Pintu berwarna coklat dengan ukiran rumit itu terbuka perlahan, membuat ruangan yang sudah lama tidak mendapat cahaya itu menjadi agak terang. Aroma buku buku tua menjadi hal pertama yang dapat dicium di dalam sana. Seorang gadis terlihat memasuki ruangan itu dengan mengendap endap. Kaki pendeknya berusaha sebisa mungkin untuk tidak menimbulkan suara.
"Saatnya beraksi," ujarnya pelan ketika pintu coklat itu tertutup sempurna. Segera setelahnya, gadis itu menyalakan cahaya dari ponsel yang setia bertengger di sakunya. Membuat beberapa rak buku didepannya terlihat jelas. Athalia Cellina, gadis yang diam-diam melanggar aturan dengan memasuki tempat terlarang di kampusnya itu dengan semangat mencari sebuah buku yang menarik perhatiannya.
Ketika di kelas tadi, ada sebuah kelompok yang membahas buku itu dalam presentasinya. Dikatakan bahwa buku itu adalah satu satunya bukti keberadaan kaum lain selain manusia. Tentu saja itu membuat Thalia penasaran. Dan lagi, jika ingin mencari buku keramat seperti itu bukannya perpustakaan tak terjamah di sudut kampus ini adalah kandidat terbaik?
Salahkan kelompok itu yang membuatnya penasaran sampai dianggap melanggar peraturan kampus.
"Historia, Historia.." tangan mungil Thalia terus mengabsen buku satu persatu, mulutnya tak berhenti menggumamkan judul buku itu. Sayangnya, tidak ada keterangan lebih lanjut tentang buku yang di carinya. Kelompok yang menerangkan hanya mengatakan kalau buku itu mungkin saja ada di kampus ini ataupun di kampus lainnya. Entah alasannya apa.
Lebih dari dua puluh menit mencari, Thalia mulai menyerah dan duduk disalah satu kursi disana. Tak peduli dengan rok coklat selututnya yang akan kotor karena debu, yang Thalia pedulikan sekarang hanya buku itu. Menutup matanya, Thalia mulai mengingat kembali presentasi kelompok itu. Buku itu memang hanya dijelaskan sekilas tapi sepertinya ada yang dia lewatkan.
Tutup matamu dan dengarlah..
Thalia membuka matanya refleks. Irisnya yang berwarna hijau tosca melihat keseluruhan ruangan sempit ini. Dia berani bersumpah kalau barusan mendengar sesuatu. Thalia menepis segala pemikiran tentang hal yang tidak tidak dipikirannya. Jam di ponsel nya menunjukkan pukul 5 sore, dan di ruangan gelap ini hanya ada dia seorang diri. Ditambah ruangan ini sudah lama tidak dikunjungi manusia.
Tidak menutup kemungkinan kalau ada makhluk lain disini bukan? "Tidak apa apa Thalia, tidak ada apa apa," ujarnya meyakinkan diri sendiri. Thalia kembali menutup matanya dan berhitung sampai sepuluh. Setidaknya hal itu bisa membuatnya tenang.
Lihatlah sekitarmu dan percayalah..
Kali ini, Thalia refleks berdiri sampai menjatuhkan ponselnya. Suara itu terdengar lagi, apa karena dia diam-diam masuk ke ruangan ini tanpa permisi hingga membuat penghuni nya marah?
Tidak! Tidak! Coba berpikir dengan tenang Thalia! Serunya dalam hati.
Kembali, Thalia duduk di kursi itu. Setelah menarik nafas beberapa kali, Thalia menutup matanya. Kali ini dia akan mencoba untuk mendengarkan suara-suara itu mengingat suara itu hanya muncul ketika dia menutup mata.
Sesuatu yang kau cari..
Suara itu terdengar lagi. Thalia mengenggam kedua tangannya dan semakin menajamkan telinga.
"Ada di depanmu."
Deg!
Thalia membuka matanya dan terkejut hingga kursi kayu yang didudukinya hampir jatuh. Dengan sigap orang di depannya menahan kursi kayu itu dengan tangannya.
"Rey.. " cicit Thalia tepat dihadapan wajah orang itu. Seperti biasa, hal yang dia lihat hanyalah wajah tampan tanpa ekspresi.
"Sedang apa kau disini?" Raymond Sea Caiden, temannya dari kecil bertanya setelah membantu Thalia berdiri. Mata birunya melihat ke seluruh ruangan kemudian mengernyit. "Aku kagum kau bisa berada disini sendirian," ujarnya datar. Entah kenapa tapi Thalia bisa menangkap sedikit kalimat sarkas disana.
"Kau tahu 'kan kemari artinya melanggar peraturan?" Raymond kembali berucap datar. Thalia yang mendengarnya hanya menunduk—siap di marahi.
"Apa karena Historia? Sesuatu yang kujelaskan tadi?"
Thalia mengangguk pelan kemudian dengan perlahan wajahnya mendongak, menatap netra safir itu dengan takut. "Maaf," ujarnya pelan.
"Anu.. Apa kalian masih lama?" Terdengar suara di balik pintu. Terlihat seorang pria disana. "Penjaga sebentar lagi kemari." Raymond yang mendengar itu langsung mengambil ponsel Thalia yang terjatuh kemudian menarik gadis itu keluar dan menutup pintu coklat itu setelahnya.
"Rey benar-benar marah ya?" Thalia berujar pelan, netra hijaunya menatap Raymond yang dua langkah didepannya takut. Belum pernah Raymond berkata sedingin tadi padanya.
Menghela nafas, laki laki disampingnya mengusap puncak kepala Thalia pelan. "Ini memang salahmu tapi jangan terlalu dipikirkan."
"Lagipula, kenapa kau benar benar penasaran dengan Historia?" Eric terlihat memainkan jepitan rambut yang dipakai Thalia. Kebiasaannya.
"Aku juga tidak tahu." netra hijau Thalia beralih menatap langit langit ruangan. Terlihat memikirkan sesuatu disana.
"Rasanya.. Aku sangat ingin menemukannya."
"Historia hanya berisi mitos mitos tentang makhluk aneh kau tahu."
"Bukan, bukan bukunya." Thalia beralih menatap mata Eric serius. Meneliti netra coklat itu perlahan.
"Aku ingin menemukan keberadaan kaum Immortals."
***
Setelah diceramahi panjang kali lebar oleh salah satu dosen di kampusnya, Thalia langsung masuk ke apartemennya dengan lelah. Sejak masuk kuliah, Thalia memang memilih untuk tinggal sendiri. Tentu alasannya agar dia menjadi lebih mandiri. Begini begini, Thalia sadar jika dirinya masih menjadi anak manja yang selalu ada dalam bayangan orang tua.
Di usianya yang menginjak dua puluh tahun, Thalia rasa dia harus berusaha untuk menjadi dewasa.
Tapi.. Sepertinya hidup sendiri itu agak sulit ya?
Thalia menghembuskan nafas sebentar sebelum kembali melihat seisi apartemennya. Kenapa berantakan sekali?
Piring dan baju kotor terlihat berserakan di mana-mana, bekas cemilan dan juga soda kesukaannya tergeletak tak berdaya di sofa, buku-buku yang tak terhitung jumlahnya pun tersebar sampai ke sudut apartemennya. Dan Thalia yakin jika kamarnya tidak jauh lebih baik daripada disini.
Apa kata Ibunya nanti jika anak gadis satu-satunya seperti ini?
Mau tidak mau, rencana Thalia yang setelah ini akan langsung rebahan sepertinya harus ditunda untuk sementara waktu. Apartemennya sepertinya lebih membutuhkan dirinya sekarang. Dengan langkah gontai, Thalia mengganti bajunya menjadi baju rumahan dengan kaos oversize dan celana pendek. Tak lupa, dia mengikat rambut panjangnya menjadi pony tail dan segera membereskan seisi ruangannya.
Waktu yang melelahkan dimulai!
Pertama, Thalia membereskan baju baju kotor juga piring dan gelas ke tempatnya. Mengenai cuci mencuci, Thalia rasa hal itu bisa dilakukan nanti. Fokusnya saat ini adalah kebersihan ruangan.
Kedua, buku buku yang berserakan Thalia masukkan ke rak berdasarkan alphabet dan genre. Ketika sibuk dengan buku-buku yang berada di sudut, Thalia mengernyit mendapati sebuah buku berwarna hitam dan emas. Buku itu terlihat tebal dan agak berdebu.
Thalia tidak ingat jika dia pernah meminjam atau membeli buku seperti itu sebelumnya. Thalia mengambil buku itu dan langsung terkejut ketika melihat judulnya.
Historia.
Judul buku itu terpampang jelas. Tulisan 'Historia' ditulis dengan jenis font yang rumit tapi elegan. Ditambah warna emas diatas hitam benar benar membuatnya terkesan mewah. Thalia membolak balikkan buku itu. Dia masih tidak percaya buku yang dia cari sampai dimarahi dosen dan Raymond ada di genggamannya.
Ini bukan buku imitasi yang sengaja seseorang simpan disini kan?
Pasti iya.
Thalia memang belum sepenuhnya percaya jika ini Historia asli. Bisa saja Eric menyimpannya disini agar Thalia tidak penasaran lagi bukan?
Menghela nafas, Thalia menyimpan buku itu ke tas kuliahnya. Besok akan dia tanyakan pada Eric tentang buku in—
Puk!
Buku itu jatuh sesaat sebelum masuk kedalam tas. Memperlihatkan beberapa halaman yang terbuka.
Sejenak, Netra hijau Thalia melebar.
Tidak mungkin.