Sepuluh Tahun Lalu
Anindira Maheswari
Aku melangkah dengan mengendap-endap lewat pintu belakang. Telunjukku kuletakkan di depan bibir saat melihat Bik Yuni yang sedang mengepel lantai dapur cukup terkejut dengan kehadiranku. Aku masih mengenakan rok abu-abu dengan atasan yang sudah berganti dengan t-shirt pink. Jam sudah menunjuk pukul 5 sore yang artinya aku sudah terlambat pulang ke rumah hampir 3 jam. Aku mendapati rumah cukup lengang dan menarik napas lega. Papa seperti biasa pasti belum pulang, sedang Mama pasti sedang menyendiri di ruang baca.
Aku tahu aku salah karena sudah mengabaikan telepon Mama, itu karena aku tahu Mama sudah tahu kebohonganku dan aku tidak mau Mama mengomeliku di telepon dan menyuruhku cepat pulang di saat aku masih ingin bersenang-senang dengan sahabat-sahabatku. Aku memilih menerima hukuman apapun nantinya dari pada mendengar perintah untuk pulang ke rumah.
Saat aku berangkat pagi tadi aku bilang pada Mama akan ada les tambahan pelajaran Bu Berta di sekolah dan aku bisa pulang bareng Sasha, tapi yang terjadi adalah aku, Sasha, Anneth dan Dita nongkrong di Pondok Indah Mal untuk sekedar mencoba sebuah gerai es krim terkenal yang baru dibuka di sana.
"Kamu dari mana?" aku terlonjak saat mendengar suara Mama. Aku mengangkat wajahku dan mendapati Mama di ujung tangga sedang bersiap turun, di tangannya ada dua buah guci keramik.
"PIM." Jawabku pelan.
"Besok-besok kamu nggak perlu bohongin Mama. Untung tadi waktu Mama telepon Bu Berta, Mama nggak langsung nanyain tentang les tambahan bohongan kamu itu jadi dia nggak perlu tahu kalau siswanya udah manfaatin namanya buat bohongin orang tuanya." Omel Mama.
"Maaf, Ma."
Mama menuruni tangga hingga kami bertemu di anak tangga pertama.
"Mama mau ngapain?" aku kemudian mengekor Mama dari belakang.
"Oma kamu datang dari Belanda. Sekarang dia lagi di kantor sama Om Roni."
"Ngapain sih Oma pake datang-datang?" Rajukku. Aku melihat mama meletakkan dan menata guci-guci itu pada lemari pajang di ruang tamu dan tidak lama Pak Salim muncul sambil membawa dua guci super besar yang langsung diarahkan Mama untuk diletakkan di sudut ruang tamu.
"Terus Mama lagi menyiapkan penyambutan gitu?" Mama menoleh ke arahku dan tersenyum dengan pertanyaanku.
"Guci-guci keramik ini harus ada saat Oma kamu datang. Semua guci ini kan pemberian dia. Bisa jadi perang dunia kalau dia datang dan nggak menemukan guci-guci pemberiannya di ruang tamu ini." Aku tersenyum paham. Tentu saja perempuan tua cerewet yang aku sebut Oma itu suka sekali merecoki aturan yang Mama buat di rumah ini. Gaya Mama dalam mendekorasi isi rumah ini selalu ia kritik, apa yang Mama lakukan tidak pernah ada yang benar di matanya. Padahal Mama seorang desainer interior handal yang memang sudah lama meninggalkan profesinya itu sejak menikah dengan Papa.
"Kamu jangan bengong di situ, ayo bantu Mama."
Aku menghentakkan kaki kesal. Aku tidak tahu berapa lama perempuan tua itu akan tinggal di rumah ini dan akan menjadi duri dalam daging bagi Mama.
Sekitar pukul 8 malam Papa pulang bersama Oma. Aku kemudian berpikir kenapa Oma tidak menginap di rumah Om Roni. Tante Gita, istri Om Roni adalah menantu kesayangannya. Atau ia bisa saja menginap di salah satu hotel bintang lima terbaik di kota Jakarta Raya ini. Tapi kenapa memlih rumah kami? Apakah hanya karena Papa anak sulung atau memang dia sengaja ingin menyiksa batin Mama?
"Who are you?" sapa Oma saat melihatku menyambutnya di depan rumah.
"Anindira, Oma." Jawabku sedikit memiringkan kepalaku biar terkesan manis.
