Mendengar nama Elang kembali di sebut, tidak bisa kuhindari masa itu kembali menghantuiku. Sejujurnya tanpa perlu nama Elang disebut, satu momen menyebalkan di masa itu sering terbayang dan semakin nyata saat aku kembali bersama Abel dan Dion. Tapi yang lebih buruk sebentar lagi aku harus berhadap-hadapan dengan Elang, si inti permasalahan itu. Ada dua hal yang membuat aku ingin terus membencinya. Pemikirannya yang jahat tentangku dan perginya dia tanpa pamit padaku.
"Aku benci manusia itu." Desisku sambil menahan kekesalan yang masih tersisa sejak masa itu dan rasanya tidak akan pernah pupus. Sebenarnya ingin sekali aku melupakan semua dan melepaskan kebencianku padanya tapi berkali kali kuusahakan tapi tidak pernah berhasil. Sepertinya masih ada yang belum selesai di antara kami.
Dan mendengar cerita Abel dan Dion membuat aku tambah ingin membencinya. Luka itu seperti kembali tersayat mengetahui bahwa ia mampu menjalin hubungan yang cukup lama dengan orang lain. Aku merasa kalah dan tidak istimewa untuk dirinya.
Jarum jam menunjuk angka 11. Aku sudah menguap ratusan kali tapi mata ini tidak mampu terpejam dan membawaku ke alam mimpi. Mimpi yang indah, jauh dari kenyataan yang terjadi saat ini. Melihat sakitnya Papa dan menerima tatapan kebencian Mama serta akan kembali bertemu Elang. Kucoba lagi memejamkan mata dan mulai membayangkan yang indah-indah. Berkhayal menjadi kekasih yang dipilih Iker Casillas setelah dia mendepak tunangannya yang reporter itu, ah ternyata setelah sepuluh tahun aku tetap terpaku pada ketampanan si goal keeper itu . Tapi justru bayangan tiga sosok berseragam SMA yang berandalan menari-nari di pelupuk mataku. Dua pria dan satu perempuan. Aku, Abel dan Dion.
Persahabatanku dengan mereka berdua terjadi karena kami sama-sama terlambat saat awal masuk SMA dan diusir oleh satpam. Kami pun baru tahu keesokan harinya kalau kami sekelas. Abel yang manis bertolak belakang dengan Dion yang mirip preman. Aku dan Abel seumuran sedang Dion seharusnya sudah duduk di kelas tiga tapi karena sekali tidak lulus saat SMP dan sekali lagi tidak naik kelas tahun itu, membuat Dion memiliki status yang sama seperti aku dan Abel. Entah apa yang salah sama anak itu, mungkin karena bentuk dan kelakukannya yang mirip preman kali. Tapi Dion bisa menjadi sahabat terbaik bagi aku dan Abel.
Karena kebencian Mama padaku serta 'diam'nya Papa membuat aku lebih betah dan bahagia di luar rumah, apalagi bersama Dion dan Abel. Tapi dalam hal ini kami bertiga tidak pernah melakukan hal-hal negatif, maksudnya kenakalan remaja yang ekstrim. Semisal n*****a. Kenakalan kami masih sebatas bolos bareng saat pelajaran, atau kompak tidak mengerjakan PR dan akhirnya dihukum bersama.
Aku dan Abel yang memang agak culun dan bodoh saat itu seringnya selalu patuh pada kata-kata Dion yang kami berdua tuakan. Apapun kegiatan Dion, kami berdua pasti selalu jadi ekornya. Meskipun saat itu dia punya hobi menggombali banyak perempuan dan sepertinyha tetap bertahan hingga kini. Dion banyak aktif di berbagai kegiatan dan tentu saja tujuan utamanya adalah bisa bergaul dan berkenalan dengan banyak wanita.
