Aku menggeliat pelan dan membuka mataku perlahan. Pandanganku terantuk pada jam dinding di depanku. Jam 8? Ah...ini gara-gara semalam aku terlalu banyak melamun memikirkan keadaan Papa serta mempertimbangkan perasaan Mama karena aku kembali dalam hidupnya. Perlahan kuangkat tubuhku dan berjalan ke arah jendela. Kubuka hordennya sehingga sinar mentari semakin nyata menyapaku. Di bawah sana tepatnya di warung Kencana, warung kebanggan Mama, tampak beberapa manusia hilir mudik masuk dan keluar. Warung Kencana simbol kesuksesan Mama di tengah badai dalam hidupnya. Mama memanfaatkan halaman rumahnya yang luas dengan mendirikan sebuah warung permanen.
Awalnya Papa ragu dengan niat Mama ini mengingat rumah kami yang jauh dari keramaian, tapi Mama meyakinkan bahwa warung ini pasti akan sukses seiring waktu berjalan. Insting dan kerja kerasnya perlahan menampakkan hasil. Langganan Mama awalnya kebanyakan mahasiswa namun seiring waktu berjalan langganan Mama beralih pada karyawan-karyawan kantor. Seluruh perhatian dan konsentrasi yang (sulit) Mama berikan padaku, ia curahkan hanya untuk Dani dan warung Kencana. Kesuksesan Warung Kencana memaksa Papa membangun pagar pembatas antara rumah kami dengan warung.
Pagar pembatas itu lumayan tinggi, dan bagiku pagar menjadi simbol pembatas antara aku dengan Mama. Sama seperti tembok Berlin dulu. Bedanya tembok Berlin sudah runtuh tapi tembok ini masih berdiri kokoh, sekokoh hati Mama. Aku tersenyum pahit. Bagaimanapun aku sudah mengambil keputusan untuk kembali demi Papa dan meninggalkan pekerjaan impianku di Jakarta. Setiap manusia pasti berharap keputusan yang ia ambil adalah yang terbaik untuknya kalaupun itu buruk maka ia harus berusaha keras untuk memperbaikinya kan?
Aku mundur dan berjalan kembali ke ranjangku. Mataku menyapu seluruh isi kamarku yang tidak menampakkan perubahan yang signifikan. Lemari jati berhias sisa perekat poster yang mulai menghitam. Meja belajar yang dilengkapi dengan rak buku yang sekarang sudah berkurang penghuninya. Karena sebagian besar bukuku sudah duduk manis dalam kardus dalam gudang. Hanya beberapa majalah dan beberapa diary usangku sejak SMP hingga SMA yang menghuni rak itu sekarang.
Melihat lagi diary diary itu, pikiranku langsung menuju pada dua sahabatku. Aku menimbang-nimbang ponselku. Dua sahabatku yang harus kukabari tentang kedatanganku kembali ke Yogya. Dion dan Abel. Penjagaku. Dua laki-laki yang menawarkan persahabatan tulus tanpa ada niat lain. Dua orang yang bercita-bercita menjadi bisnisman sukses dengan segala ide dan rencana yang terkadang gila dan nggak masuk akal dan pada kenyataannya tidak mampu mereka wujudkan.
Aku tertawa kecil saat mengenang dua bocah itu. Jarak yang memisahkan kami dalam waktu yang cukup lama membuat komunikasi kami tidak terlalu lancar tapi ikatan persahabatan di antara kami tidak pernah terkikis. Aku sangat meyakini itu. Aku berharap mereka belum keluar dari Yogya, setelah kabar terakhir yang kudengar. Yang kutahu, lewat f*******: dan puluhan BBM mereka, dua manusia itu sedang berencana membuat usaha baru di kota ini. Dan itu berarti mereka masih setia berada di sini. Bibirku tersenyum lebih lebar.
Aku mendial nomor Abel. Tawa sumringah tercipta saat mendengar suara lembut Abel dan cablaknya Dion. Mereka masih di sini. Dan tanpa menunggu waktu lama aku langsung meninggalkan ranjangku dan melesat ke kamar mandi.
***
Terakhir kali aku meninggalkan Yogya yaitu satu setengah tahun lalu dan sayangnya saat itu aku tidak bertemu Abel dan Dion. Dion, yang sedang liburan ke Bandung setelah drop out dari sebuah universitas di Sydney, waktu itu sempat marah dan kesal padaku karena tidak memberitahu perihal kepulanganku.
