Dimas Agastya
Jemariku tidak berhenti mengetuk-ngetuk meja di depanku dengan kedua mataku yang tetap terpaku di layar laptop mengamati hasil gambar shop drawing yang dibuat Alif, salah satu drafter kantor. Fokusku mulai terpecah saat kata-kata Pak Hirmawan kembali terngiang di pendengaranku. Bukan masalah pekerjaan tentunya tapi tentang permintaannya untuk mengajak Anin agar bisa makan malam dengannya.
Apa yang harus kulakukan saat ini. Situasiku dengan Pak Hirmaan tidak jauh berbeda. Kami sama-sama diputus kontak oleh Anin. Sudah puluhan pesan yang aku kirimkan padanya sejak pesan pendek yang mengatakan bahwa aku rindu padanya, tapi tak ada satupun yang diresponnya. Teleponku pun tidak diangkat. Jalan satu-satunya aku harus langsung menemuinya.
Aku mengecek kembali ponselku sebelum keluar dari kamar, memastikan Pak Hirmawan belum meneleponku menanyakan kepastian tentang makan malam yang direcanakan. Mobilku membelah tol Bali Mandara menuju Renon dengan perasaan yang tidak menentu. Aku tidak mau menduga-duga respon Anin saat melihatku muncul di hadapannya. Itu pun kalau dia sedang tidak keluar rumah saat ini. Sulit mengecek keberadaan perempuan itu mengingat ia bukan tipe yang aktif di media sosial. Aku sempat mengecek i********: Anindira Décor tapi tidak menemukan satu petunjuk pun tentang kegiatannya hari ini maupun keberadaannya bahkan i********: pribadinya pun sama sekali tidak menolong karena aku yakin dia tidak memperbahauinya sejak setahun lalu berdasarkan foto terakhir yang ia unggah di sana.
Aku belum terlalu mengenal kehidupan Anin di Bali ini. Aku bahkan belum pernah benar-benar bertemu Kikan, sahabatnya. Hanya sekali aku melihatnya sekilas saat aku mencari Anin ke rumahnya waktu itu. Aku tidak tahu teman-teman lainnya selain Kikan. Ah aku lupa tentang Bagas, mantannya. Laki-laki yang sempat membuat aku sedikit kehilangan akal waktu itu, saat melihatnya masuk ke mobil Anin. Aku tidak tahu apakah aku perlu mewaspadai kehadirannya kembali di hidup Anin?
Aku menghela napas dan menghembuskannya kencang. Berpikir tentang Bagas tentu pikiranku tidak lepas dari pengakuan Anin padaku. Mereka sempat tinggal bersama? Untuk hal ini sebagai manusia biasa tentu ada rasa kecewa tapi aku bukan tipe laki-laki yang berpikiran keperawanan adalah prioritasku dalam mencari pasangan. Manusia kerap terjebak di kadar kepantasan. Ukuran-ukuran yang sebenarnya semu. Padahal cinta itu kompleks, ada banyak pertimbangan lainnya. Anin punya banyak hal di dirinya yang membuat aku jatuh cinta padanya. Itulah kenapa aku tidak peduli dengan masa lalunya.
Mobilku merangkak lambat ketika hampir mencapai pagar rumah Anindira. Namun aku bisa melihat ada sebuah Toyota Valfire yang terlebih dulu parkir di depan pagarnya. Aku tahu betul siapa yang bertamu di rumah Anin. Ayahnya. Aku turun dari mobil dan menyapa Pak Samsul, supir yang menemani Pak Hirmawan selama di Bali.
Aku bingung memutuskan apakah aku harus menunggu di luar atau masuk ke dalam. Tapi aku rasa aku perlu memberikan mereka waktu untuk bicara. Aku cukup lega mengetahui Pak Hirmawan memutuskan untuk langsung menemui putrinya ketimbang meminta bantuanku. Itu tindakan yang jauh lebih bijaksana.
"Udah dari jam berapa, Pak?" tanyaku pada Pak Samsul yang sedang merokok di samping mobil.
"Baru sepuluh menit." Jawab laki-laki itu. "Pak Aga, nggak masuk?" ia menggerakan kepalanya ke arah pagar rumah yang terbuka sedikit.
"Nanti saja." Jawabku. Namun suara yang terdengar dari arah dalam rumah membuat aku sedikit terkesiap. Kakiku refleks melangkah masuk ke halaman dan berhenti di teras rumah. Rumah mungil ini tentu saja tidak mampu menahan keluar suara apapun bila dikeluarkan dalam nada yang keras.
