Cairan berwarna coklat terlihat mendidih. Aromanya yang khas langsung memenuhi ruangan. Melihat itu, Raymond dengan cekatan menuangkan isinya kedalam gelas. Tak lupa, diberi topping beberapa wafer dan marshmallow.
"Minumlah," ujarnya lembut pada gadis di depannya. Thalia terlihat sesegukan dengan mata kosong. Air matanya terus mengalir. Entah kapan itu berhenti padahal kedua matanya sudah benar benar merah.
Raymond yang melihat Thalia seperti itu mengepalkan tangan marah. Biasanya ketika Raymond menyajikan coklat panas kesukaan Thalia, gadis itu akan berteriak kegirangan dan meminumnya seperti unta kehausan. Meskipun setelahnya, dia akan mengeluh lidahnya kebas karena kepanasan.
Berbanding terbalik dengan sekarang.
Tidak mendapat respon apapun, Raymond duduk disamping gadis itu dan membawanya kedalam pelukan. Mengusap usap punggung Thalia dengan satu tangannya.
"Im here, Thalia. Aku tidak akan membiarkan mereka mendekatimu lagi," ujarnya pelan.
Thalia langsung tersentak. Kemudian menangis sejadi jadinya di sana.
Setelah mendengar dengkuran halus, Raymond menggendong Thalia kekamarnya. Beruntung dia membangun rumah dimana ada banyak kamar, jadi dia tidak akan kesusahan ketika ada kondisi seperti ini.
"Tidurlah." Ujar Raymond menaikkan selimut sampai leher Thalia. Tangannya menyeka cairan bening yang ada di pipi Thalia.
"Aku berjanji. Orang yang melakukan ini padamu akan menerima balasannya," desis Raymond sambil menutup pintu.
***
Bulan sabit yang terlihat merajai malam mulai mengabur. Diiringi dengan cahaya yang terus bermunculan dari ufuk timur. Sang mentari mulai menunjukkan eksistensinya di pagi hari. Menyebabkan beberapa cahaya masuk melalui celah gorden tipis dan menyentuh lembut wajah Thalia.
Gadis itu mengerang ringan. Kemudian dengan perlahan, netra hijaunya terlihat terbuka. Menampilkan mata sembab yang kehilangan cahayanya.
Thalia kagum dia bisa tidur tadi malam. Dia kira, malam itu akan menjadi malam yang panjang untuknya.
"Kau sudah bangun?" Raymond terlihat masuk dengan membawa nampan berisi sarapan. Dari baunya, sepertinya itu bubur gandum.
"Makanlah, tubuhmu perlu asupan nutrisi." Raymond menyimpan nampan itu di atas nakas. Kemudian mengambil mangkuk berisi bubur gandum untuk diberikan kepada Thalia.
"Kau bisa makan sendiri atau mau disuapi?" tanya Raymond. Meskipun dia tidak tersenyum, tapi wajahnya menunjukkan keramahan.
Thalia tidak menjawab. Netra hijaunya menatap sendu selimut yang menutupi setengah tubuhnya.
"Thalia, kau harus makan." Raymond coba membujuk. "Kau bisa sa—"
"Rey." Tanpa memerdulikan perkataan temannya itu, Thalia menyela. "Aku benci diriku sendiri." lirihnya.
Bersamaan dengan kata itu, Thalia menekuk lututnya. Menyembunyikan wajahnya yang mulai dipenuhi air mata. "Aku benci," ucapnya lagi dengan nada yang sama. Kedua tangannya mencengkram kasar bahunya sendiri. Mencoba Menghilangkan sesuatu dari sana.
"Thalia." Raymond memanggil.
Tak ada jawaban. Hanya isakan yang terdengar.
"Athalia Cellina!" Raymond membentak. Dan sukses membuat Thalia menatapnya.
"Jangan berkata begitu." Raymond menghembuskan nafas pelan, "Mau jadi apapun dirimu, kau tetaplah kau. Temanku, sahabatku, orang yang kusayangi."
"Hal ini tidak merubah apapun, kau mengerti?" Raymond berujar selembut mungkin sambil mengusap kepala Thalia pelan. Mencoba menenangkan gadis itu.
"Ta-tapi aku—"
"Sudah kubilang tidak merubah apapun kan?"
Thalia merenung. Raymond benar. Thalia hanya perlu.. Tidak memperdulikannya bukan?
"Sekarang makanlah." Raymond mengambil satu sendok bubur itu. Mengarahkannya pada Thalia. Kali ini, Thalia mengangguk dan membuka mulutnya.
***
Keadaan Thalia sudah membaik. Meski dia sempat menangis lagi ketika melihat mengetahui ada kemerahan di lehernya, Thalia rasa hal ini bisa di laluinya.
"Pagi." Seseorang menyapa dari arah ruang tamu. Terlihat seorang wanita dengan anak kecil didepannya.
"Kak Thalia!" Anak kecil itu berteriak lalu berlari dengan riang kearah Thalia. Rambut hitamnya yang diikat dua bergoyang dengan lucu.
"Thea, apa kabar?" Tanya Thalia pelan.
Melihat tidak ada senyuman yang biasanya ada pada kakak didepannya, Thea memiringkan kepalanya, mencoba mencari jawaban.
"Paman Rey buat Kakak nangis?" tanya Thea polos. Kedua tangan kecilnya meraba mata Thalia yang terlihat bengkak.
