"Eh, orang aneh! Meskipun di sini gue di sekap, lo gak bisa seenaknya gitu ya, mau bawa gue lebih jauh dari ini!" Seru Zoya saat menemukan Galen yang asik menikmati sarapan paginya, pria itu sudah terlihat rapi dengan pakaian kerjanya serta jas yang ia sampirkan di salah satu kursi kosong tepat di samping ia duduk saat ini.
Galen yang sempat menoleh ke arah Zoya kembali melanjutkan sarapannya, tidak ada gunanya sama sekali dia menanggapi gadis yang baru ia culik semalam. "Setan apa iblis sih lo!? Gue nanya loh, bukannya di jawab apa kek gitu, malah di kacangin." Zoya kembali mencercanya dengan berbagai umpatan.
"Daripada kamu nyeloteh gak jelas ngumpat saya begitu, mending sini temani saya makan," titah Galen akhirnya bersuara, jika tidak mungkin gendang telinganya akan pecah karena suara toa gadis itu.
"Gak, minat." Setelah itu Zoya langsung pergi menuju lantai 5 diikuti asisten Eva.
"Kamu terlalu sulit untuk aku pelajari sifat dan kelakuanmu. Aku yang salah menganggapmu sebagai remaja 15 tahun seperti dulu, kalian berdua adalah dua sifat yang bertolak belakang tapi dalam satu orang yang sama." gumam Galen menatap sendu kepergian gadis-Nya itu. "Tua bangka itu sudah merubahmu sejauh ini." Galen melanjutkan kalimatnya hingga tanpa ia sadari tangannya sudah mengepal begitu kuat.
Beberapa menit setelah Zoya pergi meninggalkan dirinya di ruang makan sendiri, ia memilih untuk segera pergi ke kantor dan menyelesaikan semua pekerjaannya agar ia bisa cepat pulang. Tidak peduli jika sarapannya kembali tidak ia habiskan, ia menjadi tidak berselera makan begini juga karena Zoya, ah sudahlah ia tidak ingin selalu menyalahkan Zoya, bahkan untuk hal kecil sekalipun, ia tidak ingin kehilangan gadis-Nya untuk yang kedua kalinya.
••••
Sejak kembali lagi ke kamar, Zoya masih belum berhenti menghina, mengumpat, mencaci-maki Galen dan Eva. Gadis itu masih belum terima di kurung lama-lama di tempat aneh yang sayangnya harus sebagus istana.
Harusnya semalam ia sudah mulai masuk kuliah, tapi karena pria aneh itu, ia harus mengubur mimpinya dan mencari cara supaya bisa terlepas dari penjara yang sebenarnya sangat membuatnya betah ini, ia tidak bisa memungkiri bahwa ia menyukai hal kemewahan, seperti yang ia dapatkan sekarang, tidak seperti dulu ia harus hidup susah bersama keluarga lamanya, tapi yang membuat ia tidak betah adalah, ia khawatir jika nantinya ia malah diperistri oleh pria aneh itu, ia takut nasibnya akan sama dengan wanita-wanita di novel yang ia baca, menjadi babu dan berakhir berpisah, kembali harus bekerja keras dan hidup susah, ah itu sangat menakutkan, ia tidak ingin hidup sengsara seperti itu.
Kembali ke poin awal. Saking asiknya ia mengomel, ia sampai tidak sadar jika ada meja di depannya, berakhir ia tersandung dan jatuh.
"arghh... sial! Siapa sih yang naruh meja di sini, gabut banget."
Eva yang dari tadi terus mengawasi Zoya langsung berlari menghampiri gadis itu dan membantunya berdiri, dengan raut wajah khawatir dan ketakutan Eva langsung membawa Zoya ke sofa yang ada di ruangan itu.
"Sebentar, nona. Saya ambilkan kotak P3K dulu," ujar Eva bangkit dari duduk.
"Ah, lebay lo! Gini doang dikasih obat, gak usah. Gue sih gak alay ya," cerca Zoya masih saja menyinyir.
"Tapi itu berdarah, nona. tenang saja, saya tidak akan lama." tanpa menunggu jawaban dari Zoya, Eva langsung pergi meninggalkan ruang itu.