"Papa nggak pernah bertanya bagaimana perasaanku. Papa terus menuntut agar aku paham dengan semua yang Papa lakukan. Lalu kapan Papa mau mengerti aku, hah!?? Suara itu bercampur emosi dan kesedihan. Kakiku tepaku.
"Papa sudah berusaha mengerti kamu, Nin. Papa membiarkan kamu di Bali sesuai keinginan kamu. Papa..."
"Bukan itu, Pa. Bukan itu!" jeritnya lagi.
"Ini tentang Mama. Tentang semua kenangan Mama yang mulai Papa singkirkan dari rumah. Aku sudah bilang belikan rumah buat perempuan itu kalian jangan tinggal di rumah itu. Papa nggak punya cukup uang? Hah? Papa punya orang tua yang kaya raya kan? Minta saja Oma belikan rumah mewah untuk menantu pilihannya itu."
"Anin! Kamu..." emosi Pak Hirmawan mulai tersulut.
"Aku mau Papa pergi. Aku nggak mau ketemu Papa lagi selama Papa nggak mau mengerti." Pintu rumah terbuka aku bisa melihat Anin berdiri bersandar pada pintu yang terbuka. Aku mencoba mundur agar Anin tidak menangkap keberadaanku namun aku terlambat saat pandangan kami bertemu. Aku bisa melihat matanya yang basah dengan sorot yang terluka.
"Kamu." Anin tercekat. Pak Hirmawan tampak berjalan keluar dan juga mendapati keberadaanku.
"Maaf." Kataku pelan ke arah mereka.
"Agar Papa tahu, kalau aku dan Aga sudah nggak punya hubungan apa-apa lagi. Jadi Papa nggak perlu meminta bantuan apapun darinya." Anin berkata pada Pak Hirmawan namun dengan pandangan yang terarah padaku.
"Kalian putus?" Pak Hirmawan menatapku dengan pandangan tak percaya. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
"Ya, kami putus. Sekarang Papa pergi dari sini. Aku nggak mau ketemu Papa atau kembali ke Jakarta. Dan aku juga..." ia terdiam dan melangkah ke dalam tak lama kemudian ia kembali dan menyodorkan sesuatu pada Pak Hirmawan.
"Ini ATMku, Papa ambil semua uang yang selama empat tahun ini Papa kirim. Aku sudah lama punya rekening baru dan aku nggak butuh uang Papa. Berikan saja pada calon anak Papa nanti."
"Kamu keterlaluan, Anin." Pak Hirmawan berkata dingin.
"Papa yang keterlaluan pada aku dan Mama." Anin kembali berkata dengan suara bergetar. Keduanya saling menatap tajam. Pak Hirmawan kemudian memalingkan wajahnya dan menggeleng kecil. Ia tidak mengambil kartu di tangan Anin.
"Baiklah, Papa minta maaf. Papa akan segera mencari rumah baru untuk Adelia."
Anin tertawa sinis.
"Terlambat, Pa." bisiknya dengan nada yang diseret berat sebagai ekspresi bahwa semua yang dikatakan Ayahnya sudah tidak penting lagi. Aku semakin merasa tidak enak berada di sini dan menyaksikan mereka bersitegang seperti ini.
"Baiklah, kamu masih emosi. Kamu nggak bisa diajak bicara." Pak Hirmawan melangkah keluar dari rumah. Ia sekilas memandangku dan berlalu keluar. Aku tetap tidak bergerak dari tempatku berdiri hingga suara mobil Pak Hirmawan menjauh.
"Anin." Aku melangkah ke arahnya. Ia masih bersender pada pintu rumah dengan kedua bahu yang naik turun menunjukkan kalau emosi dan kemarahannya belum reda.
"Kamu tahu kenapa aku nggak ingin hubungan kita berlanjut?" ia melihatku yang sudah berada hanya beberapa senti di depannya. Aku mencoba meraih tangannya untuk mengajaknya masuk ke dalam. Namun ia menepiskannya. Ia berjalan masuk dan aku mengikutinya.
"Mamaku adalah contoh nyata betapa restu orang tua memang harus didapatkan saat menikah. Omaku sangat tidak menyukai Mama, dan sampai Mama meninggalpun ia tidak pernah tau alasan apa yang membuat Oma nggak menyukainya. Status sosial?" Anin menggeleng. "Perempuan bernama Adelia juga bukan dari keluarga kaya tapi Oma menerimanya dengan tangan terbuka." Anin tersenyum ke arahku namun senyum itu terkesan sangat dingin.
