Pukul setengah 6 pagi, Abel dan Dion sudah menjemputku, Mona juga ikut di mobil Dion. Sejujurnya aku baru tidur menjelang pagi tadi. Masalahnya aku menemani Dani nonton bola di kamar Papa. Meskipun lemah sekali-kali Papa membuka mata untuk nonton. Itu yang membuat aku terus terjaga. Melihat Papa tersenyum melihat ekspresi Dani saat timnya kalah membuat aku tentu saja bahagia.
Hari ini ada pemotretan. Bagi kami bertiga ini adalah pekerjaan yang paling berat dan ribet di banding yang lainnya karena memang kami bertiga belum pernah berurusan dengan hal semacam ini. Kalau kencan dan gaul dengan model sih itu sudah jadi pekerjaan Dion sejak SMA, tapi untuk mengatur model-model itu bergaya di depan kamera tentu saja sebuah pengalaman baru bagi dia. Untung saja ada istilah fashion stylish dan pengarah gaya, dan orang itu adalah Herman dari Solace Boutique, yang juga menyediakan wardrobe untuk rubrik fashion kali ini.
Setelah menyikat habis nasi ayam (menu andalan warung Mama) yang disediakan Tina, kami berempat langsung melesat ke JavaLand. Di sana sudah menunggu Elang dengan segala perangkat perangnya. Abel dan Dion kemudian membantu Elang mengeluarkan peralatan dari mobilnya. Saat hendak naik lift aku baru ingat kalau aku lupa membawa ponsel mungkin karena terlalu terburu-buru tadi.
Aku mengutuk sifat pelupaku ini. Elang tersenyum tipis saat melihat aku membodohi diriku. Aku membuang muka saat tahu dia menikmati aksiku tadi. Dan kenangan itu kembali muncul. Dulu aku sering lupa membawa ponsel kalau aku sedang diajak Elang pergi ke suatu tempat. Bahkan berapa kali kami bertengkar karena saat aku pergi bersama Dion dan Abel, dia tidak bisa menghubungiku karena aku meninggalkan ponsel di rumah. Karena itu dia pernah menulis nomor handphonenya di bagian dalam sneakerku, agar di saat aku lupa membawa ponsel aku bisa menghubunginya. Dan karena itu dia menyebut dirinya superman. Entah apa hubungannya? Yang aku tahu Clark Kent suka merubah dirinya menjadi Superman dalam box telepon umum dan bukan membagikan nomor teleponnya kepada semua calon korban kejahatan agar bisa mudah menghubunginya saat mereka dalam bahaya. Menurutku dia terlalu lebay menyebut dirinya Superman. Memang dasar orang aneh.
Aku menggigit bibirku sendiri menahan senyum mengingat kejadian itu. Sudut mataku menangkap sang superman sedang bahu membahu bersama Dion dan Abel membawa alat perangnya ke lantai enam. Kembali aku tersenyum sendiri. Aku mendekati Abel dan meminta ponselnya. Setelah itu aku dan Mona langsung melesat ke Crystal Salon. Di sana Andre, si hairstylist sudah menunggu kami. Waktu sudah menunjuk pukul 7 kurang 5 menit namun Maya belum juga muncul. Ado sudah datang dan sedang dipermak oleh Andre. Aku meminta Mona menelpon Maya mencari tahu dia sudah dimana sekarang.
Mona menggeleng kecewa sambil menurunkan ponsel dari kupingnya. Ponsel Maya tidak bisa dihubungi.
"Ok mungkin dia lagi di jalan." Kataku berusaha menghibur diri sendiri. 15 menit berlalu dan Maya belum juga muncul. Wajah Andre dan asistennya sudah tidak secerah saat menyambut kami tadi. Ado sudah selesai dan langsung dibawa Mona ke Make Up Forever. Untuk rambut, Ado tidak terlalu ribet.
Aku sudah masuk keluar Crystal hampir sepuluh kali. Mendial nomor Maya lebih dari 10 kali. Tapi tidak diangkat. Aku semakin panik saat jam sudah menunjuk angka 8 lebih 10. Wajah Andre semakin kusut. Sialan si Maya! Ini sudah lebih dari 1 jam. Seharusnya jam 8 pemotretan sudah dimulai. Tiba-tiba dari arah pintu...
