Seperti tahu dengan kepulangan ku langit di kota ku mendung dan menetes kan titik titik bening nya, gerimis sepanjang sore sampai malam menyambut kepulangan ku, aku sudah di kamar ku, tadi saat sampai aku terlalu lelah dan memilih langsung mandi tanpa memperhatikan kamar yang sudah lama ku tinggal kan, ku perhatikan isi kamar ku masih sama seperti delapan tahun lalu saat ku tinggal kan tapi kamar ini tak berdebu sedikit pun Bunda benar benar merawat kamar ini walau pun aku tak ada di sini, aku duduk di meja belajar memperhatikan kan semua benda milik ku tersusun rapi di sana, mata ku berhenti pada sebuah bingkai foto mini yang terletak di atas meja belajar ku, ku angkat bingkai foto yang berisikan gambar ku dan Arka, fikiran ku kembali melayang mengingat pada saat di mana foto itu di ambil, ya semua tentang nya masih ku ingat dengan jelas, itu adalah hari kami belajar bersama karna esok nya adalah ujian pertama ku di sekolah menengah atas, ku peluk erat bingkai foto itu, aku masih sangat merindu kan nya, tes tes tes air mata ku pun ikut serta menyuarakan kan kerinduan nya mengalir dengan deras sampai membuat ku terisak, menangis tanpa suara sudah menjadi teman ku setiap kali aku merindu kan nya, hati ku nyeri menahan tangis sambil menahan kerinduan.
******
Sayu sayu ku dengar ada suara lelaki yang memanggil nama ku, makin lama panggilan itu makin jelas di telinga
"Arkaaa" Teriak ku spontan dengan nafas yang tak beraturan
" Asya" Panggilan Fathan menyadar kan ku "mimpi apa hemmm? " Tanya Fathan mengusap keringat di dahi ku
"Gak ada" Jawab ku sambil menggeleng kan kepala
"Ya udah buruan mandi, jadi kan temeni aku pulang hari ini?" Tanya Fathan
"Ya jadi" Aku pun bangkit dari tempat tidur nyaman ku menuju ke kamar mandi
"Cepet mandi nya Bunda sama Papa dah nunggu di meja makan, dasar putri tidur kalau gak di bangunin ngorok aja terus" Omel Fathan pada ku
"Ia ia udah deh buruan keluar aku mau mandi" Aku mendorong bahu Fathan agar segera keluar dari kamar ku
"Ya elah Sya mau mandi di depan mata ku juga gak bakal selera liat nya badan krempeng kayak pukulan tilam gitu" Sebut Fathan seenak nya yang langsung ku hadiahi dengan timpukan di kepala nya
"Sakit Asyaaa.... " Teriak nya, aku langsung mengunci pintu kamar ku rapat rapat sambil tertawa penuh kemenangan, tak berapa lama ku dengar suara langkah kaki menandakan kalau Fathan sudah pergi dari depan pintu kamar ku, aku masih terdiam mengingat mimpi ku tadi, bagai mana bisa dia hadir di mimpi ku setelah delapan tahun aku tak pernah memimpikan nya, hahh sudah lah mungkin ini efek karna tadi malam aku menatap foto nya, ku hampiri bingkai mini yang ada di atas meja belajar, ku ambil mengusap kaca bingkai foto itu tepat pada wajah nya setelah nya ku buka laci terbawah yang ada di meja belajar, ku masuk kan bingkai foto itu dengan membalik kan nya agar tak terlihat oleh ku jadi aku tak akan memimpin kan nya lagi, "huuuffff" Ku hela nafas ku memberi sedikit ruang agar hati ku tak terlalu sesak, ya mengingat nya membuat hati ku nyeri dan sesak.
********
Aku dan Fathan berada di satu mobil yang sama dengan di antar supir Bunda, jantung ku berdegup cepat saat mobil yang kami naiki belok menuju komplek perumahan Fathan, ya jalan ini tak asing bagi ku, aku bahkan sering ke sini dulu, dari kejauhan ku lihat pagar tinggi dengan masih bercat yang sama seperti sepuluh tahun lalu deg deg deg deg ya Tuhan jantung ku benar benar seperti akan keluar dari tempat nya, tiba tiba ku rasa kan tangan ku hangat ternyata Fathan menggenggam tangan ku lembut sambil menatap ku yang ntah dari sejak kapan.
"Kamu masih sama Sya seperti sepuluh tahun lalu kita pertama bertemu di depan pagar itu" Kata Fathan sambil melihat ke arah pagar tinggi rumah Arka "kamu baik baik aja kan?" Tanya nya lagi, aku menggeleng mata ku mulai panas seperti akan ada sesuatu yang mau keluar di sana, Fathan kemudian mengusap lembut bahu ku, rumah Fathan memang hanya berjarak tiga rumah dari rumah Arka, keluarga Fathan sangat dekat dengan keluarga Arka itulah yang ku tahu, Arka dan Fathan tumbuh besar di lingkungan yang sama mereka sahabat sejak kecil.