"Kamu mengerti sekarang?"
"Nin, itu nggak berarti kita akan berakhir seperti orang tuamu."
"Ada jaminannya?" Dia menantangku.
Aku terdiam dan menghela napas berat.
"Aku mencintaimu, Nin. Sangat. Apakah itu nggak cukup? Aku nggak mau berdebat tentang hal yang baru menjadi dugaan. Kenapa kita nggak coba jalanin aja dulu. Mamaku bukan orang jahat, Nin. Dia pasti akan menerima kamu."
Anin menggeleng. Aku mendekatinya dan memegang kedua bahunya.
"Kamu nggak mencintaiku?" aku mencari matanya namun dia berusaha lari dariku. Ia memalingkan wajahnya. Aku yakin kalau ia masih punya perasaan yang sama padaku. Perlahan aku menarik tubuhnya ke arahku. Aku mendekapnya dan membiarkan ia menangis di dadaku.
***
Anindira Maheswari
Seharusnya aku tidak membiarkan diriku jatuh kembali dalam pelukannya. Menangis di dadanya. Seharusnya aku nggak selemah ini. Perlahan aku melepaskan diriku dari dekapannya dan mengambil jarak.
"Kamu juga pergi, Ga. Seharusnya kamu jangan ke sini." Aku berkata tanpa memandangnya.
"Jadi kamu benar-benar sudah nggak menginginkanku? Karena ibuku?"
"Kita nggak perlu membahas hal ini lagi. Pergi, Ga. Kamu pasti akan menemukan seseorang yang benar-benar kamu cintai dan yang sangat diterima oleh ibumu. Pasti perempuan itu ada. Aku yakin. Jangan sampai kamu menganggap bahwa aku satu-satunya perempuan di dunia ini." Perlahan aku mengangkat wajahku memandangnya. "Keluargaku kacau. Aku mungkin...juga kacau." Aku memaksa bibirku tersenyum memandangnya.
Dia terdiam cukup lama.
"Baik." Jawabnya kemudian dengan kedua matanya bergerak tidak fokus. Ia seperti sedang menahan sesuatu di dalam dirinya. "Oke, Nin. Aku ngerti. Aku akan coba ngikutin apa yang kamu bilang tadi. Mungkin kamu benar, ada seseorang yang di luar sana yang pasti cocok untukku. Aku nggak akan memaksa kamu lagi." Bibirnya membentuk senyum yang terkesan perih lalu menghela napas berat.
"Kamu baik-baik ya. Aku berharap yang terbaik buat kamu. Apapun itu." Sebelah tangannya menyentuh bahuku dan meremasnya pelan yang seketika menimbulkan denyut-denyut kecil di jantungku. Kerongkonganku kembali sesak dan sakit. Tubuhnya bergerak kikuk saat kedua tangannya meraih wajahku dan tanpa peringatan apapun ia mencium bibirku. Hanya beberapa detik.
"Selamat tinggal, Anin." Ia berkata tanpa memandangku dan kemudian berlalu dari hadapanku. Aku masih bisa menahan untuk tidak meneteskan air mata untuknya namun ketika deru mobilnya perlahan hilang dari pendengaranku, air mataku luruh seketika. Menggigit bibirku kuat-kuat agar aku tidak terisak. Ucapannya tadi menandakan bahwa ia tidak akan mencariku lagi seperti yang aku harapkan beberapa hari terakhir ini. Semuanya sudah berakhir. Cinta yang hanya sebentar namun cukup membuatku begitu terluka. Semoga aku bisa cepat melupakanmu, Ga. Secepat hubungan kita. Harapku dalam hati.
Dan aku mulai menjalani hari tanpa berharap lagi. Awalnya sangat menyiksa karena setiap kali ponselku berbunyi jantungku ikut berdetak tak keruan. Kikan sering menggeleng tak percaya melihatku seringkali terpekur menatap ponselku.
"Nin, kamu udah hubungi Avi buat order Pampas?" Kikan menyikut pinggangku pelan. Kami sedang di Rosalie mengambil pesanan bunga yang akan dipakai di acara pernikahan sore nanti.
"Apa?" aku menoleh ke arah Kikan.
"Pampas." Ulang Kikan.
