Puk!
Buku itu jatuh sesaat sebelum masuk kedalam tas. Memperlihatkan beberapa halaman yang terbuka.
Sejenak, netra hijau Thalia melebar.
Tidak mungkin. Halamannya.. Kosong?
Dengan masih tidak percaya, Thalia mengambil buku itu dan membuka beberapa halaman selanjutnya. Dan hasilnya sama. Tidak ada tulisan atau gambar apapun. Hanya ada kertas putih yang seakan siap untuk diisi.
"Eric pasti mengerjaiku kan?" gumam Thalia pelan. Sekali lagi, ia menarik nafas. Sepertinya nanti Thalia harus mengganti password unitnya atau Eric akan terus mengerjainya seperti ini.
Menyebalkan!
***
Setelah sukses membersihkan tempatnya kemarin, hari ini Thalia berencana memberi hadiah untuk dirinya sendiri. Dan hadiahnya adalah..
Macaron!
Netra hijau Thalia memperhatikan bulatan warna warni yang berisi aneka krim manis didalamnya itu penuh kagum. Hari ini Thalia tidak akan memusingkan berat badannya yang akan naik, pokoknya semua Macaron ini harus masuk ke perut Thalia. Titik.
Baru hendak memasukkan salah satu bulatan itu kedalam mulutnya, gerakan Thalia terhenti ketika terdengar suara berat yang mengintrupsinya.
"Gula lagi?"
Thalia mendongak. Menatap wajah seseorang yang menghentikan kegiatannya. "Minggu ini aku belum memakannya." Thalia merengut pelan. Raymond mendengus dan ikut duduk di depan Thalia. Di tangannya terdapat kopi hitam yang masih mengepulkan asap pertanda baru dibuat.
Thalia yang tidak memperdulikan langsung memasukkan Macaron kedalam mulutnya. Membuat Raymond yang melihat itu mengernyitkan dahi. Kedua pipi Thalia yang memang chubby semakin membesar dengan Macaron itu dimulutnya. Ekpresinya berada diantara imut dan bar bar.
Malah lebih mirip tupai.
"Kau itu perempuan 'kan?" Raymond berujar datar. "Setidaknya makanlah dengan feminim seperti perempuan pada umumnya." ucapan Raymond tidak membuat Thalia menghentikan aktivitasnya. Mereka telah saling mengenal selama lima belas tahun lamanya, bahkan sering mandi bersama ketika mereka kecil dulu. Makan seperti ini bukan masalah 'kan?
"Elik mwana? (Eric mana?)." Tanya Thalia dengan mulut penuh. Matanya menatap sekeliling mencari keberadaan pria asia itu.
"Latihan dengan band nya. Kau tahu kalau mereka akan tampil sebentar lagi," ujar Raymond dengan sesekali menyesap kopi hitamnya. Thalia mengangguk kemudian merengut pelan. Hari ini Thalia ingin menanyakan perihal Historia. Thalia masih yakin kalau Eric yang meletakkan buku itu.
"Ada apa?" Raymond mengangkat dagu Thalia dengan jarinya. Menatap wajah yang terlihat sedang berpikir keras. "Bukan apa apa," ujar Thalia cepat kemudian memasukkan Macaron berwarna merah kedalam mulutnya. Menghentikan bibirnya untuk bercerita perihal Historia.
Tentu dengan jelas Thalia ingat kemarahan Raymond tempo hari.
"Kutebak. Masih Historia?"
Thalia yang mendengar tebakan Raymond hanya menggigit bibir bawahnya. Mempersiapkan diri jika di ceramahi lagi. "Jangan marah." Cicitnya pelan. "Kali ini ada apa lagi dengan buku itu?" Raymond bertanya dengan nada rendah. Sebisa mungkin dia tidak mendesis atau mengeluarkan kosakata kasarnya.
"Aku menemuka--"
Drrtt.. Drrtt..
Suara ponsel yang berbunyi menghentikan ucapan Thalia. Ponsel bertema dark blue milik Raymond itu menampilkan sebuah nama yang langsung membuat Thalia kaku seketika.
Stephanie.
"Kenapa lagi dengan sialan itu?" Raymond mendesis tajam. Matanya menatap nyalang pada ponselnya yang terus menampilkan nama itu.
Ting.
Tepat ketika ponsel itu berhenti bergetar, sebuah pesan dari orang yang sama masuk.
Katakan pada adikku aku ada ditempatnya.
Melihat pesan itu, Thalia hanya bisa menggigit bibir bawahnya takut. Matanya menatap sendu pada bulatan warna warni yang tak lagi menggugah seleranya.
"Malam ini kau tinggal di tempatku saja," ujar Raymond kemudian. Thalia yang mendengarnya menggeleng. "Kalau dia tahu aku ada ditempatmu, malah akan lebih buruk," ujarnya pelan.
Kakaknya itu akan mengatainya yang bukan bukan jika mengetahui kalau Thalia ada di tempat laki laki. Termasuk Raymond.
"Kalau aku kabur juga," Thalia menarik nafas, "Akan jadi masalah."
Raymond yang tidak memiliki ide apa apa di kepalanya hanya menyesap kopinya pelan. Ekspresinya masih datar. Berbanding terbalik dengan perasaannya yang terus meneriakkan kata khawatir. Stephanie wanita satu itu tidak bisa disebut manusia. Dan meninggalkan Thalia satu ruangan dengan iblis itu hanya akan meninggalkan trauma. Thalia terlalu lemah hanya untuk sekedar melawan.
"Kau bawa yang kusuruh kan?"
Thalia mendongak. Menatap mata sapphire itu pelan. "Hu-um." gumamnya.
"Kalau terjadi sesuatu, jangan sungkan memakainya." Raymond menutup mata. Setidaknya hanya ini yang bisa dia lakukan.
