'Hei Ridwan! tidak kah kau melupakan hutangmu denganku itu? serahkan saja anak gadismu itu dan aku akan melunasi semua hutangmu.'
'Saya punya penawaran lebih menarik, serahkan putri ketiga anda itu dan saya akan membuat hutang anda dengan pria bau tanah ini lunas semua, saya juga akan membantu anda membangkitkan perusahaan anda yang telah bangkrut itu seperti dulu lagi, bagaimana? Anda tertarik?'
Pria paruh baya itu sedikit tergiur mendengar keuntungan yang akan ia dapat jika menyerahkan putri ketiganya yang selalu saja membuat masalah itu, seketika ia melupakan tentang siapa pria yang sedang ia hadapi ini, namun mendengar kelanjutan dari pria itu membuat senyum di sudut bibirnya itu seketika memudar.
'tapi, saya ada satu keinginan, setelah Anda menyerahkan putri anda dan kamu mendapatkan apa yang anda inginkan, mulai saat itu anda tidak boleh bertemu dengannya, saya juga tidak akan membiarkan dia berhubungan dengan keluarganya lagi, meski hanya melalui komunitas handphone'
Saat itulah Ridwan jadi teringat tentang suatu hal yang sudah sempat ia lupakan barusan.
----------------
Bunyi alarm juga suara bising di ruang keluarga kini telah mengusik si empu yang sedang tertidur sangat lelap membuatnya berdecak di dalam tidurnya.
Bukannya makin lama makin menghilang suara itu malah semakin menjadi membuat Zoya terpaksa bangun dengan emosi yang sudah naik ubun-ubun, padahal ia baru saja bangun dari tidurnya.
"Ck, ini rumah orang apa pasar sih, masih pagi juga udah berisik aja. Masih ngantuk lagi," Dengan rasa malas dan tentu belum cuci muka dn gosok gigi, Zoya sudah keluar kamar menuju ruang keluarga, tujuannya hendak memarahi siapa saja yang membuat kegaduhan sepagi ini di rumahnya.
Sedikit lagi ia hendak membuka mulutnya, sudah terhenti ketika manik matanya bertemu dengan manik mata pria yang masih terbilang muda itu, pria itu menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan, membuatnya bingung sendiri harus bagaimana.
Zoya segera memutuskan tatapan matanya dengan sepihak dan berdehem. Ia menyadari kedua orang tuanya juga dengan tua bangka yang ia tidak tahu siapa itu tengah memperhatikan dirinya. Menyadari ia belum cuci muka, ia langsung berlari kembali ke kamar dan langsung memasuki kamar mandi, ia sangat malu karena ketahuan baru bangun tidur dengan jam yang sudah menunjukkan pukul 09.30 itu.
'Ahh gila apa gue keluar kamar belum cuci muka gini, kan maluin banget gilaa' batinnya berteriak, ia merutuki apa yang telah dibuatnya, malu sekali dirinya.
Setelah mandi dan mengganti piama tidurnya dengan baju santai, ia kembali berkutat dengan cermin menyisir rambutnya, Zoya hanya akan mengikat rambutnya ekor kuda, sangat simpel dan ia suka itu.
Setelah dilihat dirinya sudah cantik tidak se berantakan seperti tadi, ia memutuskan untuk keluar kamar menuju dapur untuk mengisi perutnya yang masih kosong.
"Laper banget gue." keluhnya saat terdengar bunyi aneh di dalam perutnya, tadi malam ia tertidur sampai lupa kalau dirinya belum makan malam.
Lagi dan lagi ia dibuat naik darah karena tiba-tiba saja kedua kakaknya itu menariknya ke ruang keluarga, padahal ia tadi pagi sudah dibuat sangat malu dan ia ingin menghindari ruangan itu sampai dua orang asing itu pergi dari rumahnya, karena jika di suruh mengusir ia tidak berani makan dari itu ia menunggu kapan perginya orang-orang aneh tersebut.
"Eh, eh, kak gue mau makan, laper." Protesnya tidak Terima di tarik ke ruang keluarga.
"Masih mending menuruti keegoisan mu untuk makan itu apa menyelesaikan masalah ini biar mereka cepat pergi?" Tajam kakak pertamanya yang bernama Alya membuat Zoya menghembuskan nafasnya kasar.