Hingga saat Dion aktif di sebuah klub fotografi, aku dan Abel pun turut menjadi dayangnya. Di sana kami pun diperkenalkan pada Elang. Elang adalah teman SMP Dion dan saat itu baru kuliah semester satu. Elang yang kurus, kucel, keriting, memang pintar bergaul tapi anehnya dia terlihat tidak suka padaku. Dia jarang mengajak aku ngobrol seperti yang ia lakukan pada Abel dan bahkan dia selalu menghindar saat aku ingin mendekat.
Merasa dicueki aku tentu saja balas memberikan sikap yang sama padanya, bahkan berlebihan. Aku lebih senang bergelayut manja pada Dion saat ada Elang di situ. Emang dia pikir dia siapa? Mending ganteng? Ih...keriting kucel jelek aja. Apa dia pikir dia Gring Nidji ?
Aku pun membesarkan hatiku dengan cara memuji diriku sendiri, dengan kalimat andalanku, 'Kamu terlalu cantik untuk seorang Elang, Bi' Ya! Walaupun penampakanku tidak semanis cewek-cewek ABG lainnya, tapi Dion dan Abel selalu mengatakan kalau aku cantik dengan rambut pendekku itu.
Meskipun berkali-kali aku mengucapkan kalimat sakti itu, tapi aku tetap kesal karena si Elang keriting, kucel dan tidak bisa dibilang ganteng itu sama sekali tidak memberikan perhatiannya padaku. Aku benci melihat dia bercanda dengan teman-teman ceweknya di klub foto itu dan mampu membuat mereka tertawa ngakak sedangkan dia tidak bisa seperti itu padaku. Saat aku mengutarakan kekesalanku itu pada Dion dan Abel, dengan cepat Abel menjawab.
"Dia cuek sama kamu karena sebenarnya dia suka sama kamu."
Mendengar jawaban Abel seperti itu aku pun percaya dan rasa percaya diriku tiba tiba melangit. See? Kecantikan Bian memang ampuh memikat siapa pun. Karena itu aku semakin memperlihatkan sikap 'mesra'ku pada Dion di depan Elang. Kalau memang dia suka pasti dia cemburu. Aksi itu berhasil, suatu hari Elang akhirnya mendekatiku. Awal sapanya padaku tentu saja seperti yang aku duga, "Dion kemana?" tapi setelah itu aku akhirnya bisa dekat dengannya. Lucu juga, karena sebenarnya Elang bukan tipe cowok yang bisa buat aku suka. Intinya dia tidak ganteng!!
Saat melihat aku dan Elang mulai dekat, Abel dan Dion tidak protes. Tapi lambat laun hubungan aku dan Elang seperti menyadarkan aku, Abel dan Dion bahwa sebenarnya masing-masing kami punya kehidupan sendiri dan tidak harus kemana-mana bertiga. Dion pun tetap sibuk berkencan dengan banyak perempuan dari anak SMP sampai anak kuliahan sambil menghabiskan uang sakunya yang selalu berlebihan. Sedangkan Abel mulai membentuk band dan sibuk berlatih dan manggung sana sini.
Sedang aku, selain dekat dengan Elang, mencoba sekuat tenaga untuk ikut dalam tim cheerleader sekolah. Ini adalah keinginanku yang tidak pernah kuwujudkan saat SMP selain itu aku tidak mau ditinggalkan sendiri tanpa aktivitas oleh dua sahabatku. Aku juga ingin punya kegiatan dan kesibukan yang berarti dan berhenti menjadi ekor Dion. Kedekatanku dengan Elang bisa dibilang pacaran meskipun tidak ada pernyataan pasti tentang itu. Tapi dia selalu memperkenalkan aku pada teman-temannya sebagai pacarnya. Dan aku selalu berbunga-bunga setiap kali Elang melakukan itu. Dia tidak hanya menjadi kekasihku tetapi juga sahabatku. Aku sangat mencintai Elang dan sangat mengagguminya saat itu apalagi dengan kehebatannya memotret. Dan ciuman pertamaku bersamanya kubawa sampai mimpi.
