"udah, puas!?"
Galent tersenyum puas, sedikit sulit tapi menyenangkan membuat gadis di depannya ini badmood.
"keluar sana, ganggu lu." Usir Zoya tidak tahu diri. Galen menghembuskan nafasnya pelan, semua tidak ada yang instan, dia harus memulai dari awal dan tetap bersabar, karena dia bukan lagi yang dulu, bukan lagi gadis yang lemah lembut, sangat berbanding terbalik. "Jika saja kamu bukan dia, mungkin sekarang kamu sudah habis."
Zoya mengernyit, hingga is hampir membuka suara untuk bertanya, namun diurungkan karena ternyata orang aneh itu sudah pergi tanpa ia sadari.
"Gajelas banget jadi orang." gerutunya.
Ia melanjutkan aktifitasnya menjelajahi dunia mimpi, karena ia tidak tahu harus bagaimana, mau kabur itu sangat mustahil, tidak ada celah yang dapat membantunya kabur, ingin bunuh diri apalagi, semua jendela dan pintu di tutup rapat dan di kunci, pintu balkon yang katanya tempat terbaik untuk melihat pemandangan juga di tutup rapat, bahkan di tamengi pintu besi, ah sial dia harus mulai berteman dengan asisten Eva supaya rencananya berhasil.
----------------
Bug...
Bug...
"Bodoh! bagaimana bisa kalian melupakan hal sebesar itu!? Sekarang, bagaimana? Kalau sudah di tangan mereka, mustahil akan kembali menjadi milik kita!" Bram berteriak marah. Setelah bertahun-tahun ia berhasil menculik harta berharga musuh besarnya, sekarang malah kelepasan, sungguh usahanya selama ini sangat sia-sia.
"Saya pikir anak itu tidak akan nekat, tapi ternyata semua di luar dugaan saya."
"Kamu itu bodoh! Sudah salah jangan mencoba mencari dalih, terima saja akibat dari semuanya!"
Setelah puas menyiksa seorang yang tak berdaya di hadapannya itu, Bram meninggalkan-Nya begitu saja tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Beberapa pengawal yang dari tadi hanya diam melihat orang tersebut di siksa oleh Bram, juga ikut pergi meninggalkan pria paruh baya itu sebelum pergi satu-satu dari mereka menyempatkan menendang tubuh tidak berdaya pria paruh baya tersebut, paling sering terkena adalah bagian perut membuat sang empu terbatuk mengeluarkan darah, sangat menjijikkan.
"Gak guna banget, mati aja lo! Jadi bangkai gak akan juga gue kubur. Gak becus!" Umpat salah satu pengawal untuk terakhir kalinya sebelum kesadaran pria tersebut lenyap.
Setelahnya tempat yang sempat ramai tersebut sudah benar-benar terasa sunyi.
----------------
Di sisi lain, Galen bari saja keluar dari ruang kerja, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 waktunya ia beristirahat, ia tidak mau terlalu kelelahan akibat berterus-terusan lembur.
Yaps!
Orang yang menduduki posisi 10 besar orang terkaya di Asia seperti Galen tentu sangat sering menghabiskan waktu istirahatnya dengan berlembur, untung ia memiliki imun yang kuat sehingga tidak mudah sakit, ia juga rutin meminum vitamin, itu adalah keharusan yang diciptakan oleh sang Bunda tercinta.
"Tuan tidak makan malam dulu?" Tanya bi Sum selaku kepala pembantu di rumah tersebut.
Ia bertanya karena melihat majikannya itu langsung menuju kamar tidak melirik dapur sedikitpun, padahal sudah di sediakan makanan yang enak-enak di sana, tapi rasanya Galen sudah sangat bosan dengan menu makan malam yang itu-itu saja, tidak ada kemajuan sama sekali.
Yang ditanya hanya terkekeh sinis. "Jam segini itu sudah jamnya istirahat Bibi, saya sangat lelah dan ingin tidur. Bibi tidur saja, tinggalkan semua pekerjaan yang belum siap, anggap semua sudah rapi dan besok lain lagi ceritanya terserah saya akan memarahi Bibi atau bagaimana, itu urusan besok."
Bi Sum menelan ludahnya susah payah, kode ini. Besok pagi akan ada bencana di rumah ini. "Tapi tuan-"
"Saya lembur pekerja rumah juga ikut lembur, tapi jika saya tidur cepat semua juga harus begitu. Turuti saja sebelum saya berubah pikiran dan membuat kalian semua terjaga semalaman. Suruh yang lain juga tidur, atau besok kalian semua sudah angkat kaki dari sini!" gertak Galen, ia benar-benar paling anti jika ada yang berani menentangnya.
