Bab . 13 Seperti Hujan Yang Turun Di Waktu Yang Tepat
"Asya... Asya.. " Sayu-sayu ku dengar suara yang tak asing di telinga ku, juga sentuhan di bahu ku terasa begitu nyata, ku usap usap mata ku dan ku buka mata dengan malas ku lihat bayangan sosok lelaki yang sangat ku kenal, ku geleng kan kepala sambil memijit pelan pelipis ku, ini pasti efek dari aku menangis sepanjang malam membuat ku berhalusinasi pagi-pagi begini, tak mungkin Fathan ada di rumah ku sepagi ini, aku pasti masih tidur dan bermimpi
"Aauuuuuuuuuu" Aku langsung bangkit dari tidur ku merasa kan lengan ku di cubit "sakitt Fathan... " Teriak ku tepat di hadapan nya
"Ia aku Fathan, kalau cubitan ku sakit itu arti nya kamu harus bangun dan segera mandi aku lapar Asya, segeralah turun Bunda dan Papa sudah menunggu di meja makan" Omel nya pada ku yang masih ku tanggapi dengan setengah sadar, benar kah dia Fathan?, dia baik-baik saja?, aku tidak sedang bermimpi kan? aku masih bertanya-tanya dalam hati ku,
"Astaga Asyaaa.... " Kata nya geram mengguncang bahu ku, ku lihat tangan nya menyentuh bahu ku, ya benar ini nyata dengan segera aku berdiri dan memeluk nya
"Fathan kau baik-baik saja? Ku fikir terjadi sesuatu dengan mu? Apa yang terjadi? ?kenapa kau ada di sini? Tolong jangan lupakan aku Fathan" Ku serbu dia dengan semua keluhan yang ada di hati ku dan memeluk nya dengan erat tak ingin kehilangan nya, dia memang benar Fathan ku
"Oh ayolah Asya cepat mandi, simpan semua pertanyaan mu untuk nanti aku benar-benar sudah lapar Asya" Fathan berucap sambil mendorong ku ke dalam kamar mandi dan segera menutup pintu nya tak berapa lama pintu tertutup ku buka sedikit mengintip dari cela pintu kamar mandi menampakkan Fathan yang sedang berjalan menuju pintu keluar kamar
"Aku tidak sedang bermimpi" Gumam ku dan menutup pintu rapat menyegerakan mandi ku
*****
"Apa yang terjadi Fathan??? Kenapa kau ada di sini???" Aku bertanya saat kami berada di satu mobil yang sama menuju cafe Bunda karna Fathan sedari tadi tak menjelaskan apa pun pada ku, papa dan Bunda pun tampak biasa dengan kehadiran Fathan, seperti nya hanya aku yang tak tau apa-apa di sini
"Siapa yang menangisi ku dulu meminta ku jangan pergi heemmm?" Fathan menyindir ku
"Aku sedang bertanya Fathan, jawab sebelum aku memukul mu tanpa ampun sekarang juga" Jawab ku geram karna tak juga mendapat kan jawaban dari Fathan
"Astaga Asya tak ku sangka kau lebih Bar-bar sekarang wkwkwkw" Kekeh nya membuat ku semakin naik pitam di buat nya
"Kenapa kau ada di sini Fathan!? Jawab atau ku tendang kau sekarang juga dari mobil ini" Kesabaran ku sudah mulai habis di buat nya
"Kau terlihat lebih kejam sekarang?" Dia menoleh pada ku tak jadi melanjut kan kata-katanya melihat ku yang sudah melotot ke arah nya dengan bersilang d**a "ah hehehe baik lah Asya tenang kan amarah mu aku sedang menyetir sekarang kita bisa celaka kalau kau gegabah hehehe" Lanjut nya sambil mengusap tengkuk nya
"Bukan itu jawaban yang mau ku dengar Fathan" Aku masih memasang wajah garang ku pada nya
"Ya baik lah Asya akan ku jawab pertanyaan mu sekarang, sepertinya kau tampak tak senang dengan ke hadiran ku di sini?" Dia balik bertanya dengan pandangan lurus ke depan
"Bukan aku tak senang Fathan, aku hanya bertanya pada mu, aku lebih suka kau di dekat ku tapi aku juga tak ingin menghancurkan karir mu" Aku sungguh berkata jujur pada nya
"Apa aku tampak sebodoh itu?"
