Hari ini ku habis kan bercanda ria dengan keluarga Fathan, setelah seharian bercengkrama tak terasa langit sudah gelap menandakan malam sudah datang, sehabis makan malam aku berpamitan pulang pada keluarga Fathan, keluarga yang juga menyayangi ku sama seperti keluarga ku, rasa nya tak ingin pulang tapi kasihan Bunda yang sudah menunggu ku di rumah
"Asya pamit pulang ya Ma, Pa, kak Farah" Pamit ku pada keluarga Fathan yang mengantar kepulangan ku sampai ke teras rumah
"Ya sayang, hati hati di jalan jangan lupa sering sering main ke sini ya Sya" Kata Mama sambil memeluk ku
"Ia Ma nanti Asya pasti sering main ke sini, kan Asya udah jadi pengangguran sekarang hehehe" Canda ku sambil mencium punggung tangan Mama yang sudah ku anggap seperti Mama ku sendiri
"Jadi pengangguran kok bangga" Cela Fathan
"Gak usah di dengerin Sya, anggap aja burung gagak lewat" Sambung kak Farah gantian mencela Fathan, aku langsung memeluk kak Farah dan mencium punggung tangan kak Farah juga berpamitan
"Tenang aja kak, Asya udah kebal sama suara suara ghoib" Jawab ku bercanda
"Gimana Negara Indonesia mau maju orang jadi pengangguran dukungan nya udah kayak mau pemilu" Cela Fathan lagi pada ku, aku tak memperdulikan celotehan nya, aku menghadap Papa dan mencium punggung tangan Papa
"Pa Asya pamit pulang ya... Nanti kapan kapan Asya main ke sini lagi, Asya juga minta maaf sama Papa" Pamit ku pada Papa, sementara Papa mengerut kan dahi nya menatap ku
"Maaf untuk apa Sya?" Papa bertanya
"Maaf karna udah buat Fathan jauh dari Papa juga Mama, maafin Asya Pa" Aku berucap dengan menahan tangis ku mata ku rasa nya sudah memanas, Papa mengusap lembut rambut ku
"Itu bukan salah Asya nak, justru Papa sangat berterima kasih Fathan jadi anak yang mandiri karna kamu nak" Papa berucap lembut pada ku, tak mampu lagi ku tahan, air mata ku tumpah begitu saja tanpa hambatan, Mama segera mengusap kedua bahu ku menenangkan
"Kami tak pernah menyalah kan siapa pun untuk hal itu nak, jadi jangan salah kan diri mu untuk hal apa pun, kami juga menyayangi mu sama seperti kami menyayangi Farah dan Fathan" Mama berucap lembut pada ku sungguh aku sangat terharu mendengar ucapan Mama yang tulus menyayangi aku
"Udah udah mewek terus kapan pulang nya?" Cela Fathan lagi lagi mengganggu momen haru ku, aku langsung mencubit perut nya kuat sambil mengusap air mata ku
"Auuuuuu..... Sakit Asya" Teriak nya pada ku yang langsung ku serbu dengan pelukan
"Jangan rindu" Kata ku dalam pelukan nya
"Jangan Geer" Kata nya acuh, aku merenggang kan pelukan ku ingin memukul nya, tapi ku rasakan Fathan mengerat kan pelukan nya pada ku
"Jangan nangis lagi hemmm,,, ini yang terakhir janji? " Kata nya sambil merenggang kan pelukan nya mengusap air mata ku, yang ku balas dengan anggukan.
Aku sangat bersyukur Tuhan mengirim kan lelaki ini pada ku di saat terburuk ku, semoga nanti saat hati ku sembuh ada lelaki sebaik Fathan yang mau mengerti diri ku, harapan ku dalam hati.
