke arah Bara yang masih berdiri tidak jauh dari tempatnya.
"Nih … ambil, bilang aja kalau nggak mampu beli," ujar Ana. Setelah mengatakan hal itu, Ana lalu kembali berlari sedangkan Bara terdiam sesaat, setelah melihat Ana cukup jauh dari pandangannya Bara berdecak kesal dengan ucapan yang dilontarkan oleh Ana.
"Dasar wanita aneh," ujarnya.
Mood Ana pagi ini benar-benar kacau niatnya berlari pagi supaya membuat kepalanya sedikit tenang dengan begitu banyak pekerjaan serta sikap dari kedua orang tuanya yang terus-menerus membahas mengenai perjodohan namun, saat berlari dirinya bertemu dengan Bara yang merupakan suatu musibah besar dan hal itu benar-benar membuat Ana sangat kesal.
"Kenapa manusia langkah itu harus, ketemu disini sih. Gila aja, bikin kesal," ucap Ana.
Sepanjang lapangan tempat biasa dirinya berlari Ana terus saja mengomel, jika mood-nya sudah Bu rusak seperti ini maka anda yakin bahwa hari ini dirinya akan sial.
Setelah cukup lama anak mengelilingi kompleks gadis itu lalu duduk di salah satu penjual bubur ayam yang tidak jauh dari tempatnya berlari. Penjual bubur ayam tersebut segera membuatkan pesanan dari Ana, biasanya setelah Ana berlari maka dirinya akan sarapan pagi di tempat tersebut.
"Ini pesanannya," ucap penjual bubur.
"Terima kasih mang." Penjual bubur tersebut membalas dengan anggukan kepalanya, tempat ini sudah menjadi langganan Ana setiap paginya. Weekend ataupun weekday Ana selalu saja menghabiskan waktu untuk berlari kecuali jika dirinya ada praktek pagi, barulah dirinya lari pada sore hari.
Ketika anak sedang asyik memakan bubur ayam yang begitu nikmat pagi ini tiba-tiba dari arah samping terdengar seorang anak kecil yang terjatuh dari sepedanya. Melihat hal tersebut nalurinya sebagai seorang dokter tiba-tiba langsung saja muncul, Ana langsung meletakkan mangkuk bubur ayamnya tersebut dan berlari menuju anak kecil itu.
Dengan sigap Ana langsung menggotong anak tersebut ke pinggir jalan dan mulai memberikan perawatan pertama kepada anak kecil tersebut. Anak laki-laki itu hanya diam tanpa bersuara dan menangis sedikitpun.
"Sebentar ya dek, ini kita obati," ujar Ana. Ana langsung mengeluarkan beberapa kapas dan obat yang akan dirinya gunakan untuk mengobati anak tersebut, dimanapun anda berada dompet kecil yang berisikan alat-alat medis selalu dirinya bahwa, ketika anak sedang mengobati anak tersebut tiba-tiba terdengar suara yang begitu tidak asing dari arah belakang.
"Lepaskan anak saya!!!"