Mempersiapkan majalah edisi perdana ternyata sangat menguras tenaga dan pikiran. Apalagi buat kami bertiga. Karena itu tugas pun mulai dibagi. Abel mengurus desain dan artistiknya, aku bagian editorial seenggaknya bidang ini adalah pekerjaanku sebelumnya, sedang Dion bertanggung jawab di marketing. Karena sangat kerepotan Dion pun menarik satu karyawan lagi bernama Mona. Gadis cantik adik kelas Abel waktu kuliah. Kebetulan Mona baru lulus dan lagi nyari kerjaan, makanya Dion menawari Mona untuk bergabung. Tugas Mona lebih ke arah tugas sekretaris. Membuat dan mengetik surat, membuat janji dengan para tenant, bantu-bantu aku di editorial dan nungguin telepon di kantor. Kantor yang kami gunakan adalah bangunan bekas café Dion dulu di daerah Deresan.
Diantara kesibukan mempersiapkan edisi perdana, aku menyempatkan menjenguk Papa setiap jam makan siang. Karena tahu kebiasaanku ke rumah sakit berganti di siang hari, Mama pun tidak pernah ke sana di waktu yang sama. Di saat seperti ini, tak ada satupun di antara kami yang berusaha untuk saling mendekatkan diri. Karena itu aku lebih nyaman berada di kantor di banding berada di rumah.
Keberadaanku di sisi Papa mampu membuat keadaannya lebih cepat stabil. Papa cukup banyak berbicara bila aku bersamanya, meski pembicaraan itu lebih tepat kusebut sebagai gumaman. Syarafnya yang terganggu karena stroke membuat Papa hanya bisa bergumam. Aku bisa menangkap maksud dari setiap gumamannya, kata maaf tak pernah ia lupa selipkan dalam setiap pengutaraannya yang kurang jelas itu. Maaf atas ketidakmampuannya menjadi seorang ayah yang seharusnya memberikan 100 persen cintanya untukku. Aku tidak pernah menyalahkan Papa yang terlihat 'lemah', bagaimanapun aku sadar situasi Papa pun sangat sulit.
"Bi! Melamun?" Abel menepuk pelan bahuku sehingga membuatku tersadar dari lamunanku. Mona yang duduk di depanku ikut melongokkan kepalanya dari balik monitor komputer. Ia ikut memandangku.
"Mbak Bian melamunnya dari tadi, sampe-sampe teleponnya bunyi aja dia nggak denger." Tukas Mona menahan senyum.
"Beneran Mon? Kok nggak bilang."
"Nggak enak aja gangguin Mbak Bian. Habis mukanya serius gitu."
Aku segera merogoh tasku dan mengeluarkan ponsel. Ternyata benar ada satu panggilan tak terjawab di sana. Ternyata dari Dani. Aku memberi tanda pada Abel untuk memberi waktu padaku menelepon balik adikku itu. Ternyata Dani hanya mengingatku untuk tidak lupa singgah ke rumah sakit sebelum balik.
"Teman-teman, kita meeting bentar yuk." seru Dion.
Aku, Mona dan Abel segera menuju meja bundar di tengah ruangan tempat meeting kita. Dion sudah menunggu di sana dengan laptop di hadapannya.
"Bener perkiraanmu Bi. Iklannya rada susah. Umumnya beratnya di harga sih." Dion mulai membuka meeting. "Karena itu aku punya ide. Karena ini edisi perdana, kita buat satu spread untuk iklan congratulation opening-nya JavaLand. Jadinya emang kayak filler tapi nggak terlalu ganggu desain karena emang kita pakainya satu spread di bagian tengah. Menurutku ini lumayan membantu. Gimana?" Aku terdiam. Dion dan Abel memang punya keinginan agar tidak menerima ikaln dalam bentuk filler. Karena menurut mereka iklan filler akan mengotori desain majalah. Bagiku keinginan mereka itu terlalu 'sombong' untuk ukuran majalan baru apalagi di daerah dan di jaman dimana digital lebih sering dipakai. Tapi lebih dari itu, ini masalah image. Dion dan Abel sangat memperhitungkan image dan aku pun setuju untuk hal ini.
"Ok aja kok." Setelah beberapa detik berusaha memahami ide Dion, aku mencoba memberi pendapat. "Oh ya Yon, ehm.. gimana kalau kita kasih bonus buat yang masang filler congratulation ini. Maksud aku, kita buat kompensasi gitu. Misalnya kalau mereka masuk di filler ini, untuk edisi depan produk baru mereka masuk ke rubrik the Latest sama sales / promotion. Kalau misalnya mereka ngambil lebih dari satu kotak mereka bisa dapat bonus artikel untuk edisi berikutnya. Siapa sih yang nolak bonus? Gimana?" Kuutarakan semua pikiran yang sekiranya bisa membantu Dion. Dan sahabatku itu langsung tersenyum lega saat mendengar ideku.
