Anindira Maheswari
Sepanjang makan malam entah kenapa aku seperti tidak punya gairah untuk bicara. Aku sering diam dan merespon kata-kata Agastya hanya dengan sepatah kata atau kadang dengan anggukan saja. Perasaan yang muncul tiba-tiba ini membuat aku berpikir kembali apakah seorang Aga pantas aku perjuangkan? Aku memandang laki-laki itu yang sedang asyik bercerita tentang pekerjaannya yang dulu sebelum ia pindah ke kantor Papa. Ia begitu bersemangat, begitu bahagia, dan aku sangat menyayanginya saat ini, namun sepenggal kenangan di masa lalu, sebuah pengalaman hidup orangtuaku tiba-tiba terpampang jelas di hadapanku dan memberi efek kejut di kepalaku. Aku lupa sejenak bahwa aku sekarang juga sedang bahagia.
"Kamu punya ibu kan? Tanyakan saja pada ibumu tentang hal ini. Biasanya insting orang tua banyak benarnya."
Kata-kata wanita itu terngiang kembali di benakku. Berulang-ulang. Padahal aku sempat meminta kesempatan padanya untuk membuktikan bahwa feeling-nya bisa saja salah terhadapku namun sekarang tiba-tiba saja aku merasa seharusnya aku tidak berkata seperti itu. Apa yang buruk dari diriku hingga membuat wanita itu tidak menyukaiku?
"Mama bukan menantu pilihan Oma kamu, Nin." Di suatu hari saat aku mulai paham tentang Mama yang selalu murung dan sedih dan Papa yang jarang pulang ke rumah degan alasan sibuk dengan proyeknya, Mama menceritakan tentang sebuah fakta yang menyangkut diriku. Mama dan Papa menikah karena aku. Ya, karena aku sudah terlanjur hadir di saat hubungan Papa dan Mama dalam situasi genting karena hubungan mereka tidak disetujui oleh Oma. Karena aku lah Papa dan Mama tidak jadi putus bahkan mereka akhirnya menikah.
Mama masih sangat mencintai Papa, Papa pun begitu di awal pernikahan mereka. Ketidaksukaaan Oma pada Mama semakin memperkeruh hubungan Papa dan Mama. Tapi selama aku hidup bersama orang tuaku aku meyakini satu hal kalau Papa adalah laki-laki yang setia meski kehidupan rumah tangganya semakin hari semakin tawar. Papa dan Mama sama-sama bertahan demi aku, hingga akhirnya Mama kalah dan jatuh sakit, hingga dia pun akhirnya pergi untuk selamanya.
Tidak lama kemudian Papa berhubungan dengan Adelia, memang mereka tidak langsung menikah tapi tetap saja aku selalu merasa kalau hubungan Papa dan Adelia sudah dimulai sejak Mama masih ada. Dan Oma? Aku tidak pernah melihat Oma sebahagia itu dalam mempersiapkan pernikahan Papa. Wanita tua itu begitu menyayangi menantu barunya yang usianya tidak jauh beda dengan cucunya.
Melihat sikap ibu Agastya kemarin langsung mengingatkanku pada Oma. Wanita tua yang auranya sangat tidak menyenangkan untukku. Aku bahkan tidak pernah dekat dengannya. Oma masih hidup. Sehat walafiat. Wanita tua kaya raya yang banyak menghabiskan waktu di luar negeri. Aku bahkan tidak pernah menganggapnya keluargaku karena aku jarang bertemu dengannya dan sekalipun bertemu dia bukanlah orang yang hangat dan ramah kepada Mama bahkan kepada aku cucunya sendiri.
"Anin, kamu kenapa?" Aga bertanya padaku dengan nada khawatir saat pandanganku menerawang dan tidak fokus pada ceritanya. Aku kembali hanya bisa menggeleng.
"Maafkan Mama aku ya. Kamu nggak pantas diperlakukan seperti tadi." katanya penuh sesal.
