Dimas Agastya
Aku cukup terkejut mendapati Anin berdiri di dekat pintu belakang yang punya akses langsung ke teras dan halaman belakang. Aku pastikan ia bisa mendengarkan percakapan Aku dan Mama tadi kalau memang ia sudah berada di sini cukup lama.
"Aku kira kamu lagi nge-game sama Evan." Ia memandangku tanpa sinar mata kemarahan. Aku tentu sedikit gugup merespons kata-katanya. "Aku barusan dari toilet." Katanya lagi dan membuatku mencoba mencari tahu di matanya apakah ia sedang berbohong.
"Aku tadi dipanggil Mama ke belakang."
"Oh."
"Kamu mau pulang?" aku masih belum percaya melihat Anin yang tampaknya tenang-tenang saja. Seandainya dia mendengar apa yang aku, Mama dan Om Agus bicarakan di belakang, aku yakin suasana hatinya saat ini pasti tidak akan bagus. Tapi entahlah saat ini aku