"No." Perempuan itu menggeleng. "Dulu kamu hanya setinggi ini." Ia memperagakannya dengan tangannya yang ia acungkan di dekat pinggangnya.
Aku menciptakan tawa palsuku mendengar candaannya. Ia mendekatiku dan mengacak-acak rambutku. Begitu saja. Tanpa ada rangkulan hangat atau ciuman mengingat sudah hampir dua tahun kami tidak bertemu. Dua tahun yang menyenangkan tentunya.
Mama seperti biasa mencium tangan perempuan itu yang hanya di balas dengan senyum tipisnya yang masih saja angkuh. Aku ingin sekali rasanya menjambak kondenya yang setinggi menara babel itu.
"Oma kapan pulang ke Belanda?" Bisikku pada Papa saat kami berjalan masuk ke dalam rumah.
"Huss! Baru datang kok langsung ditanya kapan pulang."
"Oma selalu bawa aura horor dirumah ini. Anin takut, Pa." Papa tertawa dan mengacak poniku. Seperti biasa Papa tidak pernah tahu kalau apa yang aku bicarakan ini benar. Aku sedang tidak bercanda. Rumah ini akan berubah horor setiap kali Oma ada di sini. Khususnya bagi Mama dan aku.
Jadi ceritanya, orang tua Papa punya perusahaan Furniture yang mereka rintis sejak mereka baru menikah. Perusahaan itu semakin berkembang hingga melakukan kontrak dagang dengan sebuah perusahan importir di Belanda. Pasangan itu bolak-balik Eropa-Indonesia semudah orang naik metromini tanah abang-kebayoran. Itulah yang menyebabkan Opa membeli beberapa apartemen di beberapa kota besar di Eropa mengingat mereka banyak menghabiskan waktu di sana. Ya, sekaya itu memang kakek dan nenekku.
Dari kedua anaknya yaitu Papa dan Om Roni, hanya Papa yang usahanya sedikit melenceng. Papa tetap memilih berkarir dengan usahanya sendiri sehingga Om Roni lah yang akhirnya sekarang membantu Oma di perusahaanya semenjak Opa meninggal lima tahun lalu. Oma lebih banyak tinggal di Eropa dan itu fakta yang menguntungkan Mama. Aku tidak bisa membayangkan kalau Oma juga tinggal di Jakarta dan bisa setiap saat menghantui rumah ini .
Dan benar saja, baru sehari Oma berada di rumah, aku mendapati Mama menangis di ruang baca. Aku sudah menduga akan hal ini. Dari balik pintu aku bisa melihat Mama sedang berusaha untuk menghalau air mata yang membasahi wajahnya. Ia pasti tahu aku sudah pulang sekolah dan ia tidak mau aku melihatnya dalam keadaan seperti ini.
"Ma." Panggilku pelan.
"Hi, Nak." Mama menyunggingkan senyum seraya bangkit dari sofa besar yang diletakkan di sebelah rak buku besar yang sarat dengan berbagai jenis buku bacaan. Ruangan ini selalu menjadi tempat pelarian Mama khususnya saat ia sedang sedih.
"Oma marahin Mama lagi?" Aku menyambut rangkulan Mama dan mengikutinya duduk di sofa.
"Nggak." Mama menggeleng dengan jejak air mata yang masih jelas membekas di wajahnya.
"Kenapa Oma jahat banget sama Mama? Seharusnya Oma lebih membenci Anin."
"Kok gitu?" Mama mengelus rambutku mencoba meredakan emosiku.
"Anin kan penyebab Mama dan Papa menikah. Anin kan yang merusak rencana Oma."
"Jangan ngomong gitu, Nin. Mama sedih." Kedua bola mata Mama kembali mengkristal.
"Kali ini apa lagi yang Oma bikin, Ma sampai Mama sesedih ini." Aku meraih tangan Mama berusaha menembus kedalaman hatinya lewat matanya yang basah itu. "Anin sudah dewasa, Ma. Udah mau 18 tahun. Mama cerita dong." Aku sedikit mengguncangkan tangan Mama dalam genggamanku.
Mama masih diam dan balas memandang mataku. Ia menghela napas begitu berat.
"Mama dengar pembicaraan Papa dan Oma. Oma meminta Papa menceraikan Mama karena dia sudah tahu kalau antara Papa dan Mama sudah nggak ada cinta."
"Mama udah nggak mencintai Papa?" tanyaku hati-hati.
Mama tersenyum kecil.
