Anindira Maheswari
Anneth Caaa gimana lunch datenya?
Alisha Gimana yaaaa gak tau deh neth masih temenan aja kok
Anneth ih payah deh tuh cowok! Apa coba kurangnya elo Ca belum tau aja dia hahahaha
Alisha hahahaha
Anneth kok sepi sih woiii pada kemana? Aninnnn lo kok gak pernah ikut?? Gak seru lo ahhhh
Aku mendengus setelah sekilas membaca obrolan grup WA Anneth yang sejak awal memang tidak membuatku berniat gabung. Aku memandang laki-laki di sebelahku saat ini yang begitu nyaman tiduran di atas pasir yang masih menyisakan hangat matahari siang tadi. Kedua tangannya ia letakkan di belakang kepalanya. Kedua matanya terpejam dengan kaca mata masih bertengger di wajahnya.
Telunjukku turun menyentuh bibirnya dan mulai menjelajahi salah satu bagian yang menarik di wajahnya itu dari satu sudut ke sudut yang lain yang akhirnya menciptakan sebuah tarikan senyum di sana. Sebelah tangannya dengan sigap menangkap tanganku dan membuat jariku berhenti bergerak. Kelopak matanya membuka memandangku yang duduk menekuk lutut di sebelahnya.
"Thank you." Aku menggerakan bibirku mengucap kata itu tanpa bersuara. Ia hanya membalasku dengan senyuman dan membawa tanganku mendekati bibirnya. Ia mengecup punggung tanganku pelan. Aku tidak tahu apa yang membuat Alisha begitu ingin mendapatkan Aga. Aku tidak tahu sejarah perkenalan mereka tapi aku percaya pada laki-laki ini.
Ponselku bergetar di atas pasir dan aku bisa melihat dari layarnya kalau saat ini Sasha sedang meneleponku. Beberapa detik aku membiarkannya karena aku sedang malas meladeni Sasha di saat aku sedang menikmati waktuku berdua dengan Aga. Namun akhirnya aku memutuskan untuk menerimanya.
"Ya, Sha."
"Ih gila lo ya Nin!! Lo kok nggak bilang-bilang kalau lo sama Aga pernah pacaran? Jadi waktu Ica cerita tentang Aga waktu itu lo udah tau yang dimaksud Ica? Gue baru telepon Mike tadi mau nanya nanya tentang Aga sekalian kalau bisa bantuin si Ica...eh taunya..gue syok tahu nggak?!"
"Hmmm...iya bener." Jawabku datar.
"Jadi? Lo pernah pacaran sama dia? Terus udah putus sekarang? Lo nggak apa-apa kalau si Ica sama Aga?"
"Kita balikan kok. Gue sama Aga." Aku melirik Aga yang masih dalam posisi nyamannya. Namun aku bisa melihat kelopak matanya bergerak sedikit dan ia menyipit memandangku saat ia mendengar aku menyebut namanya.
"Anjir! Serius lo?!"
"Serius." Jawabku tidak kalah kencang dengan teriakan Sasha di ujung sana.
"Lo balikan bukan karena Alisha kan? Ummm maksudnya kayak lo nggak rela gitu?"
"b***h please!!! Ngapain karena dia?" aku tertawa kecut. "Kita balikan karena memang masih saling cinta lah." Aku kembali melirik Aga yang kini kepalanya sedikit miring ke arahku. Masih dengan matanya yang menyipit memandangku ditambah ekspresi wajah penuh tanya. Tanganku bergerak pelan ke arahnya dan telunjukku kuletakkan di jidatnya dan mendorong kepalanya kembali ke tempat semula sambil menahan senyum. Aku bisa melihat bibirnya mengerucut kesal dengan apa yang kulakukan. Dengan cepat ia meraih telunjukku dan tanpa peringatan ia mengigitnya pelan dan membuat aku menjerit kecil.
"Kenapa lo?" tanya Sasha.
"Gue baru dicipok Aga. Sorry lo ganggu gue lagi pacaran sekarang." Aku bisa melihat Aga sedang menahan senyumnya mendengar kata-kataku.
"Idih kalau dicipok mah harusnya lo mengerang bukan menjerit jangan-jangan kita ngobrol sambil lo gituan lagi?"
"Otak lo ngeres! Udah ah. Lo nggak perlu cerita-cerita ke Anneth ya..nanti gue yang cerita sendiri ke dia."