"Okay! It sounds great! Ya udah menurutku kompensasi sama bonus itu nggak hanya berlaku buat filler congratulation tapi buat pemasang iklan penuh sama artikel advetorial. Oh ya Mon, kita ubah surat penawarannya." Aku ikut tersenyum lega.
"Ngomong-ngomong kamu pernah belajar marketing dimana?" Mata Dion menyipit memandangku ingin tahu. Aku tersenyum.
"Waktu kuliah dulu aku kan pernah bantu Mbak Rahma yang punya perusahaan printing. Di sana aku banyak belajar lah, apalagi waktu itu Mbak Rahma sama suaminya punya proyek buat buku pariwisata. Aku kan ikut bantu di tim marketingnya."
"Ooo...gitu." Dion manggut-manggut. "Tambah pinter aja kamu, nggak salah donk aku." Dion mengedipkan matanya.
"Bel, gimana tugas kamu." Dion beralih ke Abel.
"Aku baru desain artikel yang dibuat Bian. Untuk cover, sore ini mau dieksekusi. Elang baru nyampe dari Bali tadi pagi." Abel melirikku. Aku tidak ingin berkomentar apa-apa. Sudahlah aku harus bisa menerima kenyataan kalau aku harus kembali bertemu degan manusia itu. Tapi tak bisa kuhindari hatiku berdesir ketika tahu dia sebentar lagi ada di sekitarku. Bagaimana dia sekarang? Apa dia sudah berubah? Apa dia masih mencintaiku? t***l! Nggak ada cinta Biantari! Kamu lupa kabar dari Dion bahwa dia sudah menjalin hubungan dengan seseorang dalam waktu yang lama. Itu berarti kamu tidak cukup istimewa untuknya
"Kamu gimana Bi? Rubrik apa aja yang udah jadi?" Dion kembali ke topik semula dan menghempaskan semua lamunanku.
"Untuk rubrik News tinggal satu sih dan rencananya besok aku mau ngambil press release acara launchingnya Crystal Salon. Kalau untuk artikel the Latest kita sekalian nunggu yang ngisi fillernya aja jadi nggak tabrakan, terus untuk review buku aku udah janjian sama Mbak Lina dari Gramedia buat ngambil bukunya besok. Advetorial nunggu filler, terus ehm..." aku memeriksa kembali catatanku. "Untuk artikel dining aku postpone ya...kamu buat penawaran ulang Yon, jadi kita jual artikel ini. Ya dijadiin bonus aja lah." Dion manggut-manggut dan memberi tanda pada Mona untuk mencatat apa yang kukatakan.
"Dan interview si Gary masih dalam proses, mudah-mudahan secepatnya lah. Aku lagi follow up terus dibantu sama Mona juga." Aku melirik Mona yang sedang tersenyum manis padaku. Mona memang selalu tersenyum. Wajahnya memang secara alami seperti sudah tersenyum. Entahlah itu alami atau dia punya trik khusus untuk membuat wajahnya tersenyum tanpa dia tersenyum. Aku mulai ngelantur.
"Ok gitu aja progress reportku." Tutupku. Aku sedikit meringis mengenyahkan pikiran ngelanturku yang tiba-tiba nyelip di otakku tentang Mona. Aku sudah sering bertemu dengan orang seperti Mona, apalagi di tempat kerjaku di Jakarta. Dan biasanya orang yang terlihat terlalu baik kadang malah mengecewakanku. Mudah-mudahan Mona tidak seperti itu. Ini mungkin imbas dari pengalamanku yang tidak pernah punya sahabat perempuan. Teman ada, tapi sahabat tidak. Hanya Dion dan Abel.
"Ok meeting sampai sini dulu. Sore ini aku, Abel sama Elang mau foto untuk cover. Kalian mau ikutan nggak?"
Mona terlihat antusias.
"Ikut! Ikut!" Serunya kegirangan. Aku hanya tersenyum kecut. Tentu saja sebisa mungkin aku mengurangi kadar pertemuanku dengan Elang.
***
Aku baru saja hendak masuk kamar saat aku berpapasan dengan Mama. Dia hendak memalingkan wajahnya seperti biasa, namun karena matanya sudah terlanjur bersiborok dengan mataku dia akhirnya bersuara.