"Mama masih sangat mencintai Papa kamu, Nin. Tapi sepertiny Papa kamu yang sudah lama nggak punya rasa itu lagi ke Mama. Mama udah pernah bilang pada Papa kamu untuk menceraikan Mama. Tapi Papa nggak mau. Dia masih memikirkan kamu, Nak. Papa kamu sayang sama kamu. Dia nggak mau perceraian mempengaruhi kamu nantinya."
Aku terdiam.
"Anin nggak apa-apa kalau Papa dan Mama cerai. Anin juga nggak mau melihat Mama terus bersedih seperti ini."
"Anin." Mama kemudian merengkuhku dalam pelukannya.
***
Anindira Maheswari
Barang-barang yang dikirimkan Pak Salim dari Jakarta baru saja tiba. Aku terpekur menatap ruang tamuku yang sekarang terlihat sesak dengan tambahan dua sofa single, sebuah nakas, dus yang berisi gorden-gorden dan bed cover bahkan sebuah springbed beserta ranjangnya. Aku memang mengeluarkan biaya yang tidak murah untuk mendatangkan barang-barang ini. Namun aku puas karena aku bisa merasakan jiwa Mama ada bersama barang-barang ini.
Hal ini lah yang membuat aku terbawa kembali ke suatu waktu di sepuluh tahun lalu. Aku mulai menyadari bahwa hidup Mama bersama Papa tidaklah mudah. Meskipun aku begitu marah dan membenci Papa saat ini namun ketika aku mengingat kata-kata Mama tentang betapa Papa bertahan hidup bersama Mama demi aku, aku tahu bahwa laki-laki itu sangat mencintaiku. Namun terkadang sebuah niat baik belum tentu mendatangkan kebaikan. Niat Papa agar tidak melukaiku dengan perceraian justru menimbulkan luka lain di hatiku. Luka karena melihat Mama menderita. Luka yang akhirnya membawa trauma dalam percintaanku dengan Agastya.
Tanganku bergerak ke dadaku karena rasa sakit itu kembali muncul. Aku tidak berencana untuk jatuh cinta pada laki-laki itu. Tapi aku jatuh begitu saja dan berakhir dengan rasa sakit seperti sekarang. Aku pikir waktu seminggu tidak akan meninggalkan luka sedalam yang aku rasakan saat ini. Aku tidak pernah menduga ketika ia meninggalkanku semalam perlahan ia juga merenggut dan membawa hatiku pergi.
Aku berlari kembali ke kamar dan membuang tubuhku ke ranjang berusaha untuk tidak menangis namun sebuah kalimat pendek di layar ponselku segera meruntuhkan butir-butir air mata itu.
Anin, aku rindu
Aku masih terisak saat mendengar suara Kikan dari depan pintu.
"Gila, Nin! Kamu baru habis belanja? Ini gimana aku lewatnya?" Terdengar Kikan sedikit mengaduh mungkin kakinya terantuk sesuatu.
"Aku bawa kopi, nih!" Kikan berseru dari bibir pintu dan ia langsung menyadari bahwa aku sedang dalam situasi tidak normal.
"Anin!" panggilnya lagi sambil berjalan mendekatiku. "Kamu nangis kenapa?"
"Gue sama Aga putus." Jawabku dengan posisi yang masih menelungkup di ranjang.
"Kok bisa? Kenapa?"
Aku membawa tubuhku bangkit dan mengulurkan tangan meminta kopi yang sedang dibawa Kikan. Dan aku pun mulai bercerita tentang semuanya. Semua yang terjadi dalam seminggu ini.
"Kalau kamu cinta kenapa kamu membiarkan diri kamu patah hati?"
"Lebih baik patah sekarang dan menyembuhkannya dari pada lo hidup dengan hati yang terus retak dan akhirnya patah seperti Mama sepanjang ia hidup. Jauh lebih menderita, Kan."
Kikan mengangguk dan mengelus-elus punggungku.
"Gue bahkan bilang sama dia tentang gue sama Bagas yang pernah hidup serumah. Gue berharap dia benci gue tapi dia tetap sayang sama gue, Kikan." Aku menggigit bibirku kuat-kuat mencoba untuk mengendalikan perasaanku.
Kikan kemudian meraihku dalam pelukannya.
"Semua pasti berlalu, Nin." Bisik Kikan.
