—Keserakahan manusia tidak memperdulikan laki-laki atau perempuan. Mereka sama saja.
Bulan sabit terlihat bersinar terang, cahayanya masuk kedalam ruangan melalui kaca bening yang ada disana. Di sebuah meja coklat gelap, sesosok pria terlihat memejamkan mata. Menikmati keheningan malam yang menjadi favoritnya.
Tok! Tok!
"Masuk," ujar pria itu sesaat sebelum netra ambernya terbuka. Dia mengubah posisinya menjadi lebih tegap, mengumbar aura kepemimpinan yang khas.
"Alpha, Luna Ayla memanggil anda ke kamarnya," ucap pria yang kini ada dihadapannya.
Tanpa jawaban, sang Alpha yang dipanggil hanya menghembuskan nafas pelan. Netranya beralih menatap bulan sabit yang terlihat merajai malam dengan sejuta bintang di sekelilingnya.
"Sampaikan aku akan segera kesana," ujarnya dan langsung dipatuhi oleh tangan kanannya. Sang Beta.
Dia tahu, pembicaraan malam ini akan sama dengan malam-malam sebelumnya. Bundanya memang sudah tidak bisa lagi menjadi Luna atau ratu kaum Serigala.
Posisinya sebagai Raja para Serigala, membuatnya harus memiliki pasangan secepat mungkin. Harus ada yang menggantikan Bundanya.
[Dan dia adalah mate kita! ] ujar seseorang di dalam dirinya. Sebenarnya, dia tidak keberatan jika yang berada disisinya untuk memimpin kaum Serigala bukanlah mate atau pasangan jiwanya. Toh, kaumnya memerlukan Ratu sesegera mungkin.
Tapi sayang sekali serigalanya selalu menolak mentah mentah opini itu.
Merasakan pening akibat serigalanya yang terus meraung tidak terima, pria itu bangkit berdiri. Mau tidak mau, sepertinya dia harus menerima saran ibunya tentang perjodohan itu.
Semua ini, demi kaumnya 'kan?
Deg!
Raja Serigala terpaku. Degupan tadi..
"Lapor Alpha," Beta Brian terlihat menghampiri sang Alpha dengan tergesa. "Seluruh anggota pack tiba tiba panik tanpa sebab. Saya juga dapat kabar dari pack lain kalau mereka merasakan hal yang sama."
Sang Alpha langsung tertegun. Kepanikan seperti ini hampir tidak pernah terjadi. Bukan jenis seperti terjadi bencana alam ataupun ada pengkhianat di wilayahnya, tapi sesuatu yang jauh lebih parah lagi.
Deg!
Denyutan itu kembali terasa. Sang Alpha mulai memegang d**a kirinya. Padahal dia adalah Raja, tapi perasaan panik ini benar-benar menyiksanya. Sebenarnya apa yang terjadi?!
Alpha Mikael mulai menghela nafas dan menormalkan detak jantungnya. Dia harus memikirkan-memikirkan—
[Lapor Alpha] seseorang mengirimkan telepati padanya. Telepati ini terasa agak aneh, sepertinya di kirimkan dari tempat yang jauh. [Di wilayah Vampire terjadi kepanikan, Lord Vernon bertanya apa terjadi hal yang sama di Wilayah Serigala?]
Alpha Mikael membulatkan mata. Bukan hanya di wilayahnya? Berarti jawabannya hanya satu.
"Brian, katakan pesanku pada seluruh pemimpin kaum Immortals." sang Alpha terlihat serius. Aura kepemimpinan langsung menguar dari tubuhnya.
"Aku, Mikael Theodore Arsein, Raja para Serigala meminta seluruh pemimpin kaum Immortals untuk menghadiri The Great Meeting." Ujarnya tak terbantahkan.
Sang Beta, Brian langsung mengernyitkan dahi. Saat ini mereka memang sedang dilanda kepanikan luar biasa, tapi memangnya masalah apa hingga harus melibatkan seluruh kaum Immortals?
Alpha Mikael yang melihat betanya termenung langsung menjawab pelan, "Kepanikan ini disebabkan oleh satu hal."
Beta Brian yang baru mengerti langsung membulatkan matanya tak percaya.
"Manusia."
***
Thalia memperhatikan hutan yang mengelilinginya, hutan ini di penuhi pohon-pohon yang menjulang tinggi hingga puncaknya tidak terlihat. Terlebih lagi, ukuran batangnya juga.. sebesar rumah. Thalia tidak tahu ada hutan dengan pohon seperti ini, dia kira hal itu hanya ada di novel fantasi. Yah, tapi selama pohon-pohon ini tidak hidup dan berusaha menyakitinya, Thalia rasa hal itu tidak masalah.
Yang menjadi masalah adalah bagaimana cara Thalia pulang. Dia yakin, sangat yakin kalau ia ada di kamar Raymond beberapa saat lalu, bukan di dalam hutan liar yang Thalia bahkan tidak ketahui eksistensinya.
"Kenapa aku bisa ada disini?" tanya Thalia pada dirinya sendiri.