Dan yang paling membekas diingatanku dan membuatku semakin menyayanginya adalah saat Elang suka dengan suara jelekku setiap kali aku bernyanyi. Suara jelekku yang menurut Dion mampu membuat ayam ingin bunuh diri malah menjadi inspirasi Elang saat hunting foto. Sangat berlebihan! Ya...namanya juga orang yang lagi jatuh cinta atau apalah itu namanya karena satu kejadian di siang itu membuatku sangsi akan rasa cinta Elang.
Maksudku adalah apakah Elang mendekatiku karena ada maunya, ada udang dibalik batu, ada niat terselubung. Apakah dulu aku baginya seperti sebuah tantangan yang ingin ditaklukan. Entahlah tapi bagiku kejadian siang itu seperti sebuah tamparan dan pengkhianatan yang sesungguhnya akan rasa cintaku yang kukira sangat tulus padanya waktu itu. Aku kecewa dan marah padanya.
Siang itu aku baru saja dimarahi Mama dan kami bertengkar. Elang adalah satu-satunya tempat aku mengadu. Karena saat itu rumah Elang kosong, Elang mengajakku ke kamarnya. Aku menangis dan mengeluhkan sikap Mama. Elang memelukku. Setelah aku tenang, Elang mengambil kameranya dan sibuk memotretku dengan wajah yang masih basah dengan air mata. Aku mencoba tersenyum dengan aksinya yang kukira ingin menghiburku. Hingga tanpa sadar Elang semakin dekat ke arahku. Tubuh kami semakin merapat dan saat itu jantungku berpacu begitu cepat. Kami memang pernah berciuman sebelumnya tapi saat itu, di kamarnya, aku merasa sikap dan hasrat yang diekspresikan Elang sangat berbeda seperti sebelumnya. Elang menciumku sedikit kasar awalnya aku membalas namun Elang mulai bertindak lebih jauh, aku berusaha menolak. Aku mendorong tubuhnya, namun Elang memaksa. Dengan sekuat tenaga aku mendorongnya lagi dan akhirnya menamparnya. Dia cukup kaget dengan responsku. Dan akhirnya kata kata yang menyakitkan hatiku lah yang keluar dari mulutnya. Dia berseru kepadaku,
"Bukannya ini yang kamu mau? Jangan pura-pura deh Bi...bukannya kamu udah biasa kayak gini sama Dion?" Ya Tuhan! Tanpa berkata apa-apa lagi aku layangkan tinjuku ke mulutnya, yang aku tahu saat aku keluar dari kamarnya masih ada darah yang menempel di kepalan tanganku. Aku yakin bibirnya pecah.
Malamnya aku menghubungi Dion dan Abel. Keduanya menjadi sasaran amarahku. Terlebih Dion. Pasti ada kata-katanya yang membuat Elang sialan itu berpikiran bahwa aku dan dia sudah melakukan hal yang tidak-tidak. Dion tentu sangat marah. Dia tidak mengira Elang berpikiran seperti itu. Aku pun tidak habis pikir kenapa Elang seperti setan saat itu. Kehangatan dan kebaikannya hilang kemana? Berarti selama ini dia berpura-pura? Aku tidak bisa mempercayainya lagi.
Berkali-kali Elang menemuiku untuk minta maaf, berkali-kali pula aku menolak dan mengusirnya. Aku hanya masih gengsi untuk memberikan maaf padanya, karena sebenarnya aku tahu dia sangat menyesal dengan apa yang telah ia lakukan. Jujur, aku masih sangat mencintainya waktu itu. Tidak pernah terpikir untuk putus darinya.
Tapi hatiku semakin sakit saat dia ke Perth, dan sama sekali menghentikan usahanya meraihku kembali. Dia menulis pesan untukku. Hanya satu kalimat.
Maafkan aku karena ketololanku!
Dan saat ini, dia kembali.