"Lo gimana, Kan? Masalah lo sama Matt?" aku melepaskan pelukan Kikan dan memandang sahabatku itu yang untuk kedua kalinya menjadi penghiburku di saat aku patah hati. Dia hanya mengedikan kedua bahunya.
"Aku masih nunggu dia berubah pikiran. Kalau nggak ya sudah kita cerai mumpung belum punya anak." Ucapnya enteng.
"Sorry ya, Kan disaat lo lagi sedih gue nggak bisa menghibur lo. Gue merasa begitu egois."
"Nggak usah ngomong gitu, Nin. Aku nggak apa-apa kok."
"Maafin gue ya."
"Apaan sih?" Kikan berdecak dan tertawa.
Ponselku berbunyi dan membuat aku sedikit terlonjak tidak seperti biasanya. Jantungku selalu berdegup kencang setiap kali ponselku bergetar atau berbunyi karena aku selalu berharap itu dari Aga.
"Anneth?" gumamku pelan sedikit mendengus sebelum menjawab teleponnya.
"Hey, b***h!" jerit Anneth di seberang sana.
"Waddap, b***h?" balasku dan membuat satu alis Kikan terangkat naik.
"Eh, Nin gue cerita ke Dita sama Sasha kalau gue ketemu lo di Bali. Lo tahu nggak apa yang mereka bilang?"
"What b***h?" kataku dan membuat Kikan menggeleng dan terkikik.
"We're having a reunion next week, b***h!!" jeritnya kesenangan di ujung sana.
"What? Gila lo ya gue nggak bisa kalau minggu depan gue ada kerjaan."
"Yaaaa...." Anneth terdengar kecewa.
"Hidup lo asyik banget, Neth. Lo bukannya baru liburan ke sini kemarin?"
"Lo ketinggalan berita banget sih, Anin. Gue sama Adith kerjaannya memang begitu."
"Emang apa kerjaan lo?"
"We're influencer, b***h! Adith salah satu youtuber terkenal kali! Lo kemana aja sih? Lo sama sekali nggak tau ya? Pantesan gue sama anak-anak nggak bisa ketemu lo di medsos. Lo nggak punya akun IG atau twitter gitu? Lo golongan boomer ya? Kuno amat sih lo!" Anneth merepet tak putus di ujung sana.
"Oh My God? You are an influencer? How do you influence your followers with those bad words? That's so wrong, Anneth."
"Bad words gue hanya gue pake sama lo-lo aja. Buka gih IG gue lo bakal tau imej gue di sana kayak apa?"
"Really?" kataku sangsi.
"I have 140.000 followers, b***h!
"Tapi lo nggak ingat imej lo waktu lo nyapa gue dengan b***h-b***h gitu waktu di The Soul?"
"Iya sih gue lupa saking gue seneng banget ketemu lo. Tapi di sana kan bule-bule semua nggak ada yang bakal tau gue." Katanya penuh percaya diri. Aku kemudian menimpali kata-katanya dengan tawa.
"Gue sih seneng banget bakal bisa ketemu kalian lagi tapi jangan next week lah."
"Tapi Dita sama Sasha bisanya minggu depan. Gimana dong?"
Aku berpikir sebentar.
"Oke gue selesai kerja minggu siang. Kita masih sempat ketemuan sore sampai malamnya."
"Yes! Nggak apa-apa sih yang penting kita bisa reuni lagi berempat."
"Oke."
"Oh ya gue kasih nomor lo ke Dita dan Sasha. Jangan lupa cek IG gue dong dan follow ya. Subscribe akun Youtube gue sama Adith dong ya. Nanti gue kasih linknya."
"Iyaaaa." Jawabku sekaligus menghentikan kebawelannya.
Aku memutus sambungan telepon masih dengan sisa tawa di bibirku. Aku merasa kesedihanku sedikit berkurang dengan kehebohan Anneth. Jujur aku merindukan mereka.
"Kita makan siang yuk." Ajakku pada Kikan yang juga sedang asyik menatap layar ponselnya.
"Matt?" tanyaku. Ia menggeleng.
"Ibu." Jawabnya dengan senyum.
"Oh." Aku ikut tersenyum karena aku sangat merindukan hubungan seperti Kikan dan Ibunya. Aku merindukan Mama.