"Iye. Iye! Ya udah pacaran sono!"
"Oke Sha byeee."
"Bye b***h!"
Setelah aku meletakkan kembali ponselku di atas pasir, Aga kemudian menarik tubuhku hingga aku terbaring di sebelahnya. Pantai Karma sore ini tidak terlalu ramai karena mungkin sekarang bukan weekend. Hanya ada beberapa tamu asing yang terlihat sedang berenang dan bersantai di atas lounger jauh di belakang kami. Hanya kami berdua yang menikmati tidur di atas pasir sambil menunggu sunset.
"Siapa?" tanya Aga saat aku sudah nyaman merebahkan kepalaku di atas lengannya.
"Sasha. Kamu tahu Sasha kan, mantannya Mike?" aku sedikit memiringkan kepalaku memandangnya. Dia tampak berpikir sebentar.
"Sepertinya dulu aku pernah ketemu tapi kamu tahu sendiri kan aku nggak terlalu pintar bersosialisasi. Emang kenapa si Sasha? Kok nama aku disebut?"
"Hmmm ke GR-an." Cibirku dan membuat dia tertawa kecil dan mencubit kecil puncak hidungku. Aku kini memiringkan tubuhku tidur menghadapnya yang masih dalam posisi terlentang dengan tangan kanannya aku jadikan bantal. Kepala Aga sedikit bergerak ke arahku dan matanya turun memandang dadaku yang sedikit terbuka dalam balutan bikiniku.
"Ngeliatin apa?" keningku berkerut dan tanganku bergerak menutup dadaku namun ia malahan menyingkirkan tanganku.
"Aku hanya ingin tahu tulisan itu." Ucapnya dan membuat kepalaku kini sedikit menunduk dan melihat obyek penglihatannya. Tattoku. Perlahan jemarinya turun menyentuh kulit dadaku dan membuat jantungku berdegup pelan. Bahkan ia berani dengan telunjuknya sedikit menyingkap sebagian kain penutup sebelah dadaku.
"My Mom is My Angel." Dia berbisik pelan dan tersenyum kemudian merapikan kembali bra bikiniku. Aksinya benar-benar membuatku menelan ludah karena gugup.
"Aku menatonya dua tahun lalu." jelasku. "Awalnya aku nggak berani tapi..."
"Bagas." Dia menyebut nama itu. Aku bisa melihat kilat cemburu di matanya namun senyum kecil di bibirnya yang tercipta setelah itu melenyapkan semuanya.
"Bagas nggak pernah memintaku untuk menato bagian tubuhku. Aku sendiri yang ingin. Aku menatonya di sini." Aku menunjuk dadaku. "Karena dekat dengan hatiku. Hanya itu saja alasannya." Tanganku kini yang berganti menyentuh bibirnya dan turun ke bagian dagunya yang sedikit kasar.
"Berenang yuk." Ajakku dan ia menyambutnya dengan anggukan. Kami bangkit dan aku bisa melihat ia sedikit meringis saat menarik tangan kanannya yang kujadikan alas kepalaku sejak tadi.
"Apa sih isi kepalamu. Berat banget." Godanya sambil meremas-remas telapak kanannya mengusir rasa kesemutan.
"Kamu lah. Kamu yang bikin berat kepalaku. Bikin mumet!" Aku menjulurkan lidah dan berlari kecil ke arah laut dan menyeburkan diriku di sana. Aga mengejarku sambil melepaskan kaus dan kacamatanya dan melemparnya begitu saja di atas pasir dan ikut menyebur kemudian menarikku ke dalam pelukannya.
Berada dalam pelukan Aga dan langsung menyentuh kulitnya seperti ini terasa begitu menyenangkan. Aku bukan seorang yang awam dengan tubuh laki-laki. Di Bali ini aku terbiasa melihat laki-laki bertelanjang d**a apalagi di pantai. Melihat Bagas dulu adalah sebuah kebiasaan. Ia seorang surfer yang hampir tidak pernah mengenakan atasan saat sedang berada di pantai.
Aku tidak sedang membandingkan namun jujur dalam dekapan Aga yang bertelanjang d**a seperti sekarang membuat aku merasa seperti seorang perempuan yang belum pernah menyentuh tubuh laki-laki. Ada rasa gugup yang bercampur hasrat ingin tahu yang besar. Aku tidak pernah menyangka di balik t-shirt dan kemejanya selama ini Aga menyembunyikan tubuh kokohnya. Perutnya memang tidak membentuk kotak-kotak yang begitu nyata namun aku bisa merasakan bahwa laki-laki ini bukan tipe laki-laki nerd yang hanya setiap saat duduk di depan pekerjaannya. Otot d**a dan perutnya yang liat cukup menggodaku saat ini.