"Oh udah. Aku pesan 100 aja ya?" Aku meminta persetujuan Kikan." Sahabatku itu mengangguk dan mengacungkan jempolnya. Rumput Pampas yang akan kupesan langsung dari Tiongkok itu akan kupakai di pernikahan anak konglomerat Jakarta yang beberapa waktu lalu meeting denganku. Tema pernikahannya tentu saja tema yang dipilihkan ibunya karena sepertinya pernikahan itu adalah pernikahan bisnis, sang mempelai sama sekali tidak peduli pesta pernikahan seperti apa yang akan dia jalani dan kehidupan seperti apa yang akan ia masuki nantinya.
Apakah pernikahan seperti itu lebih mudah ketimbang pernikahan dua orang yang mencintai tetapi terhalang restu? Entahlah keduanya sama-sama omong kosong. Padahal di dunia ini ada jutaan pasangan yang bisa memiliki pernikahan ideal, saling mencintai dan mendapat restu. Harusnya aku juga bisa menemukan pasangan ideal yang akan membawaku ke pernikahan yang ideal juga. Terlahir di keluarga kaya raya tidak selalu mendapatkan privilege dalam setiap hal. Khususnya pernikahan ketika kamu tidak punya hak untuk memilih jodohmu.
Aku dan Kikan membawa dus-dus yang berisi mawar putih, terrarium, dan bunny tail ke dalam mobil.
"Surat loading-nya udah dibawa bli Wayan kan ya?" aku bertanya ragu pada Kikan dengan raut wajah sangsi apakah aku sudah memberikan surat persetujuan bongkar barang dari hotel itu ke partner operasionalku. Aku merogoh tasku memastikan surat itu sudah tidak ada di sana.
"Telepon aja. Pastikan lagi." Usul Kikan. Aku meraih ponselku dan menelpon Wayan kemudian menarik napas lega setelah tahu surat itu sudah ada di tangannya.
"Kamu benar-benar nggak fokus, Nin." Kikan berkata sambil mengatur letak dus-dus di belakang mobil.
"Aku yakin hanya seminggu ini kok. Minggu depan aku sudah bisa lebih fokus. Sorry ya, Kan." Aku menampakkan wajah memelasku pada sahabatku itu.
"Well, we'll see."
"Kok gitu?" protesku sambil menutup pintu belakang mobil setelah Kikan selesai berbenah mengatur bunga-bunga hidup itu agar tidak rusak selama dalam perjalanan ke Uluwatu.
"Aku hanya merasa kamu terlalu keras kepala. Aku bisa paham dengan trauma kamu tentang Mama kamu. Hanya saja aku kenal kamu, Anin. Kamu itu fighter. Kenapa dengan Aga kamu malah mundur? Kamu nggak cinta atau kamu hanya melindungi harga diri kamu? Kamu nggak ada bedanya sama Bagas." Kikan memandangku dengan sorot mata tajam.
"Kikan, gue nggak suka lo ngomong kayak gitu." Aku marah.
"Harus ada yang mengingatkan kamu, Nin. Harga dirimu kan yang terluka karena merasa nggak diterima oleh Ibunya Aga? Sangat berbeda dengan Ibunya Bagas yang begitu sayang sama kamu."
"Please, Kikan. Jangan bawa-bawa Bagas." Aku memperingatkan Kikan.
"Oke, aku minta maaf. Aku hanya merasa kamu nggak seperti Anin yang awal aku kenal dulu." Kikan membuka pintu mobil dan menutup keras pintu itu di hadapanku. Aku menggigit bibirku kesal dan berjalan memutar untuk masuk ke mobil.
Sepanjang perjalanan ke Uluwatu tak ada yang bicara. Aku bukannya tidak memikirkan semua kata-kata Kikan, dia betul. Semuanya. Hanya saja dia mungkin terlalu mengecilkan penderitaan Mama yang tampak jelas di mataku selama bertahun-tahun karena merasa tidak pernah diterima.
"Aku minta maaf." Kikan memecah sunyi kami. "Aku memang nggak mengenal Aga, Nin. Aku kenal dia hanya lewat cerita-cerita kamu tapi entah kenapa aku sudah suka sama dia." Kikan tertawa kecil dan membuat keteganganku mengendur.
"Please, jangan bicara tentang dia lagi." Aku menoleh sekilas pada Kikan.
"Oke. Maaf. Aku nggak akan menyinggung tentang dia lagi."
