Anindira Maheswari
Aku tidak menyangka Agastya berani menciumku. Seharusnya aku menamparnya tadi karena dia sudah memanfaatkan kelemahanku. Ya, dia sudah mengambil keuntungan dari kesedihanku. Kini otak dan hatiku mulai berperang. Otakku terus-terusan menyalahkan Agastya namun hatiku justru bekata sebaliknya saat kata-kata 'sampai bertemu besok' keluar dari mulutku.
Apakah aku berdebar saat ia menciumku tadi? Entahlah karena aku tidak sempat 'merasakannya'. Ciuman itu begitu cepat. Agastya bergerak sangat cepat persis pencuri yang sudah ahli. Aku tidak tahu bagaimana cara membaca laki-laki itu. Setiap kali bersamanya aku selalu dikejutkan olehnya. Aku selalu tidak siap dengan apa yang keluar dari mulutnya atau bahkan apa yang akan ia lakukan padaku. Seperti tadi.
Entah kenapa tanganku bergerak sendiri menyentuh bibirku. Apa yang harus aku lakukan pada laki-laki itu? Aku yang awalnya dengan sengaja melemparkan diriku ke hadapannya dan sekarang aku yang terjebak dalam permainanku sendiri.
Aku mencoba membuang jauh-jauh pemikiranku tentang Aga dan mencoba untuk tidur. Hari ini aku sudah cukup lelah dan tidur yang cukup tentu akan lebih membuat pikiranku lebih fresh untuk menghadapi esok hari. Termasuk menghadapi Agastya.
Rencanaku gagal total karena otakku tetap tidak bisa berhenti berpikir, menduga-duga dan membawa kembali kenangan Mama bersamaku dulu di rumah itu. Aku kembali menangis yang ironisnya justru menjadi pengantar tidurku hingga aku terbangun pukul 5 pagi. Aku mengecek ponsel dan mendapati pesan dari Agastya yang juga sekaligus mengirimkan tiket pesawatku.
Ia akan menjemputku pukul 7 pagi karena dia memilih penerbangan pukul 11. Aku mencoba mengangkat kepalaku dari bantal namun aku meringis saat merasa seperti ada ratusan jarum yang sedang menusuk-nusuk isi otakku. Aku mengerang kecil dan memutuskan untuk mengistirahatkan mataku sebentar lagi.
Aku terbangun karena mendengar ketukan yang berulang di depan pintu yang beberapa detik kemudian membuatku melompat turun dari ranjang setelah aku cukup sadar dengan sekelilingku. Aku mencari-cari ponselku di bawah bantal dan meringis saat menyadari benda itu sudah mati total. Aku berlari ke arah pintu untuk membukanya dan mendapati seorang karyawan hotel dan Agastya dengan wajah khawatir menyambutku di sana.
"Ya Tuhan Anin." Serunya sambil menarik napas lega. Karyawan hotel itu juga terlihat lega dan kemudian pamit meninggalkan kami.
"Emang kamu pikir aku kenapa?"
"Yang terburuk."
"Bunuh diri?"
"Sempat melintas." Katanya jujur dan langsung membuatku tertawa keras. Ia hanya memandangku lurus tanpa ekspresi.
"Aku khawatir banget, Nin. Serius!"
Perlahan tawaku hilang dan berganti rasa bersalah.
"Maaf. Aku sebenarnya udah bangun sejak pukul 4 atau 5 tapi kepalaku pusing banget jadi aku pikir aku pengen pejam mata sebentar aja lagi eh nggak taunya kebablasan dan ternyata ponselku juga mati." Kataku sambil membuka pintu lebih lebar agar ia mengikutiku masuk.
"Aku lega kamu nggak apa-apa. Kamu bisa mandi sekarang? Karena ini sudah hampir pukul delapan." Katanya sambil melirik jam di pergelangan tangannya dan kemudian kembali memandangku. Wajahnya sangat serius, dan kata-katanya entah kenapa terasa sangat hangat menelusup ke batinku.
"Anin!" tegurnya saat melihatku hanya terpaku memandangnya.
"Ciuman semalam." aku berkata tanpa melepaskan pandanganku darinya. Aku bisa melihat kedua kelopak matanya sedikit melebar sebagai ekspresi tidak menyangka dengan kata-kataku.
"Iya?" sahutnya.
"Itu bukan berarti kita pacaran." Kataku lagi dan membuatnya terdiam seperti berpikir sebentar dan kemudian mengangguk.
