Anindira Maheswari
Aku memandang takjub saat memasuki apartemen Sasha di bilangan Jakarta Barat, bukan karena ia tinggal di sebuah apartemen mewah melainkan karena betapa berantakannya isi apartemen mungilnya itu. Beberapa pasang baju dan gaun bertebaran mulai dari ruang tamunya yang kecil hingga ke arah pintu kamarnya.
Sasha segera memungut satu persatu pakaian-pakaiannya yang berserakan sambil cengengesan. Ia ternyata tidak pernah berubah sejak SMA. Di antara kami berempat, Sasha memang yang terkenal paling berantakan. Mulai dari seragam sekolahnya yang tidak pernah rapi dan sering melanggar ketentuan sekolah, sampai kepada isi tas sekolahnya yang sudah kayak tempat sampah karena bekas bungkus permen, coklat atau tisu-tisu kotor mudah ditemukan di antara celah-celah buku pelajarannya.