***
Aku baru saja kembali dari rumah sakit setelah semalaman bersama Dani menunggui Papa di sana. Dan pagi ini giliran mama menggantikan kami. Otomatis setelah beberapa hari aku di rumah, aku dan mama jarang bertemu muka. We live under the same roof, but exactly we are in the different world. Tak ada komunikasi yang berarti antara aku dan Mama. Dan keadaan ini sudah menjadi sesuatu yang biasa bagiku dan juga tentunya Mama setiap kali aku liburan ke Yogya. Jujur setelah aku mulai memahami posisi mama waktu itu, ingin sekali aku datang padanya dan meminta maaf atas sikap memberontakku yang selalu kutunjukkan padanya. Namun aku meredam kembali keinginan itu dan lebih memilih menjauh darinya dengan memutuskan kuliah di Jakarta. Saat itu pikiran egoisku lebih kuat mempengaruhiku. Pikiran bahwa aku juga tidak bersalah dalam situasi ini dan berharap Mama mau juga memahami posisiku. Bahwa aku tidak pernah ingin dilahirkan dalam keluarga rumit seperti ini.
"Sabar ya, Bi." Desis Abel sambil mendekatiku kemudian merangkulku dengan sayang. "Aku tahu situasi dan perasaanmu sekarang. Tapi...apapun keputusanmu, aku sama Dion akan selalu ada buat kamu, seperti dulu." Aku mengangguk. Mataku basah. Abel melepaskan pelukannya. Menatapku tajam dan memberikan seulas senyum termanisnya kemudian menyeka mataku.
Aku baru saja menceritakan tentang keadaan Papa pada mereka. Berbeda dengan Dion yang cuek, sikap Abel lebih agresif saat salah satu dari kami punya masalah. Hati Abel yang lembut dan sensitif membuatnya selalu menjadi tempat curhatku. Aneh juga kenapa aku malah tidak punya sahabat perempuan. Mungkin karena bersama Dion dan Abel aku menemukan sosok pria yang benar-benar mengerti, memahami, menerima dan menyayangi aku tulus. Pokoknya semuanya berjalan begitu saja tanpa perlu aku mencari alasannya.
"Bi, aku ikut prihatin ya." Ucap Dion pendek namun aku tahu ketulusan sangat terasa dibalik kata kata sederhana itu. Aku mengangguk dan tersenyum tipis padanya.
"Oh ya terus gimana tadi hasil meetingnya?" aku berusaha keluar dari atmosfer yang mengharu biru ini. Abel dan Dion terdiam sesaat, menarik napas, dan berdehem. Aku menahan senyum melihat sikap mereka. Keduanya mengeluarkan rokok dan mulai menyalakan. Dion mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya.
"Tadi kita membahas nama majalahnya terus sama ini." Dion menunjuk 3 lembar kertas yang sudah disteples jadi satu di hadapan kami. Aku meraih lembaran kertas itu dan memperhatikannya dengans seksama.
"Ini contact person semua tenant dan non tenant. Terus ini initial costnya dan ini contoh ratecard buat iklan." Aku membolak balik kertas kertas tersebut dan dengan teliti mengamat angka-angka di lembaran ratecard.
"Yakin orang Yogya setuju dengan harga begini?"
Dion menghela napas, sepertinya setiap pertanyaan dan pernyataanku memberikan setitik keraguan dalam benaknya. Ah Dion...tapi aku salut dengan kerja mereka berdua yang mampu memenangkan proyek ini, meskipun mereka rela kerja tanpa duit. Ini memang gila! Tapi kadang sesuatu yang gila itu justru sangat menarik. Dan kenyataan ini terasa begitu menantang. Meski awalnya sedikit ragu namun keberanian kedua sahabatku kuanggap sebagai modal dalam merintis usaha yang masa depannya masih begitu samar terlihat.
"Udah nggak usah dijawab dulu. Ehm..Yon berarti kalau mereka cuma ngasih printing cost, trus produksi sisanya gimana? Dari iklan gitu?" Kembali aku menghujaninya dengan pertanyaan.