"B-baik tuan saya permisi dulu." Bi Sum sudah hendak melangkahkan kakinya untuk pergi ke belakang di mana rumah khusus Art itu berada. Tapi, sudah di cegat lebih dulu oleh majikannya yang sungguh aneh itu.
"Zoya, apa dia sudah makan malam?" Tanya Galen ketika mengingat akan keberadaan gadis itu di rumahnya. Bi Sum mengangguk dan berkata, "sudah Tuan, tadi makanannya di antar oleh asisten Eva." Galen ikut mengangguk, setelahnya ia pergi begitu saja.
Tidak lupa ia mengeluarkan senjata andalannya, membuat bi Sum terus saja merapalkan do'a supaya besok tidak terjadi apa-apa di luar dugaannya.
"Rasanya saya ingin ber marah-marah besok pagi, siapkan tenaga kalian semua, istirahat yang cukup untuk menambah energi, atau berdo'a saja saya besok sakit supaya tidak perlu repot-repot memarahi kalian semua pagi besok." Galen berseru saat mendapati seluruh Art si rumahnya sudah berbaris rapi sambil menunduk patuh menghormati sang majikan.
Cklek.
Galen membuka pintu kamarnya yang berada di lantai 5, kamarnya memang tepat bersampingan dengan kamar gadis yang tadi siang baru ia pungut dari rumah tua bangka tidak berperasaan tersebut.
Sebenarnya Galen sangat ingin melihat gadisnya itu, tapi ia takut menganggu jam tidur Zoya, ia tau bahwa gadis itu sangat kelelahan.
'Saya bersyukur bisa mendapatkan mu kembali. Jika saja saya terlambat tadi, sedikit saja saya terlambat, saya tidak akan pernah menyalahkan diri saya sendiri untuk yang kesekian kalinya. Saya paling tidak bisa melihat kamu bersanding dengan pria lain, apalagi tua bangka bau tanah beristri 5 itu, sangat tidak pantas hanya sekedar menyentuh helaian rambutmu itu Zoya.' Batin Galen sudah ke seribu kalinya mengucapkan rasa syukur yang teramat bersyukur, selama ini ia selalu menyalahkan dirinya akan masa lalu, dan sekarang. Sudah waktunya bagi Galen untuk memperbaiki segalanya, memang sudah sangat terlambat, tapi bagi seorang Galen Alvaro Fahlevi, lebih baik terlambat daripada tidak pernah sama sekali benar bukan?
----------------
Malam sangat cepat berlalu dan sekarang sudah berganti pagi. Ternyata ini bukan mimpi, Zoya baru sadar bahwa ia benar-benar sudah tidak lagi berada di rumahnya yang dulu, ia sadar bahwa sekarang ia berada di sebuah mension pria aneh yang tidak ia kenali itu.
Tidak lama asisten Eva datang membawa sebuah nampan yang berisi sarapan. "Nona mandi dulu, sudah saya siapkan air hangat, setelah itu nona baru boleh sarapan." Ujar asisten Eva membuat Zoya membola.
Apa-apaan ini, majikan dan pembantu sama-sama aneh, jadi ia harus mandi dulu baru sarapan? Ah sudahlah turuti saja, ikuti saja alurnya, ia tidak mau membuang tenaga yang tidak terlalu banyak ini untuk menggerutu tidak jelas, lebih baik ia mandi, sarapan dan kembali tidur, toh emang semonoton itu sepertinya untuk saat ini, tidak tahu kedepannya akan seperti apa.
Setelah selesai mandi dan sudah rapi dengan pakaian yang tadi di siapkan oleh Eva, ia segera memakan sarapannya, baru 2 kali suapan ia habis, aktivitasnya terhenti ketika ia melihat Eva membereskan semua barang dan pakaian Zoya yng baru di beli semalam atas perintah Galen tentunya.
"Itu barang gue kenapa di beresin? mau di bawa kemana? di mutilasi dari dunia ini?" Tanya Zoya melontarkan segala pertanyaan ke arah Eva.
"Tuan Galen menyuruh saya untuk membantu Nona membereskan barang-barang nona yang akan di bawa ke Bandung," sahut Eva seadanya.
What!?
Ke Bandung?
Maksudnya apa ini?!
…