"Tau gitu kan rencana ke Bandung bisa kutunda." Omelnya di telepon saat aku menghubunginya dari bandara. Lain Dion lain Abel. Temanku yang kalem itu malah sedang ke Lampung mendamping sebuah band lokal untuk show di kota itu. Pengalaman ngeband Abel jaman SMA dulu serta bekal koneksi yang ia miliki sering membuat dia diminta untuk menjadi manajer band band bentukan baru di Yogya. Dan Abel melakukan itu dengan senang hati bila dia sedang tidak punya orderan desain.
Dan setelah satu setengah tahun akhirnya kami kembali bertemu. Aku sangat merindukan mereka. Langkah kakiku kupercepat saat mencapai halaman Snap Cafe di bilangan Gejayan.
"Hai" sapaku dengan senyum sumringah saat mendorong pintu kaca cafe dan mataku terantuk pada dua laki laki yang menghuni sofa di pojokan depan cafe. Dua pria yang sedang ngobrol itu langsung menoleh ke arahku. Raut wajah kedua manusia itu menggambarkan ekspresi senang tak terkira.
"Biantari!" Abel bangkit dan langsung merangkulku erat.
Abel melepaskan pelukannya dan kembali duduk dengan tawa bahagia yang masih tersisa di bibirnya. Aku mengambil tempat persis di sebelah Dion. Dion masih menatapku tanpa mengeluarkan sepatah kata. Seketika aku menonjok lengannya agar dia tersadar.
"Memang gue hantu? Sok dramatis." Semburku di depan wajah Dion. Laki-laki itu hanya mengerjap-ngerjapkan matanya sekilas seakan-akan baru saja bangun dari tidur panjang. Bibirnya kemudian menyunggingkan senyum tipis.
"Bukan gitu, Bi. Jujur aja, kita berdua baru aja ngomongin kamu. Malah si Abel berandai-andai kalau kamu resign dari kerjaan kamu yang sekarang." Aku melotot mendengar kata-kata Dion, dan berpaling dengan wajah pura pura kusetel kesal pada Abel. Abel nyengir.
"Thank you ya Bel. Doa lo terkabul. Gue emang baru resign." Ujarku dengan wajah merengut. Mata Dion semakin melebar mendengar jawabanku.
"Ha? Yang benar kamu? Beneran resign dari Raising? Kenapa?" Tanya Abel beruntun. Sedang Dion masih sok dramatis seperti sebelumnya. Matanya masih tak berkedip. Aku mengambil majalah di depanku dan kukibas dengan gemas di depan wajah Dion.
"Ya adalah alasannya tapi nggak sekarang deh aku cerita. Oh ya, ngapain kamu ngarepin aku resign, Bel. Mo ngasih kerjaan?" aku tersenyum konyol pada Abel dan dengan manja menyenderkan kepalaku ke bahunya. Mataku masih melirik ke arahnya. Dengan kedua sahabatku ini aku bebas berlaku manja di manapun kami berada
"Iya, lu tanya tuh si bos." Jawab Abel ringan sambil menunjuk Dion.
"Ha? Beneran? Lo udah jadi bos sekarang? Bisnis apaan sekarang?" Tanyaku beruntun. Mataku kini beralih pada Dion, sahabat cablakku yang suka sekali membahas hal-hal nggak penting dan sekaligus seorang pengusaha musiman karena memang usahanya selalu berubah seiring musim. Berapa bulan lalu, Dion baru saja menutup cafe miliknya. Alasannya karena letak cafe yang nggak strategis. Terus sekarang udah beralih kemana perhatiannya?
Terlahir dari keluarga pengusaha sukses membuat Dion tidak bisa menghindar ditulari dunia yang ditekuni orang tuanya. Dulu waktu SMA, dia ingin sekali punya bisnis media khususnya majalah. Dan dia selalu bilang pada Abel, si jago desain, itu bahwa suatu hari nanti Abel harus bekerja bersamanya untuk mewaujudkan impiannya itu. Walaupun aku tahu Dion memiliki sumber dana yang besar a.k.a Papanya, tapi bisnis majalah di Yogya bukanlah ide yang bagus. Yogya bukan lahan yang tepat dalam menjalankan bisnis itu. Mungkin bisa tapi pasti sangat beresiko. Dan aku harap bukan ide ini yang akan keluar dari mulut Dion. Aku memandang Abel dan Dion bergantian. Dion kemudian memberi tanda pada Abel untuk menjelaskan padaku.
