Dimas Agastya
Awal minggu ini aku mulai mengkoordinir laporan perkembangan pelaksanaan proyek. Mendiskusikan lagi beberapa material yang belum disetujui oleh owner dengan Ardy, Pak Arlan dan Pak Haris, seorang konsultan MEP. Dan membuat lagi shop drawing untuk tahap pembangunan berikutnya. Hal ini sepertinya yang akan dibicarakan oleh Pak Hirmawan waktu itu karena sepertinya ada perbedaan antara Kontrak, BQ dan RKS. Kedatangan Pak Hirmawan ke Bali sekalius akan melakukan meeting dengan Pak Hariadi, selaku owner, perihal hal ini.
Di menjelang akhir diskusi, aku ditelepon Mike, sahabatku saat aku masih bekerja di Mahaya Konsultan, sebuah biro konsultan Arsitek di Jakarta. Laki-laki yang sangat sulit kutemui semenjak aku pindah kerja itu berencana akan menemuiku di Bali. Dan dia minta aku menjemputnya sore ini di bandara.
"Ngapain pake dijemput kayak anak TK aja lo." Kataku yang disambutnya dengan tawa di ujung sana.
"Gue rindu bray rinduuu." Katanya dengan nada tengilnya. Jujur aku juga merindukan Mike dengan segala tingkah laku ajaibnya yang kadang membuatku kesal namun seringnya menghiburku karena pribadi kami yang berbeda cukup mencolok. Tapi aku sudah punya janji bertemu Anin sepulang kerja, menemaninya melihat hasil kerja pembuatan properti pernikahan pasangan India yang akan berlangsung akhir pekan nanti. Aku tidak mau mengecewakannya di janji pertamaku selain itu aku juga sangat merindukannya walaupun kami berpisah belum sampai 24 jam.
"Ummmm..."
"Wahhh...gue tahu nih. Gue bisa mencium alasan keraguan lu."
"Iya gue udah punya janji, Mike."
"Cewek?"
"Ya."
"Kenalin ke gue, Ga. Gue bisa membaca apa kah dia jodoh lo atau bukan? Karena mantan lo kemarin lebih ke jodoh nyokap lo."
"Sialan lo!" makiku dan membuat Mike tergelak. Begitulah Mike, selalu berkata sekehendak hatinya namun seringnya apa yang keluar dari mulutnya itu adalah kebenaran. Berteman dengan Mike harus juga punya toleransi yang tinggi karena Mike sering lupa menyaring kata-katanya tapi aku suka dengan sisi Mike yang ini. Selama bersahabat dengannya aku baru sekali pacaran yaitu dengan Vidia. Mike mengenalnya dengan baik, memujinya sebagai perempuan cantik namun ia menilai Vidia tidak cocok denganku. Menurut Mike, Vidia punya aura seperti yang dimiliki Mama. Saat itu aku hanya menganggap omongan Mike sebagai bahan candaan dia padaku namun entah kenapa saat Vidia memutuskanku dengan alasan ia takut Mama terlalu ikut campur dengan hubungan kami, aku sempat melabrak Mike meminta kejujurannya dimana dia pernah berguru untuk mendapatkan kemampuan membaca orang seperti itu.
Aura Vidia dan Aura nyokap lo sama-sama kuat, Ga. Kalau sampai lo nikah sama Vidia lo bakal mati kegencet aura dua perempuan itu. Aku bahkan sempat percaya dengan hal konyol yang keluar dari mulut Mike saat itu hanya karena aku sedang mencari alasan yang tepat untuk mencoba sembuh dari patah hatiku.
"Oke nanti gue bilang sama Anin. Gue kasih kabar lo kita bisa ketemu dimana."
"Oke."
***
Anindira Maheswari
Aku mengintip Kikan di depanku melalui lubang kuping cangkir kopiku yang masih mengepul karena baru saja kuseduh, sedang sahabatku itu memandangku dengan kedua alis terangkat serta senyum yang hendak tercipta. Kabar yang kubawa cukup membuat ia begitu antusias.
"Gue pacaran sama Aga." Kikan terloncat dengan senyum yang sukses tercipta di wajahnya.
"Bener kan aku bilang?" dia bersorak merasa menang dan aku hanya mengangguk menyetujui kata-katanya.
