Perdebatan itu masih saja berlanjut, Zoya rasa mau mati saja, sebagai wanita dia benar-benar merasa sudah tidak mempunyai harga diri, dipikir dia barang ditawar sana sini.
"Apa segitu gak punya harga dirinya Zoya ditawar sana-sini?" Kesal Zoya dengan sorot mata yang masih tajam, tidak tahukah mereka siapa sebenarnya Zoya? Jika dia sudah tidak menyukai suatu hal namun dipaksa, dia bisa saja marah, marah besar dan itu sangat mengerikan.
"Apa susah hanya untuk memilih saja?" Kali ini Ridwan membentak juga tidak kalah kesal.
"Susah, susah bagi Zoya karena Zoya yang ngerasain, dan kalian? Kalo engga pernah ngerasain gak usah maksa bisa?!"
"Oke kamu harus jadi istri saya!" putus Mahendra sepihak membuat Ridwan tersenyum penuh kemenangan, rupanya Mahendra peka juga, baiklah biarkan Ceo muda itu yang bertindak, jika begini terus tidak akan selesai.
"Zoya masih muda, kasian kalau harus mendapatkan tua bangka bau tanah seperti anda. Kalau Zoya bersedia dengan saya, saya jamin dia tidak akan merasakan ketidak adilan seperti sekarang." Oke, sekarang Tuan muda itu mulai menyindir.
"maksud anda?" Tanya Zoya tak mengerti.
"pilih saya dan kamu akan tahu segalanya." Jawab Pria itu.
"Zoya masih mempunyai darah Jawa, dan menurut nenek moyang kita yang mempunyai kepercayaan yang kuat melarang anak ketiga menikah dengan anak pertama, itu larangan." Ridwan bersuara, sedangkan Melly masih diam bersama kedua kakak Zoya.
"Saya ingin membawa apa yang seharusnya milik saya, bukan menikahi putri ketiga anda yang masih anak SMP itu." Bisik pria itu tepat di telinga Ridwan membuat laki-laki paruh baya itu mengepalkan tangannya.
Pria muda itu menampilkan senyum smirk-nya karena telah berhasil membuat sangat empu tersulut emosi. "Peraturan Jawa dari Hongkong. Saya masih tidak percaya di jaman yang serba janggih seperti sekarang masih saja ada yang mempercayai mitos seperti itu."
"Cepatlah saya tidak mempunyai banyak waktu, apa susahnya tinggal memilih?" Bentak Mahendra membuat semuanya terkejut.
"Lalu kenapa anda mengapa anda menghabiskan waktu berharga anda dengan sangat tidak berguna seperti ini? Lebih baik anda pulang karena saya tidak akan memilih anda dan tuan muda tidak jelas ini. Saya akan mati." putus Zoya segera berlari menuju kamarnya yang berada di lantai 2, sudah di tebak ia akan melompat dari balkon itu.
'bagus, jika dia bunuh diri aku dan keluargaku tidak akan susah-susah lagi mengurusinya dan kami akan terbebas dari masalah.' Batin Melly puas, menurutnya menampung anak pembawa sial yang tidak tahu diri seperti Zoya hanya akan membawa hal buruk dalam keluarganya.
Pria itu tidak tinggal diam, ia sudah mengintruksi para asistennya agar berjaga di bawah memastikan bahwa gadis itu akan baik-baik saja.
"Dia akan kembali kepada saya, camkan itu!" Dengan emosi yang tak tertahankan lagi pria itu meninggalkan tempatnya.
----------------
1...
2...
3...
hupp!
'yahh kok gelap sih? Kok gak sakit sih? apa jangan-jangan gue udah di neraka ya? Eh tapi kok gak panas ya? gak mungkin kan surganya gelap kan gak lagi mati lampu. masih siang juga ini. Duhh pengap banget.' Batin Zoya merasa pengap dan susah bernapas.
Dia baru saja lompat dari balkon lantai 2 di rumah itu dan anehnya tidak merasakan sakit dan malah gelap dan pengap, ia susah bernapas itu yang utama.
"Bagaimana ini bos? Apa langsung kita bawa pergi saja?" Tanya salah satu anak buah Arya.
