Dimas Agastya
Aku masih tidak melepaskan pandanganku dari Anin yang terlihat tidak b*******h saat memasuki area keberangkatan di bandara Ngurah Rai. Ia menoleh padaku menampakkan wajahnya yang enggan untuk pergi. Meski tidak suka juga dengan ide kepergiannya ke Jakarta namun aku hanya bisa melepaskannya dengan senyuman. Aku rasa Anin perlu kembali bertemu dan berbicara dengan Papanya agar masalah di antara mereka tidak akan semakin menebal dan sulit untuk disingkirkan nantinya. Aku tidak mau Anin kehilangan satu-satunya keluarga terdekat yang ia punya. Mereka masih bisa meluruskan kesalahpahaman di antara mereka sebelum kesalahpahaman itu perlahan memutus hubungan mereka.
Aku tidak mau berpendapat banyak tentang masalah tersebut mengingat aku tidak paham seberapa besar luka yang telah di