Satu minggu berlalu dari acara reuni itu aku juga seperti sudah mulai terbiasa dengan sakit ku, menangis tak akan menyelesaikan masalah, aku harus tetap kuat dan sebisa mungkin menghindari nya itu adalah cara terakhir yang bisa ku lakukan untuk hati ku.
Kliiiniiingg... Suara pintu terbuka menampilkan sosok lelaki yang sangat ku kenali, baru saja aku berspekulasi bahwa aku harus menghindari nya tapi lihat lah takdir sedang mempermainkan hati dan perasaan ku Dia berdiri tepat di hadapan ku dengan wajah yang rumit tak dapat ku tebak apa yang ada dalam fikiran nya
"Permisi nona... " Tangan nya melambai-lambai ke depan wajah ku, menyadarkan ku dari semua fikiran ku yang tadi nya melayang-layang memikirkan nya dan ternyata dia ada di sini tepat di hadapan ku
"Ah ya, maaf atas ketidaknyamanan nya silahkan duduk dan buat pesanan anda, permisi" Ku tundukkan pandangan ku mengusahakan menetralkan jantung ku yang berdegup dengan cepat agar tak terlihat gugup saat di depan nya, segera ku balik kan badan ingin segera pergi dari nya
"Tunggu.... " Kata nya menahan ku yang juga ku rasakan tangan kanan ku di tarik nya menghentikan langkah ku, seketika aku berbalik dan melihat tangan nya yang memegang tangan ku
"Maaf atas kelancangan saya" Kata nya sambil melepas tangan nya "boleh saya meminta waktu anda sebentar?" Seeerrrr rasa nya jantung ku berdesir mendengar penuturan nya yang benar-benar formal seperti orang asing pada ku
"Boleh kah??" Tanya nya lagi menyadar kan ku dari lamunan
"Ya tentu mari silah kan duduk" Aku tak tau ini salah atau benar padahal aku sedang ingin menjauhi nya tapi kenapa sepertinya mulut ku tak bisa di ajak bekerja sama, aku memberinya waktu ku oh astaga luka seperti apa lagi yang kau harap kan Asya? Pertanyaan itu membuat ku tersenyum getir melihat nya
"Bisa kah kita keluar sebentar" Kata nya menatap ku, kita???? Apa dia tidak salah bicara??? Ada apa sebenarnya dengan lelaki ini sesuka hati nya mempermainkan kan hati ku
"Aku tak bisa keluar di jam kerja" Ku jawab dengan ketus aku berharap dia pergi dari sini sesegera mungkin, tolong jangan jungkir balik kan hati ku, sudah cukup kau menyiksa ku, batin ku menjerit mendemo kan sakit hati ku
" Bukan kah kau putri pemilik toko ini?" Kata nya seenak jidat nya membuat ku geram
"Aku putri pemilik toko saat di rumah, tapi di sini aku bekerja sebagai pelayan"
"Baik lah kalau begitu layani aku"
Aku membelalak kan mataku mencoba mencerna ucapan nya barusan, apa lelaki ini bukan hanya melupakan ku saja? Apa dia juga gila sekarang? Aku bertanya-tanya dalam hati,
Ku lihat dia terkekeh dengan respon ku, ini sungguh pemandangan yang langka untuk ku, jika sepuluh tahun lalu semua senyum, tawa dan kekehan nya adalah milik ku, aku masih mengkhayal melihat kekehan nya tiba-tiba tangan ku di tarik nya menuju taman belakang cafe, ku tarik segera tangan ku dari genggaman nya setelah berada di taman cafe.
"Apa sebenarnya yang ingin kau kata kan?" Tanya ku pada nya dengan gugup
"Apa hubungan mu dengan Fathan?" Tanya nya pada ku dan menatap mata ku dalam
"Apa urusan nya dengan mu! "
"Fathan adalah teman baik ku, tentu ada hubungan nya dengan ku"
"Kalau begitu tanya langsung pada nya, bukan kah dia teman baik mu? "
"Apa kau tidak bisa menjawab saja pertanyaan ku? "
"Apa untung nya untuk ku menjawab pertanyaan mu"
"Kau tidak tahu siapa aku? "
"Dalam hal apa aku harus tahu diri mu! "
Sungguh dalam hati ingin ku jerit kan pada nya bahwa aku kekasih mu yang kau gantung perasaan ku sampai detik ini, aku juga sangat mencintai mu sampai detik ini, aku bahkan sangat mengenal mu dari sejak sepuluh tahun lalu batin ku. Ku lihat dia mendengus dengan jawaban ku, aku tak peduli lagi dengan pandangan nya pada ku, ku langkah kan kaki ku pergi meninggal kan nya berlama-lama dengan nya membuat jantung ku tak sehat.