"Bian, Mama perlu bicara." Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya ke ruang tengah. Ruangan ini tidak berubah. Sperangkat sofa dengan televisi layar datar beserta perlengkapan audionya menjadi penghuni utama ruangan ini. Seharusnya ruangan ini selalu berisi canda tawa hangat keluarga. Kebersamaan. Tapi ruangan ini selalu sepi, dingin, dan tak berwarna. Tapi mungkin itu hanya artinya bagiku tapi tidak bagi anggota keluarga lain di rumah ini.
"Kamu tahu keadaan Papa kamu kan? Mama sudah berkonsultasi dengan dokter. Dokter menganjurkan Mama membawa Papa ke Jakarta. Pengobatan di rumah sakit sana lebih menjamin kesembuhan Papa." Mama mengajakku bicara masih dengan posisi kami berdiri di ruangan ini. Aku melirik sofa yang rapi berhias bantal bantal mungil yang berharap untuk ditempati. Sofa yang seharusnya bisa membuat kami nyaman untuk bicara dari hati ke hati.
"Apapun itu untuk kesembuhan Papa, Bian akan sangat mendukung Ma. Ehm...apa yang bisa Bian lakukan untuk membantu Mama?" tanyaku hati-hati. Sejak aku mulai tahu alasan mengapa Mama sulit mencintaiku, aku selalu berhati-hati bicaranya. Aku mulai segan dan berusaha menghormatinya. Aku tahu dia sudah banyak berkorban untuk aku. Meskipun aku ingin marah dan mengatakan bahwa itu tidak adil, namun setiap kemarahan itu muncul dan keegoisan tidak menguasaiku, aku selalu mencoba memosisikan diriku di tempatnya. Dan aku mengerti.
"Apa kamu sudah punya pekerjaan di sini?" suaranya lembut dan penuh perasaan. Ini sangat tidak biasa. Hatiku bergetar sesaat. Ada rasa hangat yang menyeruak di sana.
Aku mengangkat wajahku menatapnya.
"Udah Ma. Aku kerja dengan Dion dan Abel." Aku berharap dia akan menyinggung sesuatu lebih lanjut mengenai kedua sahabatku. Karena Mama mengenal mereka sejak aku SMA, sejak aku selalu memperlihatkan sikap memberontakku.
Dia mengangguk. Namun setelah itu tak ada pembicaraan yang aku harapkan.
"Kamu awasi warung Mama aja dan juga Dani. Doakan Papa kamu."
Aku tersenyum. Baru sekali ini aku mendengar Mama melibatkan aku pada sesuatu yang berhubungan denganya. Mengawasi warungnya. Mataku sedikit memanas. Aku lega mendengar bahwa Mama sedang berusaha melakukan pendekatan padaku.
"Ma..." Panggilku. Kelopak mataku seperti kesemutan dan menghangat.
"Ya sudah...Mama mau ke rumah sakit." Dia segera beranjak meninggalkanku. Tapi sempat kulihat bahunya bergerak naik saat ia berbalik, ia juga sedang berusaha menahan perasaannya. Perlahan air mataku jatuh. Meskipun dia enggan menatapku tapi aku tahu hatinya perlahan mulai luluh. Aku menyeka mataku cepat dan berlalu menuju kamarku.
****
Setelah urusan mengambil buku selesai, aku ke JavaLand mengambil press release dua tenant yang akan membuat acara launching sekaligus bertemu orang manajemen untuk konfirmasi jadwal acara yang akan berlangsung di sana selama sebulan penuh. Jam 9 aku janji bertemu Maya dan Ado, model untuk foto fashion, di Solace boutique JavaLand untuk mencoba wardrobe, kemudian konfirm Make Up forever, Crystal salon dan pihak 21 serta masih sempat menengok Papa dulu sebelum balik ke kantor.
Aku baru tiba di kantor menjelang pukul 11 siang. Di depan kantor terparkir sebuah VW kodok hitam yang terlihat begitu terawat, beda dengan VW Dani yang jarang dicuci. Jantungku berdebar tak karuan. Hatiku sudah mengira siapa pemilik VW itu. Sekali lagi aku menarik napas panjang sebelum melangkah masuk ke dalam kantor.
"Morning!" Sapaku dengan mata terbuka lebar meneliti siapa saja yang ada di ruangan.