"Ayo turun kita udah sampai" Kata Fathan membuyar kan kebisuan ku, ku lihat di teras rumah Mama Fathan dan kak Farah kakak Fathan menyambut kami dengan senyum kehangatan aku langsung menghambur dalam pelukan mama Fathan
"Assalamu'alaikum Ma" Ku ucap kan salam sambil terisak dalam pelukan Mama Fathan
"Waalaikum salam Asya, hey kenapa kok jadi mewek gini???" Kata Mama sambil membelai rambut ku lembut, aku tak bisa berkata hanya mampu meresapi kehangatan pelukan Mama Fathan, ku rasakan usapan lembut kak Farah pada bahu ku, aku makin terisak dalam dekapan Mama,
"Asya rindu banget tu Ma sama Mama maka nya mewek gitu" Kata Fathan, aku pun langsung merenggang kan pelukan ku memberi ruang untuk Fathan dan Mama nya
"Assalamu'alaikum Ma" Salam Fathan sambil mencium punggung tangan Mama
"Waalaikum salam" Jawab Mama dan kak Farah serempak
"Anak Mama pulang? Mama rindu Nak" Mama memeluk Fathan erat sambil tangan nya mengusap kepala Fathan sayang,
"Di mana Keyla kak?" Tanya Fathan yang di tujukan pada kak Farah
"Di dalem tu sama Grandpa nya, ya udah yuk masuk kalian pasti capek" Kata kak Farah
"Oh ya Ma ini oleh oleh dari Bunda buat Mama" Kata Fathan memberi kan bungkusan yang di siapkan Bunda untuk Mama Fathan
"Wah apa ini banyak sekali, Bunda mu selalu repot repot mengirimkan banyak kueh untuk Mama" Kata Mama kepada ku sambil membawa bungkusan dari Bunda.
*******
Aku kak Farah dan Mama sedang duduk santai di taman rumah Fathan, menghirup udara sore sambil menikmati teh buatan kak Farah sambil bergosip ria dari mulai tanya kabar tanya tentang kegiatan kami di sana sampai tentang Fathan yang masih ingin menetap di sana, wajah Mama tampak sedikit sendu saat ku kata kan kalau Fathan hanya cuti dua minggu saja, ku usap lembut tangan Mama yang di balas Mama dengan senyuman
"Kamu udah tau Sya?" Tiba tiba wajah kak Farah berubah jadi serius
"Tau apa kak? " Tanya ku masih menebak
"Tentang Arka" Kata kak Farah terputus melihat reaksi ku " Arka sudah kembali dua tahun lalu, dia dan keluarga nya sudah menetap di sini sejak dua tahun lalu" Sambung kak Farah dengan masih menatap ku lekat sambil mengusap lembut tangan ku, aku tak tau apa yang ku rasa kan seperti kilat yang tiba tiba menyambar dan petir yang menggelegar begitu kuat menghantam hati ku, jangan tanya lagi bagai mana kuat nya jantung ku berpacu, ku rasa sebentar lagi jantung ini akan meledak saking tak normal nya dia berdetak, tangan ku tiba tiba berkeringat aku sangat gugup, gugup tentang bagai mana aku menyikapi diri ku
"Kenapa kamu kasih tau Asya secepat ini Farah?" Mama seperti tau dengan hati ku saat ini yang begitu tak karuan dengan berita yang ku fikir ini sangat tiba tiba setelah sekian lama aku menunggu
"Asya harus tau Ma, dia akan menetap di jakarta, Asya akan lebih terkejut saat nanti bertemu Arka tanpa kita beritahu, benar kan Asya? " Kata kak Farah memberi tahu, ya apa yang kak Farah kata kan memang benar aku pasti sangat syok saat tiba tiba bertemu dia nanti tanpa persiapan hati
"Kak Farah benar Ma" Kata ku membenarkan kan apa yang di kata kan kak farah "setidak nya Asya harus menyiap kan diri dan hati Asya saat kemungkinan Asya bertemu Arka" Lanjut ku
"Apa kamu akan baik baik saja Nak?" Tanya Mama Fathan sambil menatap ku dengan kekhawatiran "jangan pergi lagi Nak apa pun yang terjadi pada hati mu, kasihan Bunda mu Sya" Lanjut Mama dengan tatapan sendu menahan tangis nya, aku hanya bisa mengangguk pada Mama dan memeluk wanita paruh baya itu dengan sayang
"Asya gak akan pergi Ma, hati Asya gak akan pulih kalau terus lari dari kenyataan" Jawab ku mantap, Mama semakin memeluk ku erat.
BERSAMBUNG.........