*******
Di luar cuaca terlihat mendung, aku dapat melihat nya dari balik dinding kaca toko roti Bunda, beberapa hari berada di rumah tanpa kegiatan membuat ku sangat bosan, ku dengar Bunda yang kewalahan karna kurang nya pelayan di toko membuat ku menawarkan diri menjadi relawan di toko Bunda yang awal nya sudah jelas sangat di tentang oleh Bunda tapi dengan berbagai rayuan akhir nya di sini lah aku sekarang dengan seragam pelayan di toko roti Bunda, Deerrrr deerrrr ku rasakan getaran di saku celana ku, ku rogoh saku ku, ku lihat satu pesan dari Fathan
Fathan Pramudya
"Di mana? "
Nathasya Nur Fadillah
"Di toko Bunda"
Fathan Pramudya
"Aku otw ke sana"
Nathasya Nur Fadillah
"Gak usah kalau cuma mau yang gratisan"
Fathan Pramudya
"Sedekah sama anak soleh itu banyak pahalanya Asya... "
Nathasya Nur Fadillah
"Mending sedekah sama anak kucing"
Ku tutup handphone ku setelah tak mendapat balasan lagi dari Fathan, berjalan menuju meja yang baru saja di tinggal kan pengunjung, baru saja tangan ku akan mengelap meja Kliiiniiingg..... Suara bel pintu berbunyi menandakan ada pelanggan yang baru saja masuk
"Sell..... " Kata-kata ku menggantung begitu saja aku menatap sosok lelaki tinggi tampan dengan setelan jas rapi berdiri tepat di depan ku dengan rasa tak percaya, ku remas erat ujung baju ku, ku rasakan tangan ku yang berkeringat karna gugup, benar kah yang ku lihat? Jantung ku sudah benar benar seperti akan meledak, darah yang mengalir terasa panas di seluruh tubuh ku, wajah yang tak asing lagi di mata ku dia Arka ku, Arkana Mahardhika Suseno sosok lelaki yang selama ini ku rindu kan, wajah nya tak berubah sedikit pun hanya bertambah tegas dan berwibawa, dia berjalan melewati ku menuju meja di sudut toko dekat dengan jendela, ya Tuhan bahkan aroma parfum nya pun masih sama seperti sepuluh tahun lalu, aroma favorit ku, aku berbalik
"Arka.... " Ku sebut nama nya begitu saja lolos dari mulut ku bersamaan dengan air mata yang mengalir tanpa aba aba dari ku, tes tes tes tes, ku lihat dia menatap ku, aku sungguh berharap dia memeluk ku dan mengatakan dia merindu kan ku, aku sungguh tak sabar dengan apa yang akan di ucap kan nya ingin ku peluk dia erat dan menanyakan alasan Dia pergi dulu
"Maaf apa anda mengenal saya?" Dia bertanya, duarrrr rasa nya hati ku seperti tersambar petir tiba tiba, ku lihat ke dalam mata nya tak ku temu kan kebohongan di sana, benar kah dia sudah melupakan ku? Aku tak mungkin salah mengenali orang? Masih dengan isak tangis, ku kuat kan hati ku bertanya pada nya memastikan kalau ingatan ku tak salah
"Arkana Mahardhika Suseno, itukah nama anda?"
"Ya benar, apa saya mengenal anda?" Jawab nya dengan acuh tanpa perasaan, air mata ku makin mengalir dengan deras ku rasakan jantung ku yang berdenyut nyeri sampai tak sadar aku menjatuhkan gelas yang ada di tangan ku Taarrr.... Suara pecahan gelas itu menggema di dalam toko, dia masih menatap ku dengan kerutan di dahi nya, salah satu karyawan Bunda langsung membereskan kan segera pecahan kaca itu
"Asya.... " Suara Fathan menyadar kan kesakitan ku "kamu terluka??" Tanya nya lagi pada ku melihat pecahan kaca yang sedang di bersih kan berserakan di lantai tak jauh dari tempat ku berdiri
"Fathan... " Arka berdiri dari duduk nya memanggil Fathan, Fathan langsung melihat kearah orang yang memanggil nama nya, tampak raut wajah Fathan terkejut saat mengetahui siapa orang yang memanggil nama nya, spontan Fathan melihat ke arah ku, aku tersenyum pada Fathan menyembunyikan perasaan ku, ku geleng kan kepala ku agar Fathan tak bertanya, semua percuma fikir ku dia sudah melupakan aku.
"Fathan Pramudya" Arka langsung menghampiri Fathan "aku mencari mu dua tahun ini" Lanjut Arka lagi
"Kalau gitu aku permisi Than" Pamit ku pada Fathan yang di setujui Fathan dengan anggukan, aku langsung berjalan cepat kebelakang, sampai di ruang istirahat aku terduduk badan ku bergetar hebat tak dapat lagi kutahan ku pukul kuat d**a ku yang terasa sesak dan nyeri, ku biar kan air mata ku terus mengalir, tak ada yang dapat di salah kan untuk sakit ku, sepuluh tahun sudah berlalu seharus nya tak sesakit ini lagi jika aku bisa melupakan nya dulu, di luar hujan turun dengan deras langit pun ikut menangis turut berduka untuk hati ku yang lama merindukan nya tapi kini terhempas berdarah tergores parah.
Bersambung......