•••
"Pak Agus, tolong mutilasi meja yang berada di kamar nona Zoya, tuan Galen yang meminta," titah Eva menghampiri pak Agus yang tidak lain adalah tukang kebun di rumah itu.
Setelah mengambil kotak P3K, Eva memutuskan untuk menemui pak Agus sebelum kembali ke kamar Zoya.
ia tidak khawatir meninggalkan Zoya sendirian, karena di sana ada bi Siti yang menjaga, juga CCTV di rumah itu tidak kurang-kurang, disetiap sudut ruangan pasti ada, jadi Zoya tidak akan bisa kabur, lagian sangat bodoh jika ia akan meloncat dari balkon mengingat ketinggian bangunan itu, bukannya selamat bisa saja kepalanya langsung pecah. Dan lagi, semua pintu di ruangan itu di kunci.
Karena hal itu semua memudahkan Galen untuk memantau Zoya 24 jam, makanya saat tahu gadisnya itu tersandung, Galen langsung panik dan menyuruh pak Agus memutilasi meja yang sebenarnya tidak bersalah itu.
"Baik, nona Eva," sahutnya patuh.
•••
Dengan telaten Eva mengobati kaki Zoya yang terluka, lukanya cukup parah tapi gadis itu tampak sangat tenang tidak merasakan sakit apapun. "Apakah ini tidak terasa sakit, nona?" tanya Eva memastikan, ia saja yang hanya melihat sudah meringis ngilu.
"b aja tuh, lebay sih kalo gini aja nangis."
"Kaya tuan kesayangan lo itu, gue kesandung meja aja, udah langsung di mutilasi. Mungkin kalo gue jatuh dari rumah ini rumahnya kali ya yang di mutilasi, aneh," lanjutnya sebenarnya bermaksud mengejek.
"Haha, nona bisa saja," kekeh Eva.
"Lucu?" tanya Zoya mengangkat alisnya, gadis itu tampak agak kesal.
"Maaf nona," ujar Eva bersalah.
"Sans kali, lo gak perlu tegang gitu sama gue, gue gak makan orang kok, gak doyan. Lo kalo mau ketawa, ketawa aja gapapa. Katanya ketawa bisa mencegah stres, kali aja kan lo stres jadi babunya kaleng," cerocos Zoya.
Setelah ia selesai mengobati kaki Zoya, ia segera beralih ke walk in closet dan mengambil satu koper besar untuk memasukkan semua barang dan perluan Zoya yang akan dibawa ke Bandung.
Melihat itu, Zoya nampak tidak peduli, sepertinya ia mulai lelah berceloteh dari tadi pagi.
30 menit, Eva baru saja siap membereskan semua barang-barang Zoya, 2 koper ternyata sangat banyak dan ia baru menyadari itu.
Tatapan Eva teralihkan ketika melihat Zoya tertidur di sofa dengan posisi sembarangan, gadis itu sangat bar-bar, tidur saja begitu bentuknya, jika Galen melihatnya bisa habis dia diomeli oleh pria itu, tidak hanya itu, mungkin gaji bulanannya akan di potong, oh tidak itu akan membuatnya benar-benar tertekan dan stres.
Tapi saat ia berniat akan memindahkan Zoya, ada seseorang yang membuka pintu kamar tersebut, kali ini ia rasanya seperti ingin menghilang dari bumi.
"Sudah, lebih baik kamu pergi dan siapkan barang-barang kamu. Biar saya yang mengurus-Nya," ujarnya sebenarnya iy lebih tepat dengan kata usiran, yaps dia mengusir Eva.
"Maksud anda, saya diajak ke Bandung?" tanya Eva memastikan. Tentu itu kabar yang sangat membahagiakan baginya.
"Jangan banyak tanya, lakukan saja yang saya perintahkan."
"Baik, tuan."
Setelah Eva keluar dari kamar, Galen beralih fokus memandang wajah Zoya yang tengah terlelap tanpa berniat mengganggu.
"Kamu pasti akan mengingatnya suatu saat nanti, aku yakin itu."