Aku dan Kikan kemudian melebur dengan kesibukan kami mendekorasi pernikahan pasangan Australia di sebuah hotel di Uluwatu. Menjelang sore ketika acara akan dimulai aku memutuskan untuk pulang karena tubuhku benar-benar letih bekerja di bawah terik matahari Bali yang membakar. Sejak tadi siang ponselku terus berbunyi dan setelah kucek sebagain besar dari Anneth. Dia pasti sudah tidak sabar memastikan tentang kedatanganku besok.
***
Anindira Maheswari
Aku bangun menjelang pukul 9 dengan tubuh yang masih belum pulih dari rasa lelah. Hampir semua bagian tubuhku terasa sakit mungkin karena selama seminggu ini aku tidak bisa tidur nyenyak setiap malam dan selama dua hari kemarin fisikku terforsir untuk mendekorasi pernikahan di bawah panas matahari yang menyiksa.
Mungkin kalau saja Anneth tidak menelepon aku pasti akan ketiduran sampai menjelang makan siang. Dan sekarang menjelang pukul 11 aku baru berangkat menuju Canggu ke sebuah villa yang disewa Anneth dan Adith. Lalu lintas yang padat mulai dari Seminyak membuat aku baru bisa memasuki Canggu satu jam kemudian.
Anneth menjerit kegirangan saat melihat kedatanganku. Dita dan Sasha menyusul di belakangnya dan kemudian ikut menjerit kemudian memelukku. Kami melompat-lompat kesenangan persis ketika jaman SMA. Kelelahanku langsung sirna. Adith setengah melotot dan menggeleng melihat kehebohan kita seakan ia tidak pernah menyaksikan hal semacam ini padahal kekasihnya adalah sumber utama kehebohan di manapun sejak dulu.
"Eh...eh bentar." Anneth meminta kami tenang sebentar. Ia menoleh ke belakang ke arah ruang tengah Villa. "Ca! Kesini kenalin temen gue nih." Anneth memanggil seseorang. Tidak lama kemudian muncul seorang perempuan dari dalam villa.
"Nin, kenalin nih Ica teman gue. Jadi setiap kali gue di Bali pasti Ica yang nemenin dan sekarang karena gue tahu lo di Bali juga berarti temen gue di sini nambah dong." Anneth berkata sumringah.
Aku mengulurkan tanganku ke hadapan perempuan itu.
"Anin."
"Alisha. Tapi teman-temanku biasa manggil aku Ica termasuk Anneth." Perempuan cantik itu tersenyum padaku. Anneth segera mengajak kami ke kolam renang dan meminta Adith segera meninggalkan villa. Katanya sih Adith dan timnya harus pergi ke beberapa tempat di Bali untuk membuat berapa footage video untuk konten youtube mereka.
"Girls only party time." Seru Anneth yang sudah mengganti pakaiannya dengan bikini pink sambil membawa sebotol champagne dalam ice bucket. Di susul Sasha dan Dita serta Alisha.
"Nin, lo bawa bikini kan?" Aku menggeleng. "Lupa." Kataku lagi kemudian nyengir dan dibalas Anneth dengan wajah manyun. Ia kembali ke dalam dan tidak lama muncul lagi sambil membawa sebuah bikini di tanganya.
"Ayo cepat ganti." Ia melempar bikini itu ke pangkuanku. Dan aku terpaksa menuruti keinginannya.
"b***h! You look so tan. So sexy." Sasha berteriak dari tepi kolam saat melihat aku muncul berbalut bikin two piece berwarna kuning terang milik Anneth.
"Wow." Respon Anneth saat melihatku lalu menyodorkan segelas champagne ke arahku. Sasha, Dita dan Alisha mendekat dengan memegang gelas champagne di tangan mereka.
"To friends who are family and family who are friends." Anneth mengangkat gelasnya disusul kami bertiga.
"Nggak seru, b***h. Wait!" Sasha mengisi kembali gelasnya dan berdiri di tengah kemudian mengangkat gelasnya. "Here's to the men that we love, and here's to the men that love us. If the men that we love aren't the men that love us then screw the men and here's to us!" kami bersorak sambil mengangkat gelas. Sasha tersenyum pongah.
"Siapa cowok terakhir lo kemarin, Sha?" tanya Anneth. Kami semua duduk di tepi kolam dengan kaki yang di benamkan di dalam air.
"Oh si Mike." Sasha mencibir kemudian menggeleng. "Just for fun. Not a boyfriend material."