"Malaikat itu menciummu dan menyimpulkan bahwa kalian pacaran tapi itu nggak berlaku untukku." Aku mengakhiri kata-kataku dengan senyuman kecil kemudian beranjak cepat ke kamar mandi. Tapi entah kenapa setelah aku mengeluarkan kata-kata yang terdengar semacam sebuah ultimatum yang bisa meruntuhkan semangatnya itu, jantungku justru yang berdegup tidak terkendali. Aku bahkan perlu memegangi dadaku karena aku tiba-tiba merasa ada sesuatu yang terjadi di dalam sana. Apa-apaan ini?
"Ga!" aku memanggilanya dari dalam kamar mandi.
"Iya."
"Kamu bisa tunggu aku di lobi."
"Oke."
***
Dimas Agastya
Aku hampir putus asa saat tidak berhasil menelepon Anin karena ponselnya tidak aktif. Aku mengetuk pintunya berkali-kali setelah berhasil mendapatkan informasi nomor kamar Anin pada resepsionis hotel, namun sama sekali tidak ada hasil. Aku perlu memanggil petugas hotel untuk memintanya membuka saja kamar itu karena sudah hampir setengah jam usahaku tidak berhasil. Bisa saja kan sesuatu terjadi padanya. Petugas itu mencoba mengetuk sekali lagi sebelum membuka kamar dengan kunci cadangan hotel. Dan aku menarik napas lega saat pintu di depan kami terbuka dan perempuan itu berdiri di sana dengan sehat walafiat tanpa kurang satu apapun.
Ia malah sempat menertawaiku saat aku mengatakan aku sempat berpikir ia bunuh diri di dalam sana meski akhirnya ia minta maaf karena telah membuatku khawatir. Saat tadi akan berangkat menjemputnya aku sempat khawatir dengan pertemuan kami pagi ini mengingat aku sudah melakukan hal yang seharusnya tidak kulakukan malam tadi.
Aku mencium Anin di saat dia sedang sedih karena permasalahannya. Aku seperti sedang memanfaatkan situasinya. Seharusnya aku tidak menambah beban pikirannya. ya seandainya kalau dia sempat memikirkanku dan menganggap bahwa ciuman semalam itu cukup berpengaruh pada dirinya.
"Ciuman semalam." Ia berkata sangat tiba-tiba dengan pandangan yang begitu lekat ke arahku. Aku sungguh gugup dan ada sedikit rasa lega saat ia mau menyinggungnya yang artinya ciuman semalam cukup berpengaruh padanya. Itu pendapatku.
"Iya?" sahutku dengan harap-harap cemas.
"Itu bukan berarti kita pacaran." Katanya dan langsung membuat harapanku yang tadi mulai membumbung langsung jatuh tiarap. Aku tidak tahu kata-kata apa yang akan aku ucapkan. Aku hanya bisa mengangguk.
"Malaikat itu menciummu dan menyimpulkan bahwa kalian pacaran tapi itu nggak berlaku untukku." Katanya lagi dan langsung menghilang ke kamar mandi. Ia kemudian memintaku untuk menunggunya di lobi dan aku meninggalkan kamarnya dengan perasaan yang campur aduk. Walaupun harapanku sudah tiarap paling tidak aku senang karena ia tidak mendorongku menjauh. Ia hanya menekankan bahwa kami tidak pacaran tapi bukan berarti kami tidak bisa berhubungan. Sebagai teman? Entahlah itu sebenarnya rencana awalku. Oke mulai sekarang aku harus bisa menahan diriku untuk tidak melangkah terlalu cepat. Aku terlalu gampangan. Disaat Anin jujur mengatakan bahwa ia berencana menggodaku aku justru dengan percaya dirinya menawarkan diriku kepadanya. Memintanya untuk tidak berhenti menggodaku. That's not cute or romantic at all, that was STUPIDITY. Aku bukannya mundur aku malah terus menyeruduknya dan membuat perempuan itu jengah. Untung saja semesta masih memberi kesempatan padaku untuk menemaninya di saat dia begitu terpuruk dan berujung pada satu kebodohan lain lagi yang aku lakukan. Aku menciumnya!
"Stupid! Stupid!" aku memaki diriku sendiri tapi aku tidak bisa mengelak kalau perasaanku lama-lama semakin bertumbuh padanya. Melihat dirinya dalam berbagai situasi membuatku merasa sudah begitu mengenalnya. Anin yang percaya diri, Anin yang menggoda, Anin yang bisa terlihat polos dalam kaus tidurnya, Anin yang galak, Anin yang rapuh, dan aku menyukai semuanya.