"Zoya sih gak berani ngusir setan kak, udah ganggu Zoya tidur, sekarang malah harus nunda makan gara-gara di suruh ngusir setan sama anaknya itu. Mending ngehajar 10 preman depan gang deh,"
"Kamu hanya perlu menyelesaikan masalahnya bukan mengusir mereka dengan cara kasar atau makin sulit nanti masalahnya." Sekarang giliran kakak kedua yang bernama Chika uang memaksanya.
Dengan kesal akhirnya Zoya berjalan menuju ruang keluarga yang masih terdengar gaduh di telinganya.
"Zoya, mama mau nanya sama kamu. Apa kamu dengan Rafka itu sudah putus?"pertanyaan yang sontak membuat Zoya tertawa begitu keras.
" Apa? putus? hahaha sejak kapan coba Zoya hobi pacaran? Dia cuman teman Zoya gak lebih, emangnya kenapa?" Tanya Zoya kemudian.
"Kamu tau kan bahwa ekonomi keluarga kita sekarang dalam masalah besar? bahkan perusahaan utama papa saja sudah bangkrut, dan satu-satunya orang yang bisa nyelametin keluarga kita itu cuman kamu." Ujar papanya.
Cukup, sampai sini saja, plis jangan dilanjutkan. Zoya sangat peka dan sekarang ia merasa sudah tahu apa maksud dari perkataan papanya itu.
"Enggak usah di lanjut pa. Zoya gak bodoh, jadi Zoya gak akan tanya maksud dari semua ini karena Zoya udah tau-"
"Jadi apa kamu mau membantu keluarga ini?" Tanya Ridwan berharap putrinya yang terkenal sangat egois ini mau mengerti.
"Kan masih ada cara lain pa, minta bantuan lah sama suaminya kak Alya buat lunasin hutang, buat apa punya menantu gak dimanfaatin."
"Apa kamu tidak peduli lagi dengan keluarga ini?" tanya Melly memelas.
"bukan itu maksud Zoya ma, yaudah sekarang apa sebenarnya mau mama sama papa? Zoya harus ngapa? Jangan ulur waktu, Zoya udah lapar mau makan." Ketusnya merasa kesalahan telah didesak.
Mendengar nada ketus keluar dari mulut Zoya membuat pria itu terkekeh kecil, dan langsung mendapat tatapan tajam dari Zoya, pria itu mana takut yang ada malah ia balik menatap tajam Zoya.
"Perusahaan papa memiliki hutang sangat banyak pada pak Mahendra, sekitar 50 miliar, dan hanya ada satu cara melunasi hutang itu sementara kita bangkrut, dia menginginkan dirimu, nak. Apa kamu bersedia menjadi istri ke 6 pak Mahendra?" Tanya Ridwan menjelaskan.
"Bodoh kalo Zoya bilang mau. Masih banyak cara untuk melunasi hutang-hutang itu, menjual semua yang kita punya juga gak masalah kok pa, atau mau minta bantuan Rafka? Nanti Zoya akan bertanya padanya." Tolak Zoya, gadis itu tentu tidak mau dengan tua bangka bau tanah ini, mau ditaruh mana harga dirinya ini, pasti ketiga teman lucnutnya itu akan meledek dirinya jika saja dia menikahi laki-laki bau tanah.
"Bau tanah aja sok mau nambah istri, janda komplek sebelah banyak om yang nganggur." lanjut Zoya langsung mendapat jitakan di kepalanya dari kedua kakaknya.
"Jaga ucapanmu gadis kecil. Tidak beradab." Murka Mahendra, sedangkan pria muda yang melihat Zoya dikatai 'tidak beradab' mengepalkan tangannya kuat tidak terima.
"Lalu kenapa anda menginginkan gadis tidak beradab ini menjadi istri ke 6 anda?" Tanya Zoya menekan kata 'tidak beradab'
"Zoya ayolah jangan mempersulit keadaan, atau kamu ingin dengan tuan muda Galen ini?" Tanya Ridwan beralih ke pria muda yang masih duduk manis di atas sofa dari tadi.
"Kaya milih baju aja ya pa ditawar
-tawarin, Zoya ini manusia bukan barang, gak seharusnya di jual."
…