***
Dimas Agastya
Pagi ini aku harus ke proyek lebih pagi mempersiapkan meeting bersama Pak Hariadi yang adalah pemilik hotel dan juga Pak Hirmawan yang akan tiba dari Jakarta pagi ini. Proyek sedang dalam tahap menyelesaikan Struktur Bawah dan pertemuan dengan Pak Hariadi sekali lagi untuk menjelaskan dan menentukan tata letak, rancangan, metode konstruksi, dan taksiran biaya. Masalah yang ditimbulkan karena perbedaan antara gambar kontrak, BQ dan RKS.
Ini bisa dibilang rapat besar pertama dalam proyek hotel ini. Aku sudah mempersiapkan shop drawing untuk menjelaskan item dan volume pekerjaan. Pak Hariadi mengajukan beberapa permintaan yang berujung pada perubahan beberapa material. Ardi mulai menjelaskan dulu tentang Strukturnya yang memang menjadi bagian keahlian dia.
"Untuk finishing nantinya kenapa harus mengubah sistem pengerjaan kusennya?" Pak Hariadi melihat ke arahku.
"Karena dengan dry system kualitas pemasanganya akan jauh lebih rapi, Pak. Dan proses pengerjaannya lebih cepat. Jadi kita akan memasang kusennya setelah finishing dinding. Jadi nggak bersamaan dengan pemasangan bata dinding." Jelasku.
Pak Hariadi tampak mengangguk-angguk.
"Saya mau bahas juga tentang warna cat untuk interior dan eksterior dan itu..." tangan Pak Hariadi bergerak-gerak di udara sambil berpikir. "pemilihan kaca untuk skylight dan kanopi. Saya pengen material kacanya dirubah. Bisa kan ya?"
Begitulah rapat berlangsung dengan membahas hal-hal seputar pelaksanaan proyek, penyampaian keinginan Pak Hariadi, serta pembahasan kontrak kerja selanjutnya.
Pak Hariadi sudah meninggalkan proyek. Aku masih berdiskusi dengan Ardi dan Pak Arland. Pak Hirmawan kembali masuk ke ruangan setelah mengantar Pak Hariadi ke mobilnya.
"Aga. Saya mau bicara sebentar." Panggilnya. Aku kemudian mengikuti langkahnya ke luar diiringan tatapan penuh arti dari Ardi dan Pak Arland.
Aku dan Pak Hirmawan berdiri tidak jauh dari tebing yang mengarah pada laut lepas di bawahnya.
"Saya tahu kamu pergi bersama Anin sore itu." Pak Hirmawan membuka obrolan kami. "Orang rumah yang bilang kalau Anin naik ke mobil seorang laki-laki yang aku rasa itu kamu. Benar?"
"Benar, Pak."
"Kalian berteman?"
"Kami...." Aku terdiam karena aku bingung mendefinisikan hubungan kami saat ini. Aku tahu Anin sepertinya sudah mantap memutuskanku tapi aku tidak. Aku masih belum mau melepaskannya. Aku akan berjuang mendapatkannya kembali dan meyakinkan bahwa kami bisa melalui semua ketakutannya yang aku sendiri belum tahu apa itu.
"Saya mencintai Anin, Pak." Kataku tanpa mengarahkan pandanganku pada Pak Hirmawan.
"Anin bisa saja memanfaatkan kamu. Hubungan kami akhir-akhir nggak baik."
"Saya tahu semua itu, Pak. Anin menceritakan semua rencana awalnya terhadap saya." Aku tersenyum kecil mengenang itu.
"Jadi kalian pacaran?"
Aku hanya terdiam.
"Jadi benar." Pak Hirmawan menyimpulkan diamku sebagai sebuah kebenaran. Dan aku tidak berniat untuk mengkoreksinya.
"Saya nggak masalah kalian pacaran. Tapi Anin bukan sosok yang mudah, ya kamu pasti akan tau." Pak Hirmawan kini tersenyum kecil ke arahku. "Saya sangat menyayanginya hanya saja dia selalu salah paham dengan saya."
"Kamu bisa ajak dia makan malam dengan saya? Karena pesan-pesan saya nggak dia balas. Telepon saya nggak dia angkat. Bisa kan, Ga?"
"Saya..."
"Saya tahu kamu anak baik, Ga. Anin bukan anak yang jahat dia hanya terluka. Saya pikir ada baiknya juga dia pernah mengancam saya dengan memacari kamu. Matanya jadi terarah pada sosok yang tepat untuk dia jadikan pasangan hidupnya. Bantu saya, Ga agar bisa lebih memahami putri saya."
"Baik, Pak." Aku tersenyum kaku membalas sorot mata memohon yang terlihat tulus dari bos besarku itu.