Ana menoleh ke arah belakang, dirinya melihat ada Bara di sana, seketika Ana lalu memandangi anak yang ada di depannya saat ini, "Loh ini kan anak kecil itu," gumam Ana dalam hati. Rasanya saat ini, Ana sangat malas bertemu dengan pria arogan seperti Bara.
Bara sudah berjalan menuju ke arah Ana dan anaknya, terlihat dengan sangat jelas pria itu sangat tidak suka dengan Ana yang sedang mengobati anaknya, sedangkan Ana masa bodo saat ini tugasnya sebagai dokter adalah membantu pasien.
"Saya bilang, lepaskan tangan kotor kamu dari tubuh anak saya!!" pekik Bara. Mendengar suara keras Bara membuat beberapa orang di sana menatap ke arah mereka semua. .
"Papi sakit!!" keluhnya. Mendengar hal tersebut, membuat Ana bingung karena sejak tadi anak kecil itu tidak mengeluh, tapi kenapa sekarang mengeluarkan suara. "Saya bilang lepaskan. Lihat anak saya kesakitan, pergi kamu. Saya tidak pernah sudi kamu menyentuh anak saya, sini Bumi ikut Papi kita pulang." Bara lalu menggendong anaknya itu, Ana terdiam di tempatnya gadis itu masih kaget dengan suara Bara yang begitu besar dan membuat dirinya malu karena dipandang aneh oleh mereka yang ada di sana.
Saat Bara sudah akan menjauh, pria itu menendang tas kecil milik Ana sehingga membuat semua isinya berjatuhan. "Saya ingatkan untuk jangan pernah menyentuh anak saya dengan tangan kotor kamu, karena kamu hanya kuman yang hanya bisa membuat saya muak!!" Diam itulah yang dilakukan oleh Ana, gadis itu benar-benar kaget dengan apa yang dilakukan oleh Bara. Ucapan yang dilontarkan oleh pria itu, benar-benar membuat hatinya sakit.
Dengan perasaan yang sangat kesal, Ana lalu beranjak dari tempatnya tak lupa gadis itu membereskan beberapa barangnya yang sudah berceceran di lantai, akibat perbuatan Bara.
***
Dengan perasaan kesal yang begitu membara, membuat hari Ana berubah gadis itu bahkan tidak mendengarkan panggilan sang mama ketika dirinya melewati ruang keluarga, Ana benar-benar kesal dengan apa yang terjadi, sungguh dirinya begitu malu dibentak oleh orang yang tidak dikenal dekat dengannya.
Sesampainya di dalam kamar, Ana langsung membersihkan dirinya. Hari ini dirinya ada shift siang sampai sore, sehingga masih memiliki banyak waktu untuk bersantai.
"Berendam enak kali ya," ujar Ana. Segera gadis itu menyiapkan semua kebutuhannya. Ana baru saja akan bersiap suara pesan masuk ke dalam ponselnya. Di liriknya sejenak ponselnya, nama Lia yang ada di sana.
Lia
"Kamu masuk shift siang? Entar malam kita nonton mau nggak?"
Ana tersenyum, Lia adalah orang yang begitu semangat dalam hal libur namun, jika tiba-tiba sahabatnya ini mengajak pergi itu artinya, Lia sedang membutuhkan waktunya dengan segera Ana membalas pesan tersebut. Lalu, setelah itu Ana langsung masuk ke dalam kamar mandi, menikmati hari yang begitu indah. Melepaskan energi jahat yang ada.
Dua jam bukan waktu yang sebentar bagi Ana untuk menghabiskan waktunya di dalam kamar mandi. Hal seperti ini, sangat jarang sering Ana lakukan, gadis itu jika sudah menikmati hari itu artinya dia butuh waktu untuk sendiri.
Sama seperti hari ini, karena pertemuan yang tidak terduga dengan pria kasar itu, membuat mood Ana benar-benar hancur. Untunglah dirinya bisa kembali mengendalikan semuanya sehingga semua aman terkendali.