"Ga." Aku mencoba memandang matanya dalam-dalam.
"Ya?"
"Aku memang bukan perempuan baik. Feeling mama kamu benar." Aga tersenyum dan menggeleng kemudian meraih tanganku untuk meyakinkan bahwa ia tidak akan terpengaruh dengan hal itu.
"Aku dan Bagas bahkan pernah tinggal serumah dulu. Kamu tahu kan apa yang dilakukan dua orang yang saling mencintai dalam satu rumah?" Aga menjilat pelan bibirnya dengan mata yang tidak mengarah padaku. Perlahan tanganku terlepas dari genggamannya.
"Kamu mau cari alasan untuk nggak bersama denganku?" ia kembali memandangku dengan wajah sedikit tegang. "Aku nggak peduli kalau kamu pernah tinggal serumah atau bahkan menikah dengan laki-laki itu. Tapi sekarang kamu sama aku, Anin. Aku nggak masalah dengan semua yang pernah terjadi di masa lalu."
Aku bisa merasakan kedua bola mataku basah mendengar kata-katanya.
"Mungkin sekarang kamu bisa bilang seperti itu, tapi kita nggak tahu besok saat kita menikah hal ini bisa jadi bom waktu untuk kita." kataku lagi. Dia berdecak memandangku. Ia pasti tidak percaya kenapa aku bisa berubah pikiran dengan begitu cepat.
"Kamu benar-benar ingin putus denganku?"
"Kita baru saja jalan seminggu, Ga. Belum terlambat."
"Kamu tega, Nin."
"Untuk kebaikan kita."
"Bullshit!" Aga menggeram dan menyapu wajahnya dengan kedua tangannya. Aku rasa keputusanku ini ada benarnya karena aku tidak mau kehidupan orangtuaku terulang kembali dalam kehidupanku. Seharusnya aku tidak bisa menyamakan nasib aku dan Aga akan berakhir seperti kedua orangtuaku tapi apa yang terjadi pada Mama terlalu membekas kuat dalam batin dan pikiranku. Aku tidak mau aku melewati jalan yang sama dengan Mama. Menjadi orang yang tidak disukai.
"Apa yang membuat Oma nggak suka sama Mama? Mama baik begini kok." Protesku suatu waktu dalam dekapan Mama.
"Klasik sih. Karena status sosial yang beda. Keluarga Papa kamu kaya raya dan keluarga Mama hanya orang biasa."
"Huh, aku benci orang kaya." Gerutuku saat itu.
"Tapi kamu akan selalu di bilang anak orang kaya, Nin."
"Besok kalau Anin punya pacar, Anin nggak akan melihat latar belakang cowok itu." Janjiku.
"Jadi begini saja akhirnya?" sorot mata Agastya begitu terluka dan aku tidak sampai hati melihatnya.
"Ya." Jawabku dengan nada tercekat sedikit menunduk. Kerongkonganku tiba-tiba sesak.
"Baiklah. Aku antar kamu pulang." laki-laki itu berdiri dari duduknya dan berjalan ke kasir. Aku hanya mengikuti langkahnya dengan kaki yang tak bertenaga. Menyakitkan memang kalau kamu menjadi orang yang tidak diinginkan. Tidak saja hatimu yang sakit namun egomu juga terluka. Kalau alasan Oma dulu tidak menyukai Mama hanya karena status sosial tapi kenapa dia begitu menerima Adelia dengan tangan terbuka? Sepengetahuanku keluarga perempuan itu bukan keluarga kaya. Lalu apa yang membuat Oma tidak suka pada Mama? Aku rasa ada suatu kecenderungan pada manusia yang bisa membenci sesuatu tanpa alasan jelas. Mereka hanya tidak suka. Itu saja.