"Kita nggak terlambat kan?" sebuah suara dari belakangku refleks membuat tubuhku berbalik dan mendapati Anin yang begitu cantik dengan terusan bercorak floral yang membuat ia terlihat segar sangat berbeda dari kemarin.
"Semoga nggak."
"Oke. Sekali lagi sorry ya." Katanya dengan ekspresi memohon di depanku. Anin yang menggemaskan. Aku menambahkan lagi satu gambaran tentang Anin dalam hatiku sekaligus merayakan rasa legaku karena ia tidak memutus hubungan baik kami karena ciuman semalam.
Aku cukup panik mengetahui kami tiba di bandara dengan waktu yang cukup mepet dengan waktu boarding. Untung saja kami masih diperbolehkan check in. Kami berdua berjalan cepat bahkan berakhir dengan berlari menuju gate. Aku suka melihat Anin tertawa lepas dalam situasi kami saat ini. Dan yang membuatku semakin suka dengan situasi darurat ini karena ia tidak segan menyambar tanganku kemudian menarikku agar berlari mengikutinya. Kembali aku memperingatkan diriku untuk jangan berpikir berlebihan dan jangan memanfaatkan situasi. Biarkan ini berjalan apa adanya karena tidak bisa kupungkiri aku sangat menyukai semua ini.
Anin masih tidak berhenti tertawa saat kami tiba di kursi pesawat di saat beberapa menit lagi pesawat akan take-off.
"Menegangkan." Katanya sambil memasang seat-belt. "Kamu panik banget deh." Ia memandangku yang memang terlihat panik saat ini. Aku termasuk orang yang tidak suka main-main dengan waktu. Aku selalu mendisiplinkan diri sejak dulu untuk selalu tepat waktu. Termasuk urusan dalam keberangkatan entah dengan pesawat, kereta, kapal laut sekalipun atau janji dengan siapapun, ya kecuali janji dengan Pak Hirmawan kemarin.
"Ini pertama kali aku hampir ketinggalan pesawat."
"Wow." Ujarnya pendek sambil melirik ke arahku. "Selalu ada pertama untuk setiap hal. Itu bagus untukmu biar CV kamu nggak selalu lurus-lurus aja."
"Lurus-lurus maksudnya?'
"Ummm...kamu terlihat lurus aja."
"Maksudnya?"
"Nggak bengkok!" ia melotot ke arahku dan membuatku semakin tidak mengerti.
"Apanya yang bengkok?"
"Kamunya."
"Ak..."
"Stop!" serunya dengan wajah terlihat kesal.
"Kamu membingungkan." Gumamku sambil melanjutkan memasang seatbelt.
Penumpang tidak terlalu banyak saat ini. Sebenarnya barisan kursi kami terisi penuh yang artinya seharusnya ada seorang penumpang di sebelahku namun saat aku dan Anin tiba dan mengisi dua bangku di sebelahnya, ia memutuskan pindah ke barisan kursi seberang yang ternyata kosong hingga pintu pesawat tertutup. Aku rasa keputusannya tepat. Lebih baik pindah ke kursi kosong kan dari pada duduk berdempet-dempet dengan orang asing. Aku sendiri heran kenapa petugas check in memberikan kami kursi di barisan yang sudah diisi seseorang saat masih ada barisan kursi yang kosong. Tapi bisa jadi mereka punya kebijakan sendiri tentang masalah ini.
"Kamu jauh lebih membingungkan." Kata-kata Anin membuatku yang sempat sedikit terdistraksi dengan masalah kursi penumpang pesawat, kini kembali melihat ke arahnya.
"Aku?" aku menunjuk diriku. Ia mengangguk. Obrolan kami terhenti sebentar saat pramugari menghidangkan kotak makanan di depan kami.
"Bagaimana hubunganmu dengan si malaikat?" pertanyaannya langsung membawaku kembali pada situasi rumah sejak semalam saat aku habis mengantarkan Anin ke hotel. Singkatnya aku menghubungi Pak Hirmawan mengatakan ada urusan keluarga yang tidak bisa kuhindari dan membuat aku tidak bisa menemuinya. Dan ia mengerti dan mengatakan kita akan membicarakannya nanti saat ia ke Bali dalam waktu dekat.
Dan Mama? Ya, ia menungguku di teras rumah dengan wajah terseram yang ia punya. Aku hampir tidak pernah melihat sorot mata Mama yang begitu tajam dengan kedua alis tertekuk dan wajah dingin tanpa senyum.
"Dari mana kamu?"