"Sorry banget Mbak Bian, tadi motorku ditabrak orang dari belakang. Terus harus ke kantor polisi segala. Terus handponeku..."
"Tapi kamu nggak papa kan?" Potongku cepat tanpa mau mendengar alasannya lebih lanjut. Aku mendekati Maya dan meneliti keadannya.
"Nggak kok."
"Ya udah yuk... " seru Andre yang wajahnya masih tetap kusut. Aku yakin pasti gara-gara bangun terlalu pagi dia lupa mengoleskan krim anti kerut di wajahnya. Mudah-mudahan itu satu-satunya sumber kusutnya muka si Andre pagi ini. Aku mendorong tubuh Maya ke arah Andre.
Ponsel di tanganku berbunyi. Dari Dion yang menanyakan tentang Maya. Aku kemudian menceritakan situasi Maya. Dion berharap Maya cepat selesai karena Elang ingin pemotretatannya paling lambat dimulai jam 9, tidak boleh lebih. Dia tidak suka terlalu mepet dan harus kejar-kejaran dengan waktu. Dion kembali menelponku dan mengatakan kalau Elang mulai kesal. s**t! Fotografer mutung gimana jadinya entar.
Aku mengamati Andre yang sedang membantai rambut Maya. Ya ampun, kok aku jadi melihat kerja Andre jadi slow motion gitu ya? Aku menghembuskan napas berusaha menenangkan diri. Lagian ngapain juga Abel punya usul foto di studio 21 segala sih? Benar-benar ngerepotin.
Mona muncul dan mengatakan kalau orang Makeup Forever udah mulai ngomel. Aku berusaha menahan diri.
"Ado udah selesai?"
"Udah dari tadi, sekarang udah di atas." Jawab Mona. Aku menggigit bibirku. Kembali aku memandang Andre yang belum selesai juga dengan kerjaannya. Ingin sekali aku meminta Andre untuk lebih cepat lagi, tapi aku langsung sadar bisa-bisa aku ditendang sama banci itu kalau aku berani memerintahnya. Kesalahankan di pihak kita. Aku hanya bisa pasrah.
Akhirnya jam 9 tepat Maya selesai. Aku takjub dengan hasil karya si Andre. Aku pun memuji Andre tulus. Wajah kusut itu langsung lenyap saat mendengar pujianku. Aku meminta Mona membawa Maya ke Makeup forever, sekaligus ke Solace dan aku naik ke 21 mengecek keadaan di atas.
Abel berlari menyambutku. Matanya mencari-cari.
"Mana Maya?"
"Ya belum selesai lah..." jawabku kesal.
"Kok..."
"Udah deh Bel...pusing gue!" ketusku sambil berlalu membuat Abel melongo. Dion sedang ngobrol dengan Ado dan Elang. Di depan pintu studio 1, peralatan Elang sudah standbye.
"Maya mana?" seru Dion. Saat ini aku ingin sekali menyumpal mulut Dion. Mereka pikir cepat apa dandanin cewek? Elang memandangku, wajahnya tanpa senyum. Melihat aku tidak menjawab pertanyaannya. Dion menghampiriku.
"Masih make up." Desisku sebal.
"Tapi kok..."
"Yon please..." Aku melotot.
"Okay...okay..." Dion mengangkat kedua tangannya, sadar kalau aku sedang kesal. "Biar aku ke bawah sama Abel." Sambungnya lagi. Aku hendak mencegah mereka. Gila apa ninggalin gue sendiri sama harimau lapar. Tapi terlambat dua cumi itu udah hilang di balik pintu 21. Arghhh...!!
Setelah Dion dan Abel meninggalkanku. Aku berjalan mendekati Elang. Dia sedang mengatur blocking bersama Ado. Aku duduk dan mengamatinya. Ternyata Elang kelihatan keren banget saat kerja, jauh beda dengan 8 tahun lalu. Entah kenapa jantungku sedikit berdesir. Anjrit!
Aku melirik jam. Mampus! Hampir setengah sepuluh. Elang mendekatiku.
"Lang sorry ya..." suaraku tertahan.
