Besoknya ketemu lagi di kelas. Namanya Asher, si pendiam dan perhatian..
---
Hari itu sedang hujan deras sekali. Tidak ada tanda-tanda untuk berhenti. Ada seorang gadis yang berlari menerjang hujan, namanya Valerie. Dia menuju halte bus.
Valerie habis pulang dari kuliah sore nya. Dia tidak bawa payung. Karena hari itu waktu pagi masih cerah. Jadi tidak ada persiapan untuk bawa payung.
Di halte bus itu sudah ada seorang laki-laki yang sedang menunggu bus datang, namanya Asher.
Dua orang asing yang sedang berdiri menunggu bus. Tanpa bicara, tanpa saling sapa, menatap pun tidak.
Mereka berdua saling menatap langit yang sedang turun hujan. Tangan mereka bersamaan medah air hujan, dengan tatapan sendu. Mereka berdua sama - sama menoleh saling menatap.
Hp Valerie berdering. Mereka berdua tersadar, saling buang muka. Asher kembali menatap langit sambil tersenyum tipis. Valerie menerima telfon.
“halo ma..”
“kamu dimana Val?” tanya ibu valerie.
“di halte bus ma... ini mau pulang ke kos”
“ya udah hati-hati ya”
“iya ma.. dah mama” Valerie menutup telfon nya.
Sambil menunggu bus datang Valerie mendekap badannya karena kedinginan karena habis hujan-hujan nan. Asher melihat kearah valeria yang sedang kedinginan.
Setelah tatapan tidak sengaja tadi Valerie merasa canggung. Terlebih Asher masih melihat kearahnya.
Bus yang Asher tuju sebentar lagi datang. Asher menghampiri Valeri.
“pake payung ini dulu...” Asher memberikan payung biru miliknya.
Valerie menatap Asher dengan wajah seperti mengagumi.
Seketika dia sadar..
“eh.. nggak usah...” Valerie langsung menolak.
“nggak papa... sebentar lagi aku naik bus”
Valerie berfikir sejenak. Lalu mengambil payung itu dengan sedikit ragu.
“te-terima kasih..”
“tenang aja aku nggak macem-macem kok..”
Valerie hanya senyum tipis karena canggung. Asher kembali ke tempatnya. Tidak lama bus yang Asher tuju datang.
Saat Asher ingin naik bus..
“sekali lagi terima kasih...” ucap Valerie.
Asher hanya tersenyum lalu naik bus tanpa melihat kearah Valerie lagi. Seketika dia baru sadar siapa namanya.
Bus sudah pergi “eh-eh tunggu...” Valerie setengah mengejar karena bus sudah pergi jauh.
Sudah terlambat bus itu sudah pergi. Valerie memandangi payung itu.
“b**o banget sih.. kenapa nggak tanya namanya siapa” kata Valerie sambil memukul kepalanya.
---
Keesokan harinya..
Valerie datang ke kampus sambil membawa payung biru kemarin. Siapa tahu ketemu lagi sama dia di halte bus.
Tanpa di sangka Valerie ternyata dia bertemu lagi di kelas.
Sejenak Valerie diam..
“ternyata satu kelas...” guman Valerie.
Valerie mendekati Asher yang sedang membaca sambil mendengarkan musik.
Tok tok..
Valerie mengetuk meja yang ditempatin Asher. Dia mendongak melihat Valerie dan tersenyum.
“kenapa dia senyum” batin Valerie.
“ternyata kita satu kelas...” kata Valerie.
Asher hanya menganggukkan kepalanya.
“kok aku baru tahu?..”
“karena aku nggak suka bergaul”
Valerie hanya menganggukkan kepalanya.
“oh iya.. ini aku kembaliin payung kamu... terima kasih ya”
Asher mengambil payung itu “sama-sama”.
Valerie pergi mencari tempat duduk. Asher tidak ada kata-kata lagi untuk Valerie.
“dia itu cowok misterius atau sok misterius sih” guman Valerie.
Tanpa disadari Valerie kalau Asher sedang memandangi payung yang di sebelah mejanya. Bukan sedang membaca buku.
Sambil tersenyum tipis. “aku harap kamu itu lebih lama sama dia” kata Asher ke payung biru itu.
---
Sore harinya..
Hujan kembali turun tapi tidak sederas kemarin. Valerie sudah berada di halte bus menunggu bus datang sambil duduk.
Ada beberapa orang di halte bus itu. Tidak hanya dia sendiri.
Dari kejauhan terlihat payung biru yang dia kenal. Semakin lama jarak payung itu semakin dekat. Asher mengibas-ibas payungnya dari air hujan.
Setelah selesai Asher melihat Valerie yang sedang duduk. Lalu valerie pura-pura nggak lihat. Asher hanya tersenyum tipis.
Menit demi menit berlalu, bus silih berganti datang. Orang-orang yang berada di halte bus semakin berkurang, sampai akhirnya hanya mereka berdua lagi.
Asher duduk di sebelah Valerie dengan jarak yang jauh. Valerie pura-pura sibuk main hp.
“kamu takut sama aku?” tanya Asher yang tiba-tiba.
Valerie menahan nafasnya sejenak karena pertanyaan Asher yang tiba-tiba.
“ng-nggak kok”
“kirain.. dari tingkah kamu yang lucu”
Valerie hanya tersenyum tipis canggung.
“ha?.. lucu?.. dia gila ya” batin Valerie "tapi kenapa waktu dia pinjem in payung aku malah.. sudah lah"
Asher letakkan di tengah-tengah mereka.
“ini bawa lagi payungnya..”
“eh nggak usah beneran deh..” Valerie cepet-cepet menolak.