"Tadi setelah mengantar Kiara aku ditelepon Pak Hirmawan, bosku." Yup aku memanfaatkan Pak Hirmawan dengan janji temunya yang tak pernah kutepati sebagai alasan yang kurasa masuk akal untuk Mama.
"Ini Sabtu. Harusnya nggak ada urusan pekerjaan." Oke ternyata alasan ini tidak cukup masuk akal untuk Mama.
"Mama kan tahu terkadang Pak Hirmawan suka minta ketemu kapanpun dia butuh."
"Bos macam apa itu sama sekali tidak menghargai waktu istirahat karyawannya." Oke aku salah strategi. Aku menghembuskan napas pasrah karena merasa tidak ada lagi alasan yang bisa membuat Mama paham.
"Ma, aku minta maaf."
"Telepon Mama sama sekali nggak diangkat." Omelnya lagi dengan posisi masih berdiri di hadapanku.
"Ma, sudah malam kita ke dalam." Aku mencoba mencuri hatinya dengan sigap merangkulnya seperti biasa namun Mama dengan kesal menepuk lenganku untuk tidak mendekatinya.
"Mama nggak mau tau ya, kamu dan Kiara nggak boleh putus." Katanya sambil melangkah ke dalam rumah.
"Aku nggak mencintai Kiara Ma."
Ia memandangku dengan ekspresi tidak percaya.
"Aku memang tertarik padanya berpikir bahwa ia adalah perempuan yang tepat seperti yang Mama mau. Dan aku benar saat minggu lalu melihat dia begitu mudah masuk dalam keluarga kita. Tapi pada akhirnya aku sadar kalau aku nggak cinta sama Kiara, Ma."
"Mama tetap nggak percaya! Pasti ada sesuatu yang terjadi di Bali. Iya kan?" Mama memegang kedua lenganku dengan wajah memohon padaku untuk berkata jujur.
"Sesuatu itu tejadi sekaligus menyadarkanku kalau selama ini aku selalu tertarik pada perempuan yang kupikir akan sesuai dengan harapan Mama. Seperti sudah terbentuk dalam alam bawah sadarku tipe perempuan seperti apa yang bisa membuatku suka. Ya itu karena tipe itu yang Mama suka! Iya yang Mama suka! Tapi bukan Aku." Perlahan kedua tangan Mama terlepas dari lenganku. Ia menangis. Ia menangis karena kejujuranku.
"Tega kamu, Ga! Tega kamu!" ia terduduk di kursi dengan kedua bahu yang turun naik. Aku mendekatinya bersimpuh di depannya.
"Ma, mama ingin aku bahagia kan? Biarkan kali ini aku memilih karena hatiku. Karena keinginanku."
"Siapa dia?" Mama memandangku dengan wajah penuh air mata.
"Namanya Anindira."
"Seperti apa dia?"
"Seperti keinginanku, Ma. Tapi dia belum mencintaiku. Aku masih berusaha mendapatkannya." Kata-kataku tentang Anin sama sekali tidak menghibur Mama. Ia masih bertahan dengan sorot mata tidak suka dengan apa yang sebenarnya kurasakan.
"Ma, aku mohon." Aku membawa kedua tangannya ke dalam genggamanku.
"Terserah kamu. Mama masih nggak bisa terima." Katanya sambil beranjak dari kursinya meninggalkanku. Aku membiarkannya dengan berharap saat bangun pagi nanti hatinya sudah tidak sekeras malam ini.
Ternyata hati Mama masih membatu saat aku pamit padanya untu pulang ke Bali. Ia bahkan tidak mau memandangku. Tapi aku bisa paham dengan perasaannya. Kejujuranku mungkin menyakiti hatinya terlalu dalam.
"Kamu menciumku artinya kamu benar-benar sudah putus dengannya? Atau kamu masih saja being a jerk, mencium perempuan lain di saat kamu masih punya hubungan?" kata-kata Anin membangunkanku dari diamku yang cukup lama karena mengenang kembali kejadian bersama Mama sejak semalam. Ia memandangku sambil menyesap aqua botolnya.
"Aku menciummu karena aku nggak mencintai malaikat itu." Aku tidak tahu apakah jawabanku ini melanggar warning yang kuberikan pada diriku beberapa jam sebelumnya bahwa aku harus mulai belajar menahan diri. Tapi aku rasa aku tidak salah kali ini karena Anin memancingku ke arah sana.
"Yang artinyaaa?" kedua tangannya kini menempel pada pembatas kursi antara aku dan dia. Lihat kan dia terus memancingku. Perempuan ini benar-benar membuat aku gila.