"Morning! Sini, Bi!" panggil Dion. Di mejanya ada Abel, Mona dan...hatiku berdegup semakin tidak beraturan. Ada dia. Pemilik VW. Aku tertegun. Wajah yang sudah 8 tahun tidak kulihat itu menoleh ke arahku. Dia juga tertegun melihatku. Kakiku seketika terasa berat melangkah. Otakku mendadak tidak bekerja dengan baik. Semua indra di tubuhku lumpuh. Tak kusangka kehadirannya punya pengaruh sehebat ini padaku. Dan aku sama sekali tidak paham apa alasannya. Karena kebencianku kah? Tidak mungkin. Aku menelan ludah berkali kali guna memfungsikan kembali semua indraku dan yang terutama otakku.
Abel dan Dion tersadar dengan situasi yang tercipta.
"Ehm...Bi...Lang." Abel bergantian menatap kami. Elang mendekatiku. Aku masih terpaku di tempatku. Elang sudah berdiri di hadapanku. Perlahan otakku kembali bekerja. Mataku menyapu sosok di hadapanku. Ia masih jangkung seperti dulu tapi tak sekurus dulu. Kulitnya masih coklat tapi tidak sekucel dulu. Rambut keritingnya itu sekarang terawat rapi. Lebih tepat kusebut ikal, mengingatkanku pada bintang Perancis Melvil Poupaud. s**t! Kenapa jadi ngelantur? Aku membuang muka.
"Hi!" sapanya ragu. "Apa kabar Bi?" sambungnya lagi masih denga nada keraguan yang sama. Matanya menyambangi bola mataku. Kami bertatapan beberapa detik.
"Baik." Jawabku singkat dan langsung menuju mejaku. Aku perlu ruang! Elang mengerti, dia kembali menghampiri Dion dan Abel membahas foto-fotonya. Tapi sempat dia melirikku dan mata kami bertemu dan dengan cepat aku menghindarinya.
"Mas Elang keren ya Mbak, lihat aja foto-fotonya. Padahal belum diedit tuh." Mona berbisik sambil tersenyum manis. Aku melirik gadis itu dan menangkap ada semburat malu-malu di wajahnya saat menyebut nama Elang dan terang terangan memujinya.
"Oh ya?" balasku tidak b*******h.
"Iya Mbak. Asyik aja lihat gayanya Mas Elang waktu nyari-nyari obyek. Kita bertiga aja sampai nggak berani ganggu, serius amat sih." Cerita Mona dan semburat malu-malu itu kembali terlihat di wajah cantiknya. Hebat sekali Elang, mampu membuat seorang gadis seperti Mona terus membicarakan dirinya. Secara tampilan Elang sudah berubah, tidak seperti 8 tahun lalu. Dan ternyata pesonanya tidak pernah berkurang.
"Oh ya Bel, besok pagi sudah fix kan pemotretannya. Jadi kita pakai studio 21?" Teriak Dion dari mejanya. Aku mengangkat wajahku dan kembali mataku menangkap bayangan ia yang ingin sekali kubenci.
"Fix bos!' jawab Abel. "Mon, modelnya udah di konfirm lagi kan? Pastiin besok jam 7 pagi udah di Crystal. Jangan telat! Soalnya 21 jam 1 udah dipakai." Kali ini gantian Abel yang teriak.
"Udah tadi aku telpon, terus katanya tadi udah ketemu Mbak Bian di Java." Mona menoleh ke arahku.
"Udah Bel, semuanya udah kukonfirm." Aku kembali memastikan. Abel mengangkat jempolnya dan tersenyum puas padaku. Ekor mataku kembali menangkap sosok Elang yang terlihat serius berdiskusi dengan Dion perihal pemilihan foto untuk cover. Ini benar benar situasi yang tidak kondusif bagiku untuk bekerja. Elang membuatku kacau. Konsentrasiku terganggu. Dan aku tidak suka kehadirannya mengintimidasiku. Seharusnya tidak ada perasaan terganggu dan terintimidasi seperti ini. Aku sudah membuangnya, menguburnya kisah tentangnya dan belajar membencinya hingga kini. Ini sungguh tidak adil. Kenapa perasaan perasaan ini terus menyerangku seakan akan dia masih begitu istimewa untukku. Tidak adil! Tidak adil!
Ruangan cukup sepi semua fokus dengan pekerjaannya hanya aku yang sibuk berdebat dengan suara hatiku sendiri. Kulihat Abel begitu konsentrasi dengan desainnya dibantu dengan pendapat Dion dan Elang. Mona pun bahkan begitu fokus dengan layar komputernya. Aku segera menghentikan kebodohanku sendiri yang justru lebih fokus memikirkan dan membahas perasaanku tentang Elang.