"Gimana cerita?" katanya setengah menjerit dan aku memintanya untuk duduk dengan gerakan tanganku. Dan Kikan menurutiku ia menarik kursi lebih mendekat ke arahku. Dan aku pun mulai menceritakan awal bagaimana aku bisa terjebak sesorean bersama Aga hingga bisa menemukan keistimewaan laki-laki itu.
"Jadi kamu nggak bakal balik ke rumah lagi?" ekspresi Kikan berganti prihatin saat tahu bagaimana awalnya aku bisa bertemu Aga sore itu.
"Gue nggak mau bahas tentang rumah dan seisinya lagi, Kan. Gue mau kita bahas yang lagi buat gue happy aja." Aku menghirup kopiku masih dengan senyum saat mengingat betapa bedanya Aga saat ia sudah resmi menjadi kekasihku. Ia bahkan tidak berani menciumku setelah mengantarku ke rumah malam kemarin, dan aku pun menahan diriku untuk menciumnya dan kami berpisah di depan gerbang rumah persis seperti pasangan ABG yang juga baru jadian.
"Idih senyum-senyum sendiri." Kikan menggodaku.
"Agastya benar-benar cowok yang susah gue tebak, Kan. Baru sehari gue jadian ma dia gue udah ngerasa gue sedang memasuki petualangan baru. Menarik." Aku meletakkan kembali cangkir ke atas meja.
"I am happy for you. Seenggaknya kamu bahagia di tengah apa yang terjadi sama kamu dan Papamu."
"Thank you, Kan."
Aku kembali menikmati kopi sedang Kikan sudah tenggelam dengan pembicaraanya lewat pesan di ponselnya. Aku menggerakkan kepalaku ke arahnya berusaha mengintip apa yang membuat ia begitu fokus dengan ponselnya hingga menciptakan kerut-kerut di keningnya.
"Matt baru saja bilang dia nggak mungkin kembali ke Indonesia." Kikan menjawab tanpa mengangkat wajahnya, ia sepertinya merasakan gestur ingin tahuku dengan apa yang sedang terjadi padanya.
"Oh ya? Terus?"
"Aku nggak tahu, Nin." Kikan yang tadi ceria saat mendengar kabar bahagia yang kubawa sekarang berubah drastis. Ekspresinya seperti ingin menangis. Ia melempar begitu saja ponselnya ke atas meja.
Aku sedikit tidak enak dengan Kikan karena tidak pernah tahu kemelut yang sedang terjadi dalam hidupnya beberapa minggu terakhir ini. Aku memang tahu Matt, suaminya, sedang kembali ke Texas sebulan lalu untuk mengurus sesuatu. Mereka tidak punya masalah sebelum kepergian Matt. Jadi aku tidak pernah tahu Matt akan menciptakan kesedihan di hati Kikan.
"Kalian ada masalah?"
"Aku sebenranya nggak mau berpikiran buruk Nin. Waktu dia minta ijin untuk kembali ke Texas aku nggak ada masalah. Tapi seminggu terakhir ini dia selalu mencari alasan untuk nggak pulang kembali ke sini."
"Orang ketiga?"
Kikan menggeleng cepat.
"Lalu?" kejarku.
"Dia memintaku terus untuk ikut dia ke Texas. Kamu kan tahu aku nggak bisa ninggalin Ibu. Hanya tinggal Ibu dan Nenek di kampung, aku nggak mungkin ninggalin mereka. Janji Matt untuk stay di Indonesia lah yang bikin aku mau menikah dengan dia." Kikan mengetuk-ngetuk meja di depannya dengan buku-buku jarinya seperti sedang menumpahkan kekesalan.
"Seperti yang aku bilang laki-laki banyak nggak ngertinya kalau nggak dikasih tau. Aku harus tegas bilang ke Matt kalau dia nggak mau kembali berarti kita cerai."
"Kikan." Gumamku sedih. "Gue ikut prihatin. Gue harap lo dan Matt bisa nemu jalan keluarnya."
"Thanks, Nin. Udah yuk nggak usah bahas ini. Bahas yang pengen gue dengar aja. Terus nanti malam mau kencan lagi kemana?" dia memandangku sok imut sambil menopang kepalanya dengan kedua tangannya. Ia mencoba terlihat gembira meski tidak bisa menghapus bayang kelabu di matanya. Kikan yang selalu pengertian.