******
Setelah pertemuan itu tak pernah lagi ku lihat dia datang ke cafe, ada rasa lega juga rindu pada nya, jika bisa menemukan mu sesuka ku ingin rasa nya aku berlari memeluk mu erat sekarang seperti yang sering kau lakukan dulu saat bertemu dengan ku dan mengatakan bahwa tak ada yang boleh memiliki ku selain diri mu, tapi lihat lah sekarang kita seperti dua orang yang tak pernah saling mengenal sebelum nya.
Kliiiniiingg
Pintu cafe terbuka menampilkan sosok lelaki yang baru saja ada dalam fikiran ku,, apa-apaan ini batin ku, kenapa setiap kali aku memikir kan nya dia selalu hadir seperti memiliki ikatan batin yang kuat pada ku, apa??? Ikatan batin?!? Tsssshhh menghayal lah terus yang tinggi Asya saat kau terjatuh nanti jangan salah kan aku tak mengingat kan mu, dua sisi hati ku berkecamuk dalam fikiran ku. Ku lihat dia menuju meja pojok dekat dengan jendela, jika ku perhatikan meja itu selalu jadi tujuan utama nya saat ke cafe ini, ah sudah lah aku tak perduli ku arah kan satu pelayan cafe untuk mencatat pesanan nya, aku bermaksud akan pergi pulang aku sudah sangat lelah hari ini
Kliiiniiingg
Ku balik kan badan ku melihat siapa yang baru saja masuk
"Thata... " Panggil nya,, ternyata Bunga yang datang, ku letak kan celemek yang ku kenakan dan berjalan mendekati nya, ku lihat dia datang bersama seorang anak lelaki mungil dan tampan berusia sekitar dua tahun
"Bunga siapa dia?" Tanya ku pada bunga sambil mensejajarkan tinggi ku dengan anak lelaki yang memegang tangan Bunga
"Dia putra ku Tha" Jawab bunga mengejut kan ku, Ku dongak kan kepala ku melihat ke arah Bunga, ku lihat Bunga tersenyum sambil menyapu lembut rambut putra nya
"Hay, siapa nama mu??? " Tanya ku pada lelaki mungil yang berada di hadapan ku
"Rion tante" Jawab nya malu-malu, oh ya ampun aku sungguh gemas melihat nya ingin rasa nya ku cubit pipi nya yang chaby itu, ku gendong dia dan ku cium pipi nya gemas
"Kau tak memberitahukan Rion pada ku saat reuni itu Bunga" Kata ku pada Bunga sambil menarik tangan nya menuju taman belakang cafe
"Maaf karna aku tidak membawa nya malam itu aku jadi lupa karna sudah bertemu dengan mu setelah bertahun-tahun Tha" Kata Bunga
"Tunggu,,," Kata Bunga menghentikan langkah nya "Bukan kah itu Arkana?" Lanjut Bunga bertanya menatap meja pojok tempat di mana Arka duduk,, aku hanya menganggukkan kepala ku membenarkan kan ucapan Bunga dan ku tarik tangan nya menuju ke taman belakang segera, aku bercerita banyak hal dengan Bunga di taman tentang bagai mana sikap Arka yang sama sekali tak mengenal ku, Bunga terlihat terkejut mendengar semua penjelasan ku
"Ku kira kau adalah wanita yang di sebut-sebut dalam obrolan grup" Kata Bunga yang membuat ku tak mengerti apa maksut nya
"Apa yang mereka sebut dalam obrolan Bunga?" Tanya ku penasaran
"Maaf kan aku Tha, aku tak bermaksud menguak kembali luka mu" Kata nya merasa bersalah
"Hati ku memang sudah terluka dan itu bukan salah mu Bunga" Aku berharap hati ku siap dengan apa pun yang akan ku dengar nantinya batin ku
"Di malam reuni itu aku mendengar bahwa Arka akan memperkenalkan calon tunangan nya, begitu lah yang ku tahu dari obrolan grup, dan bodoh nya aku berfikir kalau kau lah orang nya Tha" Jelas Bunga pada ku yang seperti petir menyambar tepat di jantung ku, aku berusaha sebiasa mungkin dan tersenyum getir pada Bunga
"Hey pangeran tampan apa kau tidak lapar" Tanya ku pada Rion mengalihkan kan pembicaraan ku dan Bunga aku tak ingin meneruskan nya lagi, ku lihat Rion mengangguk aku pun tersenyum dan mengangkat nya ke dalam gendongan ku, "ayo kita cari tempat makan yang enak Bunga, aku juga lapar" Kata ku pada Bunga, saat berjalan keluar toko ku lirik meja pojok tempat di mana tadi Arka duduk tapi ternyata meja itu sudah kosong, dia sudah pergi?? Aku bertanya dalam benak ku dan dengan segera ku geleng kan kepala ku menyadar kan diri ku sendiri, kami pun pergi meninggal kan cafe menuju restoran terdekat,
Aku baru sadar kenapa hari itu Fathan begitu mengkhawatirkan ku pergi tanpa nya, dia pasti sudah mengetahui semua obrolan di grup sebelum aku masuk, termasuk tentang pengumuman yang Bunga katakan tadi, untung aku segera pulang malam itu, aku tak perlu lagi mengetahui hal yang tak seharusnya ku ketahui, aku lelah dengan tangis ku juga luka ku, aku benar-benar lelah dan menyerah.
