Dimas Agastya
"Halo." Sapaku saat berjalan keluar sambil sesekali menengok ke balakang memastikan bagaimana reaksi Anin dengan telepon Kiara ini. Namun aku hanya melihat Anin yang sepertinya kembali menikmati obrolannya dengan Mike.
"Mas Aga."
"Hi, Kiara."
"Setelah kamu mengantarku waktu itu nggak ada kabar lagi dari kamu. Apakah kita benar-benar ummm...aku udah nggak bisa berharap sama kamu lagi?"
"Kiara, apa yang aku katakan siang itu sudah jelas bukan?" Aku mengambil jeda sebentar. "Aku akui aku memang b******k karena dengan mudah begitu saja memutuskan hubungan ini." Meski dalam hati kalau boleh aku membela diri aku sama sekali belum bicara cinta pada Kiara hingga sampai pada titik menyebut sesuatu di antara kami ada sebuah hubungan. Tapi aku memang salah, aku memberinya harapan, aku bahkan mengajaknya ke rumah untuk kukenalkan pada keluarga Mas Rama dan juga Mama. Aku seharusnya tidak perlu lagi membela diri. Aku memang salah.
"Mama kamu." Kiara menghela napas. "Mama kamu terus meneleponku. Ia menangis dan minta maaf. Aku nggak tega, Mas."
Aku menghembuskan napas penyesalan. Aku tidak menyangka sebesar itu pengaruh kehadiran Kiara pada Mama. Aku tidak bisa bilang Mama terlalu berlebihan dalam hal ini karena Mama memang berharap aku sudah menikah dua tahun lalu lalu saat aku masih bersama Vidia. Tapi bukan berarti Mama berpikir bahwa Kiara adalah perempuan terakhir di dunia ini yang bisa aku nikahi.
"Aku akan bicara lagi pada Mama agar tidak mengganggu kamu. Maafkan aku Kiara."
"Aku nggak merasa terganggu, Mas. Kamu salah paham. Aku justru nggak tega sama Mama kamu."
"Mamaku harus menerima keputusan kita."
"Kita? Kamu yang membuat keputusan itu, Mas."
"Apa maksud kamu?" aku mulai tidak suka dengan keras kepala Kiara.
"Kamu yang memintaku untuk nggak meneruskan hubungan kita. Tapi aku kan enggak."
"Kiara..."
"Aku nggak akan mengecewakan Mama kamu. Aku nggak bisa menolak permintaannya"
"Apa yang Mama minta dari kamu?"
"Kamu perlu menanyakan itu?" Kiara tertawa menyindir. "Kamu pernah menyukaiku Mas. Aku yakin persaanmu padaku masih ada yang tertinggal."
"Kiara apa yang Mama minta dari kamu?" aku memotong kalimatnya dan mengabaikan dia yang berusaha menganalisa isi hatiku.
"Tante memintaku untuk nggak meninggalkan kamu."
"Jangan kabulkan permintaan Mama. Itu merugikan kamu, Kiara. Aku nggak sebanding dengan pengorbanan kamu. Aku bukan laki-laki baik untuk kamu."
"Aku nggak bisa menolak, Mas. Nggak semudah itu. Mas harus bantu aku!" kata-katanya begitu menuntut.
"Bantu bagaimana maksudnya?"
"Aku nggak apa-apa kita berpura-pura pacaran di depan Mama kamu."
Aku tertawa sumbang dengan ide gila Kiara.
"Aku nggak mau Kiara. Itu bukan ide bagus."
"Mas, aku..."
"Cukup Kiara aku nggak mau membahas ini lagi. Jangan turuti permintaan Mama. Dan nggak ada pacaran pura-pura. Selamat sore." Aku memutuskan sambungan telepon. Lalu terdiam sesaat mencoba menata lagi isi otakku yang tadi cukup berantakan dengan segala omongan tak masuk akal Kiara. Apa hebatnya aku sampai Kiara begitu berkeras untuk bersama-sama denganku? Aku tidak mengerti. Pacaran pura-pura? Ya Tuhan!
"Aga!" tepukan Anin di bahuku cukup mengejutkanku. Ia bersedekap berjalan ke hadapanku.
"Aku bisa jelasin."
"Aku tahu. Ayo, kita pesan makan. Mike katanya harus kembali ke hotel." Katanya tanpa ekspresi. Aku menganggguk dan mengikuti langkah Anin kembali ke dalam kafe. Aku kembali lebih banyak diam, situasi ini terlihat seakan Mike dan Anin yang bersahabat sedangkan aku adalah orang baru di sini. Mereka berdua kembali mengobrol tentang hal-hal remeh seperti menu makanan dan warung dan kafe enak di Bali yang harus Mike datangi tanpa sedikitpun menyinggung kembali hal yang menyangkut Mama dan Kiara.
