Aku terbangun pagi ini dengan keadaan berantakan beberapa hari ini, setelah pertemuan ku dan Arka di cafe hari itu yang sama sekali tak mengingat ku, menambah luka ku semakin berdarah, tak bisa ku tahan lagi bagai mana hancur nya hati dan perasaan ku, aku yang mengharap kan pertemuan indah dengan nya harus menelan pahit karna kenyataan tak sesuai dengan apa yang aku harap kan, dengan sungguh tak berdosa nya dia melupakan ku begitu saja, apa kah jatuh cinta sesakit ini??! Apakah menunggu sesakit ini?? Apakah merindu juga sesakit ini?? Jika ku tahu semua akan berakhir pada hati ku yang sakit aku sungguh tak ingin mengenal nya dulu Tuhan aku benci dia. Hiks... Hiks... Hiks... Lihat lah aku masih terus terisak setiap mengingat nya. Ku raih handphone ku yang sedari tadi berbunyi melihat dengan malas, aku terkejut begitu mendapati pengingat di handphone ku bahwa hari ini jadwal Fathan kembali ke Yogyakarta, ku usap air mata ku meraih handuk segera ke kamar mandi, beberapa menit berlalu aku sudah siap langsung turun ke bawah, di bawah ku dengar Bunda bicara dengan handphone nya
"Waalaikum salam nak" Kata Bunda mengakhiri pembicaraan dan melihat ke arah ku "pagi sayang, mau ke mana sudah rapi gini?" Lanjut Bunda bertanya pada ku
"Bun Thata pamit ya mau ke rumah Fathan" Aku mencium tangan Bunda berpamitan
"Fathan sudah di bandara sayang, Bunda baru saja telfonan dengan nya tadi" Kata Bunda,
"Apa Bun??, ya udah kalau gitu Thata pinjem mobil Bunda ya" Aku terkejut dan langsung bergegas mengambil kunci mobil Bunda di atas meja segera berlari keluar
"Hati-hati di jalan Tha" Teriak Bunda pada ku yang hanya ku balas dengan lambaian tangan ku
"Ada apa ini pagi-Pagi sudah ribut-ribut Bun? " Tanya Papa yang baru keluar dari kamar sudah siap dengan stelan kantor Papa berjalan ke meja makan
"Thata Pa" Kata Bunda yang ikut di belakang Papa menuju meja makan
"Thata udah bangun?" Tanya Papa lagi masih tak tahu dengan situasi nya menyeruput santai cofe di atas meja makan
"Thata sudah pergi terburu-buru barusana Pa" Kata Bunda sedikit kesal dengan Papa
"Loh pergi kemana sepagi ini? " Tanya Papa lagi masih tak tahu
"Fathan hari ini kembali ke Yogyakarta Pa" Jelas Bunda
"Oya?, kenapa Bunda gak bilang? Kita bisa pergi ke bandara bareng liat Fathan" Kata Papa
"Sudah lah Pa ayo serapan" Kata Bunda sambil mengambil kan Papa makan, Papa hanya mengerut kan dahi nya tak mengerti sambil menerima piring yang sudah berisi nasi beserta lauk nya dari Bunda. Tentu Papa bingung tak mengerti karna Papa baru saja kembali dari luar kota karna urusan pekerjaan.
******
Aku celingak celinguk sesampai nya di bandara dengan langkah yang terburu-buru aku terus mencari keberadaan sosok lelaki yang selama ini dengan sabar menjaga dan melindungi ku, hampir menangis rasa nya saat tak ku temukan dia di mana mana, aku berlari terus mencari sampai ku lihat dari jarak beberapa meter sosok lelaki tinggi yang sangat ku kenal berjalan lesu dengan tangan nya menggeret koper.
"Fathaaann.... " Teriak ku dari jauh menghentikan kan langkah nya, ku lihat dia berbalik dan dengan segera aku berlari menjatuhkan kan diri ku dalam pelukan nya,, BRUUUUUKKKK.... Ku rasakan tubuh nya sedikit hilang keseimbangan akibat menahan diri ku, aku tak perduli lagi makin ku erat kan pelukan ku, aku menangis di dalam pelukan nya, dia satu-satunya orang yang selalu ada untuk ku selama sepuluh tahun ini.