Kami berenang sedikit menjauh dari pantai menghindari ombak-ombak di tepian yang sering kali menarik tubuh kami kembali ke pasir. Perlahan langit berubah jingga. Bola besar berwarna kuning di ufuk barat perlahan bergerak turun. Tubuh kami berdua bergerak-gerak kecil terayun arus ombak. Aku masih dalam pelukan Aga saat mata kami perlahan menyaksikan sang pemilik siang perlahan tertelan batas cakrawala. Aga merapatkan pelukannya dan menciumku dengan hasratnya. Aku bisa mengecap rasa asin air laut di mulutnya. Aku menyambut ciumannya dengan hasrat yang sama. Kami melampiaskan kerinduan kami.
***
Dimas Agastya
Aku menahan napas melihat tubuh Anin yang basah berbalut bikininya berjalan di depanku. Kulit Anin yang sedikit kecoklatan terlihat sangat eksotis tertimpa cahaya emas matahari sore. Aku benar-benar tidak berdaya di buatnya. Aku ingin memeluk perempuan ini selamanya.
Kami berciuman di tengah laut dilatari langit jingga karena pendar matahari yang hampir tertelan di batas cakrawala. Tanganku menyangga kepalanya dan ciumanku mendesak di bibirnya.
"I love you." Gumamku di antara napasku yang memburu. Anin tidak membalasnya namun dia menyambut ciumanku yang bertubi-tubi dengan begitu lihainya. Kami berhenti saat cahaya di sekitar kami mulai redup dan musik terdengar sayup dari arah pantai. Restoran di tepi pantai itu sudah mulai terliha t semarak.
Aku dan Anin berenang kembali ke pantai.
"Jam berapa Kikan sama Darla nyusul?" aku menggandeng tangan Anin menuju air pancuran untuk mengguyur tubuh kami mengilangkan sisa-sisa air asin yang terasa lengket. Anin memang berencana mengenalkan orang-orang terdekatnya di Bali ini padaku.
"Sebentar lagi. Tapi kita kan janjiannya di Jimbaran." Anin melesat ke kamar mandi untuk berganti baju dan aku menyusulnya tidak lama kemudian.
Anin masih dengan rambut basahnya tampak cantik malam ini. Balutan hot pants dan atasan kedodorannya membuat dia terlihat menggemaskan di mataku. Ia sendiri memandangku dengan sorot terpesonanya, ya kalau aku tidak sedang gede rasa.
"Hey seksi." Ia berbisik menggoda dekat telingaku dan membuat kepalaku langsung menunduk memastikan penampilanku yang sampai membuat dia menyebutku seksi. Polo hitam yang menempel erat di tubuhku dan celana bermuda abu gelap sepertinya cukup menyita perhatiannya. Aku bangga dengan diriku, aku memuji diriku sendiri sambil menahan senyum.
Aku dan Anin menuju Jimbaran ke sebuah resto pantai langganan Anin dan teman-temannya. Kedua sahabat Anin, Kikan dan Darla, sudah terlebih dahulu mengisi salah satu meja yang terletak tidak jauh dari garis pecahnya ombak.
"Hi." Sapaku akrab pada Kikan dan Darla. Kikan menyambut uluran tanganku sedang Darla hanya memandangku dengan senyum sambil menopang dagunya. Aku mencoba tetap bersikap cool saat akan mengulurkan tanganku padanya. Ia dengan cepat meraih tanganku.
"Gue kirain cowok berkaca mata itu nggak seksi tapi ternyataaaa..." pandangannya masih melekat padaku dengan tanganku masih dalam genggamannya.Aku menahan senyum. Anin pun dengan cepat memutuskan genggaman kami dan membuat Darla mencibir kesal.
"Habis dari mana kalian? Tuh rambut kok basah?" Darla melirik Anin.
"Mandi bareng lah." Jawab Anin seraya duduk dan membuat mulut Darla menganga.
"Saling ngenalin onderdil ya? Nggak usah pamer deh."
"Apaan sih lo Darl bahasanya?" Tegur Kikan sambil memukul pahanya yang membuat dia menjerit kecil.