Raymond hanya bisa berharap kalau besok Thalia baik baik saja.
***
Hari sudah sore. Siapa sangka kegiatan kuliahnya hari ini selesai lebih cepat dari biasanya. Seharusnya Thalia bahagia bisa leyeh leyeh lebih cepat. Tapi kali ini, dia tidak bahagia sama sekali.
Satu menit berlalu, Thalia masih ada di depan pintu apartemennya. Entah sudah berapa kali dia menghembuskan nafas gusar.
Memantapkan hati, di menit kedua Thalia memasukkan password dan membuka pintunya perlahan. menimbulkan suara berdecit yang khas.
"Aku pula—"
"Selamat datang." di sana, di sofa yang biasanya ditempati Thalia, seorang wanita berpakaian formal duduk dengan anggun. Ditangannya terdapat sebuah teh yang masih mengepul panas. "Aku pulang, kakak," cicit Thalia pelan. Kedua netra hijaunya menatap kelantai. Mereka tidak berani menatap seseorang di depannya.
"Dimana sopan santunmu adikku?" Stephanie berujar pelan sambil menaruh tehnya di atas meja. "Bukankah kau harus menatap mata seseorang ketika bicara?" tambahnya.
Thalia tersentak kemudian mulai menatap netra yang sama persis didepannya pelan.
"Jadilah adik yang baik dan duduk disebelahku." Stephanie menepuk tempat di sebelahnya. "Ada yang ingin kubicarakan denganmu."
Seperti sebuah mesin, Thalia langsung menurut. Dia duduk disebelah Stephanie kaku.
"Kau tahu bukan hari ini hari apa?" Stephanie bertanya pelan sambil menyiapkan sebuah teh untuk Thalia. "Ha-hari ulang tahunmu," ujar Thalia pelan.
"Pintar. Dan sebagai adikku yang manis, bukankah kau harus memberiku hadiah?" Stephanie tersenyum. "Tapi sepertinya kau tidak menyiapkan apapun ya?"
Thalia menggeleng. Dia memang tidak menyiapkan apapun, tapi beberapa barang di tasnya bisa dijadikan hadiah. Pikirnya.
"Hm? Tapi aku ingin me-request hadiahku sendiri." Stephanie mengusap pipi Thalia pelan. "Aku ingin kau yang menjadi hadiahnya adikku."
Netra hijau Thalia sontak melebar. Degup jantungnya semakin menggila ketika mendengar kalimat selanjutnya.
"Silahkan terima hadiah kalian."
Dua orang laki laki keluar dari kamar Thalia dengan cepat. Tersadar dengan alarm peringatan dikepalanya, Thalia segera mengeluarkan stungun yang ada di tasnya.
"Ja-jangan mendekat!" teriaknya panik ketika alat itu sudah menyala.
"Wuah, adikmu bermain dengan alat berbahaya Steph," ujar salah seorang laki laki itu. Tangannya merangkul pundak Stephanie mesra.
"Dia memang penuh kejutan bukan?" Stephanie tertawa.
Laki laki itu memberi kode lewat tangannya agar laki laki lain diruangan itu mendekati Thalia. Sontak, orang itu langsung protes.
"Dia memegang stungun."
"Lalu? Aku berani bertaruh gadis kecil itu tidak akan berani memakainya." Laki laki itu terkekeh pelan.
Ketika laki laki itu mendekatinya, refleks Thalia mengayunkan stungun ditangannya sehingga mengenai salah satu dari mereka. Teriakan terdengar hingga laki laki itu tak sadarkan diri.
"Wow." Laki laki disamping Stephanie menaikkan alis. "Ini lebih dari dugaanku."
"Kau tidak keberatan jika aku yang menangani hal ini kan, Steph?" Laki-laki itu mendekat. Berjalan pelan kearah Thalia.
Dengan susah payah, Thalia mengayunkan stungun nya sekali lagi. Berharap akan mengenai laki-laki didepannya.
Seperti terlatih, laki laki itu mengambil stungun di tangan Thalia dan melemparnya jauh jauh. Kemudian tanpa Thalia sadari, kedua tangannya sudah dikunci dibelakang tubuhnya.
"Kau berani juga gadis kecil." Laki laki itu berbisik tepat ditelinga Thalia. Mengantarkan ribuan listrik setelahnya.
"Tolong lepaskan," cicit Thalia pelan. Cairan bening yang telah turun dari tadi semakin deras ketika laki laki itu mendaratkan mulutnya di leher Thalia.
Merasakan laki laki itu di lehernya, Thalia memberontak. Kakinya sebisa mungkin menendang sesuatu diantara paha lelaki itu.
"Eits. Jangan nakal princess." Laki laki itu mengunci pergerakan kaki Thalia. Kemudian melanjutkan kegiatannya.
"Kenapa kau memberontak Thalia?" Stephanie berkata dari sebrang sana. Dia terlihat duduk dengan anggun sambil menyesap tehnya.
"Bukankah Ibumu juga seperti ini? Seorang p*****r rendahan."
Thalia kembali memberontak. Dia menggigit dan menarik kasar rambut laki-laki itu sampai kuncian di kakinya lepas. Tak melewatkan kesempatan, Thalia menendang titik sensitifnya hingga laki laki itu mengerang kesakitan.
Setelahnya, Thalia berusaha membuka pintu apartemennya dan langsung pergi. Meninggalkan Stephanie disana dengan senyum miring.
Di luar, Thalia terlihat terus berlari diantara jalanan kota. Air mata terus bercucuran. Sesekali dia berhenti untuk sekedar menarik nafas dan kembali berlari.
Tujuan Thalia adalah tempat Raymond. Dia butuh seseorang sekarang. Sangat.