"Seharusnya nggak seterlambat ini." Katanya dingin. Hatiku terkesiap mendengar jawaban Elang. Aku diam.
"Terus harus nunggu sampai jam berapa?" aku mendongak dan tidak tahu harus menjawab apa?
"Uhm...bentar lagi..." jujur aku benci situasi ini. Berhadapan lagi dengan Elang dengan situasi dimana kesalahan ada di pihakku. Mudah-mudahan dia tidak melakukan aksi walk out.
Jeda tercipta lama. Tinggal aku dan Elang disini. Ado sedang berkeliling 21 untuk mengusir bosan. Waktu seperti berhenti lama. Aku terus melirik pintu 21 berharap Maya muncul. Di sebelahku Elang hanya diam terpaku menatap tembok. Semoga dia tidak sedang berniat menjedutkan kepalanya sendiri ke tembok saking putus asanya bekerja dengan kami yang kurang professional ini.
Petugas-petugas 21 mulai hilir mudik. Elang menunduk. Aku semakin gelisah. Seorang petugas datang dan mulai menyalakan barisan mesin game di belakang kami. Suara gaduh mulai terdengar. Sialan! Panikku semakin menjadi. Kulihat Elang berdiri dan mendekati petugas itu.
"Mas bisa nggak jangan dinyalain sekarang?"
Jantungku berdegup lebih cepat. Aduh kemana sih Abel sama Dion? Kenapa juga cuma ke bawah harus bareng-bareng? Kenapa sampai sekarang dua bocah itu belum punya pacar ya? Apa ini ada hubungannya? Wah...jangan-jangan! Berarti kehadiranku dulu di antara mereka sama sekali tidak berpengaruh ya? Bagus! Berpikir ngelantur seperti ini memang mampu membuat aku lebih tenang. Aku melirik Elang dan petugas tadi. Hebatnya, petugas itu menuruti perintah Elang. Thank God!
"Bi, tolong hubungi Dion." Aku mengangguk cepat mendengar perintah Elang. Tanpa membantah, persis seperti petugas tadi aku mengikti perintahnya.
"Nggak diangkat lagi." Desisku kesal. Aku memandang Elang ragu.
"Masalahnya Bi..kita kejar-kejaran sama waktu! Ini udah mau jam...." Elang terdiam. "Bisa kerja nggak sih kamu. Bukannya ini tanggung jawab kamu?" Aku melotot kesal. Berani-beraninya dia berkata seperti itu padaku. Lagian ini bukan tanggung jawabku tapi Abel. Aku hendak protes dan marah tapi aku pikir percuma. Aku mencoba menahan diri.
"Ini tanggung jawab Abel." Desisku. Elang hanya sebentar melihat ke arahku. Dia sama sekali tidak menanggapi kata-kataku. Dengan kesal aku bangkit dan berjalan ke arah pintu 21. Tapi sosok Maya belum terlihat. Aku berbalik dan melihat Elang dari jauh. Apa yang hendak ia lakukan.
Elang menatap jamnya dan langsung menggeleng lemah. Saat tadi menatapnya dari dekat aku semakin menemukan perbedaan Elang yang dulu dan sekarang. Rambut ikalnya yang acak-acakan itu sekarang malah menjadi daya tariknya, rambut ikal itu membingkai rahangnya yang kokoh dan mempertegas kematangan di wajahnya. Elang tidak lagi culun seperti saat SMA dulu. Seperti melihat Melvil Poupaud dalam versi sangat Indonesia. Sebenarnya yang mirip di antara mereka berdua cuma rambut ikalnya aja sih rambut ikal yang membuat sosok mereka berdua secara keseluruhan jadi terlihat sangat menarik.
Elang melihat ke arahku sehingga membuatku gelagapan dan langsung memalingkan wajah. Namun tak berapa lama, mataku membesar senang saat melihat Abel, Dion, Mona, Maya serta Herman muncul. Ah leganya...
"Sorry banget Lang..." Dion memperlihatkan wajah menyesalnya.
"It's okay..." balas Elang pendek. Dia langsung mengambil kameranya. Herman mulai beraksi mengatur Maya dan Ado. Di sebelahku Dion menghembuskan napas lega.