"Jangan pergi" Rengek ku masih dalam pelukan nya
"Aku harus kerja Asya, aku gak mau nambahin jumlah pengangguran di Negeri ini" Jawab nya menyindir mengalihkan kesedihan ku, ku renggang kan pelukan ku memukul lengan nya seperti yang selama ini ku lakukan jika aku kesal dengan nya, dengan segera dia menarik ku kembali ke dalam pelukan nya, aku tahu dia juga pasti tak tega meninggal kan ku, air mata ku masih terus keluar aku tahu aku egois tapi aku tak ingin jauh dari nya, ku rasakan dia menyapu lembut rambut ku
" Jangan rindu" Kata nya di sela isak tangis ku
"Kalau aku rindu apa kau akan datang?" Ku dongak kan kepala ku dalam pelukan nya bertanya pada nya manja
"Tentu jika kau membayar gaji ku penuh" Jawab nya sambil mengerlingkan mata nya membuat ku geram pada nya, bisa-bisa nya dia memberi harga untuk bertemu dengan ku, gerutu ku dalam hati
"Dasar mata duitan" Umpat ku kesal pada nya, yang di tanggapi nya dengan kekehan
"Baik lah aku harus berangkat sekarang, jaga diri mu heeuumm" Kata nya sambil mencubit pelan hidung ku dan berpamitan yang hanya bisa ku balas dengan anggukan, sungguh sebenar nya aku tak ingin dia pergi, aku takut saat dia pulang nanti juga melupakan ku, ku tatap langkah kaki nya yang terus semakin jauh meninggal kan ku, dari kejauhan ku lihat dia berbalik, ku lambaikan tangan ku yang dengan segera di balas nya lambaian tangan ku dengan riang,
"Aku pasti sangat kesepian nanti" Aku bergumam sendiri masih terus menatap nya setelah tak terlihat lagi dia ku balik kan badan ku berjalan keluar dari bandara dengan mata yang sembab karna terlalu banyak menangis.
******
Di tempat yang sama waktu yang sama tapi sudut yang berbeda seorang pria tinggi tampan dengan stelan baju yang sangat rapi dan pas di tubuh nya berdiri mematung menyaksikan pemandangan dua orang saling berpelukan mesrah di tengah keramaian bandara pagi ini, dia Arkana Mahardhika Suseno seorang CEO muda yang menjadi idolah kaum hawa, mata nya terarah pada sosok yang di kenal nya Fathan Pramudya sahabat baik yang beberapa hari lalu tampak berbeda menatap nya, kini tatapan itu menatap sosok gadis mungil di depan nya dengan lembut dan hangat, perlakuan nya sangat jelas sekali, apakah mereka sepasang kekasih? Tanya nya dalam hati, pagi ini Arkana ada penerbangan untuk urusan bisnis ke luar kota, saat masuk ke bandara dia mendengar teriakan seorang gadis memanggil nama seseorang yang juga tak asing di telinga nya dia terus mematung menyaksikan interaksi sahabat nya dengan seorang gadis yang beberapa hari lalu di lihat nya, entah apa yang membuat kaki nya tak mampu berpindah dari tempat nya, dia terus menatap kearah dua orang itu, dengan detakan pada jantung nya yang berdegup cepat, di rabanya d**a nya merasakan degupan hebat yang dia pun tak tahu apa penyebab nya
"Apa anda baik-baik saja Pak?" Tanya sekretaris nya khawatir karna melihat atasan nya meremas d**a nya kuat
"Ya, apa semua sudah siap" Kata nya dingin pada sekretaris nya
"Sudah Pak, silah kan lewat sini Pak" Sekretaris itu menunjuk kan arah dengan tertunduk, Arka pun pergi dengan arahan sang sekretaris sambil menyempat kan melirik ke arah di mana tadi pandangan nya tertahan tapi sudah tak di temukan nya lagi siapa pun di sana, mereka sudah pergi? Gumam nya dalam hati dengan dahi yang berkerut.
BERSAMBUNG.....