Saat Anin ke toilet, Mike langsung menembakku dengan pertanyaan yang sejak tadi tersimpan di otaknya.
"Jelasin tentang Kiara!"
"Nggak ada yang harus gue jelasin ke elo." Tukasku dan membuat ia menggeleng dan tertawa.
"Gila lo, Ga. Dua cewek dalam satu waktu? Dan Anin? Damn dude!" Mike berdesis mengekspresikan ketakjubannya yang mungkin sudah ia simpan sejak awal pertemuan kami tadi, namun tidak sempat ia ungkapkan. Aku tahu Anin pasti akan membuat mata keranjang Mike bercahaya persis mata kucing di kegelapan.
"Dan Kiara? Apa dia perempuan pilihan nyokap lo?"
"Sebenarnya gue yang sudah melibatkan Kiara dalam masalah ini?"
"Masalah apa?"
Aku mengehembuskan napas sebagai bentuk kesal pada situasi sulit yang sudah terlanjur tercipta saat ini.
"Awalnya gue suka Kiara. Sebelum ke Bali dua kali gue ajak dia makan dan seperti yang lo tahu gue suka dia karena gue melihat dia adalah perempuan yang bakal disukai nyokap. Gue terlanjur ngomong ke nyokap tentang Kiara. Gue bawa dia ke rumah waktu Mas Rama datang dari Jepang. Mama terlanjur jatuh cinta sama dia sedangkan gue..."
"Lo tergoda sama Anin." Simpul Mike sambil tersenyum.
"Kita ngomong lagi nanti aja." Kataku saat melihat Anin sedang berjalan menuju meja mereka.
"Oke."
***
Anindira Maheswari
Kehadiran Mike cukup membuat wawasanku tentang Aga sedikit bertambah. Aku tahu kami baru satu hari berpacaran masih banyak hal yang bisa kami pelajari satu sama lain seiring waktu berjalan. Namun satu hal yang kuketahui dari mulut Mike adalah hal yang cukup penting. Agastya memliki ibu yang punya kriteria khusus dalam hal memilih menantu. Dan Kiara? Malaikat itu? Tentu saja adalah pilihan ibunya.
"Ceritakan tentang Kiara." Kataku saat Aga baru saja menghidupkan mesin mobilnya. Ia tidak langsung merespon kata-kataku. Ia baru bicara saat mobil sudah masuk ke jalan besar.
"Aku mengenalnya karena kami bekerja di gedung yang sama. Dia keponakan manager keuangan di kantorku. Kami bertemu saat sedang makan siang dan aku dikenalkan padanya. Jujur saat itu aku tertarik padanya, Nin. Kami dua kali jalan bareng sebelum aku ke Bali."
"Dan kamu sudah mengenalkannya pada ibumu?"
"Ya." Jawabnya pelan.
"Ok." Aku berkata pendek diiring tarikan napas berat. Rasa cemburu pertamaku muncul saat ini.
"Itu kesalahanku, Nin. Seharusnya aku nggak mengajaknya ke rumah dan kukenalkan pada Mama sebelum hubungan kami benar-benar pasti. Mama terlanjur jatuh cinta padanya di saat hatiku justru berubah. Aku jatuh cinta sama kamu."
"Haruskah aku bangga?" aku memutar leher memandangnya.
"Kamu jangan ikut memojokanku Nin, please." Dia memohon padaku dan aku hanya bisa mendesah kesal. "Aku sudah pernah bilang ke kamu kalau aku akan menyelesaikan semuanya dengan Kiara. Sebelum aku ke rumahmu sore itu aku baru saja mengantarkan dia pulang setelah kami bicara. Seharusnya semua sudah selesai dan..."
"Seharusnya?" Potongku cepat. "Memangnya sekarang belum selesai?" nadaku sedikit naik. Aga terdiam dan menyadari bahwa dia sudah salah merangkai kata. Ia pasti mencoba menyembunyikannya dari aku, dan berusaha menyelesaikannya tanpa perlu aku tahu. Aku menduga seperti itu dan sebenarnya aku bisa paham hanya saja hati dan pikiran selalu tidak singkron. Kecemburuan lebih menguasaiku. Pasti tentang telepon tadi.
