Fathan Pov
Ku lihat tubuh mungil itu berjalan dengan payung di antara hujan yang deras, setelah sepuluh tahun bersama nya aku tak pernah melihat nya berjalan dengan payung bila hujan turun, dia selalu menyukai hujan tak perduli kebasahan dia akan menembus hujan dengan riang, tapi beda sore ini dia bahkan tertunduk rapuh dengan langkah kaki yang lebar lebar, hatinya kembali terluka, bagai mana lagi cara ku membuat dia lupa dengan luka nya,
"Bukan kah dia pelayan tadi?" Tanya Arka membuyarkan kan lamunan ku, aku mendengus mendengar pertanyaan nya
"Dia Nathasya putri pemilik cafe ini" Jawab ku jengah, aku menatap nya tajam "lo gak ingat dia?" Tanya ku lagi menyelidik, ku lihat dia menggeleng sambil meminum coklat panas milik nya
"Apa lo masih menderita amnesia?" Tanya ku lagi masih tak percaya dengan ingatan nya
"Tidak, setelah sadar dari koma gue dinyatakan menderita amnesia ringan, tapi itu tidak lama karna setelah nya keluarga gue bilang ingatan gue udah pulih total" Jelas Arka santai, aku menggeleng tak membenarkan ucapan nya fakta nya dia tak mengingat Asya sedikit pun, Arka mengerutkan dahi nya melihat ku menggeleng "kenapa loe?" Tanya nya lagi pada ku
"Tidak apa apa" Jawab ku sambil menyeruput minuman ku, harus kah ku katakan pada nya? Aku bertanya dalam hati.
"Ayo ke rumah Than, Mama pasti senang liat lo" Arka menawarkan, aku melirik pada jam tangan ku
"Gak bisa hari ini, gue ada janji" Tolak ku pada Arka, aku harus menemui Asya, aku takut dia kenapa napa
"Oke kalau gitu, kabari gue kalau lo udah bisa ini kartu nama gue" Arka memberikan selembar kartu nama nya dan pamit pergi, aku pun juga segera pergi menuju rumah Asya
******
"Assalamu'alaikum" Salam ku setelah sampai di depan pintu Asya
"Waalaikum salam, eh mas Fathan" Jawab asisten rumah tangga Bunda
"Asya ada bik?" Tanya ku
"Di atas mas sama ibu" Kata bik Atik, aku langsung ke atas menuju kamar Asya, belum aku sampai di atas kulihat Bunda keluar dari balik pintu kamar Asya
"Bunn... " Belum aku sempat bicara Bunda langsung mengangkat jari telunjuk nya ke arah bibir menandakan aku untuk mengecil kan volume suara ku
"Ayo ke bawah Asya baru tidur" Bisik Bunda pada ku,
"Kamu sudah makan nak? " Tanya Bunda pada ku setelah kami berada di bawah
"Sudah Bun" Jawab ku asal, karna sebenarnya aku tak berselera
"Mau temani Bunda minum teh di belakang nak? " Bunda bertanya lagi pada ku lembut, aku pun mengangguk. Aku duduk di sebelah Bunda ku dengar Bunda menghela nafas berat, aku bisa mengerti perasaan Bunda, perasaan yang sama saat pertama kali Asya meminta untuk berkuliah di Yogyakarta dulu, "apa Asya Baik baik saja Bun?" Tanya ku memulai percakapan, bukan jawaban yang ku dengar tapi suara isak Bunda yang tertahan, aku menoleh pada Bunda yang ku lihat tertunduk dengan air mata yang mengalir deras, ku peluk Bunda mengusap lembut bahu Bunda, tak ada percakapan di antara aku dan Bunda selebihnya nya kami hanya saling diam dengan pemikiran kami masing-masing, aku bisa mengerti ketakutan Bunda, aku pun sama, aku takut tak ku temu kan lagi senyum indah Asya seperti dia pertama terluka dulu