"Nggak kencan. Gue hanya mau ngajak dia ke bengkel Bli Wayan buat liat pesanan properti buat nikahan India weekend nanti."
"Cieee..."
"Apaan sih." Aku geli mendengar godaan Kikan padaku seakan-akan aku anak ingusan yang baru belajar pacaran. Tapi seandainya Kikan mendengar cerita akhir kencanku kemarin dengan Aga dia pasti akan tertawa geli. Betapa aku dan Aga begitu canggung hanya untuk saling say goodbye.
"Ya udah aku pulang ya. Sore nanti mau pulang ke Tabanan pengen nengok Ibu sama Nenek. Gara-gara Matt aku jadi rindu mereka."
"Oke salam aja ya dan hati-hati di jalan."
"Ibu nanyain kamu udah lama nggak ke Tabanan."
"Iya deh nanti setelah pernikahan India ya."
"Sama Aga ya. Aku kan juga belum kenal gitu sama dia."
"Oke."
Setelah Kikan pulang aku memutuskan pergi sebentar ke salon untuk creambath sebelum pergi dengan Aga. Aku butuh pijatan pada kepalaku agar pikiranku bisa lebih fresh. Selain itu aku ingin tampil lebih cantik di depan Aga sekaligus mencoba meruntuhkan kecanggungan di antara kami yang tercipta entah kenapa. Kami mungkin masih begitu berhati-hati satu sama lain.
Aga tiba di rumahku menjelang pukul 4 sore, aku yang masih berdanda di dalam kamar meminta Aga untuk masuk saja karena pintu rumah kubiarkan tidak kukunci.
"Nin!" Aga memanggilku dari ruang tamu.
"Sini." Panggilku dan laki-laki itu muncul di depan pintu kamarku. Ia menyenderkan tubuhnya di bibir pintu sambil memandangku yang sedang sibuk mengulas lipstick di bibirku. Dia tersenyum.
Dengan tanganku aku memberi tanda padanya untuk masuk saja. Namun dia terlihat ragu.
"Kenapa? Takut sama aku?"
"Nggak. Aku takut sama diriku sendiri."
"Hah?"
"Aku nggak percaya sama diriku sendiri." Jawabnya dan membuatku tertawa kecil. Aku beranjak mendekatinya.
"Nggak percaya kenapa?" kataku pelan sambil merapatkan tubuhku padanya dan membuat ia refleks bergerak sedikit mundur. Namun aku menahannya dengan tanganku yang melingkar di tubuhnya.
"Kamu...kamu menggoda sekali Nin. Aku nggak percaya aku bisa menahan diri." Dia berkata dengan dagunya bertumbu di kepalaku.
"Kenapa kamu harus menahan diri?" Bisikku setengah menggoda. Aku merenggangkan pelukanku mendongak menatapnya. Tanpa ragu ia pun menunduk menciumku dan aku membalasnya dengan hasrat yang sama. Ia melepaskan ciumannya memandangku yang sedikit terengah karena bibir kami cukup lama saling berpagut. Tanganku bergerak melepaskan kaca matanya, meletakkannya di meja riasku, lalu mendorong tubuh Aga ke sofa kecil di sudut kamar hingga ia terduduk. Aku naik ke pangkuannya dan mulai menciumnya lagi. Tangannya bergerak naik turun di punggungku kemudian perlahan turun ke pahaku. Jemarinya mengelus kulit pahaku yang tersingkap yang membuatku mengerang kecil karena hangat telapak tangannya mengalirkan sensasi yang membuat darahku berdesir. Aku menggigit pelan kupingnya dan membuat ia menggeram.
"Anin." Bisiknya.
"Ya."
"Kamu..." dia kembali menggeram dan tidak jadi meneruskan kata-katanya saat ciumanku kembali ke bibirnya. Kami bermain lidah dan merasakan betul Aga ternyata sangat lihai di bidang ini.
"You are good." Bisikku saat aku melepaskan ciuman kami.
"Kamu..." dia tersenyum menangkup kedua pipiku kemudian mencium pelan bibirku sekali lagi.
"And you are amazing."