Outfit yang Ana gunakan ini benar-benar membuat tubuhnya begitu indah, dengan kemeja berwarna peach, yang sedikit terbuka di bagian depan membuat aura kecantikan Ana begitu menonjol dan hal seperti ini sering sekali membuat sang mama marah.
"Udah cantik, udah segar. Waktunya siap-siap ke rumah sakit. Udah nggak sabar ketemu sama kids, yang begitu menggemaskan," gumam Ana. Gadis itu melirik jam di dinding sudah menunjukkan pukul 11.00 siang itu artinya Ana harus segera keluar sebelum suara besar terdengar dengan sangat nyaring.
Dengan langkah pasti, Ana mulai berjalan menuju meja makan. "Good morning Ma," sapanya. Mama Sekar yang sedang, memasak di dapur menoleh sejenak ke arah sang anak. Perempuan paruh baya itu, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku sang anak, yang luar biasa berbeda dengan anak orang lain. "Sudah siang, bukan pagi lagi, lama benar di dalam kamar. Ngapain sih, pantas saja jodohnya belum ketemu. Giliran dijodohin nolak," gerutu Sekar.
Ana hanya menjadi pendengar saja, gadis itu malas bertengkar dengan sang Mama di siang hari yang begitu indah ini, dirinya menikmati nasi goreng yang sudah dingin karena pasti nasi goreng tersebut dibuat untuk sarapan pagi.
"Ma … ini ayam goreng tepung enak banget," ucap Ana. Seperti itulah dirinya, jika sang mama sedang membahas mengenai jodoh maka, Ana akan mulai mengalihkan pembicaraan. Wanita itu, sangat malas mendengar hal tersebut. "Loh anak gadis papa, masih di rumah kirain udah masuk kerja. Dari pagi, nggak muncul-muncul, atau sekarang udah pulang kerja," sindir Setiawan.
"Papa ih," jawab Ana. Kedua bapak dan anak itu duduk di meja makan, keduanya begitu asyik berbicara hingga tanpa sadar jika mama Sekar sudah berada di dekat mereka. "Pa, anak gadismu ini. Udah umur berapa sekarang, udah bilang nikah aja sama Bara. Eh malah nolak," ucap Sekar.
Ana memutar matanya kesal, malas berdebat dengan sang mama segera gadis itu pamit dengan kedua orang tuanya, berlama-lama di dalam rumah bersama dengan mamanya maka akan menguras emosi yang begitu banyak.
"Ma … Pa. Ana pergi dulu, mungkin pulangnya sedikit malam, mau jalan sama Lia," pamit Ana.
Setelah selesai berpamitan, Ana langsung ke luar dari rumahnya. Mobil berwarna putih dengan gaya minimalis tapi nilai jual mobil itu begitu fantastis itu langsung dikendarai oleh Ana menuju ke rumah sakit, sepanjang jalan mobil itu tidak pernah sunyi. Musik jazz selalu diputar di dalamnya, musik yang menurut Ana begitu bisa membuat dirinya tenang.
Tiga puluh menit berlalu, Ana sudah sampai di rumah sakit, dengan langkah pasti Ana langsung melangkahkan kakinya.
"Selamat siang dokter," sapa beberapa perawat di sana. Dengan senyuman yang begitu manis Ana langsung membalas semua sapaan yang diberikan oleh mereka semua.
Gadis manis yang terkenal sangat ramah itu, sangat disukai oleh banyak orang. Tak terkecuali rekan sesama dokter, yang berusaha menahan rasa untuk Ana. Kepribadian Ana yang begitu ramah membuat semua orang menyukainya, bahkan seluruh pasien yang datang ke rumah sakit tidak ada yang tidak menyukai Ana. Anak-anak yang menjadi pasiennya, selalu menyukai tanpa terkecuali hal itulah yang sering kali membuat Ana sibuk dengan banyak pasien, karena para orang tua lebih nyaman jika Ana yang mengobati anak-anak mereka.