"Tentu kau sangat bodoh, jika tidak kau tak akan sampai ke Yogyakarta dulu"
"Itu aku tidak bodoh Asya, malah itu satu hal yang seharusnya diberi apresiasi atas kesetiaan ku sebagai sahabat tak di ragu kan lagi" Gurau nya "tapi kali ini aku tak datang karna mu Asya" Lanjut nya serius, ku tatap dia dengan dahi ku yang berkerut tak paham
"Lalu??? " Tanya ku juga srius
"Ada urusan pekerjaan yang harus ku tangani di sini" Kata nya menjelaskan sambil mengusap pucuk kepala ku lembut
"Oh begitu kah?" Aku mengangguk-angguk kan kepala ku mengerti "bagus lah kalau begitu, ku fikir itu karna aku" Lanjut ku
"Bukan kah aku seperti hujan yang turun di waktu yang tepat? Menjadi harapan benih yang akan memecah, harapan pohon yang akan bertunas, harapan bunga yang akan mekar, aku adalah hujan mu yang hadir tak mengenal musim benar kan? " Kata nya sok puitis
"Kau petir untuk ku bukan hujan Fathan" Kata ku sinis
"Kenapa aku petir?" Dia bertanya dengan sok polos nya
"Karna kau memang petir untuk ku"
"Tak bisa kah aku jadi hujan mu saja Asya?"
"Kau petir Fathan"
"Tapi aku ingin menjadi hujan yang sangat kau sukai Asya"
"Tapi aku tak menyukai hujan lagi Fathan" Ku tatap dia "aku benci hujan" Lanjut ku sambil membuka pintu mobil dan melangkah kan kaki ku turun dari mobil yang memang bertepatan kami sudah sampai di depan cafe Bunda
"Apa aku seextrem itu? " Gumam Fathan Bingung yang masih di dengar oleh asya
Jika kau meminta menjadi hujan ku itu tak kan mungkin Fathan, aku membenci hujan sebelum nya, aku benci kebasahan dan aku tak suka kedinginan, hujan bukan kesukaan ku tapi kesukaan nya Dia yang sangat menyukai hujan dan bermain di bawah titik-titik nya, aku menyukai hujan karna terlalu merindukan nya, kedinginan yang ku benci dulu seperti pelukan nya menghangat kan hati ku, aku selalu berharap semoga di suatu hujan yang deras pada momen yang tepat aku dan Dia di pertemukan dan di ikat oleh takdir saling memiliki.
*****
Aku bangun dari sejak jam 5 subuh setelah menunaikan kewajiban ku pada sang Pencipta segera ku ambil baju kerja ku dulu ketika di Yogyakarta, ku pandang diri ku melalui pantulan kaca aku sangat merindukan masa-masa lelah ku bekerja dan hari ini aku ingin memulai menyibukkan diri ku kembali dengan bekerja, kemarin aku mendapat balasan dari salah satu perusahaan melalui e-mail untuk kehadiran ku wawancara hari ini, ku katakan pada Papa dan Bunda kalau aku akan wawancara di salah satu perusahaan Papa dan Bunda tampak tak melarang keinginan ku untuk bekerja, walau awal nya Papa bertanya mengapa tak melamar di perusahaan Papa saja yang hanya ku jawab bahwa aku ingin Mandiri, Papa mengalah dengan keputusan ku, aku pergi dengan penuh semangat dan percaya diri, setelah beberapa kali di interview akhir nya aku di Terima dan besok aku sudah mulai masuk aktif sebagai salah satu karyawan di perusahaan yang tak ku sangka adalah perusahaan elite, ku langkah kan kaki ku senang dengan berita yang menggembirakan, tak sabar rasa nya ingin memberitahukan Bunda segera, ku henti kan taxi menuju ke cafe Bunda. Sesampai nya di cafe aku masuk mencari Bunda dengan raut bahagia ku
"Hai sayang, seperti nya Bunda mencium aroma penerimaan di sini" Sapa Bunda menghampiri ku setelah melihat ku masuk
"Ya, Alhamdulillah Bun berkat doa Bunda" Jawab ku seraya memeluk Bunda
"Wah Bunda tidak sabar ingin menikmati hasil kerja princess kesayangan Bunda" Kata Bunda mengusap lembut rambut ku
"Ya nanti gaji pertama Thata ayo kita Diner bertiga dengan Papa" Kata ku bersemangat menatap Bunda
"Bunda mau makan di restoran yang paling mahal" Kata Bunda mengedip kan mata nya pada ku dengan senyum bahagia terukir di bibir Bunda
"Itu ide bagus, ayo kita habis kan gaji pertama Thata nanti Bun" Sambung ku bersemangat
Bersambung......