"Langsung bawa saja, tuan muda sudah menunggu di mobil."
Tanpa banyak tanya lagi mereka pergi meninggalkan pekarangan rumah Ridwan.
'Eh anjing gue mau dibawa kemana ini woy? lepasin elah pengap gak bisa napas sumpah!' maki Zoya dari dalam, yakinlah bahwa ia dimasukkan dalam karung oleh suruhan tuan muda itu.
----------------
"Dia baik-baik saja, sekarang gadis itu sedang beristirahat dalam kamar bersama asisten Eva." ujar Galen berbicara dengan seseorang di seberang telfon.
"sebaiknya jangan untuk sementara waktu ini, tunggu saja intruksi dati saya." sahutnya lagi mendengar penuturan orang di seberang telfon tersebut.
setelah sambungan terputus ia berniat untuk pergi menuju lantai 5 dimana ia mengurung gadisnya itu.
----------------
suasana rumah bak istana itu sangat sunyi seperti rumah-rumah di film horor yang biasa di tonton Zoya bersama teman-teman lucnutnya.
Zoya yang masih syok karena tiba-tiba di dalam karung dan sudah sampai di rumah sebesar ini, apa tidak terkejut dirinya, ingin melompat is takut mati, bayangkan saja rumahnya yang dukung hanya sebesar tingkat 2 dan sekarang ia berada di dalam tingkat 5 istana ini, ia juga masih sayang dengan nyawanya.
Tiba-tiba, disaat ia memikirkan cara kabur dari sana, pintu itu terbuka dan muncullah tuan muda yang tadi pagi membuat rusuh di rumahnya itu.
"kamu tidak tidur?" tanya tuan muda itu yang sebenarnya adalah Galen.
mendengar pertanyaan seperti itu dari mulut pria tidak di kenal membuat Zoya bergidik ngeri sendiri.
"ya gimana gue bisa tidur kalo tempatnya panas kek neraka gini." ketus Zoya membuat Galen segera menambah suhu AC diruangan itu berharap agar gadis di depannya ini bisa nyaman, hal itu membuat Zoya memelotot tidak percaya. Apa-apa-an ini, serius sekali cowok itu menanggapi perkataannya.
"apa kamu masih tidak ingin tidur?" tanya pria itu membuat Zoya semakin merasa ngeri, bagaimana jika pria itu berniat akan membunuhnya.
"Atau kamu ingin makan? Ah iya kamu belum makan sedari tadi pagi bukan? Biar saya panggilkan asisten Eva untuk membawakan makanan untukmu ke sini."
"Lo pasti mau bunuh gue kan? Gak!! Gue gak mau makan, huaaa mamaaa Zoya masih mau hidup huaaaa," Zoya berteriak histeris, gadis yang katanya bar-bar itu ternyata juga bisa menangis ya.
Galen yang semakin tidak mengerti dengan gadis di hadapannya itu lebih memilih diam dan pada akhirnya ia memilih menghubungi asisten Eva untuk membawa makanan Zoya.
Beberapa menit setelah itu, Eva datang dengan nampan di tangannya, hmm aroma makanan itu membuat ara cacing cacing di dalam perut Zoya memberontak dan tidak bisa diajak bekerjasama.
Eva menaruh nampan itu di atas nakas dekat ranjang yang saat ini Zoya tempati.
"Saya permisi dulu tuan." pamit Eva diangguki oleh Galen.
"Makanlah, atau mau saya suapkan?" Titahnya pada Zoya.
"Saya tau kamu lapar. Ayolah jangan mengulur waktu saya." Galen semakin kesal karena Zoya tidak mendengarkan perkataannya sama sekali.
"Saya tidak pernah menaruh racun di situ, cepat makanlah!" kali ini Galen menaikkan satu oktaf suaranya.
Zoya tidak suka di bentak, jujur dia sangat sensitif, dengan perasaan dongkol ia mengambil piring di atas nampan itu dan segera memakan habis isinya, melihatnya Galen hanya menghela nafasnya panjang. Ia benar-benar sudah tidak lagi mengenal gadis di depannya itu.
***