Tak terasa waktu sudah menunjuk pukul 12.
"Bi, makan siang bareng yuk." Ajak Dion dari mejanya. Di sebelahnya Elang sedang membereskan tasnya, dia juga sepertinya siap keluar untuk makan siang bareng Dion dan Abel.
"Nggak, makasih. Aku mau ke rumah sakit." Tukasku sambil membereskan beberapa kertas di meja. Elang menghentikan aktivitasnya, ia menatapku. Aku menyadari itu. Saat aku mengangkat kepalaku dan mata kami bertemu, ia langsung menunduk.
"Mas Dion, ntar Jam 2 ada janji lho sama orang LG." Mona mengingatkan Dion.
"Ok, thanks Mon. Mau ikut makan siang nggak?" Dion menawari Mona yang langsung disambut dengan anggukan bahagia gadis itu. Namun diluar dugaan, Elang menolak pergi bersama Dion, Abel dan Mona. Gadis itu terlihat kecewa. Elang menghampiriku. Dion dan Abel mengerti. Mereka bertiga meninggalkan kami berdua
***
Yogya cukup panas hari ini, meski banyak awan yang berarak di atas sana namun sepertinya tidak mampu menghalangi garangnya sang mentari. Sepoi angin yang bertiup di antara sela sela daun akasia di halaman kantor cukup mampu meredakan keangkuhan sang pemilik siang.
Aku menggigit bibirku pelan menahan perasaan yang sedang berkecamuk di dalam sana. Hembusan angin yang seharusnya sejuk terasa panas buatku. Seseorang di depanku yang menjadi penyebabnya. Aku ragu. Aku gelisah. Aku marah. Dan aku benci.
Kami berdua berdiri berhadapan. Masih diam. Dan ini sudah 1 menit berlalu. 1 menit yang sangat lama.
"Maafkan aku, Bi. Sudah lama aku ingin ngomong ini langsung sama kamu." Akhirnya dia bicara.
"Udah lupain aja. Udah lama ini." Balasku dengan nada yang kubuat sedemikian rupa agar Elang tahu bahwa aku tidak terlalu memikirkan masa lalu itu. Aku mengingkari diriku.
"Meskipun udah lama, tapi aku yakin kamu belum bisa lupain itu kan? Aku memang tolol." Dia menunduk. Lupa? Heh....aku tertawa dalam hati. Sombong sekali dia dengan keyakinannya bahwa aku belum melupakan hal itu. Aku benci.
"Udah deh, nggak usah sok sinetron gitu." Aku tertawa hambar. "Sekarang hubungan kita sebatas kerja kan, jadi anggap saja tidak ada yang pernah terjadi." Kataku tanpa memandang wajahnya. "Nggak ada yang terjadi." Bisikku berusaha meralat demi menjaga harga diriku.
"Dari nadamu aku tahu kamu masih marah." Got it! Seharusnya aku tidak bersikap seperti ini. Justru semakin aku sinis padanya semakin aku memperlihatkan padanya bahwa aku masih terluka dan itu artinya aku tidak pernah melupakan masa lalu itu.
Aku mencoba mengontrol emosiku.
"Aku memang b******k! Tapi itu dulu. Aku ingin kamu mau mengenal aku yang sekarang. Karena..."
"Udah deh basa-basinya. Bisa nggak sih anggap aku sebagai teman kerja aja. Oke! Kita memang pernah punya masa lalu. Kamu tahu kan masa lalu? Udah berlalu! Udah lewat!" sengitku. Aku hendak berlalu namun tangan Elang cepat menahan lenganku.
"Please..." Aku menunduk sekilas ke arah tangannya.
"Maaf..." perlahan dia melepaskan tangannya. Aku berbalik cepat dan menatapnya.
"Aku nggak perlu mengenal kamu lagi, Lang. Semua kisah ada masanya. Setiap orang berhak menutup buku untuk satu kisah. Dan kisah tentang kamu sudah berakhir delapan tahun lalu."
Aku menatapnya. Lama. Mata itu...aku masih ingat mata itu. Mata yang pernah kurindu. Mata yang pernah memberikan kenyamanan di saat aku sumpek dengan keadaan rumah. Sebelum aku terlalu dalam luluh oleh sinar mata itu, kupalingkan wajahku cepat.
"OK, aku ngerti sekarang. Kita hanya rekan kerja."
Kami kembali berdiri kikuk. Hatiku tiba-tiba dihinggapi rasa resah. Aku masih belum bisa melupakan masa itu saat aku menatap matanya. Sebaiknya aku secepatnya enyah dari sini.