“nggak papa.. kamu bisa balikin besok”
“tapi besok libur nggak ada kelas..”
"balikin pas ketemu lagi”
Valerie hanya diam..
Bus yang Asher tuju datang. Dia berdiri lalu berkata..
“biar payung itu jadi perantara kita untuk berteman..” tersenyum tipis.
Asher langsung naik bus tanpa menoleh. Saat bus sudah pergi. Valerie masih memproses perkataan Asher.
“kenapa dia suka pinjemin payung ke aku?.. terus apa kata dia perantara..”
Otak Valerie pusing memikirkannya.
---
Hari libur..
Hari ini Valerie berniat untuk pergi ke perpustakaan kota untuk tugas kuliah. Sebelum pergi Valerie berniat membawa payung karena takut hujan. Sesaat dia menatap payung biru itu.
“apa aku bawa payung biru ini? Apa bawa payung sendiri?”
Valerie berfikir karena bingung. Tapi entah kenapa payung itu membuat Valerie mengambilnya.
“ini aja deh”
Sesampainya di perpustakaan Valerie langsung mencari buku yang dituju. Tanpa dia sadari dari seberang yang sedikit jauh ada Asher juga.
Mereka berdua tidak sadar jika mereka ada di perpustakaan.
Matahari semakin lama semakin tenggelam. Berganti dengan bulan yang perlahan muncul.
Beberapa jam berlalu Valerie sudah selesai, saat itu mereka belum sadar. Valerie pulang duluan menuju halte bus.
Saat sampai di depan perpustakaan hujan turun. Valerie tersenyum kecil sambil melihat payung biru yang dia bawa.
“untung aku bawa kamu..” sambil membuka payung biru itu.
“jangan bilang pemilik kamu datang saat di halte nanti” lanjut Valerie.
Valeri bersiap berjalan menuju halte bus. Sesampainya, di halte bus sudah sepi. Tidak lama datang lah dua orang pria di halte itu.
Valerie masih menunggu tujuan busnya dengan tenang. Beberapa menit berlalu dua orang yang datang tadi mendekati Valerie.
“hai cewek sendirian aja” kata orang asing itu.
Valerie hanya senyum tipis sambil pegang payung biru itu.
“kok diem aja sih ditanyain”
Valerie masih diem dan berharap ada orang yang menolongnya.
“boleh ke...”
“PAYUNG BIRUU!!!..” teriak Asher yang ngos-ngos an habis lari.
Mereka bertiga kaget dengar teriakan Asher yang keceng banget. Valerie sedikit lega melihat Asher.
“pa-pa-payung biru...” Asher masih atur nas untuk bicara.
“heh..siapa kamu dateng-dateng teriak payung biru...”
Asher tarik nafas untuk atur pernafasan nya.
“maaf om... itu.. itu payung biru saya yang di pegang gadis itu”
Dua orang asing itu melihat kearah Valerie yang sedang memegang payung biru itu.
“maksud kamu payung itu?” sambil tunjuk ke arah Valerie.
“iya itu.. payung saya sama dia ketukar”
Valerie masih diam tidak bisa berkata apa-apa.
“ini payung dia?” tanya orang asing itu.
Otak valerie masih berproses. Lalu tersadar setelah Asher memberi kode.
“i-iya.. ini payung dia..” kata Valeri terbata-bata.
“ya udah sana balikin.. biar dia pergi”
“maaf om nggak bisa” kata Asher.
“kenapa?”
Asher mendekati mereka dan menutupi Valerie dari mereka. Saat itu Valerie melihat badan Asher dari belakang. Terlihat tinggi dan tegap. Tiba-tiba Valerie tersenyum.
"sadar Valerie!!.. saat kayak gini kamu malah mikir yang nggak-nggak" .
Valerie menggelengkan kepalanya.
Tidak lama bus datang..
“karena kita.. mau pulang..”
orang asing "...??".
Asher langsung menarik tangan Valerie masuk ke bus. Lalu...
“pak tolong mereka preman gangguin kita”
Asher memberitahu ke pak sopir akhirnya preman itu tidak berani mengejar. Bus pun berjalan.
Valerie masih membeku dengan tindakan Asher yang tiba-tiba. Asher mengajak Valerie duduk.
Melihat Valerie yang masih diam.
“hei..”Asher mengibaskan tangannya di depan wajah Valerie.
Valerie tersadar.
“kamu nggak papa?” tanya Asher.
“nggak papa.. cuman-”
“cuman apa?”
“cuman masih syok aja sih...”
Asher tertawa kecil.
“tapi lucu dan menyenangkan”
“bagian mananya? Itu nakutin tahu di ganggu in om-om nggak jelas”
“lucunya lihat ekpresi kamu dan senengnya bisa gandeng tangan kamu”
Valerie langsung menoleh ke arah Asher. Terus langsung buang muka saat Asher juga melihatnya. Pipi Valerie merah dan panas tapi bukan demam.
Diam beberapa detik...
“terima kasih udah tolongin aku” kata Valerie menundukkan kepala karena masih malu.
“nggak papa kitakan teman..”
“apa?” Valerie melihat ke arah Asher.
“kita udah jadi temen kan?” tanya Asher serius.
“sejak kapan?”
“sejak aku pinjemin kamu payung yang kedua kali”
Valerie tersenyum.
“ooohh jadi payung biru ini jadi perantara.. maksud ini kita jadi temen”
Asher menganggukkan kapalnya..
Lalu mereka tertawa bareng. Bukan tawa yang riang tapi tawa yang ringan. Akhirnya Valerie menerima kehadiran Asher sebagai temannya.
---
'berawal dari orang asing yang tidak saling mengenal.. payung biru itu menjadikan mereka teman'