Darla cengengesan memandangku.
"Maaf. Mulut sering keceplosan. Dulu aku polos loh, Ga. Anin yang sering ngajarin kayak gini. Hati-hati kamu ya, perempuan ini buas loh nggak cuma mulut di mukanya doang mulut lainnya juga buas." Ia tertawa sendiri.
"Darlaaa!!" Anin dan Kikan sama-sama berteriak dan membuat Darla membekap mulutnya.
"Duh sorry keceplosan lagi." Katanya masih dengan nada kemayu. Ia kembali nyengir dan membuatku sedikit salah tingkah. Selama hidupku aku belum penah berteman dengan seseorang seperti Darla. Terlepas dari apa yang unik pada dirinya aku tahu kalau dia adalah salah satu sahabat Anin.
"Tapi Anin itu sahabat yang paling baik. Kita emang jarang ketemuan kalau udah sibuk masing-masing tapi kalau sekali ketemu yang gini ini. Suka teriak-teriakan biasanya sih jambak-jambakan." Darla akhirnya membuatku tertawa kecil begitu pula Kikan dan Anin yang sedari tadi terlihat menahan napas seperti takut aku tersinggung dengan setiap ucapan Darla.
"Darla ini koki hebat loh, Ga. Untungnya dia masak pakai tangan nggak pakai mulut." Anin mengedip ke arah Darla.
"Oh maksud lo mulut gue jorok gitu? Mau gue jambak lo ya?" ancam Darla yang kembali disambut dengan tawa kami. Aku mulai terbiasa dengan segala tingkah Darla dan omongan-omongan tanpa sensor mereka. Ini adalah hal baru bagiku yang sedikit mengejutkan namun cukup menyenangkan ternyata.
Anin pun mengenalkan Kikan dan tidak sengaja menyinggung tentang suaminya. Aku tidak menyangka kalau Kikan sudah bersuami. Perempuan hitam manis itu berparas sangat khas Bali, itu karena aku biasa melihat potret-potret perempuan Bali dari beberapa fotografer ternama, garis wajah khas perempuan pulau dewata ini sangat terlihat pada paras Kikan.
"Kamu arsitek?" tanya Kikan.
"Iya."
"Kok mainnya di proyek? Bukannya arsitek itu cuma ngantor gitu aja ya. Nggak sampai stay berlama-lama di proyek."
"Arsitek ya mainnya di proyek lah Kikannnn, kalau mainnya di lumpur itu namanya kuda nil." Tukas Darla yang dibalas dengan pelototan Kikan. Aku hanya tersenyum menimpali kata-kata Darla.
"Iya itu dulu waktu aku masih bekerja di kantor konsultan tapi setelah aku pindah ke perusahaan kontraktor aku jadi arsitek yang nguli di proyek." Jeasku.
"Oh." Kikan mengangguk paham.
"Tapi cowok yang sering di lapangan keliatan lebih kece loh." Darla kembali dengan aksinya memandangku sambil menopang dagunya dengan sebelah tangannya. Anin menoyor kepala sahabatnya itu sampai membuat dia kesal.
Pesanan seafood kami memenuhi meja dan kami pung mulai makan masih tetap diramaikan dengan celutukan-celutukan Darla dan balasan-balasan Anin dan Kikan yang membuatku hanya bisa tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala.
Kami berpisah dengan Kikan dan Darla di parkiran dan seperti biasa perpisahan itu tampak begitu heboh dan berisik ala mereka. Setelah mobil Darla pergi aku menggandeng Anin ke mobil namun perempuan itu tampak agak kesal sambil merogohkan tangannya ke dalam tasnya. Ia mengeluarkan ponselnya.
***
Anindira Maheswari
Aku menggerakkan tanganku meminta ijin Aga sebentar untuk menerima telepon. Aku sebenarnya sedang tidak ingin menerima telepon dari klien di jam-jam seperti ini. Karena menurut kebiasaan, telepon klien di jam begini selalu berakhir membuatku kesal. Entah itu telepon keluhan, telepon permintaan yang nggak masuk akal, dan hal-hal lain yang seharusnya tidak kuterima di luar jam kerja. Ya aku tahu kerja seperti yang aku jalani sekarang terkadang tidak pernah di batasi dengan sistem nine to five ala kantoran yang bisa membuatku protes terang-terangan.
"Ya, Hallo."