Tidak mendapat jawaban, Thea langsung menghentakkan kaki dan berlari kearah pamannya. Kemudian tanpa aba aba menggigit tangan pamannya keras.
"Paman Rey jahat! Buat kak Thalia nangis!" Thea menjulurkan lidahnya kemudian melipat kedua tangannya di d**a. Memasang pose marah yang terlihat menggemaskan.
"Sejak kapan gigimu itu tumbuh?" Raymond menatap tangannya yang terdapat bekas gigitan yang memerah. Ternyata sakit juga.
Harmony melihat interaksi antara paman dan keponakan itu dengan senyuman. Kemudian beralih menatap Thalia yang balik menatapnya sendu.
"Halo, kakak." sapanya pelan.
Harmony yang tidak tahan melihat itu langsung menghampiri Thalia dan memeluknya. "Semua 'kan baik baik saja." bisiknya.
Raymond memang sudah menceritakan semuanya. Dan Harmony rasa, kedatangannya dengan Thea bisa membuat Thalia lebih baik.
"Kau gadis yang kuat. Kakak tahu itu." Harmony memegang kedua bahu Thalia. Seakan memberikan kekuatannya padanya.
Thalia tersenyum simpul. "Ya," jawabnya. Setelahnya, terdengar suara tangisan Thea dari arah dapur. Dia berlari sambil menunjuk kearah Raymond yang memasang wajah tak berdosa.
"Paman Raymond jahat! Marahin Thea." adunya. Harmony yang melihat itu langsung mengangkat Thea dan menggendongnya.
"Raymond." Harmony berucap penuh kemisteriusan. Dia tersenyum dengan sejuta makna.
"Aku bersih." Raymond mengangkat kedua tangannya. Menyatakan dia tidak bersalah. Tadi dia hanya memperingati Thea untuk tidak menganggunya di dapur. Dan itu disebut memarahi?
Thalia yang melihat itu tersenyum. Jujur saja, hal ini membuatnya lebih baik.
"Kakak kakak!" Thea terlihat sudah kembali ceria dan kembali memeluk kaki Thalia.
"Kakak lagi jadi singa kan? Thea juga mau ikutan!"
Thalia yang tidak mengerti langsung menatap Harmony dengan penuh tanya. Harmony yang mengerti hanya terkekeh pelan kemudian mengeluarkan cermin kecilnya.
"Lihatlah sendiri."
Mata Thalia membelalak. Rambutnya berantakan bukan main. Benar kata Thea, mirip singa. Pakaiannya berantakan dan kedua matanya.. Thalia rasa yang dia lihat di bayangan cermin adalah hantu.
"Aku.. Segera kembali," ujar Thalia cepat kemudian pergi menaiki tangga kearah kamar. Disana, Thalia langsung masuk kamar mandi dan membersihkan diri. Karena Thalia sering kemari, pasti ada beberapa bajunya disini.
Thea keluar beberapa saat kemudian dengan memakai pakaian olahraga. Meski mata sembabnya belum hilang, tapi setidaknya dia tidak terlihat seperti hantu lagi.
Dan Thalia rasa.. Dia harus bertanya pada kak Harmony bagaimana cara menghilangkan tanda menjijikkan di lehernya.
Bosan memandangi lehernya yang malah semakin membuatnya kesal, mata Thalia beralih pada tasnya yang ada di atas kursi. Hanya itu yang Thalia bawa karena tidak dilepas kemarin.
Dengan perlahan, Thalia mengambil tas itu dan memeriksa isinya. Niat Thalia adalah mengambil ponsel tapi yang dia temukan adalah.. Historia.
Ah iya.
Thalia membawa buku ini kemarin. Ternyata terbawa sampai kemari.
Dengan hati-hati, Thalia kembali membuka buku itu. Tapi hasilnya tetap sama. Kosong.
Apa harus menggunakan cara tententu untuk membacanya? Atau menggunakan alat? Thalia tidak mengerti.
Heh?
Dihalaman tengah, ada sebuah tulisan yang dikelilingi oleh simbol simbol rumit hingga membentu persegi. Tulisan itu sepertinya berbahasa Jerman?
Apa Eric sengaja menulisnya?
"Alle Fakten werden enthüllt, genau wie Fäden und Nadeln ein Tuch vereinen, so wie das Schicksal Unterschiede."
Begitulah tulisannya. Thalia memang agak bisa bahasa Jerman, tapi apa pengucapannya tadi benar?
Entah kenapa dan bagaimana bisa, buku di pangkuan Thalia tiba tiba melayang. Seperti ada angin yang menerbangkannya, lembaran lembaran buku itu terbuka dengan cepat. Kemudian mengecil dan berubah menjadi sebuah kupu kupu berwarna biru yang sangat indah.
Thalia tidak pernah melihat kupu kupu sesempurna itu.
Tangannya secara refleks terangkat. Dan secara ajaib, kupu kupu itu bertengger manis dijarinya. Mengepak-ngepakkan sayapnya dan membuat Thalia kembali terpesona. Tak berlangsung lama, kupu-kupu itu terbang menjauhinya. Mengepakkan sayap indahnya menuju pepohonan disana.
Tunggu. Pepohonan?
Thalia membelalak. Sebentar, Sejak kapan dia ada di hutan?!