Aga menurunkanku di depan rumah tanpa sepatah kata dan langsung memacu kembali mobilnya meninggalkanku. Aku rasa aku pantas diperlakukan seperti ini. Baiklah semua sudah berakhir. Aku tidak perlu risau untuk berjuang mendapatkan hati ibunya. Aku rasa akan ada laki-laki lain dalam hidupku yang ibunya bisa menerimaku dengan penuh cinta. Aku menghembuskan napas kencang dan kemudian berjalan masuk ke rumah. Namun dadaku tiba-tiba terasa kosong. Hampa. Perih. Seharusnya perasaanku tidak sesakit ini, karena kami baru bersama satu minggu.
***
Dimas Agastya
Aku tidak tahu apa yang membuat Anin berubah begitu cepat. Sisa kagumku belum hilang padanya melihat keberaniannya menghadapi Mama, namun tidak berapa lama kemudian ia tiba-tiba memutuskan untuk berhenti berjuang. Aku mencoba untuk bisa memahami Anin, bahwa sangat tidak menyenangkan bila kamu tidak disukai tanpa ada alasannya yang jelas. Aku mencoba mengerti bahwa Anin tidak seharusnya berjuang untuk cintaku. Aku yang mengejarnya, aku yang mencintainya terlebih dahulu dan aku seharusnya tidak menempatkannya pada posisi yang membuat dia sedih dan sulit. Kalau aku mencintainnya maka aku harus melepaskannya. Begitu kan?
"s**t!!" aku menghantam kemudi mobilku dengan kepalan tangan. Aku meraih ponselku dan menelepon Mike.
"Lu masih di Bali?"
"Masih lah."
"Lu dimana sekarang."
"Sky Garden"
"Gue nyusul ya."
"Oke!!"
Aku mengarahkan mobilku ke Kuta. Mike menyambutku dengan raut wajah heran karena aku seharusnya tidak bisa kemana-mana dengan adanya Mama di Bali dan selain itu, aku laki-laki yang sudah punya pacar dan biasanya kalau punya pacar Mike tidak akan bisa berhasil membujukku untuk pergi ke klub seperti biasanya.
"Gue putus." Aku menjawab tanya di wajah Mike.
"Serius?"
Aku hanya mengangguk dan mengajak Mike untuk masuk ke dalam ruangan yang minim cahaya namun menyilaukan itu. Manusia begitu berjejal di dalamnya. Dari yang berwajah bule hingga wajah-wajah lokal. Mike ternyata datang bersama beberapa orang, dua diantaranya perempuan dan sepertinya salah satu dari mereka adalah mainan baru sahabatku itu selama di Bali. Perempuan berwajah bule namun berlidah lokal itu menempel terus pada Mike. Namanya Carla. Sedangkan perempuan yang satunya berwajah lokal, sangat manis dan tentu saja seksi dalam balutan mini dress yang menempel erat di tubuhnya. Ia sudah terjun ke lantai dansa bersama seorang laki-laki kemayu yang juga masuk dalam rombongan Mike. Aku tidak bisa langsung menghafal semua nama-nama mereka karena tempat ini cukup bising dan aku hampir tidak bisa mendengar saat mereka menyebutkan nama kala berkenalan tadi.
Mike dan Carla sudah asyik bergoyang di lantai dansa dan meninggalkanku di bar dengan segelas vodka. Aku memainkan gelas di tanganku tanpa berniat meminumnya dulu. Menatap tajam bongkahan es batu besar di dalamnya yang beregarak ke kiri dan kekanan seiring gerakan tanganku.
"Hi," seorang perempuan mendekatiku. Dulu kalau ada kejadian seperti ini aku akan diam seribu bahasa dan membuat perempuan yang mendekatiku akan hilang rasa dan kemudian meninggalkanku sendiri.
"Hi," balasku sambil tersenyum pada perempuan cantik itu.
"Sendirian aja?"
"Sekarang iya. Teman-temanku lagi disana." Aku menunjuk lantai dansa.