"Penyusup."
Thalia terlonjak kaget mendengar suara berat itu. Dia langsung menoleh kesana kemari mencari asal suaranya, tapi tidak di temukan siapapun di sana.
"Siapa?" tanya Thalia. "Aku tersesat di sini, tolong—"
"Tersesat? Hm, tidak. Kau penyusup."
Thalia jatuh terduduk melihat pohon di depannya tiba-tiba mengecil dan membentuk tangan juga kaki. Thalia juga melihat kalau pohon itu tiba-tiba memiliki wajah yang-menyeramkan.
"Berani sekali kau menginjakkan kaki di hutanku dasar—" Pohon itu mengernyit dan mendekatkan wajahnya pada Thalia. Dia terlihat membelalakkan matanya sebelum berteriak, "MANUSIA SIALAN!"
Thalia langsung berlari sekuat tenaga ketika pohon itu hendak menerkamnya, dia memang sempat tersandung beberapa kali akibat akar pohon yang tiba-tiba muncul, tapi Thalia bisa bernafas lega ketika melihat ujung dari hutan ini terlihat.
"Sudah aman?" tanya Thalia sembari mengatur nafasnya yang tak karuan. Thalia memang masih berada di hutan, tapi hutan ini terlihat lebih bersahabat karena memiliki ukuran pohon yang biasa saja dan suasana yang lebih hangat.
Setidaknya tidak semencekam disana.
"Aku harap tidak ada lagi yang—" ucapan Thalia terhenti ketika mendengar suara desisan ular. Dengan perlahan, Thalia berbalik dan membelalakkan mata ketika melihat seekor kelabang raksasa sedang merayap memutari pohon.
Lari!
Tanpa memerdulikan kakinya yang sudah lecet, Thalia kembali berlari. Setidaknya sampai kelabang raksasa itu berhenti mengejarnya atau sampai menemukan jalan raya agar ia bisa selamat.
Tapi, karena situasi hutan yang gelap, Thalia tiba-tiba tersandung sesuatu yang membuatnya langsung tersungkur ke tanah. Thalia langsung melindungi kepalanya—berjaga-jaga kalau kelabang itu akan menerkamnya—tapi, Thalia baru sadar kalau suara kelabang itu tidak terdengar lagi.
Tapi belum sedetik Thalia bernafas lega, sesuatu kembali menampakkan dirinya di depan gadis itu, membuat badannya lemas seketika.
Netra hijau Thalia melihat kupu-kupu sebesar sepuluh meter hinggap di pohon besar. Sayapnya memiliki ukiran rumit berwarna merah kehitaman. Thalia rasa kupu-kupu ini tidak indah, tapi mengerikan.
Dengan langkah perlahan, Thalia mencoba mundur. Kupu-kupu sebesar itu bukan tidak mungkin akan memakannya 'kan?
Tapi suara yang berasal dari semak-semak di belakangnya membuat Thalia tersentak sekaligus membuat kupu-kupu itu langsung berbalik—menatap Thalia tajam dengan mata hitamnya.
Dengan cepat, Thalia membalikkan badan. Niatnya adalah akan berlari lagi sebelum suara sedingin es terdengar ditelinganya. "Baiklah, apa yang kita temukan disini?"
Thalia tersentak kemudian jatuh terduduk.
Pria didepannya ini benar benar definisi dari iblis. Cipratan darah memenuhi baju dan sebagian wajahnya, jubah hitam yang dipadukan dengan kemeja merah yang dipakainya benar benar melengkapi kesan mengerikan dari pria itu. Dan lagi.. Benda tajam yang mencuat dari dalam bibirnya itu-taring?!
"Jadi dia Manusia itu?" pria lain terlihat ikut mendekati Thalia. Pria ini terlihat lebih bersahabat dari yang tadi karena tidak ada noda darah ditubuhnya.
"Hm~ darahnya benar benar wangi." tanpa sadar, telapak kaki Thalia sudah diangkat dan berada tepat didepan hidung pria itu.
"L-lepaskan!" Thalia menggoyangkan kakinya kasar, membuat pria itu terjatuh kesamping.
"Kau.. " pria itu menggeram. Secepat kilat dia sudah ada di depan Thalia, mencengkram lehernya kuat. "Berani sekali kau menendangku Human."
Cengkraman pria itu di lehernya membuat Thalia kesakitan. Sebisa mungkin Thalia berusaha untuk melepaskannya, cengkraman itu malah semakin kuat.
"Felix," pria dengan penuh darah itu berbicara setelah memperhatikan dari tadi. "Kita tidak boleh membunuhnya. Lepaskan."
Pria yang dipanggil Felix itu hanya mendengus kemudian melepaskan cengkramannya kasar. "Kau terlalu lembut padanya, Drey."
"Dia perempuan."
"Keserakahan manusia tidak memperdulikan laki laki atau perempuan." Felix menatap Thalia dengan jijik. "Mereka sama saja."