"Aku hanya nggak ingin menyakitinya lebih jauh, Nin. Namun sepertinya dia nggak mau menerima keputusanku." Aga mencoba menjelaskan dengan hati-hati namun aku sudah terlanjur kesal. Aku mengeluarkan ponsel dan mulai menyibukkan diriku dengan benda kecil itu sebagai ekspresi aku sudah malas mendengarkan penjelasan dan cerita Aga tentang malaikat itu. Dan juga tidak mau menduga-duga ada konspirasi apa antara perempuan itu dengan ibu Agastya.
Melihat sikap dinginku, Aga pun ikut diam tidak berani mengusikku. Jemariku mengetuk-ngetuk layar ponsel masih terbawa dengan perasaan kesal. Aku membuka akun i********: Anindira_Decor dan mulai memberikan love pada setiap postingan yang kulihat di timeline-ku. Aku bahkan punya beberapa follower baru, jempolku refleks mencari tahu siapa pengikut-pengikut baruku. Follower baru bisa jadi calon klien. Dan jemariku berhenti bergerak saat melihat salah satu pengikut baruku bernama akun Me_Kiara08. Aku tersenyum tidak percaya. Kalau dia mengikuti akun ini dengan harapan melihat aku seperti apa tentu saja dia tidak akan berhasil. Akun ini hanya berisi tentang hasil pekerjaanku tidak ada satupun tentang diriku pribadi. Aku sebenarnya punya akun i********: pribadi tetapi sangat jarang kubuka dan hampir tidak pernah aku update.
Oke aku ingin melihat seperti apa si malaikat Kiara ini. Aku membuka akunnya dan jantungku berdegup pelan. Aku melirik Aga di sebelahku dan kembali melihat foto-foto terbaru yang perempuan itu posting di sana. Foto-foto dia bersama Aga dan tentu saja Ibunya dan entah siapa saja yang ada di rumah itu. Aku mengerti sekarang, dia mengikutiku di akun ini agar aku bisa melihat foto-foto ini. Kekanak-kanakan dan murahan sekali! Sengitku dalam hati.
"Dia nggak menerima keputusanmu karena dia punya rencana, Ga."
Aga menoleh dan mendapatiku yang sedang mengacungkan ponselku yang layarnya dipenuhi dengan berbagai foto Kiara bersama keluarganya dengan pose-pose yang tentu membuat hatiku panas. Belum lagi komentar-komentar di bawah foto-foto itu.
"Dia sengaja agar aku bisa melihat semua ini. Dia follow akun aku dan berpikir aku tentu akan penasaran tentang dia dan...tadaaaaa!" aku tertawa sinis di depan Aga. "Aku memang penasaran." Sambungku lagi.
Aga hanya bisa menghela napas berat dan mengetuk-ngetuk buku jarinya pada setir.
"I blame you, Ga! I blame you!"
"Nin, jangan begitu."
"Norak tau nggak!" jeritku di depannya. "Kok bisa-bisanya lo sebut dia malaikat?" aku sudah capek ber-aku-kamu.
"Mungkin dia nggak bermaksud seperti itu." Aga terlihat bingung menghadapiku.
"Lo bela dia? Gue perempuan, Ga. Gue tahu maksudnya. Memang ya laki-laki itu banyak nggak taunya!" kataku masih dengan nada kesal dan marah.
"Oke. Oke. Semua ini memang salah aku."
"Gue pengen ketemu nyokap." Aku memutuskan langkah yang akan aku ambil. Aga tentu saja kaget dengan kata-kataku. "Kenapa? Lo merasa ini terlalu cepat dan bakal menyesalinya nanti? Oh...nggak. Gue tahu gue bukan tipe yang disukain nyokap lo. Lo butuh waktu mempersiapkan gue agar bisa disukai sama nyokap lo? Gue harus cat hitam rambut gue. Gue perlu pakai blazer saat ke rumah? Atau apa?" aku benar-benar dikuasai cemburu karena perempuan bernama Kiara yang memang terlihat sangat berbeda penampilannya denganku. Rambut panjang hitam sebahu, kulit putih, pakaian yang sopan dan feminin. Tipikal perempuan baik-baik.
"Nin, aku nggak suka dengar kamu ber-lo-gue."
"Oh begitu? Karena nyokap lo juga nggak suka?"
"Bukan begitu, Nin. Nggak usah bawa-bawa nyokap." Suara Aga sedikit meninggi. "Nyokap emang suka sama Kiara tapi nyokap belum ketemu kamu, Nin. Kamu nggak bisa menduga begitu saja nyokap nggak akan suka sama kamu. Atau Kiara mungkin bersekongkol sama nyokap untuk menentang kamu. Itu cuma dipikiran kamu."
"Karena itu ajak aku ketemu nyokap lo."
"Oke. Kita akan atur waktu."
"Oke."