"Ya iyalah. Untuk sementara dari kantong sendiri dulu ntar baru ditutup dari iklan. Perusahaan kita kan nggak di bawah manajemen JavaLand. Istilahnya cuma media partnerlah. Paling sebelum naik cetak ada approve dari mereka. Ini lebih enak dari pada kita didikte sama mereka." Ulas Dion serius. Aku nggak heran kalau Dion mau merogoh kantungnya sendiri untuk proyek ini. Dion memang berasal dari keluarga berada. Sejak dia 'bosan' kuliah di Sydney, keinginan Dion untuk membuka segala macam usaha selalu saja dikabulkan sama Papanya yang pengusaha properti itu. Dion tidak pernah takut kekurangan support dana. Pasti kali ini nama dan perusahaan Papanya berada di urutan pertama list pengiklan.
"Kenapa nggak minta semuanya sih dari mereka, masak duit segitu aja mereka nggak punya. Itu kan dikit banget buat perusahaan segede mereka. Itu pun minim banget hari gini tapi kan paling nggak sedikit membantu, seenggaknya mereka support sampai 3 atau 4 edisi dulu lah. Setelah itu kan mungkin keuangan kalian udah stabil dan udah dapat kepercayaanlah dari pengiklan. Apa nggak susah di cash flownya?" Aku merasa tidak puas dengan pengajuan dana yang diberikan Dion dan Abel pada pihak JavaLand.
"Nggak tahu lah, Bi. Waktu meeting pertama memang harga segitu yang kita sebut. Ya...emang gila sih tapi menurut kita berdua mungkin dengan harga segitu terus sama desain majalahnya yang nggak main-main mereka pasti memilih kita. Dan itu berhasil kan. Prinsip kita sih yang utama tuh tembus dulu aja, gimana-gimananya nanti ngalir sendiri lah." Aku menaikan kedua alisku menciptakan ekspresi paham pada kata-kata Dion.
"Untungnya lagi Armand itu orangnya asyik, awal meeting sama dia aja dia langsung suka sama design kita. He's cool. Dan kelihatan banget dia pengen banget kita yang dapat proyek ini." Ujar Abel tiba tiba dengan wajah sumringah berlebihan. Aku diam dengan wajah bingung karena aku memang tidak paham dengan maksud ungkapan kebahagiaan Abel dan tentu saja orang yang bernama Armand itu.
"Armand itu marketing managernya." Jelas Dion menjawab kebingungan yang tercipta di wajahku. Aku mengangguk paham.
"Ganteng?" aku tersenyum usil.
"Kalo selera lu yang dulu belum berubah yaaa bisa dibilang ganteng lah...." jawab Abel masih sumringah.
"Paling juga homo." Tukas Dion cuek. Abel mendelik. Beberapa detik kemudian Dion sadar dengan ucapannya dan tersenyum salah tingkah pada Abel dan aku.
"Kok gitu sih Yon? Emang lu tahu dia homo?"
"Kalau cowok normal nggak bakal ada yang seganteng itu." Desis Dion pelan dengan wajah sebal hingga membuat aku ngakak. Abel hanya tersenyum mengulum dan hanya menggeleng kecil.
"Lu iri sama calon klien lu itu? Duh Yon, lu tuh nggak perlu kegantengan lagi bukannya selama ini cewek-cewek nempel sama lo udah kayak upil? Udah deh...."
"Nah itu masalahnya, aku pengen tuh perempuan semua bukan ngeliat siapa bapak aku, merek mobil apa yang aku pake, tapi ngelihatnya ke sini nih..." Dion menunjuk dadanya.
"Maksud kamu ngelihat hati kan?" aku menahan senyum.
"Bukan hati Biantari...paling nggak mukaku kayak pemain bola yang kamu suka itu lah..." kali ini berhasil membuat Abel ngakak.
"Ya seenggaknya dia pengen mukanya kayak aku lah..." tambah Abel yang membuat Dion menatapnya kesal. Aku tertawa.
"Yon, siapa bilang kamu jelek? Kamu itu berkharisma lagi."