"Ada apa sih? Bikin penasaran aja." Tukasku kesal melihat Dion dan Abel yang masih belum menjawab rasa ingin tahuku.
"Kita baru dapat proyek. Kamu tahu kan Plaza JavaLand?" Sejenak aku diam kemudian mengangguk setelah otakku berhasil menangkap apa yang dimaksud Abel. Pikiranku langsung tertuju pada Mal megah yang baru sebulan lalu soft opening. Apa dua sahabatku ini akan kembali berbisnis cafe di mall?
"Nah aku sama Dion nekad ngajuin proposal buat majalah in-housenya." Bibirku membuka sedikit mendengar kata kata Abel. Ternyata dugaanku salah. Aku semakin fokus dengan kata kata Abel selanjutnya. Ini sangat menarik bagiku.
"Terus?" tanyaku tak sabar.
"Singkatnya setelah beberapa bulan meeting, mereka setuju." Keningku semakin berkerut. Pelayan datang membawa ice cappuccino dan sepiring French fries. Sekilas aku menyapu pandanganku ke sekeliling kami. Snap Café siang ini sangat lengang, cuma ada kami bertiga.
"Mereka percaya sama kalian berdua?" ujarku sangsi. Tanganku mulai sibuk mengaduk isi gelasku dengan sedotan sedang mataku masih bergantian memandang dua sahabatku. Keduanya masih diam dan salah satu dari antara mereka belum ada yang berniat menjawa pertanyaanku. Sepertinya pertanyaanku ini, meski sederhana, tapi cukup membuat tingkat percaya diri mereka sedikit melorot.
Ya iyalah, dalam sejarah Abel dan Dion sama sekali belum berpengalaman dalam bidang media seperti majalah, meskipun itu cita-cita mereka. Abel sejauh ini menerima design-design lepas buat iklan cetak atau kartu-kartu undangan, sedang Dion sibuk berkoar, mejeng, pacaran, nongkrong sana-sini mencari pergaulan biar tetap eksis di dunia anak muda Yogya agar bisnis cafenya lancar tapi seperti yang diketahui cafenya pun akhirnya tetap gulung tikar. Ternyata modal gaulpun tidak menjamin.
"Ya, kita buat proposal yang meyakinkanlah. Kita buat dummy yang keren dan elegan. Mungkin faktor yang membuat kita bisa ngalahin saingan kita adalah pengajuan dana kita yang nggak biasa." Abel tersenyum sumringah seolah mendapatkan kembali kepercayaan dirinya, tangannya menyambar cangkir di depannya. Keningku semakin berkerut karena aku semakin tidak mengerti dengan penjelasan Abel.
"Nggak biasa maksudnya?" Aku mengucapkan kata kataku dengan nada sedikit diseret, sebagai tanda bahwa aku mencium ada yang tidak beres.
"Kita hanya minta mereka ngeluarin dana printing tiap bulan. Jadi pemasukan kita cuma dari iklan tapi kita akan buat majalah yang elegan sesuai dengan kelas mereka." Kali ini Dion yang menjawab. Mendengar itu aku langsung tertawa. Dion dan Abel memandangku heran.
"Ya iyalah mereka langsung setuju. Kalian berdua itu benar-benar nekad ya. Kalian pikir gampang apa nyari iklan hari gini di saat digital udah gila-gilaan? Di Yogya pula? Kalian emang masih tetap gila ya." Protesku marah pada dua sobatku yang menurutku suka menganggap enteng setiap hal. Abel menggit bibirnya sedang Dion di sebelahnya hanya bisa mengerutkan kening mendengar reaksiku.
"Coba mana aku lihat dummynya?"
"Ada di mobil. Bentar aku ambil." Dion berjalan keluar menuju mobilnya. Tak lama kemudian dia muncul dan kemudian menyodorkan dummy yang kuminta. Mulutku langsung menganga melihat desain Abel yang keren habis di dalam sana. Minimalis dan sangat elegan.
"Kalian emang gila! Tentu aja mereka langsung setuju kalau desainnya kayak gini. Apa kalian nggak mikir kalau desain seperti ini nggak bakalan bisa jalan kalau nggak ada yang masang iklan." Protesku lagi sambil membolak balikkan halaman dummy yang cuma empat lembar.
