Anindira Maheswari
Senja mulai menyapa saat kakiku berhenti tepat di depan pintu villa di area Pecatu. Aku menahan diriku untuk mendorong pintu kayu yang kaya dengan ukiran khas Bali itu. Aku sudah tahu apa yang akan menyambutku di balik pintu ini. Aku menahan senyum saat mendengar jeritan khas Darla dari dalam diikuti cekikikan yang lainnya.
Perlahan aku mendorong pintu kayu itu dan tidak lama kemudian jeritan ‘surprise’ memenuhi udara. Aku tertawa dan sedikit berpura-pura tekejut melihat wajah-wajah yang sangat kukenal di hadapanku. Darla berjalan dengan lenggak-lenggok khasnya kemudian memasangkan mahkota bunga ke kepalaku.
Aku kemudian menyapa dan memeluk satu per satu sahabatku. Kikan, Anneth, Sasha, dan Dita.
“Kalian…kok bisa sih?” Aku memang tidak terkejut dengan pesta lajang y