"Hueekk..." Abel hampir memuntahkan kopinya. Aku meninju lengannya pelan.
"Istilahnya kamu tuh punya kharisma kayak vokalis-vokalis band gitulah. Sebut deh vokalis band di Indonesia yang ganteng banget..." aku berusaha membangkitkan kepercayaan diri Dion.
"Thanks deh Bi, kalau kamu bilang aku berkharisma."
"Yon, suatu saat ada kok cewek yang bisa ngelihat ini..." kataku sambil menunjuk dadanya. "...dan bukan ngeliat yang lain. Percaya deh..."
"Bagaimana kalau kamu aja Bi." Wajah Dion maju mendekatiku. Aku mencibir dan telunjukku yang berada tepat di dadanya kutusukkan kuat-kuat ke sana sehingga membuat dia menjerit.
"Becanda Bi." Erangnya. "Lagian aku sekarang mau puasa dulu sama yang namanya cewek." Sambung Dion.
"We'll see..." aku tersenyum melirik Abel.
"Liat aja." Dion tidak mau kalah.
"Dan kamu Bel.." aku menoleh pada Abel. "Siapa pacar kamu? Setiap kali kita ketemu kamu pasti jomblo. Kamu juga selalu nggak pernah jawab kalau aku tanya. Cuma pernah ada nama Lintang itu kan?"
Abel menyenderkan tubuhnya. Kedua tangannya di arahkan ke kepalanya dan jari-jarinya mulai menelusuri rambut hitam semi gondrongnya yang mirip Prince Kaspian. Duh...beruntungnya cewek yang dapetin Abel...Dia tampak sedikit tercenung mendengar pertanyaanku. Apakah sulit menjawab pertanyaan sederhanaku ini? Kulihat Dion mengisap dalam-dalam rokoknya. Kutangkap ada yang aneh dari sikapnya.
"Nggak ada aturan kan hari gini semua orang harus punya pacar." Akhirnya Abel menjawab dengan nada santai berbeda dengan Dion yang justru terihat tegang.
"Don't ask me. Itu masalah hati setiap orang." Aku mencibir medengar jawaban Dion yang sok bijaksana saat mata kami bertemu. Tapi kata katanya masih tidak bisa menutupi kalau ada sesuatu yang sedang berusaha ia sembunyikan dari aku.
"Iya deh...tapi aku senang kalian nggak punya pacar jadi nggak harus ada yang niat nyakar aku kan?" Abel dan Dion tertawa kecil mendengar candaku.
"Nah elu setelah putus sama Sonny trus kenapa gak pacaran lagi?" Abel membalikan pertanyaanku. Aku hanya nyengir mendengar pertanyaan itu.
"Udah ah gak usah ngomong masalah kurang penting kayak gitu...gini deh hanya aku pengen bilang aku salut dengan kenekatan kalian. Boleh juga pemikiranmu yang berbahaya itu, Yon. Usaha kan emang harus berani ngambil resiko. Dan kalau kalian mau aku kerja sama kalian, gimana donk sama gajiku." Aku tertawa kecil kemudian menatap Dion dan Abel bergantian. Sebenarnya ini hanya trikku untuk mengindar pertanyaan Abel lebih lanjut mengenai hubunganku dengan Sonny. Aku tidak terlalu suka membahas hubungan ini dengan siapapun. Karena setelah Elang, laki laki yang cukup membuatku terluka adalah Sonny. Tapi bedanya, aku bukan disakiti secara langsung oleh Sonny tapi oleh keadaan.
"Tenang Bi, kamu nggak perlu khawatir soal gaji. Aku sama Abel yakin banget sama proyek ini jadi kamu pasti akan digaji."
"Berapa?" mataku bekerjap-kerjap menggoda.
"Ehm...kurang sediiiiiiiikit dari gajimu di Jakarta. Gimana?"
"Udahlah aku cuma becanda. Yang penting digaji aja deh." Kata kataku disambut tawa lega Dion.