"Anin. Ini Om Bakti."
"Oh halo Om. Selamat malam."
"Maaf Om telepon malam-malam soalnya sejak pagi Om coba hubungi Anin tapi nggak dijawab."
"Iya Om, maaf. Soalnya nomor Om nggak kesimpan jadi aku pikir telepon-telepon nggak jelas gitu." Aku sedikit tertawa menutupi perasaan tidak enakku.
"Nggak apa-apa, Om ngerti kok."
"Ada apa ya Om?" tanyaku pada pengacara keluarga itu. Hal ini juga membuatku was-was karena aku berencana tidak ingin terlibat dengan keluargaku dalam waktu dekat ini. Aku masih menyimpan amarah pada Papa.
"Tentang rumah Pondok Indah." Jawab Om Bakti yang seketika membuat jantungku berdegup kencang. Aku masih ingat kata-kata Papa terakhir kami bertemu kalau ia dan Adelia akan segera pindah dari rumah Pondok Indah. Mungkin ini ada kaitannya.
"Ada apa ya Om?"
"Papa kamu berniat menghibahkan tanah dan rumah Pondok Indah untuk kamu."
"Ha?" aku bertanya tidak mengerti. Bukankah memang aku satu-satunya ahli waris? Ah aku menggeleng. Tentu saja tidak karena sekarang sudah ada Adelia dan calon adikku.
"Papa kamu hanya ingin segera mengalihkan nama pemegang hak atas tanah dan rumah itu menjadi nama kamu."
"Okey." jawabku dengan nada ragu. Aku masih tidak mengerti.
"Anin, kamu mengerti yang Om bilang?"
"Sejujurnya sih enggak Om. Apa maksud Papa dengan menghibahkan seperti ini? Apa karena Papa ingin aku keluar dari daftar hak ahli waris?"
"Bukan begitu, Nin. Papa kamu hanya ingin menyerahkan rumah itu sama kamu sekarang dengan segala dokumen yang sudah tertulis dengan nama kamu. Papa kamu nggak ingin kamu merasa bahwa dia nggak menghargai semua kenangan kamu dan Ibu kamu di sana. Tanah dan rumah itu akan sepenuhnya menjadi hak kamu saat ini. Tentu kamu nggak akan keluar dari daftar ahli waris, Nin. Kamu anak sulung di keluarga Hirmawan. Kamu harus ingat itu."
Om Bakti adalah pengacara keluarga namun juga adalah sahabat dekat Papa selama ini yang pasti mejadi salah satu tempat Papa menceritakan segala hal yang terjadi di keluarga kami termasuk apa yang sedang terjadi antara aku dan Papa saat ini. Mereka sudah saling mengenal sejak muda dan keluarga kami cukup dekat. Aku juga mengenal semua anak-anak Om Bakti termasuk Adrian, cowok yang pernah jadi teman mainku semasa kecil karena usia kami hampir sama. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya karena Adrian menghabiskan masa sekolahnya sejak SD di Australia dan sampai sekarang pun kalau tidak salah ia masih bermukim di sana.
"Jadi apa yang harus aku lakukan Om?"
"Kamu perlu kembali ke Jakarta untuk prosesnya. Selain itu apakah kamu nggak ingin bertemu dengan adikmu?"
"Adelia sudah melahirkan?" balasku.
"Ya. Semalam."
"Oh." Aku mengangguk paham. Dan tidak merasa heran kalau Papa tidak mengabariku. Ia pasti berpikir bahwa berita ini sama sekali tidak akan membuat hubunganku dengan dia menjadi lebih baik.
"Oke Om nanti aku kabarkan lagi kalau mau ke Jakarta."
"Kalau bisa secepatnya ya, Nin. Om tunggu."
"Baik Om. Makasih. Selamat malam." Aku menghela napas panjang sebelum melangkah menuju Aga yang menantiku di mobil.
"Ada apa Nin?" Aga melihat wajahku yang sedikit tegang. Aku tidak menjawab pertanyaannya namun justru menghambur ke pelukannya. Aga tidak bertanya lagi, ia hanya mendekapku erat.
"Semua akan baik-baik saja." Bisiknya.
"Aku tahu." Jawabku dengan perasaan yang bercampur aduk. Tentang Papa dan rencananya serta Adelia dan adikku yang baru lahir. Kelopak mataku menghangat namun aku mencoba sekuat tenaga untuk tidak meneteskan air mata.