Thalia yang ditatap begitu langsung menunduk. Entah kenapa Thalia merasa kalau kehadirannya disini sangat tidak di harapkan.
"Sudahlah. Urus saja roh hutan yang mengamuk itu sebelum terjadi kepanikan." Pria yang di panggil Drey itu menepuk pelan bahu Felix kemudian berjongkok. Menyamakan tingginya dengan Thalia.
Setelah dirasa Felix sudah pergi, pria itu mengangkat dagu Thalia dengan tangan penuh darahnya. "Sebutkan namamu."
"Thalia," ujar Thalia pelan. Netra hijaunya tak berani melihat langsung kearah mata merah menyala didepannya.
"Baiklah, Thalia. Kau harus ikut kami." Dreynan berdiri kemudian menepuk-nepuk tangannya. Seakan menghilangkan noda entah apa. Dia sempat menyipitkan mata melihat bayangan kelabang raksasa yang kembali berlari ke dalam hutan.
Itu aneh, hutan Noxious—hutan paling berbahaya di dunia Immortals—memiliki beberapa tingkatan, dan biasanya para monster berada di hutan paling dalam. Apa yang membuat mereka datang kemari?
"Kami tidak akan menyakitimu selama kau tidak melawan," lanjutnya.
Dengan senyap, Thalia mengikuti mereka dari belakang. Kedua tangannya diikat dengan tali seperti hewan ternak.
Yang Thalia pahami, dia tidak lagi berada di dunia manusia. Sepertinya kupu-kupu biru tadi telah membawanya ke dunia entah apa. Dan para makhluk di depannya ini.. Thalia rasa mereka adalah Vampire.
Makhluk penghisap darah.
"Kau baru menyadarinya?" Felix berujar dengan nada merendahkan. "Manusia itu memang bodoh. Hal seperti ini saja kau baru paham."
Thalia semakin menunduk mendengar cemoohan itu. Dia hanya bisa pasrah dibawa kemana sekarang.
Tanpa disadari, mereka telah keluar dari hutan dan berada di lapangan yang luas. Angin kencang langsung menyambut Thalia hingga menerbangkan rambut coklat sepunggungnya. Dari depan sana, sekumpulan.. Ubur ubur transparan datang dengan lambat. Meninggalkan glitters sebagai jejaknya.
Thalia melihat para Vampire disekelilingnya tersenyum. Tidak terkecuali.
Gerombolan ubur ubur itu mendekati mereka dan beberapa hinggap di kepala dan tangan para Vampire. Beberapa ubur ubur juga mendekati Thalia, mereka seperti berbicara sebentar kemudian mengangguk dan menempel di rambut Thalia yang beterbangan. Beberapa mencoba menggodanya dengan mengusap usap pipi Thalia dengan kepala mereka.
Para Vampire yang melihat itu langsung membulatkan mata.
"Manusia rendahan itu—" Dreynan menghentikan Felix yang hendak menerjang Thalia. Belum pernah dia melihat para peri seakrab itu dengan suatu makhluk.
Yang Dreynan tau, para peri adalah makhluk suci. Mereka tidak pernah hinggap atau mendekati seseorang yang menurut mereka 'tidak aman'. Ambil contoh saja Felix dan dirinya.
Tapi gadis manusia itu.. Sepertinya dia berbeda.
Thalia sendiri yang merasakan geli di pipinya hanya tersenyum kecil. Para ubur ubur ini imut sekali. Kulitnya juga selembut sutra. Ini adalah hal pertama yang Thalia sukai ketika terdampar kemari.
Baru sebentar merasakan kenyamanan, Thalia kembali dikejutkan dengan kedatangan kupu-kupu raksasa tadi. Anehnya, kupu-kupu itu langsung tunduk dan membuka sayapnya dihadapan Dreynan. Kaget dengan kedatangan kupu kupu itu, Thalia sampai tidak sadar ubur-ubur yang mengelilinginya hilang entah kemana.
Para Vampire yang melihat kupu-kupu itu membuka sayapnya, langsung naik. Tentu Thalia juga mengikuti.
"Apa yang kau lakukan?" Felix yang sudah duduk manis langsung sewot ketika melihat Thalia mengikuti mereka. "Manusia rendahan sepertimu ingin naik bersama kami? Harusnya kau tahu diri."
Felix langsung turun dan melepas tali di tangan Thalia. Kemudian mengikatkannya melingkari perut dan tangan gadis itu hingga Thalia tidak bisa bergerak.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Thalia pelan.
"Menurutmu kau pantas untuk bicara denganku?" jawab Felix dingin.
Setelah selesai, ujung tali lainnya Felix ikatkan pada kaki kupu-kupu itu hingga ia yakin kalau talinya tidak akan lepas.
"Ayo jalan," ujar Dreynan ketika Felix sudah naik kembali. Ketika kupu kupu itu terbang, Thalia hanya bisa berteriak sekuat tenaga mendapati dia digantung dibawah kupu kupu itu.
"Ah~ melodi yang indah," ujar Felix sambil menutup mata menikmati jeritan Thalia di bawah sana.