"Mau ditemenin?" ia mengerling menggoda ke arahku.
"Boleh."
Perempuan itu tersenyum sumringah kemudian duduk di sebelahku.
"Mau minum apa?" Tawarku.
"Sama kayak kamu." Dagunya bergerak ke arah gelasku.
"Kamu minum vodka?"
"Ya, kenapa enggak?"
Aku tersenyum kecil kemudian meminta bartender menyiapkan minuman yang sama denganku.
"Kanapa minumannya hanya diliatin aja?"
Aku tersenyum tanpa berniat menjawabnya.
"Lagi putus cinta?" aku mengangkat wajahku memandangnya. "Sepertinya benar." Sambungnya lagi. Ia mengangkat gelasnya ke hadapanku dan kemudian menyentuhkan gelas itu ke gelasku.
"For a better girl. Better future." Katanya saat gelas kami berdenting. Ia kemudian menenggak minuman itu dengan pandangan yang tetap tertuju padaku. Aku kemudian mengangkat gelasku dan menyesap isinya. Aku tidak tahu apakah aku bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik dari Anin? Saat ini aku masih begitu tergila-gila padanya. Bagiku dia yang terbaik.
Perempuan yang bahkan belum aku tahu namanya itu tiba-tiba sudah turun dari kursinya kemudian mendekatiku. Ia menarik tanganku.
"Ikut aku." Katanya dan aku begitu saja menuruti keinginannya berbaur bersama banyak orang di lantai dansa. Ia mengalungkan kedua tangannya di leherku hingga membuat jarak kami sangat dekat dan aku bisa mencium wangi vodka dari bibirnya. Tubuhnya bergerak menggoda mengikuti irama musik sedangkan aku hanya bisa bergerak kaku mengikutinya.
"You're not bad." Katanya dengan senyum tertahan saat melihat aku yang bergerak di luar irama. Aku rasa ini bukan ide yang bagus. Aku kemudian melepaskan kedua tangannya yang terus berpindah dari leher ke dadaku.
"Kenapa? Ayolah. Kamu bakal melupakan kesedihan kamu sesaat." Ucapnya berusaha menahan tanganku.
"Aku nggak pengen melupakan kalau itu hanya sesaat." Aku mencoba menepis tangannya namun perempuan itu dengan sigap menarik kemejaku menghadapnya kemudian mencium bibirku. Tubuh kami tidak berjarak sehingga aku bisa merasakan semua bagian tubuhnya menempel padaku saat ini. Ia begitu lihai memainkan bibirnya dan membuatku tak berdaya untuk menolaknya. Kami berciuman begitu menggebu di antara puluhan orang disekitar kami yang bahkan tidak peduli dengan apa yang sedang kami lakukan.
"Bagaimana?" dia berbisik sangat dekat. Aku kemudian melepaskan tangannya yang masih menempel di tubuhku.
"Aku nggak bisa. Maaf."
"Hei." Ia mengejarku.
"Aku Alisha." Dia mengulurkan tangannya padaku.
"Agastya." Jawabku sedikit enggan kemudian melepaskan genggaman tanganku. Aku kembali ke bar dan melihat Mike menyambutku dengan senyum penuh arti.
"Agastya, bisa aku tahu nomor kamu?"
"Apa?" ulangku karena kami sudah cukup berjarak dan ruangan ini sangat bising.
"Nomor kamu." Ia sedikit memajukan tubuhnya ke arahku.
"Maaf." Aku menggeleng dan membuat senyum di wajah cantiknya lenyap. Mike sedikit melotot ke arahku saat tahu aku menolak perempuan bernama Alisha itu. Tapi aku rasa aku sedang tidak tertarik untuk mencari perempuan lain dalam waktu dekat ini. Aku hanya ingin Anin. Aku hanya ingin menciumnya saat ini. God, I miss her so much dan ini baru beberapa jam saja. Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan saat bangun esok pagi dan menyadari bahwa aku tidak bisa memeluknya.