"Protes mulu kamu ini." Gerutu Abel sedikit kesal. Aku mendesah pelan dan mengakui bahwa reaksiku memang terdengar menyebalkan di telinga mereka. Tapi apa yang aku katakan ini ada benarnya.
"Bel, aku akuin desain kamu ini keren banget." Mataku tak habis puas meneliti setiap detil desain Abel. Pemilihan warna dan font yang tepat mewakili gambar dan foto di bawahnya. Peletakan gambar dan foto yang pas pada tempatnya sehingga memenuhi nilai artistik dan terkesan bersih. Dan foto foto ini sendiri pun sudah sangat elegan karena itu secara keseluruhan desain ini sangat pas dengan image yang ingin diciptakan Abel pada majalahnya.
"Oh ya, ini foto-foto siapa yang kamu pakai."
"Itu foto Elang." Jawaban Abel seketika membuat majalah di tanganku hampir terlepas. Sudah hampir 8 tahun aku tidak mendengar nama itu. Aku menatap Abel dan Dion bergantian. Merasa mendapat tatapan penghancur ala Magneto, tangan keduanya serentak menyambar gelas di depan mereka.
"Aku tahu ini pasti jadi masalah." Desis Dion ke arah Abel seraya meletakkan kembali gelasnya setelah menenggak tandas isi gelas yang masih separuh.
"Bi, udah 8 tahun lagi. Masa kamu masih nyimpan dendam sama dia. Lagian sekarang dia itu jadi andalan kita untuk usaha ini." Abel berusaha menjelaskan dengan hati-hati. Aku menghembuskan napas. Elang! Ugh! Kenapa di saat seperti ini aku harus berhadapan lagi dengannya.
"Hebat banget ya...udah jadi fotografer dia?" kataku sedikit sinis.Tidak bisa kupungkiri hasil karyanya sempat membuat aku kagum tadi. Foto sebuah lobby hotel di Bali yang kental nuansa seni dan budaya Indonesianya, si keriting kucel yang kuharap jadi musuh seumur hidupku itu mampu mengekspos habis semuanya melalui satu sudut.
"Kerja di mana dia?" tanyaku lebih lanjut. Meskipun masih ada rasa benci itu, aku tentu masih ingin tahu kabar si kucel itu. Aku tidak bisa bohong aku masih sangat ingin tahu kabarnya.
"Sekarang sih dia freelancer untuk majalah bulanan hotel di Bali. Sejauh ini dia lebih konsen ke interior hotel." Jelas Abel "Masih mau tahu juga kabarnya?" sambung Dion dengan nada menggoda.
"Yon!" sentakku kesal.
"OK...sorry! Lagian tenang aja Bi, si Elang udah punya pacar kok. Udah lama banget pacarannya." Dion nyengir. Abel menimpuk kepala Dion dengan gulungan kertas di tangannya.
"Belum lama-lama amat ah pacarannya..' Gumam Abel setengah melotot pada Dion, seperti memperingatkan sahabatku yang bawel itu. Beberapa detik kemudian wajah Dion berubah tampak menyesali informasinya tadi.
Dion hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya sambil cengengesan. "Hei, balik lagi donk sama yang tadi." Dia mengalihkan topik. Namun terlanjur informasi Dion sudah masuk ke hatiku. Miris juga mendengar kabar itu karena sepengetahuanku kisah cinta monyet aku dan si kucel delapan tahun lalu masih belum ada kata putus. Dan ada sedikit perih di sudut hatiku mengetahui dia bisa begitu setia pada seorang perempuan sedangkan dulu dia memperlakukanku dengan tidak adil.
Aku tersenyum perih sendiri. Dari sudut mataku kulihat Abel berbisik serius pada Dion.
"Gini aja Yon, ntar malam kita ketemu lagi aja? Siang ini aku harus ke rumah sakit." Abel memajukan tubuhnya ke arahku.
"Siapa yang sakit?"
"Papa." jawabku. "Ceritanya nanti OK." Potongku sebelum Abel bertanya lebih lanjut.
"Ok deh kalau gitu. Lagian jam 1 nanti kita berdua ada meeting sama Marketing Managernya."
Aku mengangguk.
"Senang banget Bi, ada kamu sekarang." Abel tersenyum tulus padaku. Dion bangkit hendak ke kasir.
"Yon, nggak usah. Aku traktir."
"Beneran? Asyik..." Dion menyeringai senang.
"Tapi untuk kali ini aja."