Mendengar nama Mike ingatanku langsung ke hari itu ke saat aku bertemu Mike pertama kali dan disaat ngobrol dengannya aku tahu kalau ia pernah pacaran denga Sasha.
"Gue kenal sama Mike." Kataku dengan wajah antuasias pada Sasha.
"Serius? Mike gue?"
"Mike elo?" Sambar Dita.
"Umm maksud gue Michael Willbert Puradisastra. Mantan gue."
"Tunggu. Kalian bicara Mike yang kerja di Mahaya?" Aku dan Sasha serentak menoleh pada si empunya suara. Alisha.
"Jangan bilang lo kenal Mike?" kelopak mata Sasha melebar. "Atau jangan-jangan kalian pacaran?" Sasha menutup mulutnya dengan tangannya.
"Gila bener kalau iya." timpal Anneth. "Dunia cuma seiimprit." Sambungnya lagi. Alisha tertawa menanggapi kata-kata Sasha dan Anneth. Sedang aku hanya terdiam dan sedikitpun tidak merasa heran kalau Alisha yang cantik ini bisa mengenal Mike. Cerita Alisha ternyata lebih menyita perhatian Sasha karena aku belum sempat bercerita pada Sasha bagaimana aku bisa mengenal Mike.
"Nggak, aku nggak pacaran. Aku kenal Mike di klub di kuta pas dia liburan kemarin. Sebenarnya aku malah naksir temannya sih."
"Cieee ICAAAA." Anneth mengambil air kolam dengan tangannya dan menyiram Alisha yang membalasnya dengan jeritan. "Terus? Terus gimana?" kejar Anneth. Kini aku yang terpaku dengan kata-kata terakhir perempuan itu. Baiklah aku rasa Mike punya banyak teman di sini, bukan hanya Aga. Aku mencoba menghibur diri.
"Ya gitu deh aku dicuekin padahal kita sempat ciuman pas di klub."
"Sinting! Beneran, Ca?" Anneth terperangah kemudian tergelak. "Lebih tepatnya aku yang nyium dia sih." Alisha berkata sedikit tersipu dan langsung direspon dengan sorakan Dita, Sasha dan Anneth.
"You bad girl." Umpat Anneth.
"For the bad girl!" Sasha mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. Mereka semua tertawa kecuali aku.
"Baguslah lo nggak jatuh ke pelukan Mike. Tapi kalau lo suka tipe yang bukan fuckboy lo harus jangan sering-sering ke klub."
"Terus kemana? Perpustakaan?" sambar Anneth.
"Nah lo ketemu Adith di mana?" Balas Sasha dan membuat Anneth gemas dan menyiramnya dengan air kolam. "Tanya nih sama Anneth, Ca. Nemu cowok kaya Adith di mana. Adith kan tipe good boy. Saking goodnya bisa bertahan nih sama nih cewek mulut petasan."
"Setan lo." Maki Anneth pada Sasha.
"Emang semua cowok di klub rata-rata fuckboy? Jangan gitu lah. Doni, suami gue suka ke klub sama teman-temannya buat refreshing dan suami gue bukan fuckboy woii!" protes Dita.
"Nah!" Anneth mengacungkan jarinya kemudian tersenyum senang dengan pernyataan Dita. Ketika mereka semua ribut membahas tentang laki-laki yang dicium Alisha, jantungku justru berdegup tak keruan karena terus menduga-duga sejak tadi.
"Gue nebak kalian ciuman disaat kalian belum saling mengenal nama kan? Ngaku!" tembak Sasha dan membuat Alisha tertawa dan mengangguk kencang.
"Gue sama Mike dulu gitu." Sasha mengaku dengan mata sedikit berbinar karena ia sepertinya sedang terkenang lagi.
"Terus? Sekarang udah tau namanya kan? Siapa? Gue masih punya nomor Mike nih, gue bisa tanya-tanya tentang temannya itu."
"Serius? Karena jujur aja malam itu aku nggak bisa banyak tanya tentang Aga pada Mike. Sepertinya Mike agar protective gitu sama dia."
"Oh namanya Aga?" seru Anneth sambil tersenyum-senyum dan membuat Alisha menutup mulutnya karena sadar ia sudah keceplosan.
"Gue kayaknya sempat kenal deh sama si Aga." Sasha memicingkan matanya seraya mengingat-ingat sedangkan aku benar-benar tidak bisa bergerak karena seperti baru saja mendapatkan serangan jantung ringan. Jadi kapan mereka bertemu dan ciuman? Saat aku memutuskannya malam itu?