"I am." Kataku pongah dan membuatnya tertawa. Posisi kami masih belum berubah dengan aku masih duduk di pangkuannya. Jemariku bermain di wajahnya yang baru sekali ini kulihat tanpa kaca mata. Aga punya bentuk wajah yang bagus dengan garis rahang yang kokoh yang tidak kutemukan saat kacamata itu bertengger di wajahnya. Ia bak Clark Kent yang saat ini berubah menjadi Superman.
"Aku heran sama laki-laki yang memutuskanmu itu. Ia pasti menyesal." Aga menyelipkan rambutku ke belakang telinga.
"Dan kini aku mengerti kenapa si malaikat mau jatuh ke dalam dosa saat mencium kamu. Kamu juga menggoda, Ga." Aku mengecup pelan bibirnya.
"Oh ya?" dia tersenyum bangga dan membuatku tertawa geli dengan pemandangan ini.
Aku turun dari pangkuannya meski tangannya sigap menahan tubuhku agar aku mengurungkan niatku.
"Bli Wayan udah nunggu." Aku menepuk kecil lengannya kemudian kembali berdiri merapikan pakaianku dan siap berangkat.
***
Dimas Agastya
Mencium Anin dan membawa tubuhnya dalam pelukanku adalah keinginku sejak aku mulai memikirkannya. Mencuri ciumnya malam itu adalah bukti kalau Anin punya daya pikat yang kuat hingga membuat seorang Agastya yang tidak punya pengalaman banyak dengan perempuan bisa melakukan hal itu.
Setelah dari bengkel Bli Wayan dan memastikan semua pesanan propertinya sudah dikerjakan sesuai dengan desain yang Anin inginkan, aku memberitahukan Anin tentang Mike. Dan ia begitu antusias untuk dikenalkan dengan sahabatku itu. Kami menuju Sanur untuk bertemu di sebuah kafe dekat tempat Mike menginap.
"Nin, gimana perasaan kamu saat ini?"
"Maksudnya." Ia melihatku sepintas dan kembali fokus pada ipadnya.
"Tentang Papamu."
"Udah biasa aja. Aku hanya sedih kalau keingat Mama dan pemikiran bahwa aku mungkin sulit bertemu Bik Yuni dan Pak Salim. Mereka berdua sudah jadi bagian dari kenangan Mama." Ia berkata tanpa melepaskan pandangannya dari layar ipad.
"Kamu masih mau aku keluar dari perusahaan Papa kamu?"
Dia mengangkat wajahnya dan memandangku. Beberapa detik kemudian dia menggeleng.
"Tapi bagaimana kalau Papa kamu tahu aku sekarang pacaran denganmu?"
"Baguslah kalau dia tau. Dia pasti berpikir kamu sedang dalam bahaya karena perempuan sepertiku nggak cocok pacaran dengan anak baik-baik kayak kamu. Biarkan saja dia berpikir seperti itu."
"Bagaimana mungkin seorang Ayah berpikir anaknya sendiri adalah sesuatu yang membahayakan?" Aku mengernyit heran denga teori Anin sedangkan yang aku tahu Pak Hirmawan begutu memuja Anin di depanku.
"Bahaya karena dia akan berpikir aku nggak mencintai kamu. Aku hanya memanfaatkan kamu. Aku mau membiarkan dia berpikir seperti itu."
"Kamu mencintaiku?" tanyaku yang membuat kepalanya bergerak cepat ke arahku. Aku yang sedang menyetir tentu tidak bisa dengan cermat mengamati ekspresinya saat pertanyaan itu keluar dari mulutku. Dia terdiam dan membuatku tersenyum paham.
"Hei," aku mengulurkan sebelah tanganku meraih tangannya yang terpaku di sisi tubuhnya. "aku nggak sedang memaksa kamu." Aku mencoba membuat ia tidak terlalu terdesak dengan pertanyaan refleksku tadi. Aku mengerti ada banyak hal di dalam kepalanya yang perlu ia pikirkan. Aku tidak perlu menuntut kata-kata itu terucap disaat ia sudah memutuskan untuk memilihku.
"Kalau aku nggak cinta sama kamu aku nggak akan berada di mobil ini sama kamu." Anin memang bukan tipe permpuan yang dengan mudah mengatakan 'Ya, aku cinta kamu.'