"Aku pulang." Kataku sambil menepuk bahu Mike dan berlalu begitu saja.
Aku bersyukur aku masih dalam kadaan sadar sepenuhnya dan tiba di rumah dengan selamat semalam. Namun, aku bangun dengan kepala berat dan pusing yang tidak terkira. Aku memaksa diri bangun karena ponselku di atas nakas terus bergetar dan menimbulkan bunyi gaduh yang terasa sangat mengganggu. Mataku terpaku pada jam dinding di dekat pintu dan kemudian menyadari satu hal. Aku sudah terlambat dari janjiku dengan Mama.
Dengan tertatih aku menuju kamar mandi dan menyegarkan diriku di sana. Setengah jam kemudian aku memacu mobilku menuju Sanur. Tiba-tiba rasa mual menyerang dan membuat aku menyempatkan singgah ke Starbucks untuk mengenyahkan mual ini dengan segelas kopi.
"Maaf, Ma. Telat bangun." Kataku di telepon sambil menunggu pesanan kopiku disiapkan. "Iya ini on the way ke sana. Sabar ya, Ma." Aku berjalan menuju mobil sambi menyeruput Americano panas. Sebuah pesan masuk dan harapanku begitu besar kalau Anin akan menghubungiku dan mengatakan penyesalannya. Namun aku salah. Sebuah nomor tidak dikenal.
Hi, Aku Alisha yang semalam. Aku dapat nomormu dari Mike. Maaf kalau kamu nggak suka aku menghubungi kamu seperti ini tapi kalau misalnya kamu berubah pikiran kamu bisa hubungi aku kapan saja.
Aku berdecak tak percaya kemudian memacu mobilku kembali tanpa berniat membalas pesan itu. Aku tiba di hotel disambut dengan wajah cemberut mama.
"Kalian ngapain aja semalam sampai kamu bangun telat gini?" omel Mama.
"Jangan menuduh Anin sembarangan, Ma. Aku bersama Mike semalam." Kataku sambil menghempaskan tubuhku di ranjang.
"Mike? Di Bali juga kamu masih gaul sama dia?"
"Dia lagi liburan, Ma."
"Mama nggak suka sama Mike." Kata Mama sambil membereskan tasnya.
"Mama selalu nggak suka sama semua pilihanku. Teman atau pacar." Aku balik menyerang Mama yang membuat kening wanita itu berkerut.
"Emangnya Mama dulu nggak suka sama Vidia, pacar kamu itu?" Seru Mama sambil melangkah ke hadapanku.
"Aku memilih Vidia karena Mama. Alam bawah sadarku selalu mengarahkanku pada perempuan yang aku kira Mama akan suka. Dan benar kan? Begitu juga Kiara." Kerutan di kening Mama semakin bertambah. Kedua kelopak matanya melebar sebagai ekspresi tak percaya dengan semua kata-kataku. Ini kali kedua aku menyinggung Mama dengan hal yang sama. Kalau saat itu aku sedikit menyesal karena membuat Mama terluka tapi kali ini tidak,
"Menurut kamu Mama jahat begitu? Karena kamu merasa keinginan Mama sudah menyetir keinginan kamu?"
"Iya. Mama nggak akan pernah suka Anin kan? Sebesar apapun usaha dia nantinya. Anin nggak pantas mendapat perlakuan seperti kemarin." Kataku dengan sorot mata tajam memandang Mama. Rasa putus asaku kini kulampiaskan pada wanita di depanku ini.
"Setelah kamu jadi orang tua kamu pasti akan mengerti." Mama menggeleng lemah.
"Tapi Mama sudah menang, Anin memutuskanku." Aku kemudian beranjak menuju pintu. "Aku tunggu di lobi. Oh ya, kalau Mama mau mengajak Kiara aku nggak apa-apa." Kataku lagi sebelum benar-benar keluar dari pintu kamar.