***
Dimas Agastya
Setelah mengantar Anin pulang aku kembali menghubungi Mike dan kami berjanji bertemu lagi di Sanur. Aku sedikit menyalahkan Mike dengan mulut embernya yang menyinggung tentang Mama dan tipe menantunya.
"Seharusnya lo lega, Ga. Seenggaknya si Anin bisa mempersiapkan diri sebelum ketemu nyokap lo." Mike menyalakan rokoknya dan dia menawarkan satu ke arahku namun aku tolak.
"Tapi kita baru sehari pacaran, Mike. Gue masih punya waktu untuk perlahan membuat Anin tahu tentang gue dan nyokap. Nggak harus semendadak ini."
"Telepon Kiara kan yang bikin Anin meledak? Bukan gue." Mike membela diri dan aku cukup setuju dengan hal itu. Kiara. Aku tidak tahu lagi bagaimana bisa melepaskan diri dari perempuan itu kalau ia sudah melibatkan Mama.
"Ga, mungkin penampilan luar Anin saja yang bakal bikin nyokap lo nggak suka. Biasalah pemikiran para nyokap emang begitu. Nyokap gue juga sama. Emang pernah pacar-pacar gue, gue bawa ke hadapan nyokap? Karena ya itu mereka selalu menilai luarnya doang. Makanya gue nggak akan menikah adalam waktu dekat.' Mike mulai berkeluh kesah.
"Emang kalau perempuan cantik, dengan bulu mata palsu, bibir merah menyala, rambut pirang, tatoan, pakai baju seksi otomatis punya sifat iblis? Enggak kan? Para nyokap harus disadarkan tentang hal itu." Mike menenggak bir dari botolnya.
"Oke, gue nggak akan minta Anin untuk merubah dirinya sebelum ketemu nyokap. Anin harus menjadi dirinya."
"Good." Mike mengangkat botol birnya ke arahku dan kami melakukan toast dengan botol.
Aku tidak mengobrol lebih lama dengan Mike karena mengingat besok masih hari kerja. Dan pikiranku masih belum lega dengan masalah Kiara-Mama-Anin yang baru saja dimulai. Anin bahkan menghindar saat aku akan menciumnya sebelum ia turun dari mobi, well aku pantas mendapatkannya.
Dan aku hampir tidak bisa menghubungi Anin keesokan harinya. Pesan-pesanku tidak dibalas dan teleponku pun tidak dia angkat. Aku tahu dia marah tapi aku tidak pernah berharap Anin akan mendiamkanku seperti ini. Namun menjelang sore sebuah pesan masuk.
Aku lagi di Tabanan di rumah keluarga Kikan. Ibu Kikan masuk RS. Lg temenin dia skrg.. Maaf situasi tadi lagi ribet jadi nggak sempat jawab telepon.
Aku menarik napas lega karena mengira Anin sedang menghindariku. Aku memasukan kembali ponsel ke dalam kantung kemejaku saat telepon kembali berbunyi. Aku mengira Anin meneleponku namun ternyata telepon dari Mama. Senyum di bibirku seketika sirna.
"Iya, Ma."
"Mama ke Bali ya. Mama kesepian di sini pengen liburan" Kabar yang Mama sampaikan benar-benar membuatku seperti terkena syok ringan. Dapat ide dari mana yang membuat Mama tiba-tiba ingin liburan.
"Mama mau liburan?" tanyaku ragu.
"Iya lah. Emang nggak boleh? Mumpung kamu di Bali."
"Oke." Jawabku tidak bertenaga.
"Carikan Mama hotel ya. Pesan dua kamar. Eh, satu aja deh."
"Emang Mama mau datang sapa siapa?"
"Kiara."
Aku mengatup rahangku menahan kesal. Sesulit itukah Mama menerima kalau Kiara bukan jodohku? Apakah orang tua selalu berpikir bahwa keputusan mereka adalah hal terbaik untuk anaknya?
"Mama tolong jangan libatkan lagi Kiara. Aku dan Kiara nggak ada hubungan apa-apa."
"Kiara ke Bali bukan karena mau bertemu kamu. Jangan GR lah kamu! Dia ke Bali ikut konferensi apa gitu...Mama lupa pokoknya tugas dari kantornya. Dan Mama hanya pengen ikut biar sekalian nengokin kamu dan Mama juga ada teman dalam perjalanan." Aku sudah kehabisan akal menghadapi Mama yang keras kepala. Hal ini membuatku tahu kalau Mama dan Kiara punya hubungan yang sangat baik. Mereka berkomunikasi. Dan bisa saja mereka bersekongkol. Aku tidak suka dengan situasi yang sudah mirip sinetron ini.