"Mudah-mudahan moodnya nggak ilang. Paling nggak kamu sudah bikin moodnya tetap stabil." Bisik Dion. Aku menoleh heran pada Dion. Apa dia bilang?
"Jangan bilang kamu sama Abel sengaja ninggalin aku sama dia di sini." Geramku. Dion tersenyum penuh misteri. Sialan! Aku sudah hampir mati duduk di sini, dan dua cumi ini ternyata menjadikan aku umpan.
"Kalian itu..." aku mendesis seperti phyton kelaparan. Ingin aku melilit Abel dan Dion sampe remuk saat ini.
"Sialan kalian! Kamu tahu nggak tadi dia sempat marahin aku. Pengen rasanya aku tonjok seperti 8 tahun lalu kalau nggak ingat yang rese itu Abel." Protesku lagi.
Dion tertawa kecil.
"Sorry Bi. Sebenarnya Elang itu nggak b******k, waktu itu dia hanya salah paham."
"Kalau dia nggak b******k seharusnya dia nggak perlu salah paham. Artinya dia nggak pernah hargain cewek."
"Okay aku ngerti Bi. Aku pernah ketemu dia waktu kuliah. Dia berkali-kali minta maaf dan nanyain kamu dimana. Tentu aja aku nggak bilang ya seperti permintaan kamu. Tapi aku tahu Elang, Bi. Dia sebenarnya baik, dia hanya heran kenapa cewek seperti kamu bisa dekat sama aku yang memang brengsek." Dion nyengir tanpa dosa.
"Jujur, aku bisa lihat dia nyesel banget waktu itu. Waktu proyek ini gol aku hanya ingat namanya untuk jadi fotografer di majalah ini. Kamu percaya nggak kalau pertemuan kamu dan Elang seperti takdir." Dion menoleh. Aku mengedikkan bahu dengan wajah sok tidak antusias. Hmmm...ya aku tidak bisa membohongi diriku kalau dalam hati kecilku aku terus mencari Elang. Berusaha mencari tahu kabarnya dan keberadaannya. Tapi aku terlalu gengsi. Aku bahkan tidak mencarinya di f*******:. Karena aku merasa dia lah yang harusnya mencari aku. Mengetahui usahanya hanya sekedar bertanya kabarku dan memperlihatkan rasa sesalnya di depan Dion dan Abel aku semakin yakin dia tidak seserius itu padaku. Dia tidak mencariku. Itu yang aku pahami dan kuyakini.
"Awalnya dia nggak tahu kamu gabung di sini, aku sama Abel sempat bingung gimana caranya ngomong sama kamu tentang dia. Tapi ternyata kamu bisa menerimanya walaupun terpaksa. Dan sebaliknya Elang sangat senang. Dia nggak nyangka bakal melihat dan bicara dengan kamu lagi."
"Terserah apa yang kamu bilang deh Yon." Kataku tak berselera. Tidak! Itu tidak benar. Aku sangat bereselera. Apa benar dia senang melihat aku lagi? Ahh aku tidak paham dengan laki-laki satu itu. Dan aku benci aku mulai memikirkannya hingga ke tahap itu.
"Kamu lihat tuh, dia nggak kehilangan mood kan? Meskipun kamu bilang tadi dia sempat marahin kamu tapi sekarang dia malah semakin semangat. Kamu tahu nggak, ini pertama kalinya dia foto fashion. Tapi kayak udah biasa kan...lihat tuh si Herman aja udah kayak mau nelan dia saking gemasnya. Gara-gara siapa coba?" Dion mengerling genit ke arahku. Aku hanya bisa menyeringai kesal.
Sepertinya kata-kata Dion benar. Bahkan tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan hasil jepretan yang bagus. Sampai pindah lokasi dalam studio pun mood Elang terjaga dengan baik, padahal kita harus dua kali ganti studio gara-gara studio 1 tempat yang seharusnya dipakai, sudah waktunya memutar film. Kami pun pindah ke studio 3 dan hanya diberi waktu satu jam. Hal teknis seperti ini sama sekali tidak merusak mood Elang. Kalau memang ini benar karena aku, apa aku masih harus marah dan membencinya?