"Kamu benar." Aku mengangguk paham.
"Okeee, iya aku cinta kamu! Happy?" katanya lagi dan kemudian menyebutku kuno karena masih menuntut kata-kata itu keluar dari mulutnya. Oke untuk hal ini aku akui aku memang kuno.
Mike terlihat setengah bengong saat aku mengenalkan Anin padanya. Dia pasti tidak menyangka perempuan cantik dalam balutan terusan tanpa lengan itu adalah perempuan yang kukenalkan sebagai pacar. Tipe seperti Anin adalah tipe yang selalu ada disekeliling Mike dan yang selalu berusaha aku jauhi. Tentu saja rasa heran itu begitu saja tercipta di wajahnya.
Anin dan Mike tampaknya cukup mudah berkomunikasi. Mereka bahkan punya beberapa teman yang sama, well aku tidak heran. Dan akhirnya mereka mengobrol seperti dua orang teman lama yang sudah lama tidak bertemu.
"Sasha itu teman SMA-ku dan mantannya Mike." Anin menunjuk Mike. Aku tahu aksinya ini agar aku merasa tidak terabaikan dalam obrolan mereka.
"Dan Tian? Mantan lo kan?" giliran Mike yang menunjuk Anin.
"Noooo." Anin menggeleng keras lalu melihat ke arahku dan kemudian menggeleng lagi. "Tian hanya teman."
"Gue pikir dia mantan lo. Tian dan Aga agak-agak mirip gitu." Mike yang selalu blak-blakan itu memandangku dengan sedikit mengangguk seakan ia sedang meyakinkanku kalau apa yang ia katakan itu benar.
"Gue bukan tipe Anin sebenarnya." Aku menambahkan creamer pada kopiku sambil melirik Anin yang juga sedang melirik ke arahku.
"Serius?" Mike kini memandang Anin.
"Aga becanda. Lagian cinta bisa merubah pemikiran orang." Anin berinisiatif menghentikan pembicaraan masalah tipe yang sepertinya sedikit membat dia canggung. Dan ia memandangku dengan senyum saat menyebut kata 'cinta'. Hal yang sedikit menjadi perdebatan dalam perjalan kami tadi.
"Lo bener banget. Semoga tipe calon mantu nyokap lo berubah juga ya, Ga." Aku berdecak mendengar kata-kata Mike yang kembali melenceng ke jalur yang tadi ingin dihindari. Aku harusnya sudah mengira Mike akan sedikit mengacaukan sore kami dengan ucapan-ucapan jujurnya.
"Emang Mama kamu pengen punya menantu seperti apa?" Anin mengaduk kopi dalam cangkirnya sambil memandangku. Tatapannya sedikit berbeda di banding beberapa saat lalu. "Seperti Kiara?" sambung Anin yang membuat aku hampir tersedak.
"Mama nggak punya tipe menantu, Nin. Jangan dengerin Mike." Kataku setengah melotot ke arah sahabatku itu.
"Siapa Kiara?" Mike benar-benar bebal, ia tidak bisa membaca ekspresiku. Seharusnya aku tidak mengenalkan Anin dulu padanya.
"Malaikat." Jawab Anin dan membuat Mike melotot heran. "Serius." Anin mencoba meyakinkan Mike.
"Bukan siapa-siapa." Aku menggeleng pada Mike sedang Anin hanya tersenyum mengulum ke arahku. Namun sepertinya aku harus lebih banyak menjelaskan tentang Kiara pada Anin setelah ini karena di saat yang sama ponselku di atas meja berbunyi dan ada nama Sweet Kiara. Oh s**t! Aku lupa mengganti nama itu di ponselku. Saking gugupnya aku sampai terpaku dan membiarkan ponsel itu terus bergetar di sana.
"Sepertinya lo lagi ditelepon malaikat." Bisik Mike di depan wajahku yang sedang terpaku. Ia kemudian menciptakan ekspresi takut di wajahnya sambil memandang Anin dan keduanya sama-sama tertawa. Namun aku bisa melihat tawa Anin sedikit berbeda saat sepintas melempar pandangannya ke arahku.
"Dijawab, Ga." Seru Anin dan membuat aku mengangguk kemudian menyambar ponsel itu dan berjalan sedikit menjauh ke luar café.