"Kamu nggak bodoh kan?" ia terdiam dan sedikit mengendurkan tubuhnya ke belakang. "Harusnya kamu tahu Anin. Sudah berkali-kali bukan aku mengatakannya? Aku menyukaimu. Aku mencintaimu."
***
Anindira Maheswari
Aku memang bodoh. Perasaanku di dalam sana lah yang membuatku terlihat bodoh. Bagaimana bisa aku bersikap persis anak ABG norak kayak gini. Kamu sudah 28 ,Anin. Sudah cukup tua untuk tahu tujuan dari laki-laki di depanmu apalagi dengan segala sikap dan kata-kata yang jelas sudah ia ungkapkan pada kamu dan kamu tolak mentah-mentah dengan berbagai alasan.
Dan kini setelah peluru itu berbalik ke arahmu, apa yang akan kamu lakukan? Jujur mengatakan bahwa kamu juga merasakan hal yang berbeda saat bersamanya? Atau tetap pura-pura bodoh lalu membiarkan peluru itu menembus kepalamu dan membuatmu terkapar mati karena kebodohan?
"Apa mungkin itu cinta? Kamu baru mengenalku. Pertemuan kita bahkan masih hitungan jari itu pun sebelah tangan."
Ia tidak menjawab pertanyaan yang umum sekali muncul atas dasar keraguan pada kesungguhan perasaannya karena aku sendiri tahu ketika kamu jatuh cinta kamu nggak bisa menjelaskan dengan logika bagaimana bisa hal itu terjadi. Aku dulu jatuh cinta pada Bagas hanya dengan sekali bertemu saat kami dikenalkan dan kemudian kami bertemu lagi untuk mengobrol semalaman yang berakhir aku tidur di tempatnya.
"Aku sudah memperingatkan diriku Nin untuk menahan diriku agar aku tidak terlalu menekanmu yang membuat kamu menjauhiku. Aku berjanji pada diriku bahwa ciuman semalam adalah hal terakhir yang aku lakukan agar aku nggak kehilangan kamu. Aku cukup lega kamu tidak menamparku dan warning-mu padaku pagi ini semakin menyadarkanku namun aku sudah cukup senang melihat kamu masih mau tersenyum padaku. Aku mau kita bisa tetap seperti ini sampai pada titik dimana kita tahu bahwa kita nggak berjodoh."
Gemuruh pesawat yang terkadang menulikan pendengaranku sama sekali tidak membuatku melewatkan satu kata pun yang keluar dari bibirnya.
"Misalnya ketika aku jatuh cinta pada orang lain?"
"Ya." Dia mengangguk dengan senyum pasrah.
"Atau ketika kamu yang jatuh cinta pada orang lain."
Dia meyipitkan matanya sebentar sambil berpikir.
"Ya, bisa juga." Jawabnya lagi.
Perasaan itu muncul lagi. Jauh lebih kuat kali ini karena jantungku berdetak tak karuan bahkan ada desir aneh yang menyertainya hanya dengan mendengar jawabannya. Aku tidak suka aku sudah menanamkan ide itu di kepalanya.Tiba-tiba aku merasa aku tidak mau kehilangan dia.
Kepalaku bergerak ke arahnya dan tanpa peringatan apapun sebelah tanganku bertumpu pada bahunya yang membuat tubuhku sedikit terangkat hingga membuat bibirku berhasil mencium bibirnya.
Kejadiannya sangat cepat dan ia cukup terkejut dengan aksiku.
"Kalau ciuman yang ini..." aku meliriknya yang masih bertahan dengan ekspresi terkejut dan bingung.
"artinya kita pacaran." sambungku sambil memperbaiki posisi dudukku. Aku bersyukur saat melihat penumpang di barisan sebelah sedang tertidur dengan lelap dan penumpang di belakang kami adalah pasangan bule yang sejak tadi mungkin tidak mengerti dengan obrolan kami. Tentang ciuman yang barusan terjadi, kalau pun mereka melihatnya mereka tentu tidak akan menghujatku karena itu bukan hal yang aneh di mata mereka.
"Kamu serius Nin?" aku bisa melihat senyum perlahan terukir di bibirnya.
"Kamu tuli ya?" aku merengut.
"Oke. Oke aku hanya merasa ini..." dia menggeleng tak percaya dengan wajah sumringah. Aku ikut tersenyum dan kali ini membiarkan laki-laki itu membawa tanganku ke dalam genggamannya yang hangat.