Setengah jam kemudian Mama muncul bersama Kiara. Aku tersenyum kecut mengetahui kenyataan bahwa Mama mengikuti anjuranku.
"Mama sama Kiara hanya mau belanja." Mama kemudian berlalu dari hadapanku begitu saja sambil menggandeng Kiara. Aku hanya bisa mengikuti mereka dengan perasaan yang berbalut kesal. Mama meminta aku mengantarkan mereka ke Ubud. Sepanjang perjalanan aku hanya menjadi pendengar obrolan mereka. Lebih tepatnya, cerita Mama. Tentang Mas rama dan keluarganya, tentang masa kecil kami dan tentang dia yang berjuang membesarkan aku dan mas Rama dengan gaji pensiunan Papa dan gajinya sendiri yang dulu adalah seorang sekretaris di sebuah perusahaan BUMN.
"Sebagai sekretaris dengan predikat janda, tante kadang selalu mendapat perlakukan tidak menyenangkan dari beberapa klien perusahaan. Sangat nggak menyenangkan di posisi itu, Ra. Tapi sebagai sekretaris tante bisa tahu banyak tentang watak orang-orang yang sering tante temui. Itu yang membuat tante bisa menilai orang hanya dengan sekali lihat. Dan biasanya banyak benarnya." Ada nada bangga dalam suara Mama.
"Banyak benarnya berarti kadang Mama salah juga kan?" celutukku dari balik kemudi.
"Kemampuan tante itu banyak menolong tante, Ra. Tante bisa langsung menghindar saat tante tahu kalau orang yang di depan tante bermaksud nggak baik." Mama tidak peduli dengan celutukanku, aku hanya melihat ia sempat melotot ke arahku melalui kaca spion tengah sebelum lanjut bercerita pada Kiara. Aku tidak tahu apa maksud dari kata-kata Mama, mungkin saja ia sedang menyindirku.
"Tante hebat. Tante berhasil membesarkan Mas Rama dan Mas Aga sendirian." Kiara berkata sopan.
"Itu memang tugas tante, Ra. Tugas semua ibu." Aku kini mengerti Mama sedang mengirimkan pesan tidak langsung kepadaku bahwa pada dasarnya orang tua tidak pernah ingin mencelakakan anaknya termasuk dalam hal jodoh. Tapi orang tua tidak selamanya benar bukan?
Kami tiba di pasar seni Ubud. Mama sudah sibuk menawar-nawar barang di sebuah kios. Kiara perlahan mendekatiku.
"Mas Aga, aku mau minta maaf."
"Untuk apa?"
"Untuk semua." Ia memandangku sekejap kemudian kembali membuang pandangannya ke arah lain. "Aku terlalu memaksakan diri untuk bisa mendapatkan kamu kembali. Sampai-sampai aku kehilangan akal dan melakukan hal-hal yang seharusnya nggak aku lakukan." Aku memandangnya yang saat ini sedikit tertunduk.
"Aku tahu Anin ada di kafe itu dan aku memang sengaja ke sana. Aku minta maaf. Dan aku nggak akan memaksakan keadaan lagi. Aku harap kamu dan Anin bisa terus bersama." Dia sedikit terbata saat mengakhiri kalimatnya. Aku bahkan tidak berniat memberitahukan padanya kalau aku dan Anin sudah tidak bersama. Mungkin saja dia akan tahu dari Mama nantinya.
"Aku juga minta maaf." Balasku.
"Oke. Aku nyusul tante ya." Dia berkata padaku kemudian berjalan menyusul Mama yang masih terlihat berkeras dengan harga yang ia tawar dari sang penjual. Aku meraih ponselku dan menatap nanar layar itu. Tidak ada satupun pesan yang aku harapkan. Aku kemudian mengetikan sesuatu di sana.
Anin, aku rindu