*****
Ku rebah kan tubuh ku ke ranjang kesayangan ku, aku lelah satu hari ini, lelah hati, lelah fikiran lelah badan, lelah keseluruhan nya, aku kembali mengingat bagai mana Bunga terlihat bahagia menceritakan tentang kehidupan nya sekarang dengan keluarga kecil nya, aku tak menyangka awal perjodohan akan membuat nya hidup sebahagia itu, dia terus berceloteh sepanjang kami makan menceritakan bagai mana diri nya sehari-hari mengurus anak dan suami nya tak ada sedikit pun keluhan keluar dari bibir nya Bunga terlihat menikmati hidup nya dengan tenang, tidak seperti diri ku dan Fathan yang masih awet sendiri. Aisss mengingat nama Fathan membuat ku jadi merindukan nya sudah lama Dia tak menelfon ku mungkin Dia terlalu sibuk dengan pekerjaan nya, ku pencet nomor handphone nya dan ku deal kan segera menempelkan benda pipih itu di telinga ku, terdengar bunyi nada sambung nya lama tak juga kunjung di jawab, Fathan tak pernah mengabaikan panggilan ku sesibuk apa pun dia, ku pencet lagi nomor nya dan terus tak juga dapat jawaban dari Fathan, tiba-tiba aku merasa hal ini tak asing bagi ku, ya sepuluh tahun lalu saat Arka pergi dan akhirnya melupakan ku juga seperti ini awal nya, aku terduduk lemas di atas tempat tidur ku, apa ini akan terjadi lagi??? Takdir seperti apa lagi ini yang begitu kejam menyiksa hati ku tanpa ampun, dosa apa yang sudah ku perbuat sehingga aku harus menerima hukuman sesakit ini,, aku sungguh membenci hidup ku jika Fathan juga melupakan ku, aku benci diri ku,, aku spontan berdiri mengambil sweater ku aku tak perduli dengan penampilan ku, aku berjalan tergesa-gesa menuruni tangga, ku dengar suara Bunda seperti sedang bicara dengan seseorang melalui telfon aku juga mendengar nama Fathan yang di sebut Bunda, segera ku hampiri Bunda
"Bunda... " Panggil ku mengejut kan Bunda, dengan segera Bunda mengisyaratkan aku untuk diam dulu, aku pun menurut walau sebenarnya aku tak sabar ingin tahu siapa yang menelfon Bunda semalam ini juga mengapa tadi nama Fathan di sebut-sebut apa yang terjadi sebenarnya
"Waalaikumsalam Jeng" Bunda mengakhiri panggilan handphone nya
"Siapa yang nelfon semalam ini Bun? " Tanya ku tak tenang
"Ah itu dari mama Fathan nak, memberi kabar kalau... " Kata-kata Bunda terpotong karna aku langsung berlari naik ke kamar ku, aku sungguh tak ingin mendengar kabar apa pun sekarang, aku benci di tinggal kan, aku menangis di dalam kamar ku, ku dengar Bunda dari tadi memanggil nama ku sambil terus mengetuk pintu kamar ku, tapi aku memilih diam mengunci diri ku di kamar ini, setelah lama Bunda masih tetap dengan sabar memanggil ku di depan pintu kamar ku, aku tahu Bunda pasti bingung dengan sikap ku saat ini, ku hapus air mata ku, dan membuka pintu dengan pelan, ku lihat Bunda menatap ku khawatir
" Ada apa Nak? " Tanya Bunda lembut setelah ku buka pintu
"Thata hanya lelah, bisa kah Thata tidur sekarang Bun?" Kata ku membuat Bunda dengan lemah mengangguk paham maksut ku
"Ya baik lah,, selamat malam Nak" Kata Bunda sambil mencium kening ku "jika perlu sesuatu panggil Bunda oke" Kata Bunda lagi pada ku, ku anggukan kepala ku, setelah nya Bunda pergi meninggalkan ku sendiri, kembali ku tutup pintu kamar ku dan menangis dengan sepuas ku, seperti tak ada lagi hari esok untuk ku habis kan air mata ku, siapa lagi yang akan mengerti aku? Hiks.... Hiks..... Hiks...... Hiks.....
Kenapa dunia begitu kejam pada ku, apa karna hal ini maka Tuhan memberi kan air mata lebih pada ku untuk aku menangisi hidup ku yang tak adil? Aku juga ingin Bahagia Tuhan....
Bersambung........