******
Beberapa hari berlalu waktu cuti ku pun akan segera berakhir, hari ini aku kembali ke Yogyakarta, ku geret koper ku dengan lesu, setelah hari itu Asya banyak mengurung diri di kamar, dia masih banyak menangis, dan tepat tadi pagi Bunda menghubungi aku karna tak bisa ikut mengantar ku, ku kata kan tak mengapa, aku juga tak sempat berpamitan pada Asya karna penerbangan ku tepat pagi ini, kemarin saat aku berkunjung ke rumah nya dia banyak diam, aku tahu diam nya dia pasti sedang menimbang perasaan nya antara pergi atau tinggal, huuuufffffff..... Ku hela nafas berat, ini pertama kali nya aku pergi meninggal kan Asya saat hati nya sedang terluka
"Fathan... " Teriakan itu membuyarkan kan lamunan ku, aku langsung berbalik semangat mengetahui siapa pemilik suara itu
BRRUUUKKK..... hampir saja aku terjatuh karna tak bisa menahan keseimbangan pelukan nya yang tiba tiba, ku balas pelukan nya erat sambil mengelus rambut panjang nya, ku rasa kan baju di d**a ku basah dengan air mata nya
"Jangan pergi" Rengek nya pada ku
"Aku harus kerja Asya, aku gak mau nambahin jumlah pengangguran di Negeri ini" Jawab ku menggoda nya, dia langsung merenggang kan pelukan nya dan memukul lengan ku
"Jangan rindu" Kata ku sambil memeluk dia lagi, kepada sosok gadis mungil yang manja dan rapuh ini membuat ku ingin terus melindunginya
"Kalau aku rindu apa kau akan datang?" Tanya nya pada ku mendongak kan kepala nya menatap ku
"Tentu jika kau membayar gaji ku penuh" Ku kerling kan mata ku terus menggoda nya
"Dasar mata duitan" Umpat nya pada ku, aku terkekeh melihat wajah cemberut nya
"Baik lah aku harus berangkat sekarang, jaga diri mu heeuumm" Ku cubit pelan hidung nya dan berpamitan yang di balas nya hanya dengan anggukan, ku lihat dari kejauhan dia tersenyum sambil melambai kan tangan nya pada ku, ku balas lambaian tangan nya, aku jadi ingat percakapan ku dan kak Farah kemarin
Flashback on
"Bagai mana kabar Asya?" Tanya kak Farah pada ku sore itu saat membantu ku berkemas,
"Entah lah kak aku tak yakin" Jawab ku sambil menghela nafas berat
"Boleh kakak tanya satu hal?" Tanya kak Farah lagi
"Jika ku bilang tidak boleh apa kakak akan berhenti bertanya" Jawab ku asal yang langsung mendapat timpukan tepat di kepala ku, ku lihat kak Farah yang sudah melotot pada ku dengan berkacak pinggang, huuuufffffff ku hela nafas ku, sungguh nasip ku di kelilingi dengan wanita bar bar pikir ku
"Ya boleh tanyakan semua yang ingin kakak ketahui puasss" Jawab ku cemberut, yang langsung di tanggapi cengiran dari kak Farah dan langsung menyerbu duduk di hadapan ku
"Apa kau pernah menyukai Asya?" Tanya nya dengan wajah yang srius
"Tentu aku menyukai nya" Ku jawab santai
PLETAK.... dengan seenak nya kak Farah kembali menjotos jidat ku
"Auuuuww...." Triak ku sambil mengusap jidat ku "astaga apa sih kak?" Tanya ku geram
"Kau lelaki dan Asya wanita apa kau tidak pernah merasakan hal lain selain suka sebagai sahabat atau jantung mu berdebar saat bersama nya? Itu maksut kakak?" Tanya kak Farah frustasi, aku terdiam dengan pertanyaan kak Farah, aku tak pernah memikirkan hal ini sebelum nya, aku juga tak tahu dengan perasaan ku, yang ku tahu hati ku akan sakit kalau melihat Asya terluka, selebihnya entah lah biar semua berjalan sebagai mana mestinya, toh hati ku milik ku pada siapa dia berlabuh biar itu jadi urusan hati ku,
"Kontrol perasaan mu jangan sampai menghancurkan pertemanan mu dengan Arkana atau lebih buruk lagi dengan Asya Than" Lanjut kak Farah membuyarkan lamunan ku, ku rasakan tepukan di bahu ku setelah nya ku lihat kak Farah keluar dari kamar ku. Ku rebah kan tubuh ku di atas kasur memijit pelipis ku melihat ke atas pada langit langit kamar.
Flashback of
BERSAMBUNG....