Aku masih terisak di ruangan istirahat di toko bunda
"Tha... " Panggil Bunda lembut memegang bahu ku, aku berbalik menghadap Bunda dengan segera Bunda memeluk ku, air mata ku makin mengalir dengan deras
"Dia Arka Bun, hiks hiks hiks,,, dia Arka yang meninggal kan Thata tanpa pamit sepuluh tahun lalu Bun,, hiks hiks hiks,,,, Dia Arkana Thata Bun" Kata ku memberi tahu Bunda di sela isak tangis ku, Bunda mengusap air mata ku lembut
"Dia Arka Nak, tapi Arka bukan barang yang bisa di beri lebel" Kata Bunda lembut memberi ku pengertian "mencintai dan memiliki adalah dua hal yang berbeda sayang, jangan jadi kan cinta sebagai alasan untuk memiliki seseorang, itu bukan cinta tapi keegoisan" Kata Bunda masih membelai kepala ku lembut, aku semakin terisak mendengar penuturan Bunda
"Apa yang harus Thata laku kan Bun??" Aku bertanya pasrah karna aku sungguh bingung bagai mana menyikapi hati ku saat ini, melupakan sudah ku coba, delapan tahun aku lari dari kenyataan untuk melupakan nya tapi semua percuma karna semakin aku bertekat melupakan nya semakin kuat semua ingatan ku tentang dia,
"Belajar lah untuk merelakan Arka sayang, Thata hanya perlu satu hal itu, dengan Thata merelakan nya tidak mengkleim nya di hati Thata seiring dengan waktu yang berjalan Thata akan mampu melupakan nya" Dengan sabar Bunda berkata pada ku sambil tangan Bunda yang terus mengelus elus rambut ku "mencintai tak harus memiliki, tak ada guna Thata memiliki nya mempertahankan nya, jika cinta nya bukan milik Thata lagi semua hanya akan percuma, miliki lah seseorang yang mencintai Thata, Thata hanya perlu membuka hati, mengubah siapa pemilik hati mu tak serumit mengubah isi hati orang lain yang tidak mencintai mu Nak" Sambung Bunda lagi, semua omongan Bunda ku benar kan, air mata ku mengering dengan sendiri nya, karna mengingat bagai mana pandangan Arkana tadi pada ku, pandangan orang yang tak pernah saling kenal, benar kah dia sudah melupakan ku?? Tanya ku dalam hati, sepuluh tahun sudah berlalu tentu dengan mudah dia bisa melupakan aku, semudah dia pergi tanpa pamit pada ku dulu.
*******
Di ujung kafe meja terakhir paling pojok dua orang lelaki sedang duduk berhadapan meraka Arka dan Fathan, Fathan tampak srius sementara Arka seperti senang karna bertemu dengan sahabat masa kecil nya
"Dari mana aja loe selama ini ?" Tanya Fathan sambil menyeruput minum yang sengaja dia pesan tadi
"Gue yang harus nya tanyak sama loe kemana aja loe dua tahun ini gue cari gak ada kabar sama sekali tentang lo" Tanya Arka balik tanpa menjawab pertanyaan Fathan lebih dulu,
"Pfffft... Dua tahun???? Itu belum seberapa di banding dengan penantian seseorang buat loe" Jawab Fathan menyindir, Arka mengerut kan dahi nya sambil tersenyum
"Sorry bro gue gak kasih tahu loe, tapi apa segitu nya loe menunggu gue" Canda Arka "gue kecelakaan Sepuluh tahun lalu Than tepat saat tahun terakhir kita sekolah dulu" Lanjut Arka, yang langsung mendapat kan tatapan serius dari Fathan menuntut penjelasan lebih detail dari Arka
"Apa maksut loe? " Fathan tak mengerti, tampak Arka menghela nafas
"Gue kecelakaan sepuluh tahun lalu, entah bagai mana tepat nya gue kurang paham semua hilang dari ingatan gue Mama bilang ada pendarahan hebat di kepala gue saat itu gue kritis Papa langsung mengambil tindakan untuk operasi dan membawa gue segera ke Kanada mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan gue, gue bukan pergi karna kemauan gue Than gue koma" Jelas Arka panjang lebar pada Fathan, sementara Fathan menatap tak percaya dengan apa yang Arka kata kan
"Gue srius Than, satu tahun gue koma di Negri orang" Jelas Arka dengan wajah yang srius, Fathan masih memandang dalam ke mata Arka mencari apa kah ada kebohongan pada penjelasan nya namun tak tampak sedikit pun terpancar kebohongan dari mata nya
"Jadi apa loe baik baik aja sekarang" Tanya Arka menyelidik
"Ya gue baik baik saja, setelah satu tahun koma, satu tahun dalam perawatan medis, kata Dokter kondisi gue sudah pulih" Jelas Arka mantap
"Loe yakin udah pulih 100%? Fathan masih mengajukan pertanyaan karna ragu
"Ya, otak gue masih sama saat kita sekolah dulu, gue masih andal dalam pelajaran" Jelas Arka meyakin kan, Fathan memandang Arka masih dengan keraguan
"Loe belum jawab pertanyaan gue Than, kemana loe selama ini" Arka mengulang pertanyaan nya karna penasaran Belum mendapat jawaban dari Fathan
"Gue dan Nathasya di Yogyakarta" Fathan sengaja menekan kan nama Asya dengan lantang melihat reaksi Arka
"Pacar loe?" Tanya Arka polos memandang Fathan, Fathan mengerut kan dahi memandang dalam pada manik mata Arka tak percaya dengan pertanyaan yang di lontar kan nya,
" Loe gak inget Nathasya?? " Tanya Fathan bingung dengan situasi saat ini, bagai mana bisa Arka melupakan sosok wanita yang dulu selalu jadi bahan obrolan nya sepanjang hari tentang bagai mana dia sangat menyukai Asya
"Apa dia teman sekolah kita dulu?" Tanya Arka masih dengan raut wajah yang tampak biasa seperti memang tak pernah kenal dengan nama itu, Fathan sungguh tak percaya dengan pertanyaan Arka. Masih bingung dengan Arka tiba tiba mata Fathan menangkap bayangan sosok wanita yang baru saja mereka bahas keluar dari arah belakang toko roti Bunda dengan menggunakan payung menembus hujan deras di luar sana,
"Dia Nathasya" Fathan berucap sambil pandangan nya menembus pada kaca melihat ke arah luar, Arka ikut menatap ke arah di mana pandangan Fathan tertuju, dia melihat sosok wanita berjalan tertunduk dengan payung di tangan nya.
*****
Di luar hujan turun masih sangat deras bahkan bumi pun ikut menangis seperti tahu dengan perasaan ku yang hancur, sepuluh tahun lalu perasaan ini dia hancur kan dengan kepergian nya tanpa pamit, dan hari ini perasaan ini dia hancurkan dengan kehadiran nya yang sama sekali tak mengenali ku, jika datang nya hanya untuk menambah luka semakin berdarah aku sungguh sangat menyesali kadatangan nya, harus kah aku bersyukur dengan pergi mu yang tanpa pamit itu? Setidak nya walau pun hati ku sakit aku masih memiliki harapan menunggu mu, tapi sekarang lihat lah hati ku seperti tak memiliki arah tujuan, semua penantian ku tak berarti apa apa, sepuluh tahun ku habis kan sia sia hanya untuk menunggu melihat nya melupakan ku, hiks..... hiks.... hiks..... Aku masih terisak berjalan tertunduk di bawah payung yang terguyur deras oleh butiran air hujan.
BERSAMBUNG....