Prolog
Seorang gadis dengan kulit sawo matang sedang berjalan menyusuri jalanan ditengah terik matahari, wajahnya lesu sepertinya beban berat sedang menimpa bahunya.
‘Bagaimana caranya aku mendapat uang? Apa yang harus aku lakukan? Ya Tuhan haruskah aku ketempat seperti itu?’
Sepertinya memang sudah putus asa, tatapan matanya kosong dan sepertinya harapan dihadapanya sudah pudar.
‘Aku harus mempertahankan sekolah ku bagaimanapun caranya, aku harus bisa’
Tekatnya sudah bulat, apapun yang terjadi dia harus bisa mempertahankan apa yang sudah ada di depan mata, meskipun harus melakukan sesuatu di luar dugaan, entahlah persetan dengan yang lainnya, pokoknya ia harus mendapatkan uang.
Langkah kakinya yang lesu kini mengayun dengan cepat untuk segera sampai dirumah dan istirahat, karena setelah ini ia tak akan bisa beristirahat dengan tenang, setelah ini semuanya akan berbeda dan berubah, dia bukan dirinya yang dulu lagi.
Malam ini ia akan menjadi dirinya yang lemah untuk terakhir kalinya, malam ini adalah malam terakhir dari penderitaan kehidupannya, ia berpikir mungkin dengan mengorbankan dirinya, ia bisa meraih masa depan yang lebih baik, ia yakin bahwa dirinya setelah badai ini akan ada pelangi dan matahari menyambutnya, tidak apa sekarang ia merasakan sakit, tapi setelah ini ia